"Aakkhh sakit sekali larass." Teriak rahmat kesakitan di atas ranjang
Laras terus menangis melihat penderitaan suami nya, Hampir satu minggu ini rahmat terus kesakitan pada tongkat nya.
Bahkan kemaluan rahmat tampak bengkak kemerahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelakuan rahmat
Wush,Wush.
Braakk.
Jendela rumah lula terbuka lebar karena angin yang menghantam nya, Sebenar nya agak aneh juga karena jendela lula adalah jendela kaca.
Tapi angin masih bisa membuka nya, Bagas suami lula yang lagi nonton pun kaget seketika. Bahkan anak mereka yang akan memejam kan mata jadi bangun lagi.
"Angin kurang ajar! Kamu ndak rapat tadi nutup nya." Rutuk bagas kepada sang istri.
"Udah ku kunci kayak nya tadi." Lula membela diri.
"Kalau di kunci ya ndak mungkin bisa terbuka, Alasan saja kamu." Bagas masih menyalah kan lula.
"Apa sih kamu mas! Cuma masalah jendela saja kok ribut sekali." Lula ikut emosi juga.
Braaak.
Bagas semakin kuat menutup jendela untuk meluap kan emosi nya, Lula menaruh kepala putri nya di atas bantal karena ia siap berperang.
"Kamu kalau memang ndak suka di sini, Silah kan pulang saja kerumah lidia." Bentak lula.
"Kau dan lidia sama saja! Tunggu aku dapat istri baru." Geram bagas.
"Gila kamu mas! Aku tidak akan merestui." Teriak lula.
"Kau pikir aku akan peduli, Kita menikah dulu kan juga tanpa restu lidia." Seringai bagas.
Tidak bisa lula membantah ucapan suami nya, Ia menikah dengan bagas sebagai istri kedua dan tanpa restu dari istri pertama. Namun lidia tidak pernah sama sekali mengusik nya, Malahan lula yang kerap menzolimi istri tua nya bagas.
"Sakit mbak...
Rintihan yang entah datang dari mana itu mengaget kan lula, Tidak ada siapa pun di rumah nya ini. Hanya ada putri nya yang sudah mulai tertidur, Bagas pun sudah di bagian dapur sana.
"Sakit sekali mbak...Tolong lah aku." Rintih nya lagi.
Keringat membasahi pelipis lula karena mulai mengenali suara tersebut, Lula menatap sekeliling rumah nya yang penuh dengan barang mahal.
"Jangan ganggu aku dina." Ucap lula gemetar.
"Hiks, Hiks."
Malah berganti dengan tangisan yang menyayat hati, Lula terjatuh sangking kaget nya melihat dina berdiri di pojok dinding dengan perut berlubang.
"Dia memakan ku mbaak." Rintih dina mengambil ular dari perut nya.
"Jangan ganggu aku dinaaa...Mbak akan datang kemakam mu besok." Janji lula sambil ketakutan.
"Hiks, Hiks. Sakit sekali perut ku." Rintih dina lagi.
Srooot.
Begitu saja lantai rumah lula kebanjiran darah yang dina keluar kan dari kemaluan nya, Darah yang menggenang membuat lula semakin histeris ketakutan.
Klek, Klek.
Suara tulang yang berderak patah sangat membuat siapa pun yang dengar jadi ngilu, Lula menangis ketakutan ketika dina merangkak secara terbalik mendatangi nya.
"Pergiii"
"Jangan dekati aku...Pergi kau dina." Jeritan lula melengking.
"Ayo ikut dengan ku saja mbak lula, Dulu kita selalu bersama." Ajak dina.
"Tidak dina, Ku mohon pergi lah." Lula meringsut mundur.
"Aku sakit sendirian mbak, Dia menyakiti aku." Isak dina.
Lula memejam kan mata ketika dina memajukan wajah nya, Mata yang melotot keluar dan mulut nya yang robek. Membuat siapa saja lari pontang panting.
"Aarrrkkh pergi kau dina! Pergi kau..."
Lula menghalau dina sambil terus memejam kan mata, Sedang kan tangan lula mencakar cakar supaya hantu besty nya tersebut hilang.
"Kenapa kau lula?!" Bentak bagas menggelegar.
