Arkhenia bukanlah tempat yang nyaman, namun mau tak mau kita harus memperjuangkan apa yang harusnya kita miliki.
Eurashia, salah satu benua terbesar di Arkhenia, terpecah menjadi dua akibat perang yang sudah berjalan ratusan tahun. Respher, benua yang dipenuhi ras murni seperti penyihir, elf, peri dan makhluk spiritual lainnya. Ceshier, benua yang dikuasai oleh demi human dan beberapa ras lain yang dianggap 'cacat' bagi para makhluk spiritual.
Mungkin dari luar, Respher dan Ceshier adalah langit dan bumi dengan Respher sebagai panutan bagi benua lain karena dianggap suci, namun apa benar kenyataannya seperti itu?
Saciel Arakawa, penyihir terbaik di Careol dan juga pahlawan perang, muak dengan kondisi perang yang terjadi dan ingin mengakhirinya. Hingga takdir mempertemukannya dangan Kezia Ata Lafoia, sang putri dari Ceshier yang terdampar di wilayahnya.
Rintangan dan cobaan terus menghalanginya hingga pada titik tertentu. Apakah ia mampu mengembalikan perdamaian di Eurashia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saciel Arakawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Phyton Wizard
Saciel mendorong Max dan menarik keluar pedang dari balik jubah, lalu mengarahkannya pada Julian dengan ekspresi kalem.
“Kita bisa mengakhirinya dengan cepat, Julian. Lepaskan kami dan kau akan baik-baik saja,” bujuk Saciel. Julian menggelengkan kepala dan menumbuhkan beberapa kuntum bunga terompet berwarna emas dari sulurnya.
“Pertarungan tidak akan pernah bisa kita hindari, Ciel. Aku tidak akan mengalah untuk urusan ini, demi keselamatanmu,” balasnya sembari memetik bunga tersebut dan melemparnya ke arah mereka, namun Max berhasil mencincangnya.
“Ah! Tutup hidungmu! Racunnya bisa membuatmu mati rasa selama seharian!” jerit Saciel sembari menutup hidung. Max langsung melompat menjauh dan mengibaskan racun bercampur serbuk sarinya ke arah Julian, namun sang penyihir flamboyan hanya mengulum senyum penuh kemenangan.
“Kau belajar banyak ternyata, Ciel. Meski begitu, kau berada dalam arena mematikan. Rivendell adalah medan terburuk untukmu,” ujar Julian. Saciel mengerang.
“Pengendali tanaman memang bukan yang terkuat, tapi trik yang mereka miliki segudang ditambah dengan kondisi lingkungan yang mendukung membuat mereka cukup tangguh jika tidak memiliki kekuatan yang mumpuni. Kezia dan yang lainnya bagaimana?” tanya Saciel.
“Masih aman di dalam kereta, apalagi diawasi oleh penyihir tanaman sok ganteng itu,” balas Max santai. “Apa rencananya?”
“Membakar habis wilayah elf bukanlah jawaban tepat, bisa-bisa kita dikira menantang mereka. Pilihan terbaiknya adalah melumpuhkan Julian dalam jarak jauh.”
“Wah, salah tim dong? Seranganku lebih fokus dalam serangan dekat,” keluh Max sembari menghindari serangan dadakan yang diluncurkan Julian dengan menggendong Saciel cukup kasar.
“Hei!”
“Demi human sialan, sebaiknya kau tidak menyentuhnya lebih dari itu atau kucekik kau,” ancam Julian dengan tatapan yang makin tidak dimengerti oleh si penyihir berambut merah. Max terkesiap dan menurunkannya pada dahan tertinggi, lalu melirik pada Saciel yang kebingungan.
“Kau bisa menyerangnya?”
“Bisa, lukaku sudah pulih seutuhnya berkat Parvati. Tapi karena pengontrolan manaku masih agak sulit mungkin aku tetap butuh bantuanmu,” balas Saciel. Max memutar bola matanya dan bersiap melompat.
