NovelToon NovelToon
Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sujie

Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?

Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.

Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.

Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?

Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasanya semakin sesak bagi Maira

Maira mempercepat gerakan kakinya menuruni anak tangga. Di belakangnya, Agam juga melakukan hal yang sama. Tapi bukan penasaran dengan Sita, melainkan ia ingin mengejar Maira-nya. Tentang Sita ia tak peduli sama sekali, lagipula ia juga tidak merasa menikmati pergumulannya malam itu.

Wajah Maira masih sembab, matanya juga masih bengkak dan merah akibat menangis semalaman.

Sementara Sita menatap sayu dengan bola mata yang masih memerah, wajahnya tak beda jauh dari Maira. Sembab dan sangat tidak segar.

"Kamu mau kemana?" tanya Maira setelah berdiri tepat dihadapan Sita.

"Sita mau pamit, Mbak. Masalah ini ada karena ada Sita disini," lirihnya seraya menunduk.

Saat ini ia sebenarnya merasa tidak sehat karena kurang tidur semalam. Ditambah lagi sekarang-sekarang ini ia tidak bisa makan makanan dengan baik. Tubuhnya serasa menolak setiap kali ia mencoba memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Bahkan sejak semalam pun perutnya belum kemasukkan apapun.

"Sita ...,"

"Jujur, Mbak masih nggak bisa berpikir jernih saat ini. Semua ini terlalu membuat Mbak terpukul dan terpuruk. Mbak rasa kamu pun sama-sama bisa merasakannya. Cuma Mbak minta, kamu tetap disini dulu. Karena ini semua bukan kehendak Mbak, bukan juga kemauan kamu, semua terjadi tanpa ada dari kita yang menginginkannya."

Maira mengedipkan-ngedipkan matanya guna mencegah cairan bening yang mulai menggenangi matanya itu tumpah. Ia mencoba menguatkan orang lain, tapi hatinya sendiri juga sangat rapuh saat ini.

Ia tidak tahu harus bersikap bagaiman saat ini. Semuanya terlalu sulit baginya.

"Sayang, jika Sita ingin pergi biarkan saja dia pergi. Mungkin ini akan jauh lebih baik. Kita bisa memulainya dari awal, hanya aku dan kamu saja. Lagipula aku tidak merasa berbuat hal itu padanya." Agam bersuara.

Ia tidak peduli Sita akan pergi atau bagaimana, yang ia pikirkan saat ini hanya istrinya. Ia ingin Maira-nya kembali percaya padanya, memaafkannya dan kembali menjadi Maira yang sangat perhatian padanya.

Agam tak sadar jika ucapannya itu begitu mengiris hati Sita. Meski ia tak mengharapkan apapun dari Agam, tapi tidak seperti itu juga seharusnya. Mengingat yang telah direnggut darinya adalah mahkota paling berharga.

Tapi Agam seolah seperti tak ada beban, dengan entengnya berkata seperti itu.

Sita menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kesedihannya dihadapan Maira. Keperawanannya seolah tak ada harganya. Harga dirinya seolah dibanting saat ini, bagai perempuan yang sama sekali tidak penting.

"Ngomong apa kamu, Mas? Tega-teganya hanya memikirkan diri sendiri seperti itu? Yang udah kamu nodai itu Sita, gadis yang belum tau apa-apa! Bisa-bisanya Mas ngomong seperti itu." Dengan tajam Maira menatap suaminya.

"Tapi Mas juga nggak bisa dituduh bersalah, Sayang. Mas aja nggak sadar dan nggak merasa menggauli dia," ujar Agam membela diri.

Ditengah-tengah pembicaraan mereka, Sita mendadak berlari ke kamarnya. Perutnya terasa seperti diaduk hingga membuat tekanan pada kerongkongannya. Ia merasa ingin mengeluarkan segala sesuatu dari dalam perutnya.

Sontak Maira pun mengalihkan pandangannya saat gadis itu berlari tadi. Ia mengikutinya dengan cepat, takut terjadi sesuatu pada Sita.

Sita berjongkok dan bersusah payah berusaha mengeluarkan isi lambungnya. Namun karena sejak semalam ia tidak makan sesuatu pun, jadi yang keluar hanyalah sedikit cairan yang terasa sangat pahit di lidah.

Huek ....

Hanya itu yang terdengar oleh telinga Maira. Ia langsung saja menghampiri Sita, perasaannya mengatakan gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Tapi bersamaan dengan itu, ada perasaan lain yang terlintas di dalam benak Maira.

Ada rasa takut yang disertai dengan munculnya pikiran yang tidak-tidak. Mungkinkah?

Tidak! Tidak mungkin hal itu bisa terjadi, ini pasti hanya ketakutannya saja. Satu kali kecelakaan tidak mungkin akan membuahkan hasil. Ya, Maira mencoba membuang pikiran itu.

"Sita ...,"

"Kamu sakit lagi, ya?" tanya Maira setelah Sita selesai keluar dari kamar mandi.

Wajahnya pucat sekali, Sita merasa pandangannya sedikit menggelap. Seluruh tubuhnya serasa diserang rasa kesemutan bercampur rasa nyeri pada semua sendi-sendinya. Sita juga mulai kehilangan keseimbangannya.

Bruk ....

Sita ambruk di hadapan Maira yang tak sempat menangkapnya.

"Sita? Sita?" Maira bersimpuh dan meraih kepala Sita lalu meletakkannya di atas pahanya. Ia menepuk pipi dan mengguncang bahu Sita untuk mengembalikan kesadaran gadis itu, tapi tidak berhasil.

"Mas!" teriaknya pada suaminya yang berada di luar kamar Sita.