"Mas! Tolong ada hantu nya dina." Lula berlari memeluk suami nya.
"Hantu apa sih yang kau bicarakan? Sama saja seperti orang kampung lain." Geram bagas.
"Dia sungguh ada mas! Aku tidak bohong." Lula mengelap air mata nya.
Bagas menyentak tangan istri nya dan segera berlalu pergi, Lula berlari membawa anak nya masuk kedalam kamar dan mengunci rapat.
Sedang kan bagas melaju kan motor Mx nya meninggal rumah istri muda, Rumah lidia berada di kampung sebelah. Namun tujuan bagas bukan kesana, Ia malah akan main kerumah nya laras.
Mendadak saja motor bagas mati total, Bagas turun memeriksa apa kah habis bensin. Berulang kali coba di hidup kan tetap tidak mau.
"Kenapa motor nya mas?" Tanya suara lembut mengalun.
"Eeh ini mendadak mati mbak." Jawab bagas gagap melihat kecantikan wanita ini.
"Mau di temani ndak?" Tawar nya menggeser kan buah nya.
Tentu saja bagas langsung tegangan tinggi dapat pancingan begitu, Bahkan jemari nya langsung merem*s kencang benda padat tersebut.
"Loh kok leren? Lanjut kan to mas." Wanita itu menarik bagas lekat.
"Nanti ada yang lihat! Sampean orang mana." Bagas merasa asing dengan wajah nya.
"Desa sebelah, Aku tukang urut mas! Tadi kemalaman pulang nya." Ujar si wanita.
"Waah bisa dong ngurut mas dik." Bagas menaik kan alis nya.
"Bisa. Mau urut apa saja saya bisa." Jawab nya nakal.
Motor bagas mendadak kembali menyala dan bagas segera membonceng wanita ini, Karena wanita ini ingin mengurut bagas di rumah nya saja.
...****************...
Rahmat duduk menikmati gelas wine di tangan nya, Sekarang gaya hidup rahmat sangat jauh berbeda. Barang mahal melekat di tubuh nya yang sangat keren.
"Mau di temani om?" Tawar penghibur.
"Tidak, Saya sudah menunggu orang." Tolak rahmat.
Mana mau rahmat main dengan para ps*, Ia mencari gadis yang masih peraw*n. Dengan begitu ia bisa mendapat kan uang dan kenikmatan.
"Maaf om aku telat." Seorang gadis yang masih sangat mungil menghampiri rahmat.
"Wah om kira kamu tidak datang." Sambut rahmat hangat.
"Datang dong, Kan om kata nya mau ngasih uang lima puluh juta." Ucap lia centil.
"Kalau kamu bisa kuat, Om akan tambahin nanti." Janji rahmat.
"Jangan kasar ya om, Ini pengalaman pertama aku soal nya." Pinta lia.
"Om suka nya kasar, Maka nya kalau kuat om tambahin jadi delapan puluh juta." Rahmat mengerling kan mata nya.
Lia uang matrealistis pun tergiur dengan uang delapan puluh juta, Tanpa pikir panjang lagi. Rahmat membawa lia pulang dan masuk kedalam kamar khusus itu.
"Mau langsung atau pemanasan om?" Tawar lia.
"Tidak usah, Kamu buka saja baju itu." Suruh rahmat.
Lia membuka baju nya sendiri dan kini sudah bug*l, Rahmat melepas kan pakaian milik nya juga. Mendelik mata lia melihat senjata rahmat yang luar biasa besar itu.
"Omm apa itu muat?" Lia sampai merinding ngeri membayang kan aset nya.
"Muat dong! Kamu mau uang apa tidak?" Tanya rahmat.
Terpaksa lia mengangguk walau ketakutan setengah mati, Terlebih ketika rahmat menanjap kan nya dan meleset dari arah tujuan.
"Sssshh malah tidak masuk." Rahmat mendesis kesal.
"Aaakkhhh,Aaakhhh sakiiiit."
Jetit pekik lia memenuhi ruangan khusus milik rahmat ini, Kaki nya di buka lebar oleh rahmat dan darah peraw*n mengalir membasahi sprai.
membosankan dan sangat gak masuk akal
tp penasaran....