NovelToon NovelToon
Ruang Teduh Untuk Arkan

Ruang Teduh Untuk Arkan

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:286k
Nilai: 5
Nama Author: sakabiya

Dalam setiap perceraian, korban paling nyata adalah anak. memiliki orang tua yang tidak pernah harmonis adalah pukulan telak untuk seorang anak yang sudah mulai mengerti arti sebuah keluarga, itulah yang dialami Arkana.

Diusia remaja yang butuh perhatian penuh dan bimbingan untuk menentukan jati diri, Arkan malah mengalami keterpurukan atas perceraian kedua orangtuanya. dia tidak menemukan kehangatan dan dia selalu mencari perhatian dengan cara brutalnya.

Mungkinkah akan ada ruang teduh untuknya merasakan kehangatan ??
Bisakah dia melewati masa transisinya dengan baik ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sakabiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Comeback Home

Nina sudah diperbolehkan untuk pulang, kakinya masih dipasangi gips dan dia juga diberi tongkat penyangga untuk membantunya berjalan. Ayah mengantar Nina pulang, dia sungguh sangat ingin bertemu dengan Ibu yang dengan teganya mengabaikan Nina sendirian di rumah sakit selama beberapa hari.

Saat mereka sampai, Ayah cukup miris dengan keadaan Nina dan keluaraganya. Syah pandangi setiap sudut ruangan yang tak lebih luas dari garasi di rumahnya itu.

Ibu langsung terlihat sok peduli saat Nina datang, dia cukup impressif dengan penampilan Ayah, dia merasa dia bisa memanfaatkan Nina untuk meminta sejumlah simpati pada Ayah.

"Bukannya saya gak ingat sama Nina, tapi ... saya harus mengerjakan banyak pekerjaan, sejak suami saya meninggal, kami tidak punya penghasilan dan saya harus bekerja keras untuk kedua anak saya," kata Ibu sedikit memelas, Nina hanya diam.

"Anda pasti akan mendapat balasan untuk semua pengorbanan anda ini," kata Ayah.

"Iya Tuan, walaupun sangat berat tapi saya ikhlas merawat Nina, dia sudah seperti anak kandung saya sendiri, walau harus berhutang kesana kemari, tapi saya tulus merawatnya sampai dia bisa tumbuh baik seperti sekarang ini."

Dalam hati Nina hanya bisa tersenyum miris, yang Ibu katakan rasanya jauh dari kenyataan.

Ayah mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, ibu terlihat sangat jelalatan. Dan Nina malah merasa tidak enak dengan sikap Ibu pada Ayahnya Arkan ini. Nina merasa ibu sengaja memanfaatkan Ayah yang pada dasarnya memang baik dan dermawan.

"Jaga Nina dengan baik ya Bu, ini ada sedikit uang untuk berjaga-jaga kalau nanti tiba-tiba Nina merasakan sakit pada kakinya, Bu Dharma harus segera membawanya untuk chek up!" kata Ayah lalu menyimpan uangnya di atas meja.

"Oh, iya iya pasti pak, terimakasih banyak karena sudah menjaga Nina dengan baik di rumah sakit, Anda juga sudah melakukan banyak hal baik lainnya untuk Nina ... terima kasih banyak Pak ..."

"Iya, saya pamit ya, Nina ... jaga dirimu baik-baik!" kata Ayah lalu berpesan pada Nina, Nina hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.

Ayah bersiap untuk pergi dan Ibu segera mengantar Ayah sampai ke depan rumah, Nina jadi merasa tidak enak dengan sikap Ibu.

Nina pandangi kakinya yang terluka, sakit memang sakit tapi dia selalu merasa kalau lukanya saat ini tidak ada apa-apanya dengan luka hati dan luka mental yang Arkan alami.

Ibu kembali masuk, dia langsung menghitung uang yang tadi ayah berikan. Dia sungguh licik, dengan tega dia manfaatkan kondisi Nina.

"Wah, ternyata Ayah temanmu itu benar-benar baik ya," kata Ibu yang masih menghitung lembar demi lemabar uang yang dia dapat secara percuma dari Ayah.

"Kenapa Ibu gak datang ke rumah sakit?" tanya Nina, Ibu memicingkan matanya.

"Hey, gara-gara kamu Ibu jadi gak bisa memasarkan donat-donat yang terlanjur Ibu buat beberapa hari lalu! Hitung sendiri berapa kerugian yang harus kita alami!" Ibu malah menyalahkan Nina, Nina hanya menghela nafas.

"Aku ... menunggu Ibu, tapi ... menanyakan kabarku saja, Ibu gak pernah."

"Heh, apa peduliku!" gumamnya dengan nada sinis, dan kata-kata itu benar-benar melukai hati Nina saat ini, dia tak habis pikir kenapa Ibu setega itu.

"Jangan harap kamu bisa istirahat lebih lama, sore ini kamu harus tetap berjualan di taman kota!" kata Ibu lebih tega lagi, Nina tak bisa membantah.

Ibu pergi ke kamarnya meninggalkan Nina, Nina ingin menangis tapi itu pasti akan membuat Ibu semakin muak dan marah.

'Haruskah aku pergi dari rumah ini?' batinnya lirih.

"Permisi ...."

