Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Malam itu, setelah drama emosional yang menguras batin di lounge hotel, babak semifinal London Copper Box Arena dilewati Tim Aether dengan ketegangan yang nyaris tak tertahankan. Melawan tim tangguh dari Asia Timur, setiap ronde berjalan bagaikan berjalan di atas tali tipis di atas jurang. Axel memimpin dengan kekakuan yang luar biasa, bicaranya dingin dan hanya sebatas komando taktis mutlak. Namun, berkat perlindungan ekstra dari Ilias yang menahan setiap riak konflik, serta akurasi tembakan Jasmine yang dilepaskan dengan sisa-sisa ketegaran mentalnya, Tim Aether berhasil merangkak naik. Mereka menumbangkan musuh di ronde penentu dan resmi mengamankan tiket emas menuju babak Grand Final. Kemenangan besar itu membawa mereka ke ambang sejarah. Besok adalah hari penentuan, hari di mana Tim Aether akan memperebutkan takhta tertinggi sebagai raja dunia. Namun, malam sebelum pertarungan pamungkas tersebut, London justru diguyur oleh hujan deras yang sangat lebat. Rintik-rintik air menghantam kaca jendela dengan ritme yang konstan, sementara suhu udara merosot tajam, membuat kota megah itu diselimuti oleh hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Jasmine berdiri sendirian di dekat jendela kaca raksasa yang berada di sudut aula hotel yang sepi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di bawah sana, kerlap-kerlip lampu kota London tampak buram dan pudar, terhalang oleh aliran air hujan yang deras. Suasana di dalam aula sangat kontras dengan gemuruh ribuan penonton yang membayangi pikirannya untuk esok hari. Kedua tangan Jasmine terlipat di depan dada, mendekap erat kantung aromaterapi flanel biru muda pemberian Liam di dalam saku mantel wol tebalnya. Meskipun keharuman mawar dan chamomile di dalamnya sudah mulai menipis setelah berhari-hari menemaninya melewati badai tekanan, sensasi hangat dan wangi mint yang samar yang tertinggal di kain itu tetap terasa sangat nyata. Benda kecil itu menjadi satu-satunya jangkar yang menjaga kewarasan Jasmine di tengah pusaran ambisi raksasa yang mengelilinginya. Besok adalah hari paling menentukan dalam karir profesionalnya. Di tengah kecemasan yang luar biasa akan masa depannya, ponsel Jasmine di telapak tangannya mendadak bergetar panjang.
Bzzz... Bzzz...
Jasmine tersentak dari lamunannya. Ia melihat layar ponselnya yang menyala terang di tengah kegelapan sudut aula. Jantungnya mendadak berdebar dengan ritme yang aneh dan lebih cepat ketika mendapati bahwa itu bukan sebuah pesan teks singkat, melainkan sebuah panggilan video call masuk langsung dari nomor Liam. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena rasa gugup yang tiba-tiba melanda, Jasmine menggeser tombol hijau ke atas dan membawa ponsel itu sejajar dengan wajahnya.
Klik.
Layar beresolusi tinggi tersebut seketika menampilkan wajah tampan Liam yang tersenyum sangat lebar. Latar belakang video itu memperlihatkan interior dalam Floraison Cafe yang sudah sepi dan tertutup untuk umum karena di tanah air waktu sudah menunjukkan dini hari. Lampu kafe yang temaram bernuansa kuning hangat memancarkan kenyamanan yang luar biasa rindang. Liam sendiri tampak sangat santai mengenakan sweater rajut longgar berwarna hitam, dan di atas pangkuannya, sosok Donald si bebek putih gemuk terlihat sedang mendengkur halus dengan paruh kuningnya yang bersandar manja di lengan kiri Liam.
"Halo, Jasmine! Wah, tebakanku ternyata seratus persen akurat. Wajah kamu kelihatan berkali-kali lipat lebih tegang daripada saat kita pertama kali mengejar Donald di tepi danau," sapa Liam dengan nada suara yang luar biasa renyah, santai, dan penuh dengan keceriaan. Suaranya yang hangat seketika membelah hawa dingin London yang mengurung Jasmine, seolah-olah jarak ribuan kilometer dan perbedaan zona waktu di antara mereka sama sekali tidak memiliki arti apa-apa.
Mendengar suara yang sudah sangat ia rindukan itu, Jasmine merasakan seluruh beban berat yang menumpuk di kedua pundaknya mendadak luruh begitu saja. Air matanya hampir kembali menetes, bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. "Kak Liam... di sini dingin banget. Semuanya terasa begitu cepat, begitu besar, dan menakutkan," bisik Jasmine, suaranya terdengar serak dan tercekat di dalam tenggorokan.
