Pertemuan pertama kami hanya di dasari oleh menolong sesama. Menolong gadis kecil yang sedang di kejar - kejar oleh pria hidung belang. Dan menolong diriku yang sudah di tagih menikah oleh orang tuaku.
Siapa sangka akan ada hadirnya cinta di antara kami berdua. Aku tak pernah memperlakukannya dengan kasar. Karena aku tahu gadis ini sudah sangat tertekan dengan kehidupannya.
Dari awal pertemuan kami, gadis itu telah merebut sebagian hatiku. Melihatnya menangis tersedu - sedu membuat hatiku perih.
Namaku Muhammad Devan Melviano. Aku adalah seorang CEO di perusahaan keluargaku yang bergerak di bidang real estate yang bernama Melviano Corporation. Di usiaku yang ke 24 tahun ini aku sudah di suruh menikah oleh orang tuaku.
Gadis yang cantik itu bernama Chalista Indriana Safitri. Gadis cantik yang di jual oleh ibu tirinya sendiri kepada pria hidung belang.
Aku selalu berharap agar selalu bahagia bersamanya.
Chalista Indriana Safitri, aku mencintaimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagyta Salma Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 22 - Lamaran
"Emm, rupanya sedang ada yang mencoba untuk menjadi pelawak nih" sindir Amanda kepada Kedua Putri Kembarnya.
Sontak saja Anyuna dan Anyura menjadi kaget dengan kedatangan sang Mama yang terbilang sangat tiba - tiba.
"Eh Mama" ucap Anyura sembari tersenyum seperti kuda.
"Mama___" ucap Anyuna yang tidak dapat melanjutkan ucapannya.
Amanda langsung memalingkan wajahnya yang semula menatap lekat wajah Kedua Putri Kembarnya, sekarang Amanda justru menatap lekat pada dinding yang ada di sebelahnya.
"Ah sudahlah. Mama tidak ingin berdebat dengan kalian" ucap Amanda dengan nada pasrah sembari menatap lekat ke arah dinding yang ada di sebelahnya.
"Mama" panggil Anyuna dan Anyura dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
Kini Amanda tidak lagi menatap lekat pada dinding yang ada di sebelahnya, melainkan menatap lekat kepada empat orang yang sedang duduk di atas karpet tebal yang ada di ruang keluarga, yaitu Serena, Dylan, Devan, dan Devin.
"Kak Dylan, Kak Rena, ayo segera bersiap - siap. Sebentar lagi kita akan pergi ke rumah Chalista. Papa dan Mama serta Yuna dan Yura juga ikut pergi ke rumah Chalista" ucap Amanda sembari tersenyum lembut.
Karena mendengar ucapan Amanda sang Adik ipar, Serena langsung beranjak dari duduknya. Kini Serena tengah berdiri di atas karpet tebal yang ada di ruang keluarga.
"Ah, baiklah Manda. Ayo kita bersiap - siap di ruang Make Up" ucap Serena yang langsung menarik pergelangan tangan Amanda menuju ke ruang Make Up.
Selepas kepergian Serena dan Amanda ke ruang Make Up, kini tersisa Devan, Devin, Dylan, Anyuna, dan Anyura yang berada di ruang keluarga.
"Devan, Devin, Yuna, dan Yura, kalian segeralah bersiap - siap. Pakailah gamis dan baju koko kalian yang berwarna peach yang telah di sediakan oleh Mama Rena" ucap Dylan yang memberikan instruksi kepada Kedua Putranya serta Kedua Keponakan Kembarnya.
"Baiklah Papa Dylan. Ayo kita segera pergi bersiap - siap Kak Yuna. Kita harus terlihat cantik dan menawan dengan gamis berwarna peach dan Make Up yang natural" ucap Anyura yang langsung menarik pergelangan tangan Kakak Kembarnya.
Selepas kepergian Anyuna dan Anyura yang menuju kamar Anyuna dan Anyura untuk berganti pakaian yang di kenakan olehnya sekaligus memoles wajahnya dengan Make Up yang natural, kini tersisalah Devan, Devin, dan Dylan yang berada di ruang keluarga.
