NovelToon NovelToon
KAMU DAN WASIAT YANG KAU GENGGAM

KAMU DAN WASIAT YANG KAU GENGGAM

Status: tamat
Genre:Poligami / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:165.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

"Tolong mas, jelaskan padaku tentang apa yang kamu lakukan tadi pada Sophi!" Renata berdiri menatap Fauzan dengan sorot dingin dan menuntut. Dadanya bergemuruh ngilu, saat sekelebat bayangan suaminya yang tengah memeluk Sophi dari belakang dengan mesra kembali menari-nari di kepalanya.

"Baiklah kalau tidak mau bicara, biar aku saja yang mencari tahu dengan caraku sendiri!" Seru Renata dengan sorot mata dingin. Keterdiaman Fauzan adalah sebuah jawaban, kalau antara suaminya dengan Sophia ada sesuatu yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya.

Apa yang telah terjadi antara Fauzan dan Sophia?

Ikuti kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Semilir angin meniup dedaunan dan ranting. Ada yang patah dan jatuh karena kering ada juga yang masih bertahan dan hanya bergoyang mengikuti arah angin. Sepasang tangan mungil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama dan keterangan lengkap pemiliknya yang sudah tenang disana sedari lima tahun lalu.

"Mami, aku sama kakak datang tapi kakak malah nangis. Bisakah mami keluar sebentar? lihat kakak air matanya sudah keluar banyak." Celotehnya sambil memutar leher menoleh ke samping dimana kakaknya, Embun tengah menyusupkan wajah pada sang eyang.

"Kakak sini! Kan kata papi kalau ke makam mami kita harus baca do'a dan habis itu baru boleh ngobrol." Serunya sambil melambaikan tangan.

"Iya sebentar sayang." Bu Rahmi menoleh pada Mentari kemudian ia merangkum wajah Embun, cucunya yang satu itu berbeda dengan Mentari. Mungkin karena Embun sudah mengerti saat kepergian sang mami.

"Kakak, lihat eyang! Kakak sayang mami?" Tanya nya dengan suara yang sedikit bergetar menahan tangis, kehilangan putri satu-satunya meski sudah 5 tahun berlalu tak serta merta bisa menghapus kenangan dan rindunya. Terlebih melihat Embun yang selalu menangis tersedu di atas pusara Stefany setiap kali datang kesini.

Embun menganggukkan kepala sembari mengusap airmata yang sedari tadi luruh tak terbendung, remaja dua belas tahun itu kembali menunduk. Meski sudah lima tahun berlalu namun bayangan kebersamaan dengan sang mami masih terekam jelas di memorinya. Masa indah itu hanya tinggal kenangan, tak ada lagi peluk dan rengkuh untuknya dari sosok ibu sebagaimana yang dimiliki teman-temannya.

"Ayo do'akan mami biar mami bahagia di sana, mami pasti bangga lihat kakak sudah besar dan bisa jaga adik." Paruh baya itu menggandeng Embun mendekati Mentari yang sudah menaburkan kelopak bunga dibimbing oleh Bayu.

Beberapa doa dilantunkan oleh Bu Rahmi diikuti oleh Embun dan Mentari yang sedari tadi terlihat riang. Kata Aamiin mengakhiri doa mereka. Bu Rahmi beringsut mencium batu nisan putrinya. Ia menunduk menopangkan wajahnya pada tangan yang masih setia mengusap tulisan nama yang sangat ia rindukan.

"Sayang, mama datang sama anak-anak, Alhamdulillah mereka sudah besar, sehat, dan cantik-cantik seperti kamu. Tenanglah disana tidak usah khawatir nak, Sony merawat dan membesarkan Embun juga Mentari dengan sangat baik. Dia ayah yang bertanggung jawab dan hebat." Tuturnya dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

Airmata yang sedari tadi ditahannya tetap berkhianat, merembes keluar membasahi pipi. Merasakan rindu pada sang putri adalah hal yang paling menyakitkan sebab tak bisa ditemuinya, hanya bisa dicurahkan lewat doa.

"Bu," Bayu mengusap lembut punggung sang ibu, "Ayo pulang keburu sore, nanti keburu macet kasihan anak-anak." Tuturnya lembut mengajak sang ibu untuk segera pulang.

"Kakak, adek! Ayo pulang sekarang. Mau mampir jalan-jalan dulu enggak?"

"Mau... Mau om!" Seru Mentari sembari bergelayut manja dileher Bayu.

"Pamit dulu sama mami! Bilang adek mau pulang dulu terus salam ya." Bayu mengusap puncak kepala Mentari penuh kasih, setiap kali melihat Mentari ia seperti kembali bertemu dengan sang adik.

"Mami, adek pulang dulu ya. Eyang sama om dan kakak juga mau pulang, mami baik-baik disini nanti kalau papi libur kita kesini lagi, ya kan kak?" Gadis kecil itu memutar leher menoleh kearah Embun yang hanya mengangguk.

