Hi ☺️
Tuan Anas Mikail adalah laki-laki tua yang belum memiliki istri. Dalam hidupnya perempuan hanyalah benalu baginya. Hingga suatu hari datanglah seorang gadis menghampirinya dan membuat jatuh cinta kepadanya.
Siapakah gadis yang sudah membuat jatuh cinta seorang Tuan Anas Mikail?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bu Anna segera berlari ke luar kamar miliknya, saat mendengarkan ucapan Bu Mijah kalau Syuhada sudah kembali pulang ke rumah. Bu Anna segera menghampiri Syuhada yang masih di gendong oleh Tuan Anas.
"Anas. Turunkan Syuhada!" Perintah Bu Anna dengan geram
"Sebentar Bu aku ingin menggendongnya dulu" Ucap Tuan Anas tersenyum
"Turunkan Anas!" Ucap Bu Anna dengan mencubit lengan Tuan Anas. Dengan begitu Syuhada segera di turunkan oleh Tuan Anas
"Syu kemari lah, Nak" Perintah Bu Anna dengan merentangkan tangannya. Dengan segera Syuhada memeluk Bu Anna
"Bu..." Ucap Syuhada dengan lirih dan meneteskan air mata miliknya
"Apa kau baik-baik saja? Apa mereka melakukan sesuatu kepada mu?" Tanya Bu Anna dengan memeriksa seluruh tubuh Syuhada
"Aku baik-baik saja, Bu. Untung saja ada Lukman yang saat itu menolong ku" Jawab Syuhada kembali memeluk Bu Anna dengan sangat erat
"Lukman" Ucap Bu Anna yang tidak mengerti
"Iya Lukman yang bekerja di restoran, Bu" Jawab Syuhada dengan lirih
"Astaga syukurlah, Syu. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada dirimu aku sendiri yang akan melaporkan Anas kepada Polisi" Ucap Bu Anna dengan melihat wajah Tuan Anas
"Bu..." Panggil Tuan Anas dengan lirih
"Sudahlah, Nas. Kau pergi ke kamar mu sana! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Perintah Bu Anna dengan memalingkan wajahnya
"Aku ingin bersama dengan Syuhada, Bu" Ucap Tuan Anas dengan tersenyum melihat wajah Syuhada
"Alasan saja" Jawab Bu Anna segera mengajak Syuhada masuk ke dalam kamar miliknya. Namun Tuan Anas masih saja mengikuti langkah mereka
"Kenapa kau mengikuti kita?" Tanya Bu Anna dengan berkacak pinggang dan berdiri tepat di depan pintu kamar miliknya. Sedangkan Syuhada sudah masuk ke dalam kamar duluan
"Aku ingin ikut masuk ke dalam" Jawab Tuan Anas dengan santai
"Kau pergilah, Anas! Kalau kau masih mengganggu Syuhada terus, maka Ibu akan menikahkan Syuhada dengan Lukman" Ucap Bu Anna asal
"Astaga Bu. Kenapa harus Lukman? Lukman siapa yang Ibu maksud. Apa aku tidak pantas menjadi suami Syuhada?" Tanya Tuan Anas protes
"Pikirkan saja dirimu itu. Kau sangat jahat Anas" Jawab Bu Anna segera menutup kamar miliknya dan membanting pintu tersebut dengan sangat keras
"Astaga Ibu..." Teriak Tuan Anas segera pergi dan duduk di ruang tamu
"Heh... Kau" Panggil Tuan Anas
"Tuan memanggil ku?" Tanya Agung yang masih berdiri di depan pintu
"Hm" Jawabannya
"Ada apa Tuan?" Tanya Agung dengan menundukkan kepalanya
"Robohkan rumah Syuhada sekarang juga. Aku tidak ingin lagi dia pergi ke rumah itu!" Perintah Tuan Anas
"Tapikan Tuan... Apa salah Nona Syu?" Tanya Agung
"Ah... Sudahlah kau ikuti saja apa perintah ku" Jawab Tuan Anas segera berdiri dari tempat duduknya
"Baik Tuan laksanakan" Ucap Agung segera pergi dari hadapan Tuan Anas beserta para anak buahnya
Tuan Anas kembali masuk ke dalam kamar miliknya. Tuan Anas duduk di samping tempat tidur miliknya dengan memijit kepalanya. Tuan Anas mulai memikirkan kembali acara pernikahannya dengan Syuhada yang akan di langsung besok.
Jujur saja Tuan Anas tidak mencintai Syuhada. Namun setelah bertemu dengan Syuhada berulangkali. Dirinya sadar kalau saat bersama dengan Syuhada. Dirinya sangatlah nyaman di bandingkan dengan teman-teman wanita yang lainnya.