“Mana mungkin kubiarkan kau melawannya sendirian, aku kebetulan ingin melawan penyihir itu. Hitung-hitung olahraga sih,” ujar Max. Saciel mengangguk, menjatuhkan diri dan berputar cepat untuk menyerang dengan pedang berbalut api, namun Julian dengan cepat menangkisnya dengan sebatang dahan besar berwarna hitam pekat.
“Ah!”
“Kayu dari pohon eboni elf tahan terhadap api dan tidak mudah untuk diukir tanpa keahlian khusus. Kau harus belajar lebih giat untuk mengalahkanku, Saciel,” ujar Julian. Saciel kembali mengayunkan pedang dengan kecepatan tinggi, namun Julian mampu mengimbanginya. Ia tidak menyadari Max sudah berada di belakang, siap menerjang ketika kesempatan tiba. Namun belum sempat ia memasang ancang-ancang untuk melompat, kakinya sudah dililit sulur.
“Ba…apa-apaan ini?!”
“Kau kira aku bodoh? Meski aku tidak melihat, mata-mataku banyak,” celetuk Julian sembari membanting Saciel dan menahannya agar tidak kabur. “Musuh paling takut jika mencoba kabur dariku.”
“...ah, sekarang aku paham kenapa penyihir sepertimu sangat merepotkan. Baiklah, kalau memang matamu ada banyak berarti kau bisa menangkapku dalam kecepatan tinggi,” ujar Max sembari membabat sulur dan mengubah kuda-kudanya. Sebelum sulur kembali membelitnya, Max sudah melompat ke segala arah agar Julian bingung, namun ia tidak bergeming dan mengikat Saciel dengan akar eboni elf. Ia angkat wajahnya sembari mencoba mengikuti pergerakan Max yang makin cepat. Max langsung menerjang dan mengayunkan sabit, namun yang berhasil ia potong adalah sebuah batang kayu besar tepat di tempat Julian berdiri.
“Ba…gaimana bisa?” tanyanya sembari mendarat dan berbalik ketika suara tawa lirih menggelitik kedua telinganya. Julian berdiri cukup dekat dengan kereta dengan senyum mengejek, mendidihkan amarah dalam diri Max.
“Sederhana, menggunakan sihir dan kerjasama dengan tanaman yang ada di sini. Keuntungan besarku dan juga kelemahan kalian,” balasnya bangga. Max menurunkan pandangan pada Saciel yang masih bergulat untuk melepaskan diri, lalu mencabik akar tersebut dengan kesal.
“Punya ide bagus untuk mengalahkannya?” bisik Max.
“...ada, tapi kita harus memancingnya menjauh dari kereta,” balas Saciel. Max menghela napas, lalu menggendong Saciel dan berlari menjauhi Julian ke arah timur.
“Apa yang kau lakukan?” jeritnya sembari memberontak. Max hanya diam dan terus berlari, sesekali menghindar dari serangan dadakan ratusan sulur yang muncul dari pepohonan yang mereka lewati. Meski sebagian besar bisa ia hindari, namun beberapa berhasil melukiskan luka di tubuhnya hingga cairan kehidupan mulai menodai jubahnya. Saciel yang sama sekali tidak dilukai langsung membabat sulur-sulurnya agar tidak melukainya lebih parah. Langkahnya kini mulai mencapai sebuah tanah lapang dengan tanaman berbentuk lentera bulat berwarna biru pucat melayang-layang menyinari tempat itu. Ia menurunkan Saciel dan berbalik, mendapati lawan sudah berada di belakang mereka dengan sekelompok kecil golem kayu dengan gada kayu di tangan mereka.
“Main kejar-kejaran sudah berakhir, kembalikan dia padaku,” ujar Julian kalem. Max menggeleng.
“Sudah kubilang dia itu tiket kaburku, jangan mengambilnya dariku. Lagipula, dia itu bukan milikmu,” balas Max.