"Aku tahu, Jasmine. Aku tahu betul seberapa berat beban yang sedang kamu pikul di panggung megah itu. Makanya aku sengaja nunggu kamu sampai selarut ini untuk menelepon," ucap Liam lembut. Tatapan matanya yang teduh dari balik layar ponsel memancarkan tingkat kehangatan dan ketulusan yang sangat dalam, langsung menusuk tepat ke lubuk hati Jasmine yang paling rapuh.
Liam membenarkan posisi duduknya, mengelus pelan kepala Donald yang mengerang kecil dalam tidurnya sebelum kembali menatap Jasmine. "Dengar baik-baik kata-kata aku ini, Penembak Jitu kesayangan. Besok, saat kamu berjalan keluar dari lorong gelap itu dan melangkah masuk ke dalam arena megah Grand Final, aku mau kamu melupakan sejenak semua beban taktis dari kapten kamu. Lupakan juga semua ekspektasi besar dari dunia atau jutaan pasang mata yang menonton kamu di layar kaca."
Jasmine terdiam, mendengarkan setiap bait kalimat Liam dengan saksama.
"Bayangin aja besok kamu cuma lagi main game santai di dalam kamar kamu yang nyaman di tepi danau," lanjut Liam dengan seulas senyuman miringnya yang penuh karisma. "Bayangin bahwa setelah kamu selesai menembak jatuh semua musuh di dalam layar monitor komputer itu, tugas kamu udah selesai sepenuhnya. Kamu hanya perlu berdiri, berjalan beberapa langkah keluar rumah, menyeberang jalan aspal yang sejuk, dan mengambil hadiah utama kamu, secangkir teh chamomile hangat dan pie buah segar gratis seumur hidup dari kafenya Kak Liam. Aku gak peduli apakah besok kamu akan membawa pulang piala emas dunia itu atau enggak, Jasmine. Karena bagi aku dan bagi tempat ini, kamu udah keluar sebagai pemenang sejati sejak pertama kali kamu menyelamatkan bebek konyol ini dari danau."
Mendengar penuturan kata yang begitu membebaskan jiwanya, sebuah tawa kecil yang sangat renyah dan lepas akhirnya lolos dari bibir Jasmine. Air mata haru yang sempat tertahan di sudut matanya kini luruh, namun kali ini diiringi oleh senyuman paling tulus dan binar kebahagiaan yang sudah sangat lama tidak pernah terukir di wajah cantiknya selama berada di London. Beban hutang budi dan kurungan posesif dari Axel seolah mencair seketika oleh kesederhanaan cinta tanpa syarat yang ditawarkan oleh sang barista di seberang samudra.
"Makasih banyak, Kak Liam... kata-kata kamu bener-bener buat aku ngerasa jauh lebih baik," ucap Jasmine dengan nada suara yang kini kembali dipenuhi oleh rasa percaya diri yang kuat.
"Sama-sama, Jasmine. Sekarang, matikan ponsel kamu, pergi ke kamar, dan tidur dengan nyenyak. Besok adalah hari kamu untuk bersenang-senang di atas panggung," balas Liam dengan lambaian tangan hangat sebelum akhirnya memutuskan sambungan video tersebut.
Layar ponsel Jasmine kembali menggelap, namun kehangatan di dalam dadanya masih terasa menyala dengan sangat terang. Jasmine menarik napas dalam-dalam, merasakan sisa aroma mint dari kantung aromaterapi di sakunya dengan perasaan damai yang seutuhnya. Namun, di saat yang bersamaan, Jasmine sama sekali tidak menyadari bahwa dari balik pilar beton aula hotel yang gelap, beberapa meter di belakang tempatnya berdiri, sosok Axel sejak tadi berdiri diam membeku. Sang kapten telah menyaksikan seluruh interaksi penuh kehangatan itu dari awal hingga akhir melalui pantulan jernih jendela kaca raksasa di hadapan mereka. Axel menatap siluet punggung Jasmine yang kini tampak begitu rileks dan bahagia. Ia melihat bagaimana senyuman lepas dan tawa renyah yang tidak pernah bisa ia dapatkan dari Jasmine selama bertahun-tahun ia memberikan perlindungan intens, kini mekar dengan begitu indahnya hanya karena untaian kalimat kasual dari seorang barista yang berada ribuan mil jauhnya. Axel memejamkan kedua matanya dengan sangat rapat, merasakan sebuah rasa perih dan kehampaan yang luar biasa hebat menghantam telak bagian terdalam dari egonya sebagai seorang pria. Kepalan tangannya di dalam saku celana perlahan-lahan mengendur, menyiratkan sebuah kepasrahan yang menyakitkan. Babak Grand Final esok hari memang akan menjadi penentu takdir tertinggi bagi Tim Aether di panggung dunia, namun di dalam arena pertempuran hati Jasmine, Axel tahu bahwa meskipun ia mempertaruhkan seluruh sisa hidupnya untuk menjadi perisai bagi gadis itu, ia harus mulai bersiap menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta sejati tidak akan pernah bisa dipaksa tumbuh di dalam sebuah sangkar emas yang dingin.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