Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Ambisi
Lift khusus karyawan membawa Suci naik menembus puluhan lantai hingga tiba di lantai eksekutif. Langkah kakinya terasa ringan, nyaris tanpa suara di atas karpet tebal yang melapisi koridor menuju ruang kerja Kenzi Hutama. Area itu tampak lengang karena sekretaris pribadi Kenzi sedang turun ke lantai bawah untuk menghadiri rapat divisi keuangan.
Suci mendorong trolinya masuk ke dalam pantry eksklusif yang berada tepat di sebelah ruang kerja sang CEO. Ruangan kecil berdinding marmer putih itu dipenuhi dengan mesin pembuat kopi mutakhir dan deretan cangkir porselen berharga mahal.
"Kenzi, Kenzi... kamu mengira bisa menendangku begitu saja?" bisik Suci, suaranya berupa desisan halus yang mengerikan di dalam kesunyian pantry.
Ia meletakkan sarung tangan karetnya, lalu mulai menyeduh secangkir teh chamomile hangat—minuman yang berdasarkan informasi dari papan jadwal sekretaris, selalu dikonsumsi Kenzi setiap jam sepuluh pagi untuk menjaga fokusnya. Uap hangat beraroma menenangkan mulai mengepul dari dalam cangkir porselen putih berlogo emas tersebut.
Tangan Suci merayap ke dalam saku celana seragamnya, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berpipet yang berisi cairan bening tanpa aroma dan tanpa rasa. Obat perangsang dosis tinggi yang ia beli dengan sisa uang terakhirnya dari pasar gelap. Obat jahanam yang sanggup meruntuhkan pertahanan logika pria paling perkasa sekalipun dalam hitungan menit, memaksa insting kebinatangan mengambil alih seluruh kesadaran.
Tetes... tetes... tetes...
Lima tetes cairan bening itu jatuh, menyatu sempurna dengan air teh chamomile yang kekuningan. Suci mengaduknya perlahan menggunakan sendok perak, memastikan tidak ada jejak yang tertinggal.
Sebuah seringai licik, penuh konspirasi busuk yang teramat mengerikan, terukir lebar di bibirnya yang tersembunyi di balik masker. Matanya berkilat penuh kemenangan yang prematur. Skenarionya sudah matang: begitu Kenzi meminum teh ini dan mulai kehilangan kendali atas tubuhnya, Suci akan masuk ke dalam ruangan, mengunci pintu dari dalam, dan menyerahkan dirinya. Ia akan memastikan ada kamera tersembunyi yang merekam seluruh kejadian itu, atau setidaknya membuat sekretaris Kenzi memergoki mereka dalam kondisi yang paling intim. Dengan begitu, Kenzi tidak akan punya pilihan selain melindunginya dari jerat hukum, dan mendepak Sintia demi menutupi skandal terbesar yang bisa menghancurkan saham Hutama Group.
"Nikmati minumanmu, Tuan Muda yang angkuh," desis Suci, mengangkat nampan perak itu dengan tangan yang kokoh, bersiap melangkah keluar menuju ruang kerja sang target utama.
****
Sementara racun keserakahan sedang diramu di puncak menara bisnis, di sebuah Penthouse mewah milik Kenzi yang terletak di kawasan pemukiman elit, atmosfer yang bertolak belakang sedang menyelimuti jiwa Sintia Arunika.
Sinar matahari pagi yang menembus gorden sutra tipis menerangi ruang tengah apartemen yang luas dan sunyi. Sintia berdiri terpaku di depan jendela kaca raksasa yang menyuguhkan pemandangan bentangan kota. Di atas meja marmer di belakangnya, berkas-berkas pengalihan aset dari Rian yang kemarin ia tandatangani tergeletak begitu saja. Secara hukum, ia telah menang mutlak. Ia kaya raya, ia terhormat, dan ia telah berhasil memulihkan nama baik almarhum ayahnya.
Namun, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, tidak ada kedamaian sejati yang ia rasakan.
Setiap kali Sintia memejamkan mata, bayangan wajah kecil Arka di ruang rapat kemarin kembali hadir, menggedor-gedor dinding pertahanan batinnya hingga hancur berkeping-keping. Suara cicitan lirih bocah itu—“Tante... Arka takut... Mama pergi... Papa nangis...”—terus terngiang-ngiang di telinganya bagai melodi pilu yang enggan berhenti.
Dada Sintia berdenyut sangat kencang, memicu rasa sesak yang membuatnya harus mencengkeram pembatas jendela dengan kuat. Air mata keibuannya kembali menggenang di pelupuk mata.
"Anak itu... dia sama sekali tidak bersalah dalam dosa ini," bisik Sintia, suaranya pecah oleh rasa iba yang teramat mendalam.
