NovelToon NovelToon
ARKANA

ARKANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:121k
Nilai: 4.8
Nama Author: Canum Xavier

Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.

Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.

Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.

" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.

Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria di Halte Saat Itu

" Kamu yakin tidak mengenal Tian?", Inka terus mengorek informasi dariku.

Saat ini aku dan Inka sedang duduk di ruang mading sekolah. Aku menemani Inka yang tengah bekerja keras menempelkan beberapa pengumuman dan kumpulan kreasi siswa di papan besar itu. Setiap hari senin mading akan di rilis untuk di baca siswa siswi sekolah SMA Garuda.

" Tidak. Aku tidak kenal. Atau mungkin aku lupa?", aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

" Hmmm.... Hmmmm.....", Inka menggelengkan kepala sambil mondar mandir di hadapanku seperti guru yang sedang mengawasi ujian sekolah.

" Sangat membingungkan", Inka melanjutkan.

" Iya.. Aku juga bingung. Apa saudara ayahku?", aku mengerutkan kening.

" Yang membuatku bingung bukan itu. Tapi dalam sekali tepuk 2 nyamuk jatuh ", Inka mulai kumat gokilnya.

" Nyamuk mana?", aku malah bertanya bego.

" Iya nyamuk. Maksudku kamu kan tidak pernah pacaran. Tiba-tiba.... Tiba-tiba nih ketiban malaikat dua orang. Satunya malaikat sedingin es... Satunya lagi malaikat dengan senyum secerah mentari pagi", Inka mulai bersabda.

" Ck... Kamu mabok jus jeruk ya... Malaikat apa. Ini malah musibah tau gak. Tidak pernah pacaran, sekalinya dapat cakep eh statusnya bohongan. Sedih tau gak", aku mulai curhat.

Inka menghentikan pekerjaannya dan duduk di sampingku. " Jangan bilang kamu beneran suka sama Arkana?", Inka meneliti wajahku.

" Ha... Apa... haha... Tidaklah", aku gelagapan. " lagian mana Arkana mau sama aku", Aku menambahkan.

" Iyaa.. Benar... ", Inka malah membenarkan.

" Ih kamu mah.... Malah di ledek", Aku menjitak kepala Inka pelan.

" Iya... Iya maaf... Aku bercanda. Janganlah sama Kana, Tidak... Aku tidak setuju. Mending kamu cari yang lain saja", Inka serius. " Atau ya... Jangan deh kamu pacaran sampai lulus. Nanti pas kuliah lebih banyak pilihan dan warna", Inka memberikan saran.

" Banyak pilihan dan warna, kamu kira lagi beli sepatu", kataku sambil tertawa.

Inka ikut tertawa. " Tapi benar deh... Janganlah sama Kana. Aku tidak rela. Dan lagi kapan drama kalian selesai, lama-lama aku yang kesal", Inka serius.

" Aku tidak tau. Yang penting si Helmi itu sudah tidak berulah, pasti aman", aku menjelaskan di sambut anggukan Inka. " Tapi kenapa aku tidak boleh sama Kana? Aku jelek ya", tanyaku penasaran.

" Tidak... Kamu cantik kok. Cuma aku gak setuju aja", Inka nyengir kayak kuda.

Aku manggut-manggut. Sedikit rasa sedih menyelinap di hatiku, tapi langsung ku tepis. Memang benar aku tidak boleh terlena dengan Kana. Aku harus selalu mengingatkan diriku.

***

Sore ini Kana mengajakku untuk menemaninya latihan futsal. Inilah awal dari bendera perang yang kobarkan oleh Tian kepada Kana.

Bukan... bukan karena Kana cemburu. Tapi Kana merasa Tian sudah menganggu ketenanganku. Dan mengusik apa yang sedang dia lindungi.

Tian datang mendekat kepadaku di pinggir lapangan tanpa merasa takut sama sekali terhadap Kana yang sesekali menatapnya dari tengah lapangan. Tatapan yang menurutku akan membunuh siapapun yang berani mengusiknya.

" Kamu ngapain sih tiap sore duduk di sini? Sendirian lagi. Mending kamu sama aku. Bawa aku jalan-jalan keliling kota bogor. Aku kan anak baru di sini", Tian mulai mengoceh saat duduk di sebelahku.

Aku yang sedang pura-pura membaca komik ( yang mulai bisa ku pahami isinya), sedikit melirik ke arah Tian. Aku merasa orang ini tidak akan pergi walaupun aku usir. Tipe anak dengan pendirian kuat alias kepala batu. Jadi ku biarkan saja dia mengoceh.

" Kami benar tidak ingat aku?", Tian menatap wajahku yang tenggelam dalam komik.

" Tidak... Kamu siapa? Saudara ayahku ya?", aku menjawab tanpa melihat ke arah Tian.

Mendengar pertanyaanku membuat Tian tertawa terbahak-bahak. Aku sampai menutup komik ku dan melihat ke arahnya. Pemain di tengah lapangan sesekali melihat ke Tian, terutama Kana.

" Kok tertawa? Aku tanya serius. Aku tidak tau kamu siapa?tapi saudara ayahku tidak ada yang keturunan luar negri", aku serius.

" Ya ampun Awan. Kamu ternyata menggemaskan ya. Pantas Arkana nempel mulu sama kamu", Tian masih tertawa pelan.

Aku mengerutkan kening. Lalu kembali membaca komik. Berusaha mengabaikan Tian.

" Aku pria yang di halte bis. Ingat? ", Tian mulai memberikan Clue.

Aku berpaling ke arah Tian mulai mengingat siapa dia. " Kamu cowok yang kasih aku tissue itu?", aku balik bertanya.

" Iya itu aku", Tian mengangguk. " Kamu yang suruh aku masuk SMA ini. Sekarang aku ada di sini. Jadi kamu harus tanggung jawab", kata Tian serius.

" Aku? Kapan aku suruh kamu mauk SMA Garuda? kenapa aku yang tanggung jawab?", Aku protes keras.

Tian tersenyum penuh arti. " Iya tanggung jawab. Kamu harus jadi teman aku terus. Aku tidak punya teman", tegas Tian.

Aku menatap Tian kesal. Dia yang masuk ke sini, kenapa aku yang tanggung jawab. Sudah mulai gila orang-orang di dunia ini.

" Aku penasaran sesuatu sama kamu. Kenapa kamu menangis saat di halte? Apa karena Arkana?", Tian bertanya serius kepadaku dan melirik ke arah Kana yang sedang berjalan mendekat ke arah kami.

Aku yang kaget dengan pertanyaan itu tidak menjawab apa-apa. Tian hanya tersenyum melihat aku yang salah tingkah. Lalu dia berdiri tepat saat Kana sudah berada di depan kami.

Lalu sambil mengedipkan matanya padaku Tian berkata " Sampai ketemu besok teman baru". Setelah itu dia tersenyum sinis pada Kana dan berlalu pergi tanpa rasa bersalah. Sekali lagi dia bersenandung lagu Dewa Ingin ku bunuh pacarmu keras-keras. Membuat Kana mengorek kupingnya jengkel.

Kana menatap aku datar dan dingin. Seolah-olah berkata ' beraninya kamu bicara dengan cowok lain di bawah hidungku'. Aku yang salah tingkah tidak bisa berkata apa-apa, merasa tertangkap basah sedang berselingkuh.

' Sialan, padahal ini kan pacaran bohongan. Kok aku rasa bersalah ya', batinku.

Tetapi bukannya marah, Kana malah mengajakku makan. " Ayo kita makan soto ayam sebelum pulang. Aku lapar", Kana mengulurkan tangannya padaku. Aku menurut dan menyambut uluran tangannya.

" Kamu marah?", tanyaku. Setelah itu aku menyesal mengeluarkan pertanyaan bodoh itu.

" Ya.. Besok aku harus bersih-bersih Hama sekolah. Mulai membuat kesal", Kata Kana sambil terus berjalan menuju parkiran motor.

Aku diam saja. Berusaha mencerna perkataan Kana. Apa mungkin maksud Kana Tian adalah Hama? Atau ada Hama beneran di sekolah? Tapi kan ada tukang kebun.

Kana menyerahkan jaketnya kepadaku. " Pakai ini. Biar tidak masuk angin", Kata Kana. .

Aku hanya menurut saja. Sebelum aku di telan habis sama Kana yang sepertinya memang sedang lapar dan siap makan apapun yang menghalangi jalannya.

" Kana?", aku memanggil saat kami di atas motor.

" Ya?", Kana menyahut.

" Kamu kalau lagi marah kayak kumbang ya", aku berkata.

" Kok kumbang? Emang mirip?", Kana bertanya heran tapi menahan tawanya.

" Iya kayak kumbang tanduk. Ada tanduknya gitu. Serem", Aku menjelaskan.

Kana tertawa mendengar penjelasanku " Mana ada kumbang itu seram. Kamu ada-ada saja", masih ada sisa tawa pada Kana.

" Kamu belum pernah lihat kalau kumbang tanduk berantem. Serem tau", aku menjelaskan serius.

Kana makin tertawa kuat. Syukurlah dia tidak marah lagi, setidaknya hari ini aku tidak di makan oleh Kana.

***

1
Diana
awan, tentukan pilihanmu sekarang!!🤭
Diana
so sweet😊
Diana
nah kan hawa²nya kisah mereka kayak juan nandes yg ngerebutin embun. tp walaupun akhirnya jodoh berpihak pd nandes tp aku tetap di barisan juan. hidup juan!!✊🤭
Diana
persahabatan awan dan inka mengingatkanku sama embun dan elsa. semoga kisah kasih awan kana tak setragis embun juan.
Diana
kok embun? awan kali, thor. 🤔
Diana
ke gunung apa ke pantai ya? ke gunung sj. ngapain ke pantai kl gak bisa berenang🤭
Diana
🤣🤣🤣jurus ngelawak inka
Diana
semoga konfliknya gak berat. biarlah badanku sj yg berat.🤭
Diana
masih setia dgn awan kana👍
Diana
jd pinisirin
Diana
jamanku dl SMA naik sepeda ontel, anak sekarang sdh main pesawat²an😂
Diana
ini settingnya thn berapa ya? dulu waktu SMA terakhir ada kelas bahasa (A4) alumni 93. entah thn berapa lg ada kelas bahasa.
Diana
ini novel ke 2 yg aku baca setelah merpati kertas yg berhasih membuat hatiku tidak baik² sj. semoga ini tak kalah istimewa👍🙏
ocha falisha
kasian juga tian yak...
nyR
aaaaahhhh so sweet G siiihhh
ocha falisha
kana maunya apa sih thor?
ocha falisha
apa tian memang jodohnya awan? 🤔
CheapShop
semoga ga ada konflik lagi
Ayas Arus
aaahhh bahagianya awan n nyeseknya tian
Evita
Apa cerita ini sdh selesai thor, kok akhirnya ga enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!