NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Kalian Dalam Genggamanku (2) [REVISI]

Sebuah telapak tangan menangkap tinju Wang Yan tepat beberapa inci sebelum mengenai tulang hidung Hong Jigong.

Buashhhh!

Gelombang udara tipis menyebar dari titik kontak keduanya, menerbangkan debu-debu di halaman.

Wang Yan merasakan tangannya seolah menghantam dinding baja. Ia segera mundur. Bukan karena takut, melainkan memperhitungkan seberapa tangguh kekuatan yang dimiliki orang yang baru saja tiba ini.

Di sisi lain, pria berjubah hitam itu merasakan getaran hebat merambat hingga ke bahunya.

“Anak ini...? Kekuatannya sudah sekuat ini...” batin pria berjubah hitam.

Sementara itu, tepat di bawah jangkauan tangan mereka, Hong Jigong sudah kehilangan seluruh harga dirinya. Napasnya tercekat, matanya melotot menatap kepalan tinju Wang Yan yang nyaris meratakan wajahnya. Tubuhnya gemetar hebat seperti daun kering ditiup badai.

Tak lama kemudian, sebuah aroma pesing yang menyengat mulai menyeruak ke udara. Cairan hangat merembes cepat dari celana sutra mahalnya, menetes ke tanah dan menciptakan genangan kecil di bawah kakinya yang lemas.

“A-ampun... J-jangan bunuh aku...” gumam Hong Jigong terbata-bata, suaranya lebih mirip cicitan tikus daripada seorang tuan muda keluarga besar.

Wang Yan menarik sedikit sudut bibirnya, menatap jijik ke arah genangan yang mulai meresap ke tanah. “Jigong, aku tidak tahu kalau teknik rahasia Keluarga Hong melibatkan membasahi celana di depan musuh. Apakah ini cara baru untuk membuat lawan mati karena bau pesing?”

Dari balik tudung hitamnya, pria berjubah hitam itu menatap Wang Yan. Tekanan energi spiritual yang dipancarkannya sangat padat dan tenang, jauh melampaui ledakan energi spiritual kasar biasa.

“Lautan Spiritual lapisan ketujuh.” batin Wang Yan mengukur tekanan fluktuasi energi spiritual yang keluar.

Pria jubah hitam itu menekan rasa terkejutnya. Sebagai seorang yang telah lama hidup dalam manis pahitnya dunia kultivasi, ia tahu bahwa teknik seni beladiri bisa dipelajari, namun kekuatan energi spiritual yang ia rasakan dari tinju Wang Yan barusan bukanlah sesuatu yang bisa dihasilkan seorang kultivator pemula.

“Jika aku terlambat satu detik saja, mungkin bukan hanya hidung Tuan Muda Ketiga yang hancur, tapi seluruh wajahnya bisa terlepas dari tengkoraknya,” pikirnya ngeri.

Di balik penampilannya yang mengancam, pria berjubah hitam itu sebenarnya sedang terkekeh di dalam hati. Ia sudah mengawasi sejak Hong Jigong menghancurkan gerbang halaman depan.

Sejujurnya, ia sudah lama muak dengan tabiat manja dan kebodohan putra ketiga. Melihat Hong Jigong kehilangan enam gigi depannya sekaligus mengompol di depan umum adalah pemandangan ilahi paling menghibur yang pernah ia lihat selama bertahun-tahun bekerja untuk Keluarga Hong.

Namun, hiburan ilahi itu dengan cepat berganti menjadi kewaspadaan. Pria berjubah hitam menyadari bahwa Wang Yan sama sekali tidak terengah-engah setelah serangan brutal antara kedua pukulan mereka.

Pria berjubah hitam melirik ke arah kerumunan penduduk yang semakin ramai di kejauhan. Ia tahu situasi ini sudah di luar kendali. Niat awal untuk menjadikan Hong Jigong sebagai pelaku tunggal agar Keluarga Hong tetap bersih dalam pengambilan kalung giok bulan sabit telah gagal total.

“Lepaskan Tuan Muda, atau tempat ini akan rata dengan tanah,” desis pria berjubah hitam. Suaranya rendah namun mengandung ancaman nyata.

Wang Yan hanya menatapnya dengan senyum tipis yang memprovokasi. “Tentu, bawa saja pengecut ini pergi. Tapi jangan lupa, kalian masih berutang gerbang baru padaku.”

Pria berjubah hitam itu menggeram pelan. Hasrat untuk menerjang maju, meremukkan leher Wang Yan, lalu merebut Kalung Giok Bulan Sabit yang diperintahkan Patriark semalam, begitu kuat menguasai dirinya. Namun, logikanya menahan langkahnya.

Ia tahu, jika ia secara terang-terangan memaksa Wang Yan untuk memberikan kalung itu saat ini, rahasia pencarian tersebut bisa bocor ke telinga penduduk dan menyebar lebih luas bahkan ke 2 keluarga besar lainnya. Jika itu terjadi, rencana besar Patriark Hong Weigong akan berada dalam bahaya.

