Aluna Deviatia seorang gadis semester akhir jurusan perancang busana. Pendek dan penakut. Mendapatkan nasib sial dihari ia mendapatkan gajinya sebagai penjaga toko bunga. Dengan sialnya ia dikejar para pemalak, jatuh dalam tumpukan daun dan luka di lututnya.
Seharusnya bisa lebih baik dari pada di pandangi seperti orang gila sepanjang perjalanan ke mini market.
Namun sayang, para pemalak yang ia kira ingin memalaknya malah berniat menculiknya. Membawa Aluna kembali kepada sosok yang tidak pernah ingin dia lihat lagi setelah masa sekolah menengahnya.
Gabriel Ivanovich, pemilik sah Enterlace Corp, sebuah perusahan besar yang menaungi segala kekayaannya. Psycho gila dengan obsesi besar hanya kepada Aluna.
Menculik gadis itu, membakar hangus segala milik gadis itu. Mengikat seorang Aluna didalam hubungan gila penuh siksaan dan kelembutan.
Membawa gadis itu kepada fakta besar yang terkubur jauh didasar tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qieqizie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 : The step?
"Aluna ini kau bukan?!" Anggita nyaris menjerit setelah berlari kencang menghampiri Aluna dengan tergesa-gesa. Wajahnya menunjukan kebingungan dan ketidak percayaan.
Aluna mengalihkan matanya berusaha mencari-cari jawaban didalam otaknya. Apa yang harus ia katakan? Aluna harusnya tahu apa yang akan terjadi kalau Gabriel membiarkan seorang reporter memang ambil foto mereka semalam.
Oh, Tuhan siapa sangka kabar itu rilis tidak sampai 24 jam. Dan astaga, wajahnya menjadi cover majalah? Aluna tidak pernah membayangkannya.
"Dia Gabriel Ivanovich, putra tunggal keluarga Ivanovich. Pria pria idaman hampir oleh sebagian besar populasi wanita dibumi ini." Anggota berujar heboh dengan tidak percaya.
"Bagaimana kau bisa bertemu denganya?" pada akhirnya gadis itu lelah sendiri berteriak tidak jelas. Dengan nafas terengah ia bertanya dengan penasaran.
"Kami berteman saat SMA, dan dia kembali untuk menemuiku." Aluna tidak berbohong bukan. Gabriel memang teman semasa SMAnya, tidak benar-benar teman sebenarnya. Dan Gabriel memang datang untuk menemuinya bukan.
"Jadi dia kembali untuk mencari gadis yang ia cintai?! Ah aku iri dengan kisah kalian!" seru Anggita dengan wajah tulus.
"Kau tidak seharusnya iri Anggita."
"Aku tidak tahu, dia hanya bilang aku kekasihnya. Dia tidak pernah bilang kalau dia mencintaiku," ujar Aluna sedikit menerawang. Aluna tahu dia serakah, seharusnya perubahan sifat Gabriel saja cukup. Diakui sebagai kekasih saja sudah sangat lebih dari cukup.
Tapi, entah mengapa ia ingin mendengarnya. Kata cinta, dari bibir pria itu.
"Kau ini polos sekali." Aluna mengangkat wajahnya, menatap Anggita dengan tidak mengerti. Apa maksudnya polos?
"Terkadang pria tidak mengatakan rasa cinta melalui ucapan. Aku yakin dia pasti sangat mencintaimu. Dia bahkan rela kembali dan mencarimu bukan? Apa itu tidak cukup membuatmu sadar?"
Benarkah? Lalu bagaimana dengan Gabriel yang berusaha mengubah sifatnya? Apa itu juga termasuk cara menyampaikan rasa cinta?
"Terkadang pria bisa menjadi cukup rumit Aluna."
Ya, Aluna mau tidak mau mengakui itu, pria memang bisa sangat rumit. Mereka tidak ingin kehilangan namun tetap menyakiti.
Mereka yang pada akhirnya mengurung dan memenjarakan gadis seperti Aluna dalam dekapan hangat namun memenjarakan.
"Jadi apa kumpulan pria 10 meter yang mengikutimu setiap hari itu adalah suruhannya?" Anggita mengabil kursi disebelah Aluna. Menatap Aluna dengan mata penuh binar penasaran dan semangat.
Anggita senang tentu saja, Aluna adalah sahabatnya. Anggita tahu seberapa keras Aluna berusaha untuk kehidupannya. Dan kini ada seorang pria tampan yang membuat kehidupan sahabatnya lebih baik. Ayolah, gaun indah yang dipakai Aluna beberapa bulan ini cukup untuk membuktikan hal itu.
Anggita tidak pernah melihat gadis itu memakai pakaian pudar tuanya lagi.
"Ya, itu suruhannya. Aku tidak mengerti mengapa ia terus-menerus menyuruh pengawalnya menjagaku."
