NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Anak Yatim Piatu / Kaya Raya / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renko

✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)

Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?


✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)

Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?

___

Semoga novel ini satu selera denganmu 😊

Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~


Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlambat Pulang

Keesokan harinya Robin menemui Ainsley. Sesuai perintah yang didapat tadi malam Robin mengumpulkan informasi mengenai kematian Emily, berkolaborasi dengan James dan Alvin. Informasi tersebut diberikan pada Ainsley secara menyeluruh setelah diberikan pada Zack terlebih dahulu.

Pertama mereka menuju rumah sakit dan mendatangi tangga di mana jasad Emily ditemukan. Di sana Robin menjelaskan secara detail bagaimana posisi Emily saat ditemukan serta pukul berapa Emily ditemukan.

Mengetahui kebenaran itu membuat tubuh Ainsley gemetar dan napasnya tampak sesak. Kesedihan atas kematian Emily serta kemarahan pada orang yang tega memperlakukan Emily dengan buruk bercampur menjadi satu.

Robin yang melihat kondisi Ainsley tidak baik-baik saja, akhirnya berhenti menjelaskan. Robin merangkul dan membawa pergi Ainsley dari sana. Meninggalkan Ainsley di dalam mobil, Robin pergi membeli sebotol minuman.

Di sisi lain Ainsley masih menggigil di cuaca yang tidak dingin itu. Memikirkan Emily terjatuh dan tergeletak di tangga seorang diri menambah ketakutan. Ainsley tidak bisa membayangkan jasad Emily ditemukan 3 jam setelah itu.

Klek..

Robin memberikan minuman pada Ainsley. kemudian menghidupkan mesin mobil. Sebelum melanjutkan perjalanan, Robin bertanya kemana mereka akan pergi selanjutnya. Ainsley bersikeras untuk menemui orang yang menemukan Emily pertama kali. Untuk itu Robin melajukan mobil ke tempat tersebut.

Mereka sampai di sebuah rumah. Robin langsung memencet bel rumah. 2 kali setelah bel dipencet, pemilik rumah muncul dan mempersilahkan mereka masuk. Robin menjelaskan maksud kedatangan mereka pada wanita paruh baya itu.

Pada awalnya wanita itu menyangka jika Ainsley dan Robin datang untuk menyewa. Memang rumah tersebut memiliki beberapa kamar untuk disewakan dan biasanya akan ada orang dari luar daerah menyewa kamar kosong di rumah itu.

"Kami mencari seseorang."

Pemilik rumah mengangguk seakan mengerti maksud kedatangan mereka. Itu bukanlah hal yang membuatnya terkejut lagi, karena sebelum mereka ada orang lain yang menanyakan hal yang sama.

"Apa kalian juga mencari si suster? Ah! Anak itu sangat baik. Tetapi aku tidak mau pelangganku kabur karena setiap saat didatangi oleh orang seperti kalian. Jadi aku menyuruhnya pindah dari sini. Mereka adalah polisi, kerabat, teman, dan juga seorang wanita yang sebaya denganku."

Robin mengerutkan alis. Robin tau jika polisi yang dimaksud adalah polisi yang ditugaskan oleh Zack sebelum dirinya datang. Tidak ada hal mencurigakan dari kerabat dan teman. Namun seorang wanita yang sebaya dengan pemilik rumah mencari suster patut dicurigai.

"Apa nyonya mengenali wanita itu?"

"Dia adalah ibunya. Aku tidak mengerti ada berapa ibu yang dia punya." mengomel sendiri.

Pernyataan wanita itu menambah kecurigaan. Mereka menemukan sebuah jejak yang bisa ditelusuri, yaitu mengenai wanita yang mengaku sebagai ibunya suster. Dengan akal cerdik Robin langsung meminta rekaman cctv yang ada di gedung untuk diperiksa.

"Saya akan mengantar nona pulang."

"Apa maksudmu? Aku harus melihat rekamannya secepat mungkin."

"Kita akan tiba sebelum jam delapan malam."

Ainsley melirik jam tangan. Mereka sudah melakukan pencarian terlalu lama hingga tanpa sadar hari sudah beranjak malam dan Ainsley harus segera pulang sesuai peraturan. Dengan berat hati Ainsley menuruti Robin untuk pulang dan berharap Robin segera memberitahunya jika ada informasi baru.

***

Lewis melamun di ruangannya. Kejadian kemarin ketika dirinya bersama Ainsley masih terpikirkan olehnya. Baru kali ini seumur hidup Lewis ditolak oleh seorang wanita dan sangat menyakitkan. Selain itu Lewis juga tidak tau bagaimana bersikap jika nanti bertemu dengan Ainsley.

"Kau seperti orang yang akan mati saja. Apa terjadi sesuatu?" seru Lexa muncul dari balik pintu.

"Aku menyatakan perasaanku padanya." bersandar malas di kursi.

Lexa tampak terkejut mendengar ucapan yang mencengangkan itu. Lexa tidak mengira jika Lewis benar-benar menyatakan perasaan pada wanita yang baru saja dikenal. Selama mereka berteman, menurutnya Lewis bukanlah pria yang tergesa-gesa mengambil langkah. Apalagi jika menyangkut soal wanita.

"Dia terlihat terbebani dengan perasaanku. Huh! Jika saja dia belum menikah."

"Dia sudah menikah?"

"Yup! Suaminya tinggal di Casa Felise dan bekerja di Hughes Property."

Lexa mengerutkan alis. Sesuatu yang mencurigakan melintas di pikiran. Sungguh kebetulan jika Casa Felise disandingkan dengan Hughes Property, karena 2 bisnis itu dikelola oleh 1 orang yang sama.

"Kita pulang sekarang?" tanya Lewis setengah mengajak.

Lewis mengantar Lexa pulang dan ketika sampai di tujuan tidak sengaja mereka bertemu dengan Ainsley. Sebuah kejutan besar bagi Lewis yang masih dilanda perasaan galau. Lantas Lewis mengalihkan pandangan ke arah lain.

Ainsley yang baru saja diantar pulang oleh Robin, bertemu dengan Lewis secara tiba-tiba membuatnya kelabakan. Ainsley teringat kembali pada kejadian kemarin dan bingung bagaimana harus bersikap di depan Lewis.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tergagap-gagap.

Lexa menjawab pertanyaan itu dengan tergagap pula seolah mengejek Ainsley yang salah tingkah saat itu. Kemudian dengan merangkul Ainsley, mereka melangkah memasuki Casa Felise tanpa menghiraukan Lewis yang masih tersenyum membayangkan kegagapan Ainsley tadi.

Awalnya Ainsley berpikir jika Lexa hanya akan mengantarnya sampai lobi Casa Felise, namun semakin lama mereka semakin jauh memasuki Casa Felise. Ainsley jadi bertanya-tanya mengapa Lexa sampai mengantarnya sejauh itu.

Kepercayaan diri Ainsley yang begitu besar mengundang tawa. Lexa langsung mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu penghuni di Casa Felise dan kebetulan arah apartemen mereka sama.

Ainsley melotot kaget. 3 tahun lebih tinggal di Casa Felise tetapi baru tau jika selama ini Lexa juga tinggal di tempat yang sama dengannya. Ainsley teringat ketika pertama kali bertemu Lexa di sekitar Casa Felise. Saat itu Ainsley berpikir bahwa pertemuan mereka hanya sebuah kebetulan. Tidak pernah mengira jika pertemuan itu adalah karena Lexa juga tinggal di Casa Felise.

Lexa semakin mengeratkan rangkulannya. Dalam rangkulan itu Lexa memaksa Ainsley untuk bermain terlebih dahulu di apartemennya sebelum pulang. Ainsley tidak bisa menolak karena pilihan yang dibuat oleh Lexa hanya 1 yaitu masuklah.

Ainsley duduk mematung memandangi setiap gerak-gerik Lexa. Mulai dari Lexa berjalan ke dapur, menuangkan air ke dalam gelas, hingga meletakkan minuman ke hadapannya. Ainsley begitu was-was hanya tinggal berdua dengan wanita yang memiliki aura yang membuatnya bergidik.

