Tejo Suseno, seorang pengusaha sukses telah memiliki kehidupan yang sempurna bersama Rania, istrinya yang cantik dan ketiga buah hatinya.
Tapi kemudian Tejo bertemu dengan Karin, gadis muda yang cantik dan membuatnya jatuh cinta lagi
Di belakang Rania, Tejo bertekad menikahi Karin, meski tidak direstui Ibunya.
Nb: 21+(mengandung konten dewasa di beberapa part)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Izzati Zah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Widia sudah terbangun sejak pagi-pagi sekali dan tak bisa memejamkan matanya lagi. Meskipun sudah bertekad tidak akan menghadiri pernikahan kedua putra semata wayangnya, tapi hatinya tetap saja gusar. Untuk menenangkan diri sejenak Widia berdoa, momohon kebaikan dan keselamatan bagi sang putra dan keluarganya. Sudah menjadi naluri seorang Ibu, meski kecewa tapi tetap tulus mencintai anaknya.
Setelah selesai mandi dan menyapukan riasan tipis di wajahnya, Widia bersiap untuk pergi. Pagi ini rencananya Widia akan mengunjungi menantu dan cucu-cucunya. Satu kantong besar berisi aneka mainan dan makanan akan dibawanya sebagai buah tangan.
"Assalamualaikum..."
Bu Widia mengucap salam begitu sampai dirumah anaknya.
"Walaikumsalam, eh Ibu? Dari mana Bu? Kok nggak ngabarin dulu, Mas Tejonya ada proyek di Bali Bu, baru berangkat tadi pagi.."
Hari itu hari minggu, seharusnya Mas Tejo libur dan ada dirumah.
"Nggak papa, Ibu mau ketemu sama kamu dan anak-anak, bukan ketemu si Tejo"
"Masuk Bu, silahkan...maaf rumahnya masih berantakan begini..."
"Nggak papa, tandanya rumahnya hidup, banyak anak kecil begini ya pasti berantakan terus, nggak usah dibawa stres...mana cucu-cucu Ibu?"
"Rendra...Lala...keluar nak, ada nenek datang nih..."
"Nenek..."
"Asyik...nenek datang...."
Seru Rendra dan Lala sambil berlari keluar ruangan lalu menghambur memeluk nenek mereka.
"Anak pintar, sudah tambah besar kalian..ini nenek ada oleh-oleh buat kalian.."
"Hore...oleh-olehnya banyak...aku mau mainan itu.."
"Heh, yang robot buat aku, kamu yang boneka tuh"
"Nggak mau, Lala bosen boneka, mau robotnya juga kak!"
"Jangan bertengkar, kalau kurang nanti kita pergi beli lagi!"
"Boleh pilih sendiri ya nek?"
"Lala, Rendra, mainan kalian sudah banyak, jangan minta-minta sama nenek...Ibu harusnya tak perlu repot-repot..maaf ya Bu, kami jarang berkunjung.."
"Jangan sungkan, biar repot yang penting Ibu senang...Kalau ada waktu mainlah ke rumah Ibu, tak perlu menunggu Tejo, minta diantar Dayat...sama ajak Mbok Sum biar ada yang membantu, atau kamu perlu baby sitter lagi?"
"Ya Bu, nanti kami akan lebih sering ke rumah Ibu...Ibu mau makan? Tapi baru ada nasi goreng untuk sarapan.."
"Ambilkan sepiring, Ibu lapar tadi belum sempat sarapan, minumnya teh tawar saja.."
"Baik Bu..."
Rania bergegas ke dapur untuk mengambilkan mertuanya sepiring sarapan dan membuat teh tawar. Tak lama berselang terdengar tangisan Alya dari dalam kamar. Oek...oek...
Untunglah Rania telah selesai menyajikan sarapan untuk mertuanya. Rania langsung menghampiri Alya, menyusuinya sebentar lalu membawanya keluar.
"Eh Alya, tambah bulat saja pipimu nak, sini nenek gendong"
Alya terlihat tenang dalam gendongan neneknya.
"Sudah mandi belum kalian?"
"Belum nek, kan hari libur..."
"Buruan pada mandi sana, nenek mau ajak kalian pergi..."
"Asiikk...kita mau pergi kemana nek?"
"Kemana saja asal kalian senang...sana mandi, kamu juga Rania, biar Alya sama nenek dulu ya.."
"Baik Bu..."
