Hal yang tidak terduga oleh Aileen adalah kedua orang tua yang sangat ia sayangi tega menukar dirinya dengan hutang kedua orang tuanya, menjadikannya pengantin seorang Mafia kejam yang terkenal di Kotanya.
Brian Erlangga tidak membiarkan Aileen merasakan bahagia hidup bersamanya, ia di tuntut untuk bekerja dan menghasilkan uang untuknya sebagai pengganti uang yang telah di berikan kepada Papanya.
Aileen bukanlah seorang wanita yang cengeng, ia mampu mengatasi kesulitannya seorang diri. Suatu hari ia sudah merasakan jenuh hidup bersama Brian lantas menginginkan perceraian, tapi yang ia dapat adalah sebuah siksaan.
Suatu hari pihak kepolisian mengirim seorang detektif untuk menangkap Brian, ia berpura-pura menjadi bodyguard Aileen. Adelio membebaskan Aileen dari tangan Brian dan membawanya pergi jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
Naina pergi saat Brian keluar, dia ingin merencanakan sebuah kejutan makan malam yang indah untuk istrinya. Kini Tifani telah terlelap tidur di kamarnya, Brian berhasil membujuk istrinya agar istirahat supaya kesehatannya semakin membaik.
Brian memerintahkan John untuk memboking salah satu restoran mewah yang berada di Kotanya, tak lupa Brian menyuruh John agar membeli sebuah kalung emas dengan liontin yang bertahtakan berlian. Semua itu di lakukan karena bentuk cintanya kepada sang istri, tentu tanpa sepengetahuan dia juga.
Tepat pukul delapan malam Tifani bangun dari tidurnya, walaupun tidur hanya sekitar satu jam tapi itu cukup membuat badannya terasa segar. Tifani menoleh pada pintu kamar mandi yang baru saja di buka, di sana ia melihat Naina sedang menutup pintunya kembali lalu berjalan ke arahnya.
"Nona, saya baru saja menyiapkan air hangat untuk Nona. Silahkan mandi lalu pakai gaun ini" Naina menyerahkan sebuah kotak berwarna putih kepada Tifani.
"Wah, terima kasih" matanya berbinar karena melihat gaun yang baru saja di dapatnya.
Gaun itu berwarna merah marun dengan lengan panjang dan terdapat lubang pada punggungnya.
Naina tersenyum manis di depan Tifani.
"Pergilah Nona, saya akan membantu Nona merias anda nanti ..." ujar Naina.
Tifani merasa menjadi orang yang paling bahagia saat ini, karena dia sudah berhasil mengatakan hal yang sesungguhnya kepada Brian. Malam ini juga dia bermaksut akan menanyakan tentang istri barunya ke pada suaminya itu, bukannya cemburu karena memang Tifani tidak suka cemburu kepada siapapun. Menurutnya Brian hanya mencintainya seorang.
Setelah melakukan ritual yang panjang, Tifani keluar dengan gaun merah yang di pakainya. Naina menyambutnya dengan penuh keyakinan, berulang kali Naina mengatakan kalau Nona mudanya begitu cantik.
Naina mulai merias wajah Tifani dengan riasan yang kalem dan memakaikan lipstik berwarna merah juga, senada dengan gaun yang di pakainya. Tak lupa dia mengkurlie rambut Tifani yang panjang suapaya terlihat elegan, di pasangkannya high hills di kakinya. Serta beberapa perhiasan yang menunjang penampilannya, Tifani nampak puas dengan kerja Naina.
Dia memberikannya sebuah cincin kesayangannya.
"Naina, pakai ini. Ini adalah cincin kesayanganku, dulu aku membelinya dengan uangku sendiri selama menjadi sekretaris Brian."
"Terima kasih Nona, Nona baik sekali. Ada rahasia yang akan ku katakan padamu, ku harap besok pagi kamu datang ke taman belakang rumah ini ya, ku tunggu?."
Naina mengerutkan dahinya, lalu mengangguk agar semuanya tidak di ketahui oleh Tuannya.
'Apa ini sogokan untukku ya?' gumamnya sambil melihat cincin yang ada pada genggamannya.
Brian masuk ke dalam kamarnya di saat Naina juga ingin keluar dari kamar itu.
"Maaf Tuan, saya mau keluar. Tugas saya telah selesai" ujarnya sambil menunduk.
"Baiklah, terima kasih Naina. Kamu sudah menyulap cintaku menjadi seorang putri yang cantik jelita" ujarnya dengan mencium kening Tifani.
"Kau sudah siap?."
"Ehem ..." lalu Tifani mengulurkan tangannya dan di sambut oleh suaminya Brian.