Masih tidak berani bicara lebih dulu, Ainsley memperhatikan apartemen Lexa. Jauh berbeda dari apartemennya yang lebih mewah, namun masih berada ditingkat berkualitas tinggi. Tidak kalah nyamannya dengan apartemen yang Ainsley tinggali sekarang.

Sementara itu Lexa memandangi wanita yang membuat Lewis patah hati. Baginya Ainsley tidak memiliki keistimewaan apa-apa dibandingkan wanita yang dekat dengan Lewis sebelumnya. Lexa pun bingung bagian mana yang membuat Lewis tertarik.

"Apa kau takut? Bahumu sangat tegang."

Ainsley menggeleng, namun wajahnya berkata lain. Bagaimanapun Ainsley tidak ingin mempercayai gosip tentang Lexa dan juga tidak bisa menolak kenyataan bahwa Lexa kelihatan sangat menyeramkan.

Ekspresi wajah Ainsley yang ketakutan membuat geli. Lexa tidak tau jika Ainsley akan setakut itu bersamanya. Bahkan ketika bertemu di minimarket, Ainsley kocar-kacir berlari meninggalkannya. Lexa ingin mengejar pada saat itu, akan tetapi dirinya terlalu sibuk menahan tawa.

Puas tertawa, akhirnya Lexa berbicara,

"Kau sangat lucu! Aku tertarik untuk menjadi temanmu. Jadi kau harus berteman denganku."

Beberapa menit kemudian..

"Sudahlah. Aku tidak kuat lagi. Kau pulang saja." sekejap mata menendang Ainsley keluar.

Ainsley sangat bingung. Ainsley masih tidak mengerti alasan Lexa tertawa dan tiba-tiba ingin berteman dengannya. Berbeda dengan Juni yang mengajaknya berteman, saat itu Ainsley merasa senang sekali. Tetapi kali ini Ainsley kebingungan dan hanya bisa menerimanya.

***

"Seperti perintah tuan, saya dan nona mendatangi rumah sewa saksi mata."

Sambil mendengarkan Robin berbicara, Zack melirik jam dinding di kamarnya. Sekarang sudah lewat jam 9 malam, tetapi Ainsley masih belum pulang.

"Menurut penuturan pemilik rumah, seorang wanita mencurigakan pernah datang menemui saksi mata. Untuk itu saya sudah mengambil rekaman cctv untuk diperiksa lebih lanjut."

"Apa kau sudah mengantarkan Ainsley?" selanya.

"Sudah, tuan. Saya mengantar nona satu jam yang lalu." setengah bingung mengapa Zack bertanya.

"Periksa rekaman itu secepatnya dan seperti biasa berikan padaku sebelum diberikan pada Ainsley."

Zack meletakkan kembali ponselnya dan terdiam sejenak. Tiba-tiba suara pintu memecahkan keheningan. Zack langsung keluar dari kamar. Dari lantai atas tampak Ainsley sedang melepaskan sepatu.

"Kau tidak bisa untuk pulang tepat waktu?!"

Ainsley menoleh pada Zack setelah melepas sepatu. Raut wajah dingin itu lagi yang Ainsley lihat. Tanpa senyuman dan hanya ada kerutan di dahi. Dengan wajah datar Ainsley menjelaskan alasannya kenapa sampai pulang terlambat.

Belum menyudahi 1 kalimat, penjelasannya sudah dipotong. Ainsley dituduh mencari-cari alasan untuk mengelabui. Sampai-sampai diancam tidak boleh meninggalkan rumah jika melanggar peraturan sekali lagi.

Ainsley hanya bisa mengurut dada. Ainsley berpikir kemarahan yang diterimanya adalah karena Zack terlalu sibuk bekerja, sehingga Zack melampiaskan kejenuhan padanya.

***

Kekhawatiran yang selama ini ditakutkan terjadi. Pagi itu Robin memberikan kabar buruk. Pernikahan mereka sudah diketahui publik. Bergegas Zack meninggalkan Casa Felise setelah mengunci pintu apartemen. Zack melakukannya agar Ainsley tidak lagi membuat masalah selama dirinya pergi.