Dylan beranjak dari duduknya. Kini posisi Dylan tengah berdiri di atas karpet tebal yang berada di ruang keluarga.
"Devan, Devin, Papa mau berganti pakaian dahulu. Kalian segeralah berganti pakaian dan bersiap - siap" ucap Dylan sembari berkalan menuju ke arah kamar Dylan dan Serena.
Selepas kepergian Dylan ke kamar Dylan dan Serena, kini yang tersisa hanyalah Devan dan Devin yang masih berada di ruang keluarga.
Terlihat di sana Devan sedang ingin beranjak dari duduknya. Kini posisi Devan tengah berdiri di atas karpet tebal yang berada di ruang keluarga.
"Devin, Kakak mau berganti pakaian dan bersiap - siap dahulu ya. Kamu segeralah berganti pakaian dan bersiap - siap" ucap Devan yang langsung berjalan ke arah anak tangga.
"Baiklah Kak" jawab Devin dengan sedikit menaikkan nada bicaranya karena letak Devan yang sudah jauh dari jangakauannya.
Perlahan namun pasti, Devan menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju kamarnya. Kini Devan telah sampai di depan pintu kamarnya.
Krek
Devan membuka pintu kamarnya. Dengan perlahan Devan melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamarnya. Terlihatlah sebuah paper bag berwarna coklat yang berada di atas sofa yang berada di dalam kamar Devan.
"Mama benar - benar sudah mempersiapkannya dengan baik" batin Devan sembari perlahan menyunggingkan senyuman di wajah tampannya.
Devan langsung mengambil paper bag yang berisi baju koko miliknya. Devan pun membuka paper bag tersebut dengan sangat hati - hati.
"Hah, Mama ini benar - benar memilihkan baju dengan warna kesukaannya. Warna kesukaan Mama kan warna yang natural dan kalem" ucap Devan ketika melihat baju koko yang telah di keluarkan dari paper bag tersebut.
Devan langsung membawa baju koko yang berwarna peach dan celana dasar berwarna hitam yang telah di keluarkan dari paper bag tersebut. Devan segera menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan baju koko berwana peach yang telah di sediakan oleh sang Mama.
Tak butuh waktu lama bagi Devan untuk mengganti pakaiannya dengan baju koko berwarna peach yang telah di sediakan oleh sang Mama. Kini Devan telah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju koko berwarna peach dan celana dasar berwarna hitam yang telah di sediakan oleh sang Mama.
Devan segera berjalan keluar dari kamarnya. Devan menuruni satu per satu anak tangga yang akan membawanya ke lantai dasar.
Terlihatlah di sana ada Hanna, Amanda, Serena, Anyuna, dan Anyura yang terlihat sangat anggun dengan balutan gamis berwarna peach dan hijab syar'i berwarna hitam dengan Make Up natural yang terhias di wajahnya.
Tak ketinggalan ada Adhitama, Demian, Dylan, dan Devin yang terlihat sangat tampan dengan balutan baju koko berwarna peach dan celana dasar berwarna hitam.
"Ayo kita berangkat sekarang. Rena, Devan, Devin, Mama, dan Papa akan ikut di mobil Dylan. Sedangkan Manda, Yuna, dan Yura akan ikut di mobil Demian. Kita akan membawa satu mobil khusus pengangkut hantaran lamaran yang akan di kemudikan oleh Pak Joko, supir pribadi Devan" ucap Dylan yang memberi instruksi.
Serena, Devan, Devin, Hanna, Adhitama, Amanda, Anyuna, Anyura, dan Demian langsung berjalan keluar dari rumah keluarga Melviano.
Sesuai dengan instruksi Dylan tadi, Serena, Devan, Devin, Hanna, dan Adhitama akan ikut di mobil Dylan. Sedangkan Amanda, Anyuna, dan Anyura akan ikut di mobil Demian. Sebelumnya Dylan telah mempersiapkan satu mobil khusus untuk mengangkut hantaran lamaran yang akan di kemudikan oleh Pak Joko, supir pribadi Devan.