Mereka berdua nampak menuruni anak tangga bersama-sama, senyuman tercipta di bibir manis Tifani. Brian juga merasa bahagia karena bisa bersama lagi dengan istri yang ia sayangi.
Mereka pergi dengan menggunakan mobil sport berwarna merah, mereka berdua di supiri oleh pengawal mereka. Sepanjang perjalanan kedua sejoli ini saling menatap dan tersenyum bersama, hampir tak ada obrolan di antara mereka hanya ada tatapan mesra serta tangan yang saling terpaut dengan erat.
Perjalanan terasa sangat cepat saat Brian masih ingin melakukan hal romantisnya kepada istrinya, tapi mobil yang mereka tumpangi telah sampai di sebuah restoran mewah.
Brian turun terlebih dahulu sesaat setelah pengawalnya membukakan pintu untuknya, baru di susul oleh Tifani di belakangnya. Mereka kembali menautkan tangannya dan berjalan beriringan menuju restoran.
"Anda juga berada di sini, John?" tanyaku.
"Saya hanya ..." belum selesai John mengatakan keberadaannya di restoran ini, tapi Brian sudah bermain mata kepadanya.
"John, apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Brian berpura-pura.
Sedangkan John hanya mengangguk kaku, tak ada rencana untuk hal ini sebelumnya.
"Pergilah dahulu Sayang, nanti aku menyusul" ujar Brian dengan senyum yang di buat-buat.
Brian memastikan istrinya sudah pergi jauh darinya, karena ia tak mau hadiah yang akan di berikannya sebagai kejutan akan ketahuan terlebih dahulu oleh istrinya.
"Kenapa kau memberikannya langsung kepadaku, tidak bisakah kau berbuat yang lebih keren lagi dari ini John?!" Brian merebut kotak kalung itu dan meninggalkan John yang sedang terbengong seorang diri di depan restoran.
'Kenapa aku jadi sebodoh ini tuan?' gumamnya sambil menggelengkan kepalanya sendiri berkali-kali, lalu pergi dari tempat itu.
Brian segera memasuki restoran itu, dia menuju ke tempat di mana istrinya berada saat ini. Karena dia tak mau istrinya menunggunya terlalu lama.
"Kau sudah datang?" tanya Tifani tanpa curiga sedikitpun kepada suaminya itu.
"Ya, John hanya melaporkan pekerjaannya saja kepadaku."
"Tumben?, kenapa tidak ke rumah Sayang?."
"Kita sedang berada di sini, jadi aku memintanya kemari" ujarnya seraya menyuruh pelayan untuk segera menyiapkan makan malam mereka.
Setelah mendengar hal itu Tifani tersenyum bahagia, bahwa tidak perlu ada kekhawatiran yang dapat membuatnya sedih. Tifani mengedarkan pandangannya ke penjuru restoran, karena saat ini mereka sedang berada di sebuah rooftop dengan pemandangan kota yang di penuhi oleh gemerlapnya lampu malam yang menerangi kota.
Lampu lilin di tata rapi menjadikan suasana menjadi temaram, terdapat bunga pada setiap meja. Sebuah lilin aromaterapi juga berada di sana.
Berkali-kali Tifani mencium buket bunga mawar merah yang Brian siapkan sebelumnya, wanginya mampu menenangkan hatinya yang kosong saat ini.
"Kau suka dengan pemandangannya?" tanya Brian sambil mencium tangan istrinya.
"Aku suka" jawabnya.
Kemudian Brian berdiri dari tempatnya duduk tadi, lalu menekuk satu kakinya dan berlutut di bawah istrinya yang sedang duduk. Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang barusan di berikan John kepadanya.
"Ini apa?" tanya Tifani terkejut.
Brian membuka kotak itu dan menunjukkannya kepada istri tercintanya.
"Kalung?, ini untukku Sayang?" Tifani mengajak Brian untuk berdiri dan memeluknya dengan erat.
"Iya, boleh aku memakaikannya di lehermu?."
Brian membalikkan tubuh istrinya dan segera memasangkan kalung itu pada lehernya. Tifani nampak tak sabar ingin melihat kalung dengan liontin berlian itu berada di lehernya.
Setelah selesai, Brian memotretnya dan menunjukkan hasilnya kepada istrinya.
"Bagaimana, bagus 'kan? kau cantik sekali bila memakainya."
Tifani mencium suaminya sebagai bentuk terima kasih lalu memegang liontin kalung itu dan terus memandanginya. Tak lama, pelayan datang dengan membawa banyak makanan dan mereka makan malam bersama dengan romantis.
Hati Terbelah Di Ujung Senja mampir nih 😍
maaf baru sempat mampir lagi
semangat