Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"gimana, luas kan kebun strawberry gue?" tanya Linus berjalan mendahului Clara yang masih dalam keadaan terpana tidak tau harus bicara apa.
Terlihat strawberry yang di tanam di dalam sepuluh biji pot sedang di taman belakang villa, dan hanya ada beberapa buah yang saat ini bisa di petik.
"Linus Lo ngerjain gue ya? Ini mah bukan kebun strawberry, tapi strawberry yang ada di dalam pot dan buah yang matang hanya beberapa biji sedangkan gue udah bawa keranjang segede ini buat panen," umpat Clara kemudian melempar keranjang yang ia bawa ke arah Linus.
Linus mengelak dari keranjang yang terjun ke arah nya." Jangan lempar-lempar dong, tangan gue masih sakit nih buruan petik strawberry yang bisa di petik udah mau hujan tuh,"
"Gak, gue gak mau petik dikit banget gak bisa di makan mana kecil pula," omel Clara tak ada hentinya.
"Oh, jadi Lo emang suka yang besar-besar ya ternyata, nanti gue beli ladang strawberry buat Lo," goda Linus sambil tertawa.
Hujan rintik-rintik mulai turun, Clara yang melihat Linus memetik strawberry dengan satu tangan akhirnya tidak tega dan kemudian membantu nya.
Langit semakin gelap, awan-awan hitam mulai menyatu di atas langit sembari menurunkan gerimis yang mulai padat.
"Clara, ... " panggil Linus sambil melirik Clara yang ada di sebelahnya.
"Apa?" jawab Clara tampa menoleh.
"Gue minta maaf soal kejadian tadi, itu di luar kendali gue, gue harap Lo gak ceritain ini ke Raja," Linus yang sebenarnya merasa bersalah sudah lancang atas kejadian di dapur tadi terus kepikiran dan akhirnya memberanikan diri untuk minta maaf.
Clara teridam, ia melirik Linus sekilas dan tidak ada jawaban sedikitpun dari mulutnya.
Hujan pun mulai turun dengan derasnya, baik Linus maupun Clara tidak bergeming sedikitpun, mereka terus melakukan aktivitas memetik strawberry masing-masing tampa mempedulikan hujan yang sudah membasahi keduanya.
Seperti nya mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
Beberapa jam pun berlalu. Kini Clara dan Linus sudah kembali ke villa, jam menujukkan pukul empat sore namun badai petir tidak kunjung reda, membuat Clara dan Linus tidak bisa melakukan perjalanan pulang.
Sementara itu di kediaman papa Tian.
"Kemana Clara? Sudah jam segini mengapa dia tidak juga pulang? Raja, apa kau tau kemana adik mu?" ujar Tian khawatir.
Saat pulang dari kantor papa Tian sudah mencari Clara, dia juga melihat wajah Tara yang khawatir menatap hujan dengan angin serta petir yang menggema.
"Mas maafkan aku, aku seharusnya tidak mengijinkan Clara keluar dari rumah," tata merasa bersalah karena khawatir.
"Pa, udah gak apa-apa, jangan khawatir, Clara pasti baik-baik aja," Raja tau saat ini di mana Clara dan dia tau Clara aman namun tidak bisa mengatakan kepada tuan atau Tara di mana Clara sekarang.
"Bagaimana papa tidak khawatir Raja, Clara seorang perempuan dia gak pernah pergi selama ini dan setau papa dia gak punya banyak teman untuk begitu lama bermain di luar sana," ungkap Tian serba salah.
"Raja apa kamu tau siapa temannya Clara dan kemana mereka pergi hari ini? Kamu kan kakak nya Clara seharusnya kamu tau dong," ujar mama Tara memegang lengan Raja.
"Tenang ma, pa, biar aku yang cari Clara," Raja tidak ingin mama dan papa nya khawatir, ia pun segera mengambil kunci mobil dan menerobos derasnya hujan keluar untuk mencari Clara.