“Kau terlalu sombong, Sarjana Wang,” ucap pria jubah hitam sambil menyambar kerah baju Hong Jigong yang sudah lemas.

“Ini bukan lagi sekadar urusan kenakalan Tuan Muda kami, ini adalah perang terbuka antara kau dan Keluarga Hong!”

Pria berjubah hitam memberikan tatapan terakhir yang penuh kebencian, lalu bersiap melakukan lompatan jauh untuk meninggalkan tempat itu.

Namun, Wang Yan tidak membiarkannya pergi begitu saja. Rencananya membutuhkan satu katalis lagi untuk menutup pagi ini dengan sempurna.

“Paman! Jangan biarkan dia pergi!” seru Wang Yan dengan suara lantang yang memecah kesunyian.

“Tangkap mereka berdua!”

Tepat saat perintah itu keluar, pintu rumah Wang Yan terbuka dengan dentuman pelan.

Tap!

Huo Ting sudah berdiri di samping Wang Yan. Gerakannya sangat efisien, seolah-olah ia muncul begitu saja dari bayangan pintu.

Pria berjubah hitam itu tersentak. Insting bertarungnya berteriak bahaya saat melihat pria tua yang sedang berdiri dengan tenang tersebut.

“Orang tua ini...?” batin Pria berjubah hitam terbelalak.

Kemarin, saat ia memata-matainya, Huo Ting hanyalah seorang pria tua biasa yang sibuk merapikan pakaian dagangan. Tidak ada fluktuasi energi spiritual sedikitpun, tidak ada aura seorang ahli bela diri. Tapi sekarang, pria tua yang berdiri di hadapannya adalah sosok dengan tekanan energi spiritual yang bahkan membuat bulu kuduknya berdiri.

Huo Ting tidak membuang waktu seperti rencana yang di jelaskan Wang Yan sebelumnya. Tanpa melepaskan sepatah kata pun, ia melesat maju.

Bum!

Tanah di bawah kaki Huo Ting retak saat ia meledakkan kecepatannya. Ia menjangkau ke arah si jubah hitam dengan gerakan tangan yang sederhana namun sangat cepat.

Si jubah hitam terpaksa melepaskan Hong Jigong untuk menahan hantaman telapak tangan Huo Ting.

Duar!

Benturan dua energi spiritual itu menciptakan gelombang kejut yang cukup kuat untuk merobohkan sisa-sisa pagar yang masih berdiri. Pria berjubah hitam terdorong mundur lima langkah, kakinya terseret di tanah hingga menciptakan parit kecil.

“Lautan Spiritual... lapisan kedelapan?!” teriak si jubah hitam dengan suara yang pecah karena terkejut.

“Sial! Pria tua ini tidak sesederhana itu, dia seorang ahli tingkat tinggi?! Pantas saja aku tidak bisa merasakan tingkatan kultivasinya!”

Huo Ting tidak membiarkan lawannya mengambil napas. Begitu keseimbangan si pria jubah hitam goyah, ia kembali menerjang. Kali ini, kedua telapak tangannya berpendar kebiruan, tanda energi spiritualnya telah terkonsentrasi penuh.

“Hanya dua ekor tikus, berani sekali mengusik rumah orang lain!” bentak Huo Ting.

Pria berjubah hitam itu panik. Ia segera mencabut sebuah belati pendek dari balik pinggangnya dan menyalurkan energi spiritual kedalam pedang untuk menangkis.

Suara dentuman logam bertemu energi murni terdengar berkali-kali. Setiap kali benturan terjadi, tanah di sekitar mereka amblas sedalam beberapa centimeter.

Si jubah hitam mencoba menggunakan teknik bayangan untuk mengecoh, namun pengalaman bertarung Huo Ting jauh lebih matang. Dengan satu sapuan kaki yang berat, Huo Ting menghancurkan kuda-kuda lawan, disusul dengan hantaman telapak tangan tepat di dada pria itu.

Duar!

Pria berjubah hitam itu terlempar, menabrak sisa tembok pagar hingga hancur berantakan. Ia memuntahkan darah segar, tudungnya tersingkap sedikit memperlihatkan wajah yang pucat pasi. Ia mencoba bangkit, namun tekanan energi spiritual milik Huo Ting telah 'mengunci aliran meridiannya', membuatnya sulit bergerak.

Wang Yan yang sejak tadi mengamati dengan tenang cukup terkejut dengan pertarungan ini. Walaupun perbedaan satu lapisan pada ranah Lautan Spiritual, seharusnya pertarungan ini cukup lama untuk diselesaikan, apalagi pamannya sudah lama tidak bertarung.

Wang Yan mulai melangkah maju. Matanya menyipit, menghitung momen yang tepat.

Sambil berpura-pura berjalan mendekat untuk melihat musuhnya yang kalah, Wang Yan menyembunyikan tangannya di balik lengan jubah yang lebar.

Werr...

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!