Rania bergegas mandi dan membantu Rendra dan Lala mandi, lalu kemudian memandikan Alya dan segera bersiap untuk pergi sesuai perintah mertuanya. Meskipun heran dengan kedatangan dan ajakan mertuanya yang mendadak, tapi Rania memilih mengikuti saja kemauan mertuanya tanpa banyak bertanya. Bu Widia sosok Ibu, mertua, dan nenek yang sangat baik di mata Rania. Sebuah keberuntungan yang belum tentu didapatkan wanita lain.
"Kita mau pergi kemana Bu?"
Tanya Rania setelah siap.
"Ke Mall saja bagaimana? Belanja, makan, main di playground? Nanti ada yang mau Ibu bicarakan dengan kamu. Mbok Sum sama Dayat sudah siap?"
"Tadi sudah saya beritahu, sebentar lagi mereka akan siap Bu.."
"Bagus, kamu susui Alya dulu biar nggak rewel..."
"Baik Bu...."
Mereka akhirnya berangkat. Sepanjang perjalanan Rendra dan Lala berceloteh dengan riang, mengajak neneknya bercerita. Alya juga tertidur pulas di gendongan neneknya.
Sampai di mall, mereka langsung mencari area play ground. Rendra dan Lala sangat senang karena sudah lama tidak bermain disana.
"Rania, kamu beli minum dulu ya...nanti kita ngobrol sambil nungguin anak-anak main.."
Rania membeli dua cup jus alpukat. Saat kembali Alya sudah terbangun. Rania langsung mengambil Alya dari neneknya dan menyusui Alya.
"Rania, apa kamu nggak pengen beraktifitas lagi?"
"Maksud Ibu?"
"Ada baiknya kamu mencari kesibukan lain, mungkin nanti kalau Alya sedikit lebih besar...biar tidak bosan"
Rania sebenarnya juga punya keinginan. Tapi untuk kembali bekerja usianya sudah tidak memungkinkan. Dan untuk memulai usahanya kembali Rania belum punya keberanian dan belum mengumpulkan modal. Mungkin dia bisa minta pada Mas Tejo, tapi Rania belum memikirkannya.
"Bagaimana kalau buka salon lagi? Apa kamu masih suka merias? Ambilah khursus dulu biar kamu kembali terbiasa.."
Sebelum menikah, Rania sempat punya salon. Rania suka merias dan pelanggannya selalu puas. Sayang usahanya harus bangkrut karena masalah internal. Pegawainya ada yang menggelapkan uang. Rania harus membayar sejumlah hutang dan tidak mampu membayar biaya sewa salonnya. Akhirnya Rania memilih merelakannya dan fokus pada keluarganya saja.
"Mumpung kamu masih muda, nikmati hidupmu dan cari kebahagianmu sendiri, jangan selalu menunggu suami. Menekuni apa yang jadi passionmu bisa membuat hidup jadi semangat, ini untuk kebaikan anak-anak juga..."
"Nanti biar saya pikirkan dulu Bu, biar saya bicarakan sama Mas Tejo juga.."
"Jangan apa-apa bergantung sama suamimu. Ibu masih ada ruko, pakailah buat membuka salon, tinggal dibersihkan sama renov sedikit, nanti habis dari sini kita mampir sebentar.."
" Ya bu.."
Ibu mertuanya memang suka merencanakan sesuatu tanpa berdiskusi dengan siapapun. Dan keinginannya seringkali tidak bisa dibantah. Rania hanya bisa menurut untuk menghormati permintaannya.
Setelah anak-anak puas bermain, mereka lalu makan di restoran cepat saji favorite Lala. Rania menolak dengan halus ajakan mertuanya untuk berbelanja, sebab mertuannya itu selalu kalap jika sudah melihat baju dan aksesoris untuk anak-anak. Rania tidak ingin anaknya terlalu dimanjakan.
Setelah selesai makan, mereka langsung meluncur menuju ruko yang dimaksud. Ruko itu terletak di tepi jalan protokol. Letaknya amat strategis dan harga jualnya pasti mahal. Kondisi bangunan masih bagus, hanya catnya terkelupas dan kamar mandinya saja yang rusak.
"Nanti biar Ibu bilang ke Tejo untuk renovasi...juga biar Ibu suruh cari baby sitter untuk membantu kamu..."
Pikiran Rania masih menciba mencerna keinginan Ibu mertuanya. Dia sendiri belum punya gambaran jelas tentang apa yang diinginkannya. Tapi tak bisa dipungkiri, ini adalah rezeki yang tak terduga.
Mempunyai salon yang bagus adalah impiannya. Hanya saja selama ini Rania belum terpikir bagaimana cara mewujudkannya.