"Mas Agam cepat sini, Mas!"

Mendengar teriakan istrinya, Agam pun langsung bergegas menghampiri. Kebetulan pak Kasim juga baru saja masuk ke dapur, ia juga ikut melihat apa yang terjadi di kamar Sita.

"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Agam.

"Bukan aku, Mas. Tapi Sita, dia pingsan. Cepat pindahkan dia ke atas ranjang!" perintah Maira.

"Pak Kasim, tolong bantuin saya!" pinta Agam. Ia mengangkat bagian atas tubuh Sita sementara pak Kasim mengangkat yang bawah.

Maira segera menelepon dokter terdekat di komplek mereka tinggal. Sementara Agam tidak berbuat apapun setelah memindahkan Sita. Ia hanya berdiri di samping istrinya.

Sambil menunggu dokter datang, Maira menyuruh suami dan pak Kasim untuk keluar dari kamar Sita karena ia ingin membaluri minyak angin pada gadis itu. Maira pikir dengan begitu Sita akan cepat sadar dan merasa lebih enakan.

"Sita ...," panggilnya saat gadis itu mengerjapkan matanya.

"Kamu udah sadar, Sita?" tanya Maira.

"Mbak Maira, memang saya kenapa?" Sita berbalik bertanya dengan suaranya yang lemah.

"Kamu tadi pingsan setelah dari kamar mandi, kamu muntah-muntah." Maira sedikit menjelaskan. Ia ingin sekali bertanya sesuatu yang penting pada Sita. Tapi melihat kondisi Sita yang seperti ini akhirnya ia urungkan niatnya.

Maira menutup botol minyak angin dan meletakkannya di meja samping tempat tidur Sita. Ia terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu juga dengan Sita.

Sita mencoba bangkit dan duduk, ia menyenderkan tubuhnya pada dinding dibelakangnya.

"Sita, boleh Mbak tanya sesuatu sama kamu?"  tanya Maira ragu-ragu.

"Tentu saja, Mbak," jawab Sita.

"Apa kamu udah datang bulan setelah kejadian itu?" Antara tega dan tidak tega, Maira harus mencari tahu hal ini. Ia akhirnya memutuskan untuk menanyakannya saja.

Ia menatap mata Sita dengan penuh harap, ia berharap Sita mengatakan ''sudah" padanya. Tapi serasa seperti ditampar, gadis itu justru menggelengkan kepalanya dengan berat seraya menunduk.

Serasa ditusuk duri yang tajam, dada Maira terasa nyeri sekali. Tapi ia tetap mencoba tenang.

"Kapan seharusnya kamu haid?" tanyanya lagi. Berharap Sita belum telat satu hari pun.

"Se-seminggu yang lalu harusnya, Mbak." Sita semakin menundukkan kepalanya. Ia pun takut sekali, takut jika perbuatan Agam padanya akan membuahkan sesuatu yang bisa menghancurkan segalanya.

Maira yang mendengar hal itu rasanya tak bisa berkata-kata lagi. Ia mengatupkan bibirnya yang bergetar dengan rapat. Menahan sesuatu yang terasa sesak di dadanya.

1
Reichan Muhammad
kapan bikin karya baru torr
Surati
bagus
Vindy swecut
keren👍🏻
Enung Samsiah
pokonya yg kasihn disini yg pling mnderita cuma sita,, agam pengecut
Enung Samsiah
endingnya nggk seru, sita ksihn ggk pernah bhgia, apalagi agam pengecut nggk punya hatii bngett
Enung Samsiah
tpi yg lbh kasihn itu sita, sakit hatinya tidk bisa marah pd siapapun, nyesekkk,,,
Enung Samsiah
kasim nggk punya hati,,,
Enung Samsiah
pk kasim ngebiarin dosa nggk punya hati bngett brengsekkkk,,
Enung Samsiah
susah hamil karena kecapean mungkin pada sibuk pagi pergi pulang mlm,,
Anonim
Ppp p0..00.0
Armi Armi
cari tu yg agak tuaan, ini mah si meira yg cari penyakit....
Hasian Marbun Ian ayurafanisa
bnyak yg coment masalah pembantu yg masih muda, menurut aq bkn masalah pembantu tua ato mudanya tapi agamnya yg salah karena gk teguh pendirian
Tut Eny
lanjut
i am wiyya
kasihan sita.. walaupun rela tp nyatanya maira agam dan orangtunya agam jahat dan egois... bukan kesalahan sita sepenuhnya...
~R@tryChayankNov4n~
blm rilis ya thor novel barunga....
gw intip koq gk ad🙃
~R@tryChayankNov4n~
otw ngintip...👍👍💛💛
Helsey Khalila
bikin sita ama reza thorr kasian sita
Keiza Alfaro
sebenarnya yg salah disini adalah Maira kalau dia sudah merelakan Agam untuk menikah dengan Sita seharusnya dia juga memberikan hak yg sama dengan Sita.tp nyatanya apa hanya ketidak adilan yg diterima oleh Sita hingga menyakiti hati Sita dan Agam lah yg menanggung dosa karena tidak bisa berbuat adil kepada kedua istrinya.kalau kita tidak rela berbagi ranjang dengan wanita lain jgn pernah meminta suami kita menikah lagi.kalau maira wanita yg terpilih pasti dia akan ridho untuk dimadu,pasti dia akan ridho membagi suaminya dengan istri keduanya.
Helsey Khalila
seorang istri yg berhati mulia
sari emilia
mk nya kl ga pernah minum ga usah so so an ikut kaim dajal jd double kn dosanya mabok n berzinah untunh ga sekalian spt kisah zurais
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!