"Kalau begitu tidak usah tahu, kau tahu beberapa pengawal didekatmu itu bagus untuk keamanan. Apalagi untuk gadis mungil yang bahkan masih setinggi anak SMA ini." Anggita tertawa anggun, matanya mengerdip jahil.
"Anggita jangan membahas hal itu, kau tidak adil." dimata Aluna, Anggita adalah sosok sempurna. Gadis itu cantik dengan pesona anggun, wajahnya terlihat dewasa dengan sisa-sisa manis wajah kanak-kanak yang masih tertinggal.
Anggita tinggi dengan rambut coklat dan tubuh indah. Pakaian yang ia gunakan juga selalu cocok dengan gayanya.
🍁🍁🍁
"Ah, maafkan aku." Aluna mendongakkan kepalanya menatap seorang pria paruh baya, mungkin 40 tahunan yang tak sengaja menyenggol bahunya. Makanan Aluna tumpah kelantai akibat senggolannya.
"Maafkan aku, aku akan menggantinya." pria itu tersenyum dengan wajah bersalah. Ia menggaruk belakang kepalanya .
"Tidak perlu, tidak apa-apa." Aluna tersenyum, meskipun pada faktanya saat ini dia sangat lapar, namun memaksa seseorang yang telah merasa bersalah bukanlah sifatnya.
"Jangan seperti itu, aku merasa bersalah. Ayolah." Aluna tidak menolak ketika pria itu tersenyum ramah kearahnya. Mereka duduk berdua dalam satu meja.
Pria itu terlihat baik, dengan baju santai dan wajah ramah. Mau bagaimana, ia memang lapar. Dan masih ada jam kuliah lagi setelah ini.
Dan sang sahabat, Anggita sedang bermesraan dengan makan bersama kekasihnya, Aluna tidak mau berpikir dua kali untuk menolak menjadi obat pembasmi nyamuk diantar dua sejoli itu kecuali diberikan uang satu juta.
Jadi disinilah dia, didalam sebuah cafe didepan kampusnya. Dengan niat mengisi perut agar dapat melanjutkan kelasnya dengan baik.
Makanan tiba dihadapan mereka. Pria itu tersenyum mempersilahkan Aluna menyantap makanan mereka.
"Ah, akhirnya aku ingat diamana aku pernah melihatmu." pria itu berujar sambil tersenyum ramah.
"Maaf?" Aluna berujar tidak mengerti.
"Sejak tadi aku merasa aku pernah melihat dirimu, dan akhirnya aku ingat. Kau yang menjadi cover majalah bersama Gabriel Ivanovich," jelas pria itu dengan kekehan pelan.
"Ah sebelum itu aku Draco," ujar pria itu mengulurkan tangannya.
Aluna menyambut uluran tangan itu. "Aluna."
"Aku sudah menduga Gabriel akan memiliki pasangan yang cantik," ujar Draco dengan nada akrab.
"Kau mengenal Gabriel?" Aluna mengerutkan dahinya terkejut. Siapa pria ini? Dari ucapannya tadi seolah ia sudah kenal dekat dengan Gabriel.
"Ah, maafkan aku. Aku Ayah angkat Gabriel." Aluna mengedipkan kedua kelopak matanya. Sungguh!!
Aluna tidak pernah tahu Gabriel memiliki ayah angkat.
"Mungkin kau terkejut atau tidak percaya, tapi itu nyata. Aku yang mengurusnya ketika ia berusia 3 tahun."
Aluna tidak mau percaya, ada banyak orang aneh didunia ini dia tidak ingin ditipu oleh orang.
"Aku punya bukti kalau kau tidak percaya." pria itu merogoh dompetnya. Mengeluarkan sebuah foto kusam.
Ada seorang wanita yang menggendong seorang pria kecil. Wanita itu tampak cantik dan pria kecil dalam gendongnya terlihat, sangat mirip dengan Gabriel.
"Dia istriku." Draco menunjuk sang wanita dengan pandangan mata seolah ia sangat-sangat mencintai sang wanita.
"Apa kau jarang bertemu dengan Gabriel? Aku tidak pernah mendengar atau melihat Gabriel membicarakanmu." tanya Aluna hati-hati dengan wajah tidak enak. Ia takut ia salah bicara.
Pria itu terkekeh pelan. "Ya, ya kau benar. Sebenarnya kami sudah tidak pernah bertemu sejak ia berusia 5 tahun. Dan aku datang kemari karena merindukannya."
"Kenapa?" Aluna bertanya spontan.
"Sebuah rasa sakit. Tapi tidak apa-apa aku berencana menemuinya tidak lama lagi. Mungkin kami bisa mengunjungi makam istriku bersama."
"Ah, jangan ceritakan pertemuan kita, aku ingin memberikan ia kejutan. Semoga saja dia tidak melupakan sosok ayah sementaranya ini." pria itu lagi-lagi tertawa dengan wajah ramahnya.
"Aku begitu merindukannya."
scene dansa denga mama.. 😭
akak ini pny cerita bgs2, g mgkn kan copy