Bertengkarnya Mama dan Papa Erin,membuat Mama Erin pergi entah kemana dan Papa Erin disibukkan oleh keluarga barunya.Sehingga Erin tinggal sendirian dirumahnya tanpa pengawasan orangtua.
Rafan,teman sekelas Erin juga orang yang selalu berdebat dengannya.Tiba-tiba datang ke rumah Erin dalam keadaan mabuk dan dibawah kendali obat perangsang.
Membuat Rafan melakukan hal yang tidak terduga,yaitu mengambil mahkota Erin.Karena tidak orang di dalam rumah itu kecuali mereka berdua,membuat kejadian itu tidak bisa dicegah.
Kejadian itu membuat Rafan harus tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.Membuat mereka harus menikah dini.
Erin adalah gadis yang bertubuh mungil dan memiliki sifat yang jahil.Rafan,laki-laki yang memiliki wajah yang tampan,pewaris keluarga konglomerat,cuek juga emosian.
Bagaimana jika kedua orang tersebut disatukan dengan hubungan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon InaNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
"Apa-apaan sih?" kata Rafan lalu tunduk dan melanjutkan makannya.
"Emang kamu nggak makan tadi sama Thisa?" tanya Erin.
Rafan tidak menghiraukan Erin dan melanjutkan makannya.
"Thisa satu sekolah sama kita ya?" tanya Erin lagi.
Tidak tahan dengan pertanyaan Erin,Rafan membanting sendok nya dan melihat Erin tajam.
"Lo nggak usah banyak tanya." ketus Rafan.
Melihat Rafan ketus,Erin menghembuskan napasnya kasar.
"Yaudah kamu lanjut aja makannya,aku keatas dulu." kata Erin berlalu dari dapur.
Erin kekamarnya dan langsung mandi dan berganti baju.Dengan kaos panjang kebesaran dan celana pendek sepaha,dan rambut digulung tinggi.
Erin turun dan melihat Rafan duduk disofa dengan tv menyala,tapi Rafan bermain handphone.Erin pergi kedapur dan mengambil cemilan lalu kembali lagi keruang tamu dan duduk disamping Rafan.
"Kamu mau makan apa malam ini?biar aku masakin." kata Erin membuka pembicaraan.
Rafan melihat Erin sekilas lalu menatap handphonenya kembali.
"Gue makan diluar sama Thisa." kata Rafan acuh.
"Eummmm oke,kamu ganti baju dulu baru main hp." kata Erin.
Rafan berdiri lalu ingin berjalan kekamar dan tidak beberapa langkah,Rafan balik lagi ke Erin lalu membuka dompetnya.
"Ini kartu,lo boleh gunain sepuasnya." kata Rafan memberikan kartu.Erin hanya menatap nanar kartu itu.
"Nggak usah,aku ada uang kok."kata Erin menolak.
" Gue nggak suka dibantah."kata Rafan tegas dan melemparkan kartu ke Erin.
Erin hanya menerima kartu itu dengan pasrah.Rafan pun pergi kekamar dan berganti baju.
Tidak beberapa lama,Rafan turun dengan kaos warna abu-abu polos dan celana selutut dan rambut disisir rapi kebelakang yang menambah kegantengan menurut Erin.
Erin memperhatikan Rafan dari tangga sampai duduk disofa lagi dengan mulut terbuka kagum.
"Rafan,kok kamu ganteng banget." kata Erin terang-terangan ke Rafan.
Mendengar itu membuat Rafan senang.Entah kenapa dia ingin Erin memujinya dan kagum dengannya lagi.
"Iya, nggak cocok sama lo yang jelek." kata Rafan mengejek.
"Jelas dong,aku cocoknya kan sama Niel." kata Erin bercanda.
Rafan meletakkan handphonenya dengan kuat ke meja dan menatap Erin sinis.
"Gue akan bilang sama Niel,kalau lo udah nggak perawan lagi,biar Niel nggak mau sama lo." kata Rafan tajam.
Mendengar itu,membuat raut wajah Erin berubah seketika menjadi sulit diartikan.
"Eummm aku kekamar." kata Erin pergi.
Rafan yang menyadari ucapannya barusan,langsung menampar-nampar mulutnya sendiri dan menyesal.
"Aduuhh kok gue bilang itu,kan dia jadi sakit hati." runtuk Rafan dengan kebodohannya itu.
Erin berdiri dibalkon kamar dan termenung menatap langit yang sudah mulai malam.Rafan menyusul Erin,dan berdiri dibelakang Erin.
"Ekheeem." batuk Rafan pura-pura dan membuat Erin menoleh kebelakang.
"Eummm lo bersiap cepat,kita makan diluar,cepat gue tunggu."kata Rafan lalu keluar kamar.
******
" Lo mau makan apa?"tanya Rafan menyodorkan buku menu ke Erin.Erin hanya melihat buku itu.
"Samain aja sama kamu."
"Mbak,pesan Chiken fingers dua,Jamur Enoki goreng dua,dan Fruit tea dua." kata Rafan ke pelayan cafe yang berada disampingnya.
"Ditunggu ya Mas." kata Pelayan itu sopan.
Menunggu makanan datang,Rafan dan Erin tidak ada yang membuka percakapan.Kedua nya sama-sama bermain hanphone untuk menghindari percakapan yang canggung.
semangat buat novel lagi kak