"Mami, kakak pulang dulu. Kakak sayang mami selalu, Assalamualaikum." Perlahan Embun bangkit mendekatkan wajahnya pada batu nisan kemudian menciumnya dengan takzim. Dulu ia hanya nangis kebingungan saat melihat sang mami yang terbungkus kain putih dimasukkan ke liang lahat, tak pernah terpikirkan olehnya kalau itu membuat dirinya dengan perempuan yang melahirkannya takkan pernah bertemu lagi di alam fana ini.

Yang terpikirkan dan ditangisi waktu itu bukanlah kehilangan tetapi hanya kasihan, takut sang mami nangis dan kesakitan tertindih tanah. Tapi ternyata sekarang ia baru sadar yang kesakitan dan menangis setiap saat kala mengingatnya adalah dirinya sendiri karena kehilangan untuk selama-lamanya.

"Ayo kak, duluan sama eyang. Adek biar di gendong om saja, ayo sini!" Bayu mengangkat tubuh Mentari, lalu menggenggam tangan Embun mengikuti Bu Rahmi yang lebih dulu melangkah meninggalkan peristirahatan Stefany.

Sepanjang jalan menuju mobil yang terparkir di area khusus pengunjung, mereka melewati jejeran makam yang tertata rapi dengan rumput hijau di sekelilingnya, Mentari tak henti-hentinya berceloteh. Suaranya yang riang dan celotehannya mengalihkan kesedihan yang selalu hadir dan terulang setiap kali mendatangi tempat itu. Bukan tak ikhlas menerima takdir melepas orang yang dicintai, namun rasa rindu terlalu menguasai bahkan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata hingga akhirnya tangisan lah yang bercerita mengungkapkan semua rasa.

Sesampainya di parkiran Bayu langsung menurunkan Mentari, ia membuka pintu mobil belakang untuk sang ibu dan dua ponakannya.

"Eyang, enggak apa-apa kalau aku duduk di depan sama om?" Embun berdiri disamping pintu mobil sebelah kiri sambil menatap sang eyang yang membawa Mentari masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian paruh baya itu melongokkan kepala sambil tersenyum.

"Iya enggak apa-apa." Ucapnya sambil mengangguk.

"Ayo kak masuk!" Bayu membukakan pintu mobil buat Embun kemudian ia menutupnya lagi. Setelah memastikan semuanya masuk Bayu memutar leher menoleh kearah hamparan luas pemakaman diakhiri helaan napas. Dek Abang pulang dulu, ucapnya dalam hati lalu masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin mobil membawa pergi tiga perempuan yang sangat disayanginya itu meninggalkan komplek pemakaman.

.

.

.

Siang berlalu berganti senja sebagai penanda terang akan segera berganti gelap yang disebut malam. Menyisakan lelah dan kenangan yang akan membawa pada sebuah harapan pada hari esok, semoga lebih baik dari hari ini.

Renata yang baru selesai melaksanakan sholat Maghrib kembali mengecek ponsel berharap sudah ada kabar dari sang suami. Tetapi lagi-lagi masih tetap sama, ponselnya hanya rame di grup saja, akhirnya tanpa melepas mukena ia memilih duduk di depan jendela. Menatap kearah luar memperhatikan burung-burung yang beterbangan berlomba mencari tempat pulang. Tapi apa kabar dengan suaminya yang bahkan sampai saat ini tidak mengangkat teleponnya bahkan pesan yang ia kirimkan pun belum berubah warna masih centang a-bu.

Rindu dan khawatir bercampur menjadi satu, namun ia harus menghubungi siapa. Suaminya itu berangkat ke Surabaya hanya seorang diri. Apa mas Zan sibuk? Atau ponselnya ketinggalan di hotel? Ya Allah lindungi suami hamba dimana pun keberadaannya. Lagi-lagi ia kembali mengulang do'a yang sama untuk suaminya.

"Re, ayo makan sekarang nduk!" Panggilan Bu Rohmah dari balik pintu menyudahi racauan hati Renata. Ia segera berdiri dan menutup jendela, kemudian berayun menuju kearah pintu dimana ibunya berada. "Iya Bu bentar." Sahutnya saat membuka pintu sambil memegang ujung mukena yang masih ia kenakan.

Bu Rohmah tersenyum menatap Renata, "ibu tunggu dibawah ya, jangan lama-lama."

"Iya Bu."

Renata kembali meninggalkan pintu tanpa menutupnya, ia melepaskan mukena disaat bersamaan pula vibra ponselnya memekik diatas meja rias. Dengan cepat ia meraihnya dan segera menggeser layarnya.

"Mas"

"Sayang, maaf mas baru bisa ngasih kabar. Dari sepulang meeting tadi lelah banget, ibu nelepon sebentar mas langsung tidur. Maaf ya, kamu sudah makan belum?"

"Syukurlah kalau cuma ketiduran, aku dari tadi khawatir mas enggak ada kabar." Ucap Renata seraya menghembuskan napas leganya.

