Katanya jodoh itu adalah cerminan diri.
Tapi ... mengapa pria ini begitu egois dan ketus?
Dinda Gandis (25) desainer baju pengantin, mendapat kesempatan kedua setelah menerima donor jantung milik seorang wanita muda yang kini mengubah hidupnya.
Satu pertemuan tak terduga mengubah takdir keduanya dengan tak terduga.
Johan B. Bastian (33), pengacara sukses yang penuh misterius, terus terusik dengan sifat Dinda yang membawanya pada sosok wanita yang ia cintai dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Esok paginya, tepat dijam 10 pagi Dinda terperangah tak percaya. Kamar pasien Johan kini telah kosong. Dari kabar perawat jaga, pasien Johan telah keluar dari rumah sakit 2 jam yang lalu.
Dinda/"benar-benar orang aneh!!" rutunya.
Namun ia tak memikirkan hal lain, Dinda malah memilih untuk pulang kebutiknya. Ia rasa Johan pasti tengah beristirahat diapartemennya.
Namun hal yang mengagetkan dirinya ketika didalam taksi adalah suara tab Johan berdering dengan lantangnya yang mengangetkan supir dan dirinya.
Dinda/"maaf pak!!" ucapnya yang tak enak karena mengangetkan si bapak supir.
"gak orang, gak tabnya bikin orang jantungan aja!!" rutunya kesal dalam hati lalu mengangkat telfon itu.
Dinda/"hallo??"
Johan/"cepat ke apartemen ku??"
Dinda/"apa??"
Johan/"cepat ke apartemen ku, sekarang!!" perintahnya tegas. Dan seketika telfon itu terputus.
Dan hanya meninggalkan Dinda dengan tercengang tak percaya. Butuh waktu untuk Dinda memutuskan arah laju taksi ini.
Dinda/"hhhmm, pak maaf kita ganti rute yaa, apartemen Luxury" ucapnya ragu.
Dan pak supir pun berlahan mencari putaran haluan mobil untuk berbalik arah menuju apartemen Luxury.
Sesampai disana Dinda turun dengan wajah bengongnya.
Dinda/"kau benar-benar bodoh Dinda?? mau-maunya dikerjain sama nie orang!!" ujarnya yang bingung melihat kearah gedung apartemen.
Sekarang apa yang harus ia lakukan, nomor rumah Johan saja dia tak tau??. Blok berapa?? lantai berapa??. Dan ia terus-terus mengurutu untuk dirinya sendiri mengapa selalu patuh pada Johan.
Seketika sosok pria datang mendekat.
"mbak Dinda??" sapanya.
Yang reflek Dinda menoleh pada suara yang memanggilnya.
Dinda/"pak Dodi??"
Dodi/"kenapa mbak ada disini??"
Dinda/"ah, hhmm itu bos anda memanggil saya untuk kemari!!" ujarnya ragu.
Dodi hanya mengangguk pelan.
Dodi/"kalo begitu ayo sama-sama keatas!" ajaknya dengan membawa beberapa map ditangannya.
Dinda melihat dengan simpati untuk menolong pak Dodi yang terlihat kewalahan.
Dinda/"biar saya bantu??" ucapnya seraya mengambil beberapa map dari lengan kiri pak Dodi yang sedikit terkaget.
Dodi/"ah terima kasih mbak Dinda" ujarnya.
Dinda/"sama-sama pak" jawabnya seraya mengikuti langkah pak Dodi yang mengarah pada lift apartemen yang terlihat mewah.
Dodi/ bagaimana mana mbak tau ini apartemen pak Johan??"
Dinda/"ah itu saya pernah mengantarkannya sekali"..
Dodi/"ah begitu rupanya" ujarnya seraya berpikir.
Dinda/"hhmm tapi kalo boleh tau kenapa pak Johan sudah keluar dari rumah sakit?? apa benar lukanya sudah sembuh??"
Dodi/"ah, itu sebenarnya ia tak suka dengan rumah sakit, karena ada sedikit hal yang kurang disuka oleh pak Johan jika terus dirumah sakit"..
Dinda mengangguk paham, memang rumah sakit bukan lah tempat yang enak untuk urusan apa pun.
Dan lift itu berhenti di angka 15. Keduanya keluar dari lift seraya berbicara ringan lalu berjalan hingga sampai pada pintu apartemen Johan. Dan dengan cepat Dodi menekan kode password rumah Johan.
Dinda tak berbicara, ia hanya memperhatikan saja gerak gerik Dodi yang terlihat familiar dengan hal itu.
Klik.. pintu apartemen itu terbuka. Dan berlahan keduanya masuk kedalam. Sesaat Dinda terteguh dengan dekorasi ruangan maskulin itu. Terlihat beberapa funiture sederhana namun elegan terpajang disana. Ruangan yan rapi dan wangi.
Berlahan ia masuk untuk lebih dalam keruangan rumah yang sepi itu. Dodi masuk kedalam salah satu ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat dan terdengar sayup-sayup suara obrolan dari dalam sana. Namun Dinda tak peduli ia terlalu menikmati ruangan yang benar-benar nyaman itu.
Dinda/"rumah ini idaman gue banget!!" tuturnya sendiri seraya berbisik.
"warn and cozy" pujinya menilai suasana.
Dan seketika matanya tertuju pada sosok Johan yang tengah memandangnya dengan sorot mata aneh.
Johan/"untuk sementara kau harus merawat aku!!" seraya mencoba berjalan berlahan menuju sofa.
Dinda/"Apa??"
Johan/"sampai aku sembuh dan bisa sendiri!!"
Dinda/"ah apa anda gila?? saya bukan perawat!!" protesnya.
