Rafael Alexander, pria tampan yang masih berumur 21 tahun itu memiliki hidup yang jauh dari kata bahagia.
Hidup nya yang kurang kasih sayang orang tua dan keluarga, membuat Rafael selalu menjadi korban bullying di kampus nya, Rafael yang memang memiliki sifat introvert, polos, dan lugu benar-benar menjadikan dia sebagai bulan-bulanan di kampus nya.
Kehidupan pahit yang terus dia jalani sangat membuat Rafael lelah, hingga suatu hari saat dia kembali dibully takdir merubah kehidupan nya.
......
cover by pinterest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai Temu Samini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 21
"Tuan muda anda mau kemana?." tanya Jack dengan terkejut saat dia baru saja memasuki ruang rawat Rafael.
Bagaimana tidak terkejut saat ini dia melihat Rafael yang sedang mencabut infus dan turun begitu saja dari brankar.
"Pulang."
Jack menatap tak percaya pada tuan muda nya itu.
"Tapi tuan anda belum sembuh dan anda juga belum di bolehkan untuk pulang."
Rafael menatap dingin pada Jack lalu Rafael pun berjalan begitu saja melewati Jack yang hendak menahan nya.
"Tuan muda." panggil Jack dan mencoba menghalangi jalan Rafael yang hendak membuka pintu.
"Minggir atau mati."
Jack menelan saliva nya dengan kasar saat mendengar ucapan Rafael.
"Tapi tuan muda-"
Jack akhirnya menghela nafas pasrah lalu membuka jalan untuk Rafael saat melihat tatapan Rafael yang seperti hendak membunuh nya itu.
Jack mengikuti langkah Rafael dari belakang lalu mengirim pesan pada James jika tuan muda mereka itu hari ini akan pulang.
"Tuan muda kita akan kembali ke rumah utama Alexander atau apartemen?."
Jack membuka pintu mobil untuk Rafael lalu setelah Rafael masuk dia pun segera duduk di kursi kemudi.
"Apartemen."
Jack mengangguk lalu segera menjalankan mobil menjauhi pekarangan parkir rumah sakit itu, Rafael hanya terdiam menatap jalanan yang mereka lewati dengan pandangan kosong nya.
Lagi-lagi rasa penyesalan menghantui pikiran Rafael, dia merasa amat sangat sakit saat kembali mengingat jika nenek nya sudah pergi meninggalkan nya dan keluarga besar nya.
"Tuan muda?."
Rafael menoleh saat Jack memanggil nya.
"Tuan Zergio memberi kabar kepada saya tadi, jika orang yang mencoba membobol informasi tuan muda sudah di ketahui.
Tapi informasi yang di dapat sahabat tuan Zergio tidak lengkap, karena data informasi nya terblokir begitu saja."
Jack menatap tuan muda nya yang hanya diam saja tanpa ekspresi.
"Lalu?."
"Orang yang mencoba meretas informasi tuan muda itu bernama 'Ken'."
Rafael terdiam lalu dia pun kembali mengalihkan pandangan nya ke luar kaca mobil.
....
Liam menatap sang adik yang saat ini tengah duduk sembari menundukkan kepalanya di hadapannya.
Dia menatap datar pada Ken, adik yang mati-matian dia jaga dan lindungi agar tidak terus berhubungan dengan dunia bawah.
"Kenapa?." satu kata lolos dari bibir Liam setelah hampir 15 menit mereka dilanda keheningan.
Ken tak menjawab dia hanya diam.
"Jawab Ken!."
Masih tak ada jawaban yang Liam dengar dari adik nya itu.
"KEN DARIUS XABILO!!."
Ken terlonjak saat mendengar bentakan sang kakak yang begitu keras, demi apapun ini pertama kalinya dia mendengar bentakan itu selama 20 tahun dia hidup bersama sang kakak.
"Maaf.."
Liam menghela nafas panjang lalu mengusap wajah nya kasar.
"Kenapa Ken? kenapa kau mengecewakan kakak mu?." lirihan tak percaya Ken dengar dari kakak nya itu.
Dia menggeleng mendengar nya.
"Maaf kan Ken kak, bukan maksud Ken mau mengecewakan kakak. Ken hanya ingin mengembangkan bakat Ken." jelas Ken dengan pelan.
"Tapi kau harus nya tau Ken! kakak melarang mu untuk berhubungan dengan dunia bawah, itu terlalu berbahaya tapi kenapa kau tidak mendengar kan ucapan ku!!."
Emosi Liam sudah tidak bisa di bendung lagi, dia membentak Ken dengan keras.
"Liam jangan membentak nya!." peringat Deon dengan menatap Liam datar.
Ya saat ini bukan hanya ada Liam dan Ken saja, tapi juga Deon dan Sean.
"Kau diam!."
Deon menghela nafas mendengar nya, jika saja Liam tidak mendengar percakapan dirinya dan Ken tadi mungkin saat ini tidak akan seperti ini jadinya.