"Perasaan apa ini" Ucap Tuan Anas
"Aku sangat membutuhkan dirinya untuk urusan ranjang dan bukan soal urusan hati" Ucap Tuan Anas segera berdiri dan melihat arah luar melalui pintu jendela kamar miliknya
"Ah... Mana mungkin aku menyukainya dia kan seorang wanita ******" Umpat Tuan Anas segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya
Tuan Anas mulai membayangkan diri Syuhada. Tuan Anas mulai menyadari mungkin selama ini Syuhada tertekan atas perilaku Pak Adam. Tuan Anas mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja dan segera menghubungi seseorang.
"Hallo" Ucap Tuan Anas saat teleponnya sudah tersambungkan
"Hallo Tuan. Ada yang bisa ku lakukan?" Tanya orang tersebut
"Carilah informasi mengenai wanita yang bernama Janna Riskati Syuhada. Secepatnya kau berikan informasi kepada ku" Perintah Tuan Anas
"Baik Tuan" Ucapnya dan mengakhiri pembicaraannya
"Iya dengan begini mungkin aku akan tau siapa Syuhada sebenarnya" Ucap batin Tuan Anas
.
.
Saat malam hari
Lukman yang merasa kasihan kepada Syuhada. Mengantarkan makan malam untuk Syuhada ke rumahnya. Lukman terkejut saat melihat rumah Syuhada kini sudah rata.
"Siapa yang melakukan ini semua?" Tanya Lukman dengan melihat keadaan sekitarnya. Nampak sangatlah sepi dan tidak ada orang yang lewat depan rumah tersebut
"Syu... Syuhada" Teriak Lukman sekencang mungkin
"Syu... Kau ada di mana sekarang" Ucap Lukman dengan mengecek puing-puing bangunan tersebut yang sudah roboh
Dengan perasaan marah Lukman kembali pulang ke rumah miliknya. Lukman meletakkan nasi bungkus yang Ia beli ke atas meja dan dirinya segera duduk di ruang tamu.
"Eh... Lukman masuk ke rumah main nyelonong aja" Ucap Bu Denok yang duduk di ruang tamu sedang menonton TV
"Maaf Bu" Jawab Lukman lirih
"Ini nasi bungkus buat Ibu" Ucap Bu Denok segera mengambil nasi bungkus tersebut dan langsung memakannya
"Sebenarnya nasi itu untuk Syuhada, tapi saat aku ke rumahnya malah dirinya tidak ada di rumah dan aku melihat rumah Syuhada sudah rata" Jawab Lukman menjelaskannya
"Uhuk..." Suara batuk Bu Denok terkejut mendengarkan penjelasan Lukman
"Minumlah Bu" Ucap Lukman dengan menuangkan air minum untuk Bu Denok. Dengan segera Bu Denok meminumnya
"Maksud mu?" Tanya Bu Denok yang tidak mengerti
"Rumah Syuhada sengaja di robohkan oleh seseorang" Jawab Lukman dengan lirih dan sedikit berbisik
"Oh ya bagus donk" Ucap Bu Denok tersenyum dan kembali memakan nasi bungkus tersebut
"Astaga Bu. Apa yang sudah Ibu ucapkan? Apa Ibu tidak merasa kasihan kepada Syuhada?" Tanya Lukman segera berdiri dari tempat duduknya
"Kenapa harus merasa kasihan? Paling juga itu ulah orang yang tidak suka kepadanya" Jawab Bu Denok dengan tersenyum
"Astaga... Bagaimana bisa Ibu berbicara seperti itu kepada Syuhada tanpa rasa kasihan sedikit pun" Ucap Lukman segera masuk ke dalam kamar miliknya
Lukman mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas miliknya. Mulai menghubungi Syuhada, namun ponsel milik Syuhada di luar jangkauan.
"Astaga, Syu. Kenapa di saat begini ponsel milik mu tidak aktif sih" Ucap Lukman dengan kesal
"Kau berada di mana sekarang" Ucap Lukman yang sedari tadi mondar-mandir di dalam kamar miliknya
"Aku harus melapor kepada Polisi" Ucap Lukman segera keluar dari dalam kamar miliknya dan pergi
"Lukman... Kau mau pergi ke mana?" Tanya Bu Denok yang melihat Lukman mengambil kunci motor miliknya yang tergeletak di atas meja ruang tamu
"Aku harus melapor kepada Polisi, Bu. Aku tidak ingin sesuatu buruk terjadi kepada Syuhada" Jawab Lukman menjelaskannya
"Buat apa? Polisi tidak akan mencarinya kalau belum 24 jam" Ucap Bu Denok dengan berkacak pinggang
"Aku harus pergi, Bu" Jawab Lukman berpamitan
"Dasar anak tidak tau diri! Apa yang kau lihat dari Syuhada coba" Ucap Bu Denok marah
Bersambung... ✍️
ihh gudeg jadinua