“Memang bukan, tapi dia adalah salah satu anggota SEW yang berharga dan akan sangat disayangkan jika terjadi apa-apa padanya. Aku akan membantumu keluar, tapi berikan dia padaku,” sahutnya. Saciel menggeleng.
“Jangan percaya padanya.”
“Tanpa kau beritahu aku juga tidak akan menurutinya. Jadi bagaimana rencanamu?” ujar Max sembari memasang ancang-ancang untuk menyerang.
“Buat dia sibuk selama mungkin,” ujar Saciel sembari menggores telapak tangan dengan pedang dan melumurinya dengan darah. “Kita akan menang, aku jamin.”
Max hanya mengangguk samar, lalu berlari ke arah Julian dan mengayunkan sabitnya sekuat tenaga, namun salah satu golem miliknya menghalangi dengan gadanya yang keras seperti batu. Tanpa ragu ditendangnya golem itu hingga menghantam batu besar tak jauh darinya hingga tubuhnya hancur. Julian hanya mengulum senyum, menandakan itu belum berakhir. Perlahan sulur dan akar mulai menjahit tubuhnya dan golem tersebut kembali sedia kala. Max berdecih.
“Merepotkan.”
“Kalau kau jadi anak baik dan kembalikan dua penyihir itu, akan kulepaskan kalian,” balas Julian. Sebelum Max kembali menyerang, tiba-tiba semua golemnya ambruk dan hancur, begitu pula sulur yang menempel di tubuhnya. Julian melirik ke sulurnya, lalu kepada Saciel yang menyeringai dengan pedang berlumur darah menancap tepat di atas lingkaran sihir pemanggil.
“Kau membatalkan semua sihirku,” ujarnya tenang, seakan sudah tahu semuanya. Ia menatap Max yang bingung dan melambaikan tangan, memamerkan sulur yang muncul dan mengering hingga hancur menjadi debu dalam hitungan sepersekian detik. “Hal yang umum di dunia penyihir, tapi untuk membatalkan sihir perlu mana yang tidak sedikit. Kau penyihir kedua yang berhasil membatalkan sihirku, Saciel.”
“Menyerahlah, Julian,” perintahnya garang.
“...baiklah, aku menyerah. Kau bisa mengakhirinya, wajahmu sudah terlalu pucat,” ujarnya sembari mengangkat tangan. Sang penyihir berambut merah diam sejenak, meragukan kata-kata sang penyihir flamboyan namun ia sadar tubuhnya sudah berada di ambang batas. Sebelum ia berhasil mencabut pedangnya, tubuhnya sudah ambruk membentur tanah. Max dan Julian bergegas mendekat, memastikan penyihir itu masih bernapas.
“Bawa dia kembali,” ujar Julian sembari mencabut pedangnya dan memberikannya pada Max. “Tenang, aku tidak akan menyerang kalian lagi.”
“...kupikir kalian akan bertarung mati-matian agar kami berhasil ditangkap, tapi sejauh ini kalian menyerah lebih cepat,” ujar Max curiga. Julian tertawa.
“Ada baiknya jika kau tidak tahu apa-apa. Daripada itu, sebaiknya kau urus saja Saciel atau kau tidak akan bisa meninggalkan Respher. Dia…terlihat sekarat untukku,” ujarnya sembari mengelus pipi Saciel yang kehilangan rona wajahnya, napasnya tidak beraturan dan kedua alisnya bertaut seakan ia mengalami mimpi buruk. Kedua mata zamrudnya meredup, namun ia berkedip cepat dan mengulum senyum tipis.
“Jaga dia baik-baik, demi human. Kalau dia sampai mati, akan kupastikan kau juga akan mengalami nasib yang sama, mungkin lebih parah dari ini,” ancamnya sembari menegakkan tubuhnya, berbalik dan berjalan meninggalkan Max yang termangu sejenak sebelum ia berlari kembali ke vila.
salam dari Carlos'Revenge
Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
jangan inget mampir yuk dinovelku judulnya
AKU HARUS BAIK
AKU HARUS JAHAT
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa Jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku