Kehidupan malam yg selalu di hiasi dengan alkohol sudah menjadi agenda rutin bagi sitara, gadis muda penerus perusahaan textile milik pak satish. Perusahaan besar yg memiliki cabang di beberapa negara. Santhi and co berdiri mentereng di kota surabaya. Satish sudah berusaha keras mendidik dan mengarahkan putri tunggal nya untuk fokus meneruskan perusahaannya, karena dia ingin saat pensiun nanti dia bisa kembali ke negara nya India. Sitara pulang dalam keadaan mabuk berat dan tanpa sadar dia menabrak dinding pagar dengan kecepatan tinggi. seorang pemuda tampan dengan gamis coklat dan kopiah putih itu bernama Musa, pemuda tampan itu bergegas menghampiri mobil yang sudah remuk di bagian depannya, beruntung pintu tidak terkunci, sehingga memudahkan pria itu mengevakuasi wanita yang menjadi korban. Dengan tidak mempedulikan apapun Musa langsung menggendong dan memindahkan sitara ke mobil nya, tidak lupa dia membawa tas gadis itu. Mobil melaju menuju rumah sakit terdekat, karena darah mulai m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anna dharta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
Zahra masih serius berbagi ilmu dengan Sitara. Sesaat dia memperhatikan wajah cantik di hadapannya yang tampak masih menunggu kalimat darinya.
“Menurut pandangan agama Islam seorang yang menjadi mualaf memiliki banyak keistimewaan. Sebagaimana dia seperti umat Islam lainnya, yang telah mendekat pada Allah serta melakukan taubat nasuha, untuk menyelamatkan diri dari kekafiran. Trus apa saja keistimewaan seorang mualaf?"
"Yang pertama, Hidayah yang diberikan Allah kepada orang muallaf akan mendapat ampunan dosa yang telah lalu hingga detik di mana ia menjadi seorang muslim."
"Hal tersebut sesuai dengan firman Allah yang artinya: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (ketetapan Allah) terhadap orang-orang dahulu.” (QS Al Anfal : 38). Nah itu jaminan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala loh kak."
"Apakah kakak juga akan diampuni semua dosa-dosa kakak?" Sitara memastikan lagi tentang posisi nya nanti jika bersyahadat.
"Yup.. itu kan janji Allah, dan itu tidak usah kakak ragukan, karena janji Allah itu pasti kak."
Zahra kembali berapi-api meyakinkan Sitara yang hati nya masih dalam keadaan kadang rapuh kadang tegar dalam pendiriannya ingin bersyahadat.
"Yang ke 2, Segala dosa dan keburukan seorang mualaf akan dihapus oleh Allah SWT. Kebaikan ia lakukan akan mendapat pahala yang lebih, jika ia menjalankan kehidupan sesuai dengan syariat agama Islam. Bahkan Allah akan membalas sepuluh kali lipat sampai 700 kali lipat. Adapun jika ia melakukan satu keburukan maka akan dibalas dengan sama, kecuali Allah mengampuninya."
"Yang ke 3, terhindar dari azab. Seorang mualaf menjadi seperti orang yang baru lahir. Maka dari itu ia akan terhindar dari azab yang pedih karena dia telah keluar dari jalan yang sesat."
“Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al Maidah : 36)."
"Nah itulah beberapa yang Zahra tau, mengenai keistimewaan dari seorang muallaf kak, nanti kakak akan tau lebih banyak lagi jika kakak mendalami nya."
Nyeesss
Hati Sitara terasa basah, dia merasa damai dengan penjelasan Zahra barusan. keraguan yang selama beberapa hari ini menggelayuti hatinya, kini sirna sudah. Dia tidak ingin menunda waktu lagi.
Mereka berdua masih berbincang-bincang santai sambil berbalas candaan, hal seperti ini membuat Sitara merasa berat untuk meninggalkan pesantren seperti keinginan papa nya.
Setelah selesai berbincang panjang dengan Zahra, Sitara teringat akan sesuatu, dia berpamitan pada Zahra untuk ke dapur dan nanti berjanji untuk kembali lagi ke kamar. Karena tadi dia belum sempat membereskan barang yang akan dibawanya.
Bruukk
“Aaawww! aduuh!” Sitara merasa tubuhnya menabrak benda keras yang ada di depannya, karena tadi tergesa-gesa dia tidak memperhatikan sekitarnya.
Spontan dia mengusap dahi nya dengan jari-jarinya yang lentik. Kepala Sitara yang hanya tertutup pashmina itu tampak sedikit mengeluarkan rambut akibat benturan tadi.
“Ma-maaf tara, apa kau sakit?” Musa yang badannya merasa ditabrak dari belakang, reflek berbalik dan menggapai tangan orang yang sudah dengan semangat 45 menabraknya. Sitara terhuyung kehilangan keseimbangan.
“Musa kamu kenapa berdiri disitu, gak ada kerjaan apa!” laah ini orang kesurupan apa ya, dia yang nubruk dia yang marah-marah. hadeehh Sitara kalau malu itu jangan malu-maluin dong ah, author tepok jidad liat nya hehehe.
“Lah aku keluar kamarku, baru aja mau nutup pintu, kamu nya nyeruduk kayak banteng kehilangan tanduk!”
Entah keberanian apa yang dimiliki Musa, dia yang selama ini kalem dan menjaga wibawa. Kali ini bubar semua itu yang namanya wibawa ketika berhadapan dengan Sitara, yang mendadak bikin dia senewen.
Sitara sebenarnya malu karena dia sadar akan kecerobohannya, jalan tapi gak liat kanan kiri juga depan. Tapi bukan Sitara namanya kalau gak bikin Musa naik darah dan terpancing emosinya.
“mentang-mentang punya badan kayak beton, trus berdiri aja gitu di situ. Jadi orang itu ya, kalo liat ada orang buru-buru, harusnya situ minggir. Atau sebenarnya kamu sengaja ya biar bisa megang-megang tangan aku karena aku bisa roboh nabrak badan beton mu itu!”
Sitara lupa sedang berhadapan dengan siapa, tidak lagi memanggil nama Musa, tapi mengganti nya dengan panggilan SITU.
Sitara emang rusuh deh kalau sudah salah tingkah, pelajaran sopan santun yang selama ini dipelajari, menguap entah kemana. Sabar ya Musa, jaga tensi jangan sampe tinggi hehehe.
Sitara masih saja membuat telinga Musa panas. Musa sadar kalimat gadis bar-bar ini bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi yang mendengarnya.
“SSsstt pelankan suara cempreng mu itu, kamu sadar gak sih kalo kalimatmu itu bisa bikin orang salah paham?”
“Musa berusaha memelankan suaranya, dia tidak ingin memancing keributan di rumahnya karena ulah gadis ini.
Zahra yang mendengar ribut-ribut merasa penasaran ada apa dengan dua makhluk yang kadang seperti Tom and Jerry, tapi di saat yang lain bisa seperti pasangan Tiger dan Zoya di film Bollywood. Itu tu pasangan jagoan yang awalnya musuhan.
“Haalaahh gak usah ngeles, gak usah sok bener, bilang aja kamu itu emang modus, biar bisa deket-deket aku, pegang-pegang aku!”
“Isshh Taraaa!!! pelankan suaramu, siapa juga yang mau pegang-pegang kamu, gak sudi aku, emang kamu istri ku!” Satu hal yang musa lupa, tangan nya sedari tadi terus saja memegang tangan Sitara.
“Ini apa?” Sitara memberikan Kode dengan mengarahkan hazel indahnya ke arah tangan mereka. “Apa! ngomong yang jelas deh gak usah kode-kode an gitu!” Emosi Musa yang masih di puncak ubun-ubunnya, tidak paham apa yang dimaksudkan Sitara.
“Kakaaaak! ya Allah!” Musa kaget dengan lengkingan suara Zahra yang tampak sedang menutup mulutnya, dengan telapak tangannya.
Sementara tangan yang satunya, menunjuk lurus ke arah tangan Musa dan Sitara yang masih bergandengan dengan eratnya. Kedua mata indah Zahra tampak membulat sempurna.
Musa yang menyadari ada hal yang tidak beres, langsung mengikuti arah telunjuk Zahra.
Sitara yang melihat Zahra pun tidak kalah kagetnya dengan suara teriakan gadis imut itu. Mereka berdua sama-sama mengarahkan pandangan ke tangan mereka.
“Astaghfirullah, SITARAAAA!!!” Musa berteriak sambil menghempaskan tangan Sitara. Panik dan rasa yang entah menguasai hati dan pikirannya.
Sementara Sitara tersenyum dengan rasa kemenangan sambil memamerkan deretan gigi nya yang berbaris rapi dan putih.
“Makanya jangan emosi-emosi, akhirnya lupa diri kan.” Sitara mengejek Musa. tanpa mereka sadari ternyata Kyai Ibrahim dan Satish sudah hadir disana menyaksikan kejadian konyol dari anak-anak mereka.
“Kamu…!” Musa ingin membalas kalimat dari Sitara tapi kembali pandangannya berhenti pada kedua pria paruh baya, yang sedang menonton mereka layak nya sebuah drama dengan konflik yang menegangkan tapi konyol.
“Abi, Pak Satish…” kembali kalimatnya menggantung karena tidak tau harus mengatakan apa.
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa
Semoga pemirsa dimanapun berada selalu sehat ya, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan vote. Author selalu merindukan vote kalian. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan ya pemirsa, karena Author masih siswa baru nih hehehe. Love u all