"Astaga malah sekarang Raja juga pergi? Clara benar-benar nakal sekarang, setelah kembali aku akan menghukum nya," ujar Tian kepada mama Tara.
"Udah mas gak perlu seperti ini, biarkan Raja mencari nya," mama Tara kini sudah merasa sedikit tenang karena Raja pergi mencari Clara.
Namun mereka tidak tau, kalau Raja tidak lah pergi mencari Clara, ia tau saat ini tidak boleh mengangu Clara menjalankan apa yang menjadi tugasnya, ia malah pergi ke rumah Bastian untuk membuat kedua orang tua nya tidak khawatir dan berpura-pura mencari Clara.
Singkat cerita, sore pun berganti malam, hujan tak kunjung berhenti Clara dan Linus benar-benar terpaksa harus menginap di villa tersebut.
"Lo bisa berhenti bolak-balik gak sih? Pusing gue lihatnya," umpat Linus yang sedari tadi melihat Clara bolak balik di hadapan nya.
"Gak bisa gue mau pulang, mama sama papa gue pasti khawatir, kak Raja juga pasti bakal marah banget sama gue," ucap Clara dengan wajah yang terlihat sangat panik.
"Kita gak bisa pulang sekarang Clara, gue gak bisa nyetir dan gue gak percaya kalau Lo yang nyetir apalagi malam gini dan hujan masih awet, jalanan juga pasti licin banget, gue khawatir kita bakal masuk jurang kalau maksa pulang, gue janji besok pagi-pagi kita bakal pulang," ujar Linus yang saat ini mengerti akan rasa khawatir Clara.
"Tapi gue takut," Clara menghampiri Linus dan berdiri di hadapan nya.
"Lo takut di marahin cowok Lo? Iya kan? Udah tenang aja, ada gue, gue yang bakal jelasin ke dia, sekarang sebaiknya kita ke kamar istirahat," Linus berdiri dari duduknya dan meyakinkan Clara untuk tetap tenang.
Mereka pun akhirnya menaiki tangga menuju lantai dua villa, dia sana ada dua kamar yang telah di bersihkan oleh istri tukang kebun atas perintah dari Linus.
Semakin malam badai petir semakin kuat, membuat Clara tidak bisa tidur karena kuat nya suara petir tersebut.
"Astaga, kok bisa sih di sini petir nya kayak bunyi terompet malaikat!" umpat Clara bangkit dan kemudian hendak turun dari ranjang.
Namun saat kaki nya menginjak lantai, listrik yang ada di villa tiba-tiba mati dan sekarang seluruh villa gelap gulita, yang terlihat hanya cahaya kilat menyambar-nyambar di luar jendela kamar.
"Aaaaaaa!"jerit Clara yang notabene nya sangat takut akan kegelapan.
Ia bergegas naik kembali ke atas ranjang dan mengambil ponsel, namun ponsel tersebut tidak lah menyala, Clara baru ingat kalau ia belum sempat mengisi daya ponsel tersebut dan wajar saja jika saat ini ponsel itu mati karena kehabisan baterai.
"Astaga kenapa harus pakai acara mati listrik segala sih?" Clara gemetar beberapa kali menatap kilat di luar jendela membuat nya merinding dan teringat salah satu adegan dari film horor yang pernah ia tonton.
Kriiiit ...
Di tengah-tengah rasa takut yang menyelimuti hati Clara, terdengar suara aneh yang Clara sendiri juga tidak tau dari mana arah nya, yang jelas suara tersebut ada di dalam kamar tersebut.
Tentu saja hal ini membuat Clara semakin takut, namun sekali lagi kilat menyambar dengan cerahnya, membuat Clara melihat bayang-bayang aneh di luar jendela kaca kamar tersebut.
"Linus! Toloooooog!" Clara seketika menghambur dari tempat tidur segera membuka pintu kamar dan berlari keluar.
Brak ...