Kini mobil Dylan, mobil Demian, serta mobil khusus pengangkut hantaran lamaran yang di kemudikan oleh Pak Joko telah membelah jalanan Ibu Kota Jakarta.
Karena jalanan yang tidak terlalu padat mengakibatkan mobil Dylan, mobil Demian, serta mobil pengangkut hantaran lamaran yang di kemudikan oleh Pak Joko lebij cepat sampai di rumah Chalista.
Hanya dalam waktu 15 menit, kini semua anggota keluarga Melviano sudah sampai di rumah keluarga Chalista.
Ting
Tong
Dylan menekan bel yang ada di depan rumah Chalista. Tak berselang lama, datanglah Chandra dan Dewi yang membukakan pintu rumah keluarga Chalista.
"Halo Tuan, Nyonya, Tuan Muda, dan Nona Muda, ayo silahkan masuk" ucap Chandra sembari membuka pintu rumahnya dengan sangat lebar.
Serena, Dylan, Devan, Devin, Amanda, Demian, Anyuna, Anyura, Hanna, dan Adhitama memasuki kediaman keluarga Chalista. Di susul dengan Pak Joko dan Pak Leo yang membawa masuk hantaran lamaran ke dalam kediaman keluaga Chalista.
Serena, Dylan, Devan, Devin, Amanda, Demian, Anyuna, Anyura, Hanna, dan Adhitama duduk di sofa yang berada di ruang tamu yang berada di kediaman keluarga Chalista.
Asisten rumah tangga Chandra menyuguhkan beberapa gelas jus dan beberapa macam camilan untuk semua keluarga Melviano yang akan menjadi besan dari keluarga Chandra.
Terlihatlah di sana ada Chandra, Dewi, dan Chalista yang mendekat ke arah seluruh anggota keluarga Melviano. Hanya anak tiri dari Chandra yang tidak bisa mengikuti acara lamaran Chalista pada malam ini.
Chalista nampak cantik dan anggun dengan balutan gamis berwarna peach dan hijab syar'i yang berwarna hitam. Warna yang senada dengan gamis dan baju koko yang di kenakan oleh seluruh anggota keluarga Melviano. Chandra dan Dewi juga memakai baju koko dan gamis yang berwarna senada dengan baju koko dan gamis yang di kenakan oleh seluruh anggota keluarga Melviano.
Chandra, Dewi, dan Chalista menduduki sofa yang berseberangan dengan sofa yang di duduki oleh seluruh anggota keluarga Melviano.
"Assalamualaikum Tuan Chandra dan Nyonya Dewi" ucap Dylan yang memberikan salam kepada Kedua Calon Besannya.
"Waalaikumsalam Tuan Dylan, Nyonya Serena, berserta seluruh anggota keluarga Melviano" jawab Chandra sembari memberikan senyuman lembut kepada seluruh anggota keluarga Melviano
"Langsung saja saya akan menyampaikan maksud dari kedatangan saya berserta keluarga saya ke rumah Tuan Chandra dan Nyonya Dewi" ucap Dylan dengan senyuman di wajahnya.
"Saya akan meminang Putri Tuan Chandra dan Nyonya Dewi yang bernama Chalista Indriana Safitri untuk Putra Pertama saya yang bernama Muhammad Devan Melviano. Apakah Tuan Chandra dan Nyonya Dewi memberikan restu kepada Devan, selaku Putra Pertama saya untuk di pinang dan di nikahi oleh Devan?" ucap Dylan dengan nada yang lembut.
"Kalau saya dan Istri saya sebenarnya setuju. Hanya saja saya ingin Chalista yang memberikan jawabannya. Karena Chalista yang nanti akan menjalani kehidupan selanjutnya" ucap Chandra sembari melirik Chalista yang berada di sebelahnya.
"Apa jawabanmu Chalista?" tanya Serena dengan kedua mata yang memancarkan binar.
"Insya Allah Lista setuju untuk di nikahi oleh Kak Devan" ucap Chalista dengan pipi yang bersemu merah.
TERJEBAK PERNIKAHAN SMA
makasih 🙏🙏