"trus kenapa anda keluar jika tak yakin bisa sendiri!!" ujarnya marah. Dah hal itu mendapat respon terkaget Dodi melihat Dinda yang berani marah kepada atasannya.
Johan hanya menghela nafas panjang dan berusaha duduk berlahan disofa yang terlihat susah untuk ia duduki dengan menahan perut kanannya.
Johan/"aku akan memperpendek perjanjian menjadi 1 bulan!!" tukasnya cepat.
Dinda/"benarkah??"
Johan/"jika kau pikir berat! silahkan keluar dari rumah ini!!"
Dinda terpelogo dengan sifat Johan yang mudah membalikkan kesepakatan itu kearah dirinya dengan tidak ada pilihan kedua.
Dinda/"oke!! oke saya akan lakukan, TAPI!!! saya akan bawa kerjaan menjahit saya kesini!!"
Johan/"silahkan, asal tidak menganggu!!" ujarnya tenang. Dan seketika ia memberikan kode pada Dodi dengan abisnya yang disambut paham oleh Dodi yang segera membuka tas ranselnya. Lalu menyerahkan hal yang dimaksud pada Johan kepada Dinda.
Dinda menyambut dengan sedikit kaget.
Dinda/"ini???"
Johan/"handphone mu telah dirusak dan dimusnahkan oleh wanita jahat itu, jadi sebagai gantinya aku menganti dengan yang baru"
Dinda tak bisa berkata, ia benar-benar tak percaya bahwa handphone kesayangannya telah dirusak. Dan seketika ia berjongkok, ia merasa kedua kakinya lemas mendengarkan handphone telah rusak.
Dodi/"mbak Dinda gak papa??" ujarnya yang melihat reaksi tak biasa Dinda yang terkejut.
Dinda/"ya Tuhan!! seluruh sketsa ku.." ucapnya tak percaya seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terdengat suara isakan tangis Dinda yang berat. Dan hal itu membuat Dodi cemas untuk mendekat.
Dodi/"mbak??"
Johan hanya tertawa kecil.
Dinda/"bagaimana ini??? disana tersimpan sketsa-sketsa desaian yang telah siap!!" ujarnya yang sukses menangis.
Johan/"hey!! kau menangis hanya karena sebuah handphone??" ujarnya mengejek.
Seketika Dinda bangun, ia menyeka tangisnya.
Dinda/"YA!! kau begitu kejam!! kau tak tau aku berusaha mati-matian untuk hasil karya itu!!" ujarnya tajam menatap Johan dengan marah.
Johan hanya menghela nafas panjangnya.
Johan/"sudah lah!!" ujarnya dengan mengejek.
Dinda/"oke, saya gak akan merawat anda, rawat aja diri sendiri!!" ujarnya kesal dan mengambil langkah untuk keluar dari ruangan itu.
Johan/"file mu aman!!" tukasnya seketika yang membuat langkah Dinda terhenti.
Dinda pun berbalik melihat Johan tak percaya.
Dinda/"sungguh??" ujarnya berharap.
Johan mengangguk. Dan Dodi mendekat pada Dinda.
Dodi/"dibuka dulu mbak handphone barunya, disana sudah terisi semua file mbak yang dari handphone terdahulu." ujarnya Dodi yang membantu Dinda membuka kotak handphone itu dan terlihat note 10 lite. Dan berlahan aplikasi itu terbuka dan mengarah pada file yang tersimapn dan seketika lembaran-lembaran sketsa itu terlihat disana dengan tak kurang satu pun.
Dan seketika Dinda memeluk handphone barunya itu dengan perasaan lega.
Dinda/"ya Tuhan, syukurlah!!" ujarnya dengan sedikit bisa merilekskan saraf-saraf paniknya.
Johan/"sekarang lakukan tugas mu!!"
Dinda seketika mengidik, dan ia mulai ingat situasinya.
Dinda/" ah, yaa!!" ujarnya malas. Namun ia bersyukur dengan handphone barunya ini yang sangat ia butuhkan.
Dodi/"semangat mbak!!" ujarnya memberikan semangat pada Dinda.
Dinda hanya tersenyum getir.
🍃🍃🍃
Sore itu Dinda telah menelfon mbak nopa untuk membawa beberap pekerjaan ke apartemen Luxury dan beberapa pakaian untuknya.
Dan berselang beberapa waktu Dinda turun untuk mengambil barangnya dibawah.
Dinda/"mbak Nopa??" panggilnya dengan berlari kecil kearah motor mbak nopa yang membawa koper ukuran sedang.
Mbak Nopa/"kamu gak papa?? berdua sama pengacara itu??"
Dinda/"tenang mbak, ada pak Dodi, Dinda cuma gurus hal-hal sepele, tapi hasilnua bisa kurangi perjanjian 1 bulan kan lumayan mbak" ujarnya seraya mengambil koper itu dan menurunkannya dari motor Mbak Nopa.
" makasih yaa mbak, besok bawak aja lagi beberapa kain kemari, biar Dinda bisa kerjain disini"
Mbak Nopa terlihat cemas kepada Dinda.
Mbak Nopa/"kamu bener baik-baik aja??"
Dinda/"iyaa percaya deh mbak, Dinda baik-baik aja" ujarnya menyakinkan Mbak Nopa.
"udah mbak pulang aja, hati-hati ya mbak"
Dan berlahan motor mbak Nopa pun menginggalkan Dinda yang masih melambaikan tangannya pada Mbak Nopa.
Dan setelah bayangan mbak Nopa hilang dari matanya, kembali ia terlihat lesu. Lalu menghela nafas panjangnya.
Dinda/"doain dinda mbak, agar cepat-cepat keluar dari lingkaran perjanjian ini" ujarnya sungguh dan berlahan mengerek tas koper itu untuk naik keatas rumah apartemen Johan.
sukses
semangat
mksh