Seorang pegawai Casa Felise menghampiri dengan wajah panik. Meskipun koridor kosong tanpa ada orang yang melewati, namun pegawai tersebut berbicara sambil berbisik. Pegawai itu mengatakan jika Casa Felise sudah dikepung oleh para wartawan.

"Bagaimana keadaan Casa Felise saat ini?"

"Pelanggan semakin melonjak naik dan kebanyakan dari mereka adalah wanita, tuan. Semua apartemen hampir terisi penuh. Mereka juga ada yang menerobos masuk dengan cara ilegal."

Kali ini berita buruk benar-benar datang. Pernikahan, identitas, dan bisnisnya diambang kekacauan hanya karena kecerobohan Ainsley. Kemarahannya sudah meluap-luap memandangi tingkah laku Ainsley yang selalu saja menentang peraturan.

"Perketat keamanan dan jangan biarkan mereka masuk secara ilegal ke Casa Felise. Naikkan tarif sewa untuk menurunkan permintaan sampai keadaan mulai stabil."

"Baik, tuan." tanpa sadar mengeraskan suara.

Satu persatu pintu yang mendengar suara itu terbuka. Para penghuni apartemen di lantai itu mengintip dari balik pintu masing-masing. Mereka yang sudah mengetahui siapa identitas pemilik apartemen sebenarnya, sangat penasaran untuk melihat secara langsung.

Zack bergegas meninggalkan apartemen sembari menutupi wajah dengan tangan. Zack berdiri disudut yang rasanya aman untuk menghubungi Robin. Di telepon Zack meminta Robin untuk menjemput melalui pintu belakang Casa Felise.

Saat akan menuju pintu belakang, Zack tidak sengaja berselisih jalan dengan pria yang sering melabraknya. Mereka saling beradu pandang sebentar sebelum saling menjauh. Pria itu tampak segan saat bertemu dengan Zack.

Apa otot di lengannya hanya untuk pajangan?

Sesaat setelah itu Robin datang. Tanpa pikir panjang Zack langsung menaiki mobil, tidak ingin ketahuan oleh orang-orang yang sudah mengenalinya. Di dalam mobil Robin menjelaskan bagaimana situasi Hughes Property sekarang.

Drrt.. Drrt..

Satu hal lagi permasalahan yang harus diselesaikan yaitu ayahnya. Pemilik perusahaan yang sebenarnya itu pastilah sangat marah mengetahui situasi buruk sekarang.

"Kau tidak becus mengurusi perusahaan! Bagaimana bisa kabar pernikahanmu diketahui publik?! Cepat selesaikan semua masalah atau aku akan menggantikanmu dengan adikmu yang jauh lebih dari dirimu!"

Tut.. Tut..

Zack mendengus kesal dan mengepal tangan dengan kuat. Selalu saja ayahnya membandingkannya dengan adiknya. Zack selalu disalahkan mentah-mentah atas segala permasalahan yang ada. Kerja kerasnya selama ini selalu dianggap nihil oleh ayahnya. Bahkan setelah dirinya mengelola 2 bisnis dengan sangat sukses selama ini.

"Saya menutup semua akses masuk, tuan."

Zack menoleh ke gedung Hughes Property. Tidak kalah ramainya dari Casa Felise. Mereka tampak berbondong-bondong memaksa untuk masuk, bersama-sama mencoba menerobos pintu kaca tebal itu.

"Pegang ponselku dan jangan jawab panggilan apa pun. Kita akan sangat sibuk hari ini." melemparkan ponsel pada Robin dan turun dari mobil.

Penjaga yang menyadari kedatangan Zack ketika hampir mendekati gedung Hughes Property segera membukakan pintu. Barisan depan yang mendorong untuk masuk tersungkur saat pintu dibuka lebar.

"Benar, itu dia! Mukanya sangat mirip dengan yang ada di foto. Dia adalah Zack Hughes!" teriak seorang wartawan.

Mereka menyodorkan ponsel dan alat perekam lainnya. Kamera juga tidak berhenti menjepret wajah Zack. Robin yang baru saja keluar dari mobil bergegas menghalangi mereka agar tidak mengambil foto. Pintu segera ditutup rapat setelah Zack masuk ke dalam gedung.

"Akhirnya kau datang, Zack!" Sam berjalan ke arah Zack saat berselisih jalan.

"Kau yang membocorkannya?!"

"Baru datang sudah menuduhku. Kau sangat jahat!" merungut sedih dan terus berjalan tidak jadi menghampiri Zack.

"Kau cari cara agar Robin bisa masuk." perintahnya.

"Huh! Kau taunya hanya memerintah saja."

Walaupun sangat kesal, akhirnya Sam tetap menjalankan perintah. Dari dalam lobi terlihat Robin kewalahan menghadapi para wartawan. Kebanyakan dari wartawan di luar sana adalah wanita dan menghadapi wanita adalah keahliannya.

Sam meminta penjaga untuk membuka pintu. Sesuai perintah mereka pun membukanya. Kini gedung bisa diterobos kapan saja, namun sebelum itu terjadi Sam mengajak para wartawan untuk mengisi stamina terlebih dahulu. Memaksa Robin menggunakan kartu perusahaan, mereka pun menyambangi sebuah restoran.

"Ini tidak benar. Tuan akan marah jika tau saya menghamburkan uang untuk semua makanan ini." sangat gelisah.

"Tenanglah, Robin. Kekayaan tuanmu itu berlimpah dan kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Hanya mentraktir mereka makan tidak akan ketahuan."

"Tetapi kita menggunakan kartu perusahaan. Tuan pasti akan tau."

"Jangan khawatirkan soal itu. Kau hanya perlu menyantap makananmu dan membiarkannya masuk dengan tenang ke dalam pencernaan." meletakkan sendok di tangan Robin.

"Maafkan saya, tuan." menyuapi makanan dengan perasaan gelisah.

1
Kheira Luna
Renkoo aku balik lagi kangen pria tua😍
Justrenko🐣: Wah, senang sekali melihatmu kembali~
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jgn bodoh bergerak sendiri. makan kebodohan mu. sdh diingatkan Zack tp keras kepala
Fransiska Siba
kecewa aku thor, setidak nya ceweknya tahan dlu lahh ini sudah namanya selingkuh
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa asalkan tau kapan waktunya untuk minta maaf dan pasanganmu yg baik pasti akan selalu memaafkan. kalo tidak berarti dia bukan org yg baik.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa, asalkan kita tau kapan waktunya untuk minta maaf. Dan wanita yg baik akan selalu memaafkan, kalo tidak memaafkan berarti dia bukan org yg baik.
Pemburu Cinta Sejati: mohon maaf, aku cmn mau bilang cerita kesempatan kedua adalah kebanyakan cerita di novel. itu tidak berbeda
total 17 replies
iis_lintang95
tetiba kangen ainsly sm zack, alhasil baca ulang lage.🤩
Metta R'za
dendam lidya yg bodoh.....
Ijah Sopiah
Apakah tidak ada satupun cowok yang suka sama Anseley
Seelmy Saleem
nyimak dulu thor baru mampir
SRI SETYA
aq bingung banget ini
Dimas Wahyu
kiraain Setelah sekian lama end....ada part tambahan ..😊😊..oklah otw
💞Aam Mulyani💞: makanya sering kontrol...
total 1 replies
Deta Hebalina
o
First Time
apalah dayaku yg bacanya loncat2 tiba2 dah sampe sini mumet😂
Faradilla
kenapa si Ainsley dibuat kayak perempuan bucin gak nyadar diri sih Thor... gak adil banget... Kebagusan amat si Zack jadinya
Faradilla
pasti Ainsley
Dede
8
Si mamahx anak anak
hhhaaahhhhaaa,,akhirx kau merasakn derita hati ainsley zack...
bunda ime
ff
Julia Lia
miris hidup dua bersaudara 😔
Elfi Susanti
bukankah gambar yang ditemukan Emily dilaci meja Zack adalah Ainsley ibunya Gavin... wah makin rumit... saya pamit baca cerita yg lain dulu.... mumet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!