"Maafin mas ya sudah bikin kamu khawatir, dan maaf sekarang gak bisa lama-lama neleponnya mas lapar mau cari makan dulu. Nanti setelah mas selesai makan kita sambung lagi, enggak apa-apa kan?"

"Iya mas enggak apa-apa, aku juga mau makan sudah ditunggu ibu. Mas hati-hati disana ya, Assalamualaikum." Setelah mendapatkan jawaban salam dari Fauzan Renata mematikan sambungan teleponnya. Ia tersenyum kecut teringat pengakuan Fauzan yang masih sempat bertukar kabar dengan ibunya di Bandung sedangkan dirinya harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan kabar.

1
Rina Arie
good
sunaryati jarum
Perempuan itu juga jadi pemimpin Opa, bahkan sering lebih disiplin
Aisyah Virendra
masyaa Allah akhirnya Novel ini benar² End 🥲 ga ada lagi Reson 🤏
tapiiii... Alhamdulillah ikut senang karena teteh akhirnya benar² menyelesaikan karyanya dsini 🥰 semoga akan hadir novel² teteh berikutnya yg ga kalah bagus dan inspiratif dr Reson ❤️
Aisyah Virendra: aseeeekkk aku tunggu lounchingnya dan jangan lupaaa toel akuuuu didapur ya teh 🤏
total 2 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀🍾
🤧🤧🤧🤧🤧🤧
jadi ikutan sedih bacanya,,semoga kalian tetap Bersama kakek&nenek.
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀🍾: sama sama mom 🥰
total 2 replies
ms. yati74
hatur tengkyuuu emak sudah di kasi hiburan dgn cerita yg keren ini Teeh....semoga Teeh imoet selalu sehat wal'afiat biar bisa terus berkarya dan beraktifitas

lopeee sekebon mawar Teeh imoet🩷🩷🩷🩷🩷🩷🩷🩷
Iper: Aamiin Ya Rabbal'alamin, doa yang sama juga buat emak🤲🏻♥️
Terimakasih banyak sudah berkenan hadir dikarya recehku Mak, love love sekebon mawar🥰🥰🥰
total 1 replies
ms. yati74
hukuman buat shoppe pay dan oZan sangat elegan tapi menyedihkan buangeeeett...dan maaf yaa buat kalian ber2 emak ga simpati apa lagi sedih dan kasian...emak malah bahagiaaaaa🤣🤣🤣

(dosaloomaak🙈)
Iper: Maakk😅😅😅😅
total 1 replies
ms. yati74
Alhamdulillah kangen nya emak ke mantan dude dokter terobati😘
Aisyah Virendra
tetanggaku juga punya penyakit itu, alhamdulillah bisa sembuh, konsisten semangat sembuh Fauzan
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄🙄🙄🙄
jangan bilang Shopia hamil anaknya Fauzan dan Fauzan sedang menikmati sindrom itu 🤨🤨🤨 ahhh jangan plis jangan karena akan semakin rumit dan ga akan bisa lepas dari Shopia 😒
Lee Mba Young
karma mu lah itu. jd nikmati saja. 🤣🤣.
gk kasian Aku ma Zan yg sakit biar saja. dah punya istri gk bersyukur mlh selingkuh. kluarga juga dukung pula.
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀🍾
inikah kurma buat mereka karena telah mencelakai Rena.
Nana Geulise: betul..betul..betul...
total 1 replies
༄⃞⃟⚡𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤☪️
wahh kaget dapat bonchap semoga ada terus yaaaa
Aisyah Virendra
Akhirnya setelah 1 bulan Up juga 🤭
Btw terimakasih tetehku yg paling ehem ❤️🤏

Shopia²... ya Ampun, smg aja stelah ini kamu bertaubat yg bener² ya shop, jangan lagi main gila yg bkl mmbuat dirimu susah sendiri. dan lagi semoga aja mertuamu baik, tapi bisa jadi mertuamu galak, duh gabisa bayanginnya 🤪
Fauzan... ahh kepo deh
Iper: wkwkwk 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀🍾
ada rasa sedih&menyesal di hati pak Wira karena dia gagal mendidik anaknya tapi mau gmn lagi skrg udh terlanjur karena kelakuan nya sendiri
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀🍾
sampai berpelukan ya saking syg nya Bu Rohmah sama Mila&bara
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀🍾
walaupun acaranya udh selesai tapi mereka mau datang kan.
Aisyah Virendra
teteeeeeeehhh kapan up lagiiiiiii
🦋⃞⃟𝓬🧸🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ*ѕ⍣⃝✰
semoga adek Aqil kelak mampu menjadi opa & papanya
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
Aku baru baca benar2 kok emosi ya lihat tingkah Sophia😤
☘𝓡𝓳 _𝐀randita☪️༄⃞⃟⚡
kirain dokter nggak bisa panik yaa, ternyata bisa seperti itu juga😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!