Sintia tahu betul bagaimana watak Rian dan Anne. Mantan suaminya adalah pria egois yang kekanak-kanakan, yang kini telah kehilangan seluruh arah hidupnya setelah jatuh miskin. Sementara Anne adalah wanita paruh baya yang dipenuhi racun kesombongan, yang tidak akan pernah becus mendidik seorang anak di tengah penderitaan ekonomi. Dan Suci? Wanita ular itu telah membuang darah dagingnya sendiri tanpa berkedip demi menyelamatkan kulitnya sendiri.
Jika dibiarkan tinggal bersama Rian dan Anne di kontrakan sempit atau kolong jembatan setelah pengosongan rumah dilakukan sepuluh hari lagi, masa depan Arka akan hancur total. Bocah itu akan tumbuh besar dalam lingkungan yang penuh dengan caci maki, penyesalan, dan kemiskinan yang seolah-olah menjadi hukuman atas dosa yang tidak pernah ia perbuat.
****
Hati Sintia menjerit hebat, berontak melawan logikanya sendiri. Rasionalitasnya mengatakan bahwa Arka adalah anak dari musuh besarnya, bukti nyata dari pengkhianatan tujuh tahun yang menguliti harga dirinya sebagai seorang istri. Namun, naluri keibuannya yang suci menolak mentah-mentah logika itu. Di mata Sintia, Arka hanyalah selembar kain putih yang suci, jiwa malang yang dikorbankan di atas altar keserakahan orang tuanya.
"Aku harus menyelamatkannya," desis Sintia, air matanya meluncur membasahi pipinya yang mulus. "Aku tidak bisa membiarkan anak itu membusuk di dalam neraka yang diciptakan oleh Rian dan Suci."
Tekad Sintia mendadak bulat. Ia mengambil ponselnya di atas meja, berniat menghubungi Bramantyo untuk menanyakan celah hukum agar ia bisa mengambil hak asuh Arka secara resmi dari tangan Rian. Namun, sebelum jemarinya sempat menekan tombol panggil, sebuah perasaan tidak enak yang teramat mendadak menyengat dadanya—sebuah firasat buruk tentang Kenzi, pria yang selama beberapa hari ini telah menjadi pelindung setianya di tengah badai hukum. Sintia menatap ke arah luar jendela, ke arah Menara Kembar Hutama Group yang berdiri angkuh di kejauhan, tanpa menyadari bahwa di atas sana, sang pelindung sedang berjalan masuk ke dalam jebakan beracun yang mematikan.
****
Detik jam dinding di dalam ruang kerja CEO Hutama Group terdengar konstan, berdetak ritmis di tengah ketegangan yang merayap sunyi. Ruangan luas berkancing kaca temper itu menyuguhkan pemandangan cakrawala ibu kota yang megah, namun di dalamnya, udara terasa kaku. Kenzi Hutama masih duduk di balik meja kerja jatinya yang kokoh, jemarinya lincah memeriksa draf dokumen audit, sama sekali tidak menyadari bahwa bayang-bayang bahaya telah melompati barikade keamanan tertingginya.
Pintu jati berukir itu terdorong perlahan, memunculkan sosok petugas kebersihan berseragam biru kusam. Kepala wanita itu menunduk dalam, wajahnya tertutup rapat oleh masker medis, sementara topi kerjanya ditarik hingga batas alis.
Suci Wahyuni melangkah masuk dengan nampan perak di tangannya. Di atas nampan itu, secangkir teh chamomile hangat mengepulkan aroma menenangkan—aroma yang telah terkontaminasi oleh lima tetes cairan perangsang dosis tinggi yang mematikan logika. Dengan gerakan yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kecurigaan, Suci meletakkan cangkir porselen putih berlogo emas itu di sudut meja kerja Kenzi.
"Letakkan saja di sana, lalu silakan keluar. Saya tidak suka diganggu," ucap Kenzi tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di hadapannya. Suaranya bariton, dingin, dan sarat akan otoritas yang tak terbantahkan.
Namun, beberapa detik berlalu, kesunyian ruangan tidak pecah oleh suara derit pintu yang menutup. Kehadiran sosok berseragam biru itu masih terasa, berdiri mematung hanya dua meter dari meja kerjanya.
Kenzi mengernyitkan dahi. Rasa tidak nyaman mulai menggelitik instingnya. Ia meletakkan pena emasnya di atas meja, lalu mendongakkan kepala, menatap tajam ke arah petugas kebersihan yang masih berdiri tegak di hadapannya tanpa bergeming sedikit pun.
"Kamu tidak dengar saya? Keluar sekarang," perintah Kenzi lagi, kali ini nadanya lebih rendah, menekan, memancarkan kilat kemarahan yang mulai tersulut.