Frisha Natalia, kabur dari rumah ketika dipaksa menikah dengan pria beristri, sebagai penebus hutang ayahnya. Di jalan, Frisha mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan gadis itu lumpuh.
Clyton Xavier Sebastian, pria yang tidak sengaja menabraknya, bersedia bertanggung jawab memberi kompensasi dan menjamin pengobatannya.
Akan tetapi, Frisha menolak. Dia menuntut tanggung jawab dalam bentuk lain, yakni menikahinya.
Apakah Xavier, seorang CEO perusahaan besar, mau menerima pernikahan dengan wanita asing begitu saja? Ikuti kisahnya yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : OVERTHINKING
Frisha membeku dengan pengakuan suaminya. Diam-diam, ternyata pria dingin itu begitu peduli padanya. Tubuhnya sampai meremang, apalagi ketika melihat sorot mata yang begitu tulus mengarah tepat pada kornea matanya.
“Jika memang kamu menginginkannya, aku siap. Aku nggak apa-apa kok,” ucap Frisha tak mampu menahan senyuman. Hatinya dihujani ribuan bunga.
“Cukup! Aku tidak mau kamu kesakitan lagi,” sahut lelaki itu merapikan anak rambut Frisha yang lepek karena keringat.
Xavier beranjak ke kamar mandi, menyiapkan air hangat di dalam bathup, sekaligus memberi cairan aroma terapi. Tak lama kembali lagi menjemput istrinya. Menyibak selimut yang seketika membuat Frisha menutupi bagian inti tubuhnya.
“Mandi, lalu tidur. Besok, jangan sampai terlambat,” ucap Xavier merengkuh tubuh Frisha, membawanya masuk ke kamar mandi.
Malam itu, Frisha dikejutkan berkali-kali dengan sikap Xavier. Pria kaku itu memperlakukan Frisha bak porselen mewah, sangat hati-hati ketika membersihkan tubuh istrinya.
Frisha merasa malu, dia sudah meminta Xavier untuk segera pergi. Akan tetapi, Xavier menolak dan tetap membersihkan tubuh sang istri sampai tuntas. Ia juga sekaligus membersihkan diri di bawah kucuran shower. Frisha sama sekali tidak berani menoleh, mengingat tubuh kekar sang suami saat ini polos tanpa sehelai benang pun.
Setelah beberapa saat, Xavier menyerahkan baju ganti untuk Frisha. Dengan cepat wanita itu mengenakannya. Keduanya lalu tidur saling berpelukan. Dan itu tentu saja membuat jantung Frisha meledak-ledak di dalam sana.
Frisha menatap wajah tampan sang suami, yang sudah memejamkan matanya. Bahagia, terharu dan serasa tidak percaya. Senyum terus terurai di bibirnya. “Tuh kan, dia itu sebenarnya lembut. Feelingku selalu benar,” gumamnya pelan membelai wajah suaminya. Hingga lama kelamaan akhirnya Frisha tertidur.
Xavier belum benar-benar tertidur. Ia kembali membuka matanya. Menatap lekat-lekat wajah polos yang begitu cantik alami dan meneduhkan. Ia justru tidak bisa tidur setelahnya. Semalaman penuh, Xavier menghabiskan waktu hanya untuk menatap istrinya.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Keesokan paginya, Frisha mengerjapkan mata terlebih dahulu. Ia merasa tubuhnya susah bergerak, ternyata suaminya masih mengungkung tubuh mungilnya. Matanya beralih pada pria di sebelahnya, masih memejamkan mata dengan rapat. Lagi-lagi dadanya bertalu kuat ketika berada dalam jarak sedekat itu dengan suaminya.
Setelah puas memandangi pahatan indah di sampingnya, Frisha ingin turun dari ranjang. Pelan dan sangat hati-hati, Frisha menggerakkan lengan Xavier, agar terbebas dari kungkungan lelaki itu. Xavier yang baru terpejam beberapa saat yang lalu, tentu tidak terpengaruh. Tubuhnya teramat lelah.
“Ssshhh!” Frisha mendesis ketika merasakan perih pada inti tubuhnya. Namun Frisha mencoba abai. Frisha susah payah beranjak dari ranjang beralih menuju kursi roda. Kemudian mengikat rambutnya tinggi-tinggi agar tidak mengganggu ketika beraktivitas. Bibirnya melengkung sempurna, ketika melihat pakaian Xavier yang masih berantakan. Dia jadi mengingat aktivitasnya semalam.
Frisha beralih memungut kemeja putih Xavier beserta celananya. Tiba-tiba tubuhnya membeku ketika menemukan aroma yang berbeda pada kemeja dan celana kerja Xavier.
“DEG!”
“Kenapa seperti parfum perempuan?” gumam Frisha bertanya-tanya. Karena ia tentu sangat hafal dengan aroma parfum dan juga tubuh suaminya.
Masih mencoba berpikir positif, Frisha bergerak menuju keranjang kotor dan hendak meletakkannya di sana. Ada noda merah yang ia yakini adalah lipstik. Walaupun tak berbentuk dan hanya berupa goresan.
Frisha memejamkan matanya, mencoba menghalau segala pikiran buruk yang mulai merajai pikirannya. “Ah, mungkin nggak sengaja nabrak perempuan,” gumamnya pelan segera meletakkan pakaian kotor tersebut.
Saat berbalik, menatap punggung kokoh sang suami dengan helaan napas yang berat. Tak dapat dipungkiri, hanya bibirnya saja yang berucap untuk tidak negatif thinking, tetapi hatinya bergemuruh hebat saat ini.
Setelah beberapa saat mencoba menenangkan diri, Frisha berusaha tersenyum. Menyembunyikan segala kegundahan hatinya. Ia kembali mendekati ranjang dan menyentuh bahu suaminya.