Tak lama ada yang bertamu, pintu masih terbuka lebar dan Nina bisa melihat dengan jelas kalau yang bertamu saat ini adalah Bu Arini dan Ami. Saat keduanya datang Nina terlihat sangat senang, akhirnya dua orang yang selama ini peduli padanya dengan tulus datang menjenguknya.

"Ya ampun Nin, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ami yang langsung duduk di samping Nina.

"M ... aku kepeleset di tangga di rumah Arkan ...." jawab Nina memanipulasi jawabannya, dia tidak ingin siapapun tahu dengan yang terjadi di pagi yang kelam itu.

"Ya ampun," Ami langsung menggenggam tangan Nina mencoba untuk menguatkan Nina, dan Nina merasa sangat damai karenanya.

"Tapi, gak ada luka lain kan selain ini?" tanya Bu Arini.

"Gak ada Bu, kaki saya ini juga hanya retak gak sampai patah."

"Ya ampun, sampai retak gitu Nin??" Ami tampak sangat prihatin melihat kondisi Nina.

"Sebentar, saya ambilkan dulu minum ya," kata Nina lalu dia mencoba bangkit dengan susah payah.

"Eh, gak usah Nin, kamu duduk aja," tahan Ami.

"Sudah, sudah! Duduklah, jangan terlalu banyak bergerak, biar luka kamu ini cepat sembuh," tahan Bu Arini juga.

"Tapi aku udah mahir kok pakai tongkat, besok aku mau sekolah lagi," kata Nina semangat.

"Sebaiknya kamu istirahat total sampai pulih," sarankan Bu Arini.

"iya Nin, jangan memaksakan diri."

"Kata dokter aku boleh beraktifitas lagi, justru aku gak boleh berdiam diri, aku harus berlatih untuk melenturkan syaraf syaraf yang agak tegang ini, aku juga hanya akan diam di kelas besok, pokoknya aku mau sekolah besok!"

Bu Arini pandangi muridnya yang penuh semangat itu, dia terharu sekaligus bangga.

Ibu kembali, keluar dari kamarnya dan apa yang dia lakukan? Ibu tetap bersikap cuek seolah-olah tidak ada orang yang bertamu dan itu membuat Nina merasa malu pada bu Arini dan Ami.

"Maaf," gumam Nina pelan, dia tampak sangat menyesali sikap Ibu.

"Gak apa-apa," tukas Bu Arini sembari berbisik.

"Oh iya, Arkan masih gak mau pergi ke sekolah?" tanya Ami mengganti topik, Nina terdiam.

Nina pikir, belum ada orang yang tahu keadaan Arkan yang sebenarnya saat ini. Dia sendiri pun tak ingin ada yang tahu masalah yang Arkan hadapi saat ini.

"M ... ya begitulah ... mungkin, beberapa hari lagi, dia akan kembali ke sekolah," jawab Nina seolah-olah tak terjadi apa-apa pada Arkan saat ini.

"Tapi Ayahnya bercerita, katanya Arkan menunjukkan progres yang cukup baik, berkat kamu," kata bu Arini bangga, Nina tak percaya dengan apa yang dia dengar. Ternyata ayah sangat mengapresiasi usahanya selama ini.

"Oh ya?" yakinkan Nina.

"Iya, dia sangat optimis kalau kamu akan berhasil membujuk Arkan sampai mau kembali ke sekolah!"

Nina tersenyum, senyumnya hambar. Apa yang Bu Arini katakan saat ini agak melenceng dari kenyataan. Saat ini Arkan bahkan semakin kacau dan menggila, dan tak ada yang tahu kalau Arkan hampir membunuhnya beberapa hari yang lalu.

Nina tidak peduli, dia akan jadikan kejadian mengerikan itu sebagai motivasi untuk semakin gencar dan semangat menemani Arkan sampai Arkan benar-benar sembuh dan kembali ke jalan yang benar.

1
erviani
telat bgd ya cek cctv nya
erviani
baru mampir . .
Nurul Azzandy
Hai Ka biya
ko tokohnya sm kaya d platform sebelah y arkana n lalina 😂
Srie Hastuti
bagus... sangat mendidik u/anak muda yg mncari jati diri
Srie Hastuti
lanjuttt Thor... sampe dewasa
Srie Hastuti
lanjut Thor... sampe mereka nikah😁
Aan Nurhasanah
lanjut donk cerita nya sampai nina &arka dewasa👍👍👍
Aan Nurhasanah
kagum sama nini saking semangat nya bujuk arka belajar& sekolah lanjut kak👍👍👍
Tri Haryani
salut banget sama tokoh Lanina, banyak pelajaran hidup bisa diambil oleh Arkan dari Lanina
Choiriyah ArBy
sampai menikah punya anak
Sri Rahayuu
bagus, menginspirasi
Lia Yulia
q mampir kak🤗
🥰Dewimitohamasreka🥰
nagis aku thor😭😭😭😭
🥰Dewimitohamasreka🥰
bab pertama meyentuh, mari lanjutkan
Leni Fatmawati Fatmawati
aku yg nangis Thor,Nina baik bngt sih km
Leni Fatmawati Fatmawati
hadeuuhh udah kaya sinetron,aku kesel author
Leni Fatmawati Fatmawati
ga kerasa mata ku berair Thor,sakit aku thor
sry rahayu
ah.... so sweet
sry rahayu
ya Allah ... terharu banget....
sry rahayu
senangnya.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!