Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.
Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.
Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.
Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?
Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Pesantren
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Aisyah,
setelah selesai mengirimkan data untuk melamar pekerjaan hari kemarin, hari sekarang Aisyah diundang untuk interview ke sekolah pesantren yang ditawari oleh Bu Nawa minggu lalu.
“Bu Aisyah ya,” ucap salah seorang lelaki yang memakai baju batik, seragam khusus guru di pesantren itu.
“Iya benar,” jawab Aisyah yang sedang duduk di ruang tunggu, depan kantor kepala sekolah.
“Mari Bu, Masuk, Ustadzah Nawa sudah menunggu di dalam.”
Aisyah pun masuk ke dalam ruangan yang berukuran 4x5 meter itu. Dengan nuansa ruangan kepala sekolah pada biasanya, hanya saja kalau ruang kepala sekolah di pesantren, terdapat banyak lafadz dan kaligrafi yang dipajang di dinding.
Aisyah pun memberi salam, dan Bu Nawa menjawabnya lalu
mempersilakan Aisyah untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
“Dek Aisyah, jadi juga ternyata melamar kemari,” ucap Bu
Nawa mencairkan suasana. Aisyah hanya bisa mengangguk mengiyakan. Lalu mereka berdua pun segera melakukan interview seputar pekerjaan dan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah. Hingga pada akhirnya, keputusan pun resmi dibuat, Aisyah berhasil lolos untuk ikut menjadi tenaga pengajar di sekolah pesantren itu.
“Besok pagi, datang lebih awal ya, untuk serah terima jabatan dulu dengan guru mata pelajaran yang sebelumny,” ucap Bu Nawa, Aisyah pun mengangguk mengiyakan. Lalu ia pun berpamitan untuk pulang.
Di koridor sekolah, yang kebetulan sedang jam istirahat pertama, banyak sekali santri dan santriwati yang berlalu lalang di depannya. Dan tanpa sengaja, seorang murid menyenggol bahu Aisyah, hingga membuat tubuh Aisyah kehilangan keseimbangan, dan dengan tak sengaja Aisyah menabrak seseorang yang baru saja keluar dari dalam kelas yang dilewatinya.
“Astagfirullah, maaf Pak maaf,” ucap Aisyah begitu melihat setumpuk buku yang jatuh berserakan di atas lantai koridor. Aisyah segera
memungutinya tanpa melihat ke arah lelaki yang tengah berdiri di dekatnya.
Lelaki itu pun ikut membantu untuk membereskan buku-buku
itu. Dan setelah selesai Aisyah berdiri sambil merapikan buku-buku yang ada di tangannya, hendak memberikannya pada lelaki yang sudah ditubruknya itu.
Dan saat lelaki itu bangkit, Aisyah begitu terkejut melihatnya, karena lelaki itu tak lain ialah lelaki yang pernah mengejarnya waktu hujan saat itu.
“Kamu!” pekik Aisyah terkejut tak menyangka.
Adam pun ikut terperanjat saat melihat wanita yang menubruknya tak lain ialah wanita yang ia kagumi. “A-Aisyah,” ucap Adam refleks.
Mereka berdua pun sejenak terdiam tak bersuara, dan dalam hitungan tiga detik Aisyah langsung menundukkan pandangannya.
“Maaf, saya tidak sengaja. Emh, ini buku punya Anda.” Aisyah menyodorkan setumpuk buku yang sudah dirapikannya. Adam pun langsung mengambil alih buku-buku itu dari tangan Aisyah.
Dan tanpa berkata apa-apa Aisyah langsung pergi melangkahkan
kakinya meninggalkan Adam yang masih bengong di depan kelas itu.
“Itu... beneran Aisyah kan? Wanita yang aku temui malam itu?” gumam Adam sambil melihat kerudung Aisya yang berkelibat-kelibat tertiup angin, yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya, lalu hilang di balik gedung yang dilewatinya.
“Kenapa dia ada di sini?” pikir Adam, sambil perlahan berjalan menuju ruang kantor guru.
Sementara itu, Aisyah kini sudah menaiki angkot, hendak pulang ke rumahnya. Ia masih tak percaya, bisa bertemu lagi dengan laki-laki
yang menurutnya aneh. “Kenapa lelaki itu bisa ada di sana? Apa dia juga mengajar di pesantren itu?” batin Aisyah menduga-duga.
Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Kamu selingkuh Hanif
Biar Aisyah sama Adam aja
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat