Viona tidak pernah ingin jika pernikahannya hancur. Walaupun dia menikah bukan karena cinta, tetapi Viona sudah berjanji pada diri sendiri untuk menikah hanya sekali seumur hidup. Tentu banyak perjuangan, cobaan, dan air mata yang harus Viona hadapi.
Meluluhkan hati suaminya begitu sulit, bahkan setelah berjuang pun, perjuangannya itu masih tidak di hargai. Rey sang suami, masih menganggap Viona wanita perusak hubungannya dengan Laura. Karena pernikahan mereka membuat Rey tak bisa menikah dengan Laura yang sudah lama menjadi kekasihnya.
Akankah Viona bertahan disisi suaminya dan mempertahankan rumah tangganya? Atau memilih pergi untuk meraih kebahagiaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.21
Viona berdiri di depan ruangan Dio. Kebetulan Dio memintanya untuk datang. Viona mengetuk pintu itu dan tak lama Dio memintanya masuk.
"Permisi, Pak Dio memanggil saya?"
"Benar, silakan masuk!" pintanya.
Viona mengikuti langkah Dio. Hingga kini dia berdiri tak jauh dari Dio yang sedang duduk di sofa. Dio juga meminta Viona untuk duduk.
"Maaf, ada apa Pak Dio memanggil saya?" tanya Viona.
"Panggil saya Kakak saja karena kita sedang berdua disini," pinta Dio.
"Baik, Kak," jawab Viona.
"Sebenarnya saya ingin mengajak kamu makan siang di luar. Apa kamu mau?"
"Sekarang?" tanya Viona.
"Benar, saya harap kamu mau karena saya ingin sekali makan siang berdua denganmu di luar," ucap Dio.
Viona tak enak jika harus menolak ajakan Dio. Tetapi jika teman satu kantornya melihat, nanti bisa jadi kesalahpahaman. Viona tak mau jika nantinya mereka berpikiran yang tidak-tidak kepadanya.
Dio melihat Viona yang masih diam. "Vio, bagaimana?"
"Em iya Vio mau," jawabnya.
Dio senang karena Viona menerima ajakannya.
Kebersamaan Viona dan Dio tentu menjadi sorotan. Para karyawan saling berbisik membicarakan mereka. Namun, Viona mencoba untuk mengabaikan itu. Karena jika dia mendengarkan apa kata orang, maka tidak akan pernah ada habisnya. Jadi, Viona mencoba untuk cuek.
Hanya menempuh perjalanan selama 20 menit, kini mereka sampai di sebuah restoran mewah. Dio mengajak Viona masuk ke dalam. Namun, Viona merasa aneh melihat ke sekitar. Tidak ada siapa pun di restoran itu selain mereka berdua.
"Kak, kok restorannya sepi sekali? Memangnya dimana semua orang?" tanya Viona.
"Restoran ini sengaja kakak booking," ucap Dio.
"Tapi untuk apa?" Viona tak menyangka jika Dio akan membooking restoran hanya untuk makan siang mereka berdua. Baginya itu membuang-buang uang saja.
"Nanti juga kamu tahu. Ayo ikut!" Dio mengajak Viona pergi ke tempat spesial yang sudah di sediakan.
Viona menatap kanan kirinya. Banyak dekorasi bunga-bunga di sekitarnya. Dia jadi semakin yakin jika makan siang kali ini bukan makan siang biasa.
"Vio, kamu kenapa? Apa tidak nyaman berada disini?" Dio memperhatikan Viona yang sedang menatap sekitar.
Viona menggelengkan kepalanya. "Ini terlalu bagus. Sebenarnya kenapa restoran ini di hias seperti ini?"
Dio tak langsung menjawab, tetapi malah meraih jemari Viona. Di pandanginya wajah Viona yang terlihat begitu cantik. Walaupun sedang hamil, tetapi postur tubuhnya masih terlihat ramping.
"Vio, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?" Dio menatap Viona dengan tatapan serius.
Tentu Viona terkejut mendengar penuturan Dio. Ini terlalu cepat dan dia tak mungkin menerima Dio karena kondisinya yang sedang hamil. Jika menikah pun pernikahan mereka tidak sah. Kecuali mereka menikah setelah anak itu lahir.
Perlahan Viona melepaskan tangan Dio. "Maaf, Kak. Aku belum siap."
Dio kecewa dengan jawaban Viona. Dia kira dengan semua kebaikan yang dia lakukan untuk Viona, itu mampu membuat hati Viona luluh. Tetapi nyatanya semuanya tidak seperti yang dia bayangkan.
"Apa lagi yang membuatmu ragu?" tanya Dio.
Viona menggelengkan kepalanya. "Tidak ada sedikit pun keraguan di hatiku. Terlebih Kak Dio yang selalu baik kepadaku. Hanya saja aku tidak mau memaksakan perasaanku untuk Kak Dio. Berpura-pura mencintai itu sangatlah berat."
Dio menghela napasnya. Begitu sulit untuk mendapatkan Viona. Namun, ambisinya yang begitu besar tidak akan membuatnya berhenti sampai disini. Mungkin masih butuh perjuangan yang lebih besar lagi agar bisa memiliki Viona.
Dio mencoba tersenyum walaupun dalam hatinya kecewa. "Lupakan perkataanku tadi. Sekarang lebih baik kita langsung makan siang saja."
"Maaf ya, Kak." Viona merasa tak enak hati.
"Jangan terlalu di pikirkan. Kasihan anak yang ada di dalam kandunganmu kalau ibunya banyak pikiran," ujar Dio.
Viona mengangguk, tatapan matanya tertuju pada raut wajah Dio yang sedikit muram. Sudah pasti Dio sangat kecewa kepadanya. Sebenarnya Viona tak tega karena Dio sudah repot-repot menyiapkan makan siang spesial untuk mereka berdua. Hanya saja Viona tidak mau memberikan harapan kepada Dio.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kantor. Viona langsung saja kembali mengerjakan pekerjaannya. Viona mencoba mengabaikan bisik-bisik yang masih dia dengar di kantor.
...
...
Setelah beberapa kali berpikir, Viona memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantor Dio. Viona akan semakin tidak enak jika terus berada di kantor Dio. Viona sengaja datang ke kantor lebih pagi. Dia akan mengajukan pengunduran dirinya pagi ini juga.
Viona menghampiri Arya yang baru berangkat kerja. "Pak Arya, saya mau bicara penting."
Arya menoleh ke samping menatap Viona. "Kenapa Vio?"
"Saya ingin menyerahkan ini." Viona memberikan amplop putih yang sedang dia pegang kepada Arya.
"Apa ini?"
"Surat pengunduran diri saya, Pak."
"Kenapa mengundurkan diri? Bukankah terasa enak jika bekerja di kantor calon suami sendiri?"
"Saya punya alasan tersendiri, Pak.”
Arya tidak mau bertanya lebih karena sepertinya itu menyangkut hal pribadi Viona.
"Baiklah, saya akan serahkan surat ini kepada atasan."
"Saya akan langsung pergi sekarang, Pak."
"Tidak bisa, Vio. Kamu harus menunggu putusan dari atasan barulah kamu bisa pergi. Lagian kamu juga harus menerima uang pesangon."
Viona menggeleng. "Saya akan tetap pergi. Tolong bapak jangan halangi saya."
Setelah selesai berbicara dengan Arya, kini Viona pergi menemui semua teman kerjanya untuk berpamitan. Setelah selesai berpamitan, dia bergegas pergi dari kantor. Sengaja Viona pergi begitu saja karena takut jika Dio nanti mencegahnya. Yang penting dia sudah mengajukan pengunduran dirinya sesuai prosedur perusahaan.
30 menit kemudian, terlihat seseorang memasuki ruangan Dio.
"Permisi, Pak," ucapnya saat memasuki ruangan Dio.
"Ada apa, Sel?" Dio bertanya kepada bawahannya yang bernama Selin.
"Ini ada surat pengunduran diri yang di ajukan oleh salah satu office girl." Selin menaruh amplop putih itu ke atas meja.
"Dari siapa ini?"
"Viona," jawab Selin.
Mendengar nama wanita yang di cintai membuat Dio terkejut. Mungkin karena hal kemarin yang membuat Viona mengundurkan diri. Semakin jauh jarak mereka, maka semakin kecil kesempatan untuk Dio bisa mendekati Viona.
"Kamu boleh pergi!" pinta Dio.
Setelah kepergian Selin, Dio segera bersiap untuk pergi. Dia akan pergi ke apartemen Alan untuk menemui Viona. Semoga saja Viona ada disana dan Dio bisa langsung berbicara empat mata.
...
...
teruskan usaha kak thor dalam penulisan nya..
moga sukses selalu 😘😘
makasih kak thor buat cerita nya..😘