Suara tabrakan terdengar jelas membuat Clara mental dan terduduk jatuh di lantai depan kamar.
"Clara Lo kenapa?" ujar Linus yang membawa lilin di tangan nya.
Mendengar suara Linus, Clara segera bangkit dan menghambur ke dalam pelukan laki-laki tersebut.
"Ada setan, ada setan di kamar gue, gue takut gue gak mau tidur lagi di sini gue gak mau," suara Clara terdengar sangat ketakutan dan gemetar, ia juga memeluk erat Linus yang barusan ia tabrak.
"Setan apaan? Mas villa gue ada setan nya, Lo ngapain lari-lari dalam gelap kayak gini sih? Kalau nabrak meja atau kursi kan bahaya," marah Linus namun ia tidak bisa membalas pelukan Clara.
Satu tangan memegang lilin sedangkan satu tangan masih memakai Arm Sling.
"Gue takut gue beneran takut gelap," lirih Clara, air mata nya mulai mengalir membasahi pipi cantik itu.
Setelah mendengar isakan kecil dari Clara, barulah Linus mengerti kalau Clara benar-benar takut dan ia parno akan kegelapan.
"Udah-udah jangan nangis, masa harimau betina bisa nangis, sekarang ikut gue ke kamar gue, Lo pegang lilin ini biar gak takut lagi, tidur di kamar gue aja ya," Linus menyerahkan lilin milik nya kepada Clara sementara dirinya memegang tangan Clara menuju kamar Linus.
Setibanya di kamar Linus, Clara meletakan lilin tersebut di atas nakas samping ranjang.
"Harus banget satu kamar?" ujar Clara sambil menyeka sisa air mata nya.
Linus menghela nafas panjang mendengar ucapan gadis cantik itu.
"Kan Lo takut gelap, lilin nya cuman ada satu dan cuman itu aja, semisalnya gue kasih tu lilin di kamar Lo juga ntar tengah malam dia bakal habis gak bertahan sampai pagi, lampu nya gak bakal nyala sampai besok, gue khawatir Lo ketakutan lagi," jelas Linus yang kemudian naik ke atas ranjang.
"Ehh ehh, Lo mau ngapain?" Clara yang melihat Linus naik ke atas ranjang segera bangkit dan berdiri kembali.
"Mau tidur dong,mau ngapain lagi? Gue udah ngantuk gini," dengan santainya Linus merebahkan tubuh nya di ranjang dan segera menarik selimut.
"Terus gue tidur di mana dong?" Clara menujuk dirinya sendiri sambil menatap geram Linus.
Linus tersenyum miring, entah apa yang pria itu pikirkan saat ini di dalam kepala nya."Lo tidur aja di sebelah gue, atau gak tidur di sofa aja,"
"Hah? Gak gue gak mau, kenapa gak Lo aja yang tidur di sofa?" marah Clara mencoba untuk memaksa Linus agar tidur di sofa.
"Gak mau, ini kan kamar gue, ranjang gue, masa gue yang ngalah undah untung gue ajak Lo ke kamar gue, berbagi penerangan, malahan gue juga baik mau bagi ranjang sama Lo," sambil tersenyum manis Linus mengatakan itu membuat Clara semakin kesal.
Clara yang putus asa segera mengambil satu bantal dari ranjang Linus dan kemudian berjalan menuju sofa yang ada di dalam kamar luas itu.
Krieeet! ...
Sekali lagi bunyi yang sama terdengar oleh nya, sama persis seperti bunyi yang ia dengar di kamar nya tadi.
"Setaaan!" segera saja Clara berteriak dan menghambur ke ranjang tepat di samping Linus.
Sementara itu Linus yang tertimpa separuh tubuh Clara hanya bisa menahan sakit tangan nya karena mau marah tidak mungkin begitulah Clara yang sedang takut selalu tidak mempedulikan apapun yang penting berlari saja.
Bersambung ....