Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, akan tercium juga. Begitulah kata pepatah.
Meira Andana, gadis cantik yang baru menginjak kelas 3 SMA. Harus menikahi CEO tampan yang sifatnya random sekali.
Karena unsur persahabatan Papanya dengan Papi CEO, ia pun setuju untuk menikah. Ekonomi keluarga menurun karena sang Papa meninggal dalam kecelakaan tabrak lari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siska febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Meira meraba kasurnya saat tak merasakan ada Reyhan. Ia membuka mata dan memang pria itu tidak ada.
Melihat jam di nakas ternyata ia sudah terlambat bangun. Meira beranjak dari kasur dan membereskan kasur terlebih dahulu.
Ia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Reyhan berkutat di dapur. Ia akan membuat sarapan untuk Meira. Tak enak membangunkan istrinya, Reyhan memilih bangun duluan dan membuat sarapan.
Kali ini ia hanya membuat makanan yang simple saja. Nasi goreng udang kesukaan Meira.
Meracik nasi goreng dan mulai memasaknya.
"Hm, wangi banget," puji Meira yang entah sejak kapan sudah ada di samping Reyhan.
"Sesekali aku bikin sarapan," kata Reyhan.
"Emang bisa?" ledek Meira.
Reyhan menatap sinis istrinya. Mengangkat tubuh Meira membuat gadis itu terkejut dan meletakkan di atas meja samping kompor.
"Duduk diam dan lihat suami kamu ini. Biarpun gini, aku dulu itu koki."
"Oh koki. Jadi kalo koki masakannya gak diragukan lagi nih."
Reyhan hanya tertawa. Mulai mengaduk-aduk nasinya membuat spesial untuk Meira ditambah bumbu cinta.
"Garamnya jangan banyak," tegur Meira saat Reyhan ingin menuangkan garam dalam jumlah banyak.
"Gimana sih koki satu ini. Katanya bisa," ejek Meira.
"Aku bisa ya. Cuman lupa aja bagian garamnya."
"Bisa gitu ya."
Kembali mengaduk-aduk nasi gorengnya. Reyhan pun menghidangkan ke dalam piring.
Mengambil sesendok nasi goreng yang telah ia buat dan meniupnya sebentar. Menyuapkan pada Meira dan diterima gadis itu lahap.
Meira mulai mengunyah dengan raut wajah yang sangat serius.
"Gimana?" Reyhan menunggu jawaban Meira.
"Enak!" Meira mengacungkan kedua jempolnya.
Reyhan langsung mencium bibir istrinya atas pujian nasi goreng buatannya itu.
"Ada yang satu kurang," kata Meira.
"Kurang? Apa yang kurang?"
"Udangnya kamu nggak masukin?" tanya Meira dan menunjuk udang yang masih segar itu.
Reyhan menepuk jidatnya. Ia lupa memasukkan udang kesukaan Meira. Gadis itu tertawa dan berkata tidak masalah.
Mereka pun sarapan sepiring berdua biar lebih romantis. Reyhan yang bertugas menyuapkan Meira makan kali ini.
"Ada alasan lain juga aku mau ke panti asuhan," ujar Meira.
"Alasan apa?"
"Kamu pingin adopsi anak disana."
Reyhan langsung menatap Meira yang tertunduk. Meira bisa saja memiliki anak, namun ia dari dulu memang ingin mengambil anak adopsi. Dari ia belum menikah dengan Reyhan.
Cita-citanya dulu itu. Sampai sekarang juga ia masih menginginkan dan memberanikan diri untuk mengatakan ini semua pada Reyhan.
"Aku bisa punya anak. Cuman aku dari dulu memang pingin ngambil anak adopsi. Jika kamu nolak juga nggak papa."
"Kamu tau 'kan resiko nya? Kamu masih sekolah dan aku kerja. Yang ada nggak ke urus nanti."
"Iya aku tau. Mama juga udah tau masalah ini. Ini masalah lama, sebelum kita nikah."
Reyhan tampak menghela napasnya. "Its okay. Aku nggak masalah kamu ambil anak adopsi. Aku tanya sama kamu, kamu sanggup?"
Meira langsung mengangguk cepat. Ia sangat sanggup, apalagi harus dibuat repot nanti malahan ia akan sangat menyukai nya.
"Bagaiman sekolah kamu?"
"Aku bisa atasi sendiri."
"Oke kalo itu mau kamu. Aku boleh 'kan, nanti aku bilang ke Mami sama Papi juga tentang masalah ini."
"Kalo kamu mau minta jatah tentang itu. Bilang aja jangan sungkan, aku udah siap."
"Mei---"
"Ini atas kemauan aku sendiri."
Reyhan takut karena permintaan keluarganya yang selalu bertanya pada Reyhan kapan memiliki anak.