“Xavier, bangunlah. Nanti terlambat,” ucap Frisha lembut menggoyangkan bahu Xavier.
Sentuhan dan disertai suara lembut Frisha membuat pria itu segera membuka kelopak matanya.
Xavier berbalik, mengulas senyum tipis sembari menghela napas panjang. Lengannya menjulur untuk mengusap puncak kepala istrinya.
“Sudah mandi?” tanya Xavier dengan suara seraknya.
Frisha menggeleng, ia masih mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Tetap mengumbar senyum di bibirnya.
“Yaudah, ayo bareng!” ajak Xavier segera beranjak dan meraih tubuh istrinya.
“Xavier!” pekik Frisha terkejut mengalungkan lengannya pada leher sang suami, menatapnya lekat-lekat.
‘Mungkinkah perubahan sikapnya hanya untuk menutupi hal itu?’ batin Frisha bertanya-tanya.
Tak ingin terlalu larut dalam pikiran buruk, Frisha menepisnya jauh. Ia menghela napas panjang dan menikmati kebersamaan bersama sang suami.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Usai sarapan, mereka segera berangkat ke Sky Flower. Tania juga tak ketinggalan, ia melihat aura yang berbeda dari dua sejoli itu. Pasalnya, wajah mereka tampak berseri, dan yang paling mencengangkan, sikap Xavier yang berubah sedikit hangat.
“Tania, kamu pakai mobil sendiri!” seru Xavier setelah mendudukkan istrinya di kursi samping kemudi. Tanpa mendengar jawaban, Xavier mulai menjalankan kendaraannya.
“Wah, apakah aku sudah tidak dibutuhkan lagi sekarang?” gumam Tania bertanya-tanya.
Gadis itu segera berlari menuju mobilnya dan mengikuti mobil tuannya dari belakang.
Suasana di Sky Flower sudah ramai, semua karyawan kembali mengecek persiapan sesuai pembagian tugas mereka.
“Jena! Bagaimana?” tanya Xavier mendorong kursi roda sang istri ketika memasuki lobi.
“Semua siap, Tuan!” ucap gadis itu membungkuk hormat.
Xavier mengangguk, tetap menjaga wajah datarnya. Ia berjalan mengelilingi tempat tersebut sambil bertukar pendapat dengan istrinya.
Setelah setengah jam, semua tamu undangan rekan kerja Xavier sudah mulai berdatangan. Acara pun berlangsung dengan lancar. Setelah pembukaan, ada sedikit pidato yang disampaikan oleh Frisha selaku owner dari toko bunga tersebut.
Dia sangat berterima kasih pada sang suami atas kepercayaannya, menjadi pemilik sekaligus pengelola toko bunga tersebut. Semua orang bertanya-tanya, siapa suami yang dimaksud. Sedangkan sedari tadi, Frisha hanya bersama Xavier. Tentu saja menimbulkan tanda tanya yang besar di benak para tamu undangan.
Usai potong pita, dilanjutkan perjamuan tamu. Xavier tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menyerahkan seluruhnya pada sang istri.
“Xavier, aku nggak nyangka ternyata sebesar ini,” gumam Frisha menyentuh tangan Xavier yang berada di bahunya. Mereka tengah memandangi seluruh penjuru ruangan.
“Hmm ... ini belum seberapa,” balas Xavier.
Frisha mendongak menatap suaminya, Xavier sendiri tengah menundukkan pandangan. Keduanya saling melempar senyum. Dan tanpa diduga, Xavier menjatuhkan ciuman di kening Frisha. Seketika membuat jantung Frisha melompat-lompat di dalam sana.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
“Goblok! Kenapa gitu aja nggak pecus sih, hah?” teriak seorang wanita paruh baya memarahi putrinya.
“Maaf, Bu. Aku tidak menyangka Xavier justru memilih pergi!” rengek Gissel bersimpuh di depan ibunya, dengan kepala terdongak. Karena saat ini, rambutnya ditarik oleh sang ibu.
“Memang dasarnya kamu saja yang bodoh! Melepaskan kakap begitu saja. Lihat pilihan kamu! Nyungsep ‘kan? Dibilangin sejak awal kamu tidak percaya sama ibu!” teriak wanita yang berwajah cacat itu bersamaan dengan sebuah tamparan di pipi Gissel.
Derai air mata Gissel semakin menganak sungai. Ibunya selalu berambisi agar anaknya selalu mendekati para lelaki kaya raya. Dan sejak awal, ibu Gissel memang sudah menargetkan Xavier sebagai calon menantunya.
Gissel mampu memperdaya Xavier. Sudah berjalan selama satu tahun, kehidupannya pun berubah. Gissel bisa mendapatkan banyak barang-barang mewah, sering ke salon diantar oleh Xavier. Gissel hanya memanfaatkan ketulusan Xavier.
Namun, tak lama kemudian, Gissel justru terpikat pada rayuan lelaki lain. Ia jatuh cinta pada Reynan. Rela meninggalkan Xavier demi cintanya Diajak tinggal di luar negeri dan mencukupi semua kebutuhan Gissel. Sayangnya, tiga tahun kemudian, Reynan bangkrut. Mau tidak mau, Gissel kembali dan menuturkan semuanya pada ibunya. seperti dugaannya, Gissel justru mendapat penyiksaan dan amukan setiap harinya.
Bersambung~
Frisha nya bangun tidur ya, maklum.. Rambutnya acak-acakan 🤣🤣 xavier mau diapa-apain tetep aja gantengnya ga ketulungan.
con; ketika panik, terburu2, kan gak mungkin memakai kata melenggang.
Melenggang itu lbh ke arah berjalan santai...
sdh terburu2 mosok pakai kata melenggang..
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