"Kau juga Deon, aku sudah sering katakan pada mu jangan pernah mengajak adik ku untuk berkecimpung di dunia bawah! kenapa kau tidak mendengar nya!!." geram Liam dengan kesal.
"Dengarkan dahulu penjelasan ku Liam, kau jangan asal menghakimi adik mu. dia juga punya hak atas hidup nya sendiri!."
Liam menggeleng kan kepala nya dengan cepat merasa heran atas ucapan Deon.
"Dia memang punya hak atas hidup nya sendiri, tapi aku juga punya hak karena dia adik ku Deon! aku melakukan itu untuk kebaikan nya sendiri!."
Deon menatap tak percaya pada Liam, akhirnya perdebatan pun terjadi di antara mereka.
"Kebaikan kau bilang? kebaikan apa nya? dengan merenggut kebebasan adik mu dan mengatur nya sesuka yang kau mau itu di bilang kebaikan? apa kau tak memikirkan perasaan nya hah?!."
Sean dan Ken yang melihat perdebatan itu hanya bisa diam, terlalu bingung untuk menghentikan mereka jika sudah berurusan dengan kehidupan Ken.
"Apa kau tidak pernah tau bagaimana takut nya aku saat dia berhubungan dengan dunia bawah hah? apa kau lupa bagaimana anak kandung kakek mu mati? apa kau lupa dengan itu hah? kau selalu membela nya tanpa memikirkan perasaan takut ku Deon!.
Kau selalu membantu nya diam-diam selama ini untuk berhubungan dengan dunia bawah mu, apa kau tidak memikirkan bagaimana kecewa nya aku saat tau kau melakukan hal itu selama ini?!."
"Aku tau! aku minta maaf karena telah menyembunyikan nya dari mu, tapi kau juga harus ingat Liam adik mu punya hak atas hidupnya sendiri.
Dia hanya ingin mengembangkan bakat nya saja dan itu pun tidak berbahaya untuk kehidupan nya Liam, tidak sama sekali!."
"Tidak ada? haha." Liam tertawa dengan remeh saat mendengar itu.
"Apa kau lupa apa yang kau ucapkan pada ku waktu itu? tidak ada yang baik-baik saja jika sudah berhubungan dengan dunia bawah Deon!!." teriak Liam dengan keras.
Deon terdiam dia tidak bisa menjawab ucapan Liam.
"Kenapa diam? kau tidak bisa menjawab ucapan ku lagi?."
Satu helaan nafas Deon buang dengan berat.
"Aku akan menjamin keselamatan nya, kau bisa membunuh ku jika aku gagal melindungi Ken selama dia berhubungan dengan dunia bawah." putus Deon dengan cepat.
Liam menggeleng tak percaya "aku tidak akan pernah membiarkan dia untuk berhubungan dengan dunia bawah mu, tidak akan pernah sampai aku mati sekalipun."
Ken mengangkat kepala nya menatap sang kakak dengan sedih.
"Kak.." lirih Ken dengan pelan.
"Jangan egois Liam!." bentak Deon lalu bangkit berdiri dan menarik kerah pakaian Liam.
Ken dan Sean seketika ikut bangkit berdiri melihat itu.
"Kau yang egois Deon, kau bilang kau sahabat ku tapi kau tidak pernah mengerti perasaan ku!."
"Ya aku memang egois karena tidak mengerti tentang perasaan mu, tapi kau lebih egois karena merebut hak atas hidup adik mu sendiri!!."
"SUDAH KAK CUKUP!!." bentak Ken dengan emosi lalu melerai mereka berdua.
"Diam Ken, biarkan kakak menyadarkan keras kepala nya kakak mu ini."
Ken menggeleng "sudah kak tidak apa-apa, terimakasih karena kakak selalu membantu ku selama ini.
Sudah cukup aku mengecewakan kakak ku, biarkan aku hidup seperti apa yang dia mau aku tidak keberatan sama sekali."
Sean dan Deon menatap tak percaya pada Ken saat mendengar keputusan nya itu.
"Ken.." gumam Sean dengan pelan.
"Ken jangan bodoh, kau punya hak atas hidup mu sendiri!."
"Diam Deon! dia sudah mengambil keputusan nya sendiri kau jangan terus mencuci pikiran nya untuk tetap menjadi bagian dari dunia bawah mu!."
"Tapi-"
"Tidak apa-apa kak." Ken memotong ucapan Deon sebelum dia menyelesaikan nya.
....
Jangan lupa like, coment ya papayyy🥰.
mau tetap jadi Rafael alexander
atau kembali sebagai Rafael benedict
karena keduanya memiliki tanggung jawab yg besar di dua dunia yg berbeda
sibuk kahh??
Dan sehat selalu.
saia selaku pembaca setia meminta anda untuk up klo bisa 1 hari 2 bab.
Demi setengah paru nafas saia,saia mohon untuk mengabulkan permintaan manusia lemah ini:)