Rachel~
Tidak ada yang percaya padaku saat itu, aku begitu terpuruk bahkan rasanya hampir kering air mata ini karena terlalu banyak menangis...
Menceritakan tentang seorang gadis yang begitu menyedihkan, Ia hidup dalam kesendirian bahkan bisa dibilang dirinya tidak punya teman.
Pernah sekali ia merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang sahabat, tapi itu semua tidak berlangsung lama.
Orang tua yang tidak pernah menyayanginya tanpa alasan yang jelas, hingga suatu saat kebenarannya terungkap saat dirinya dijebak juga membuatnya hampir depresi.
Ia bukanlah seorang anak yang bisa melakukan semuanya, ia hanyalah seorang gadis yang lemah. Mempunyai IQ yang rata-rata atau bahkan bisa dibilang rendah membuatnya semakin merasa tidak berguna.
Hidup dari kecil dikalangan orang berada membuatnya tidak bisa membuat sesuatu sendiri, tapi bagaimana jadinya jika tiba-tiba semua kemewahan itu hilang dari pada hidupnya?
Simak selengkapnya disini yah, tentang gadis yang bernama Rachelle Audrey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon melciballu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 21- strong girl & weak man
Ternyata di taman itu ia menemukan seseorang yang sedikit tidak asing baginya.
Dengan perlahan ia mendekati bangku di taman itu.
Di perhatikannya lagi orang itu, nampaknya ia sedang sedih tapi apa yang menyebabkannya bersedih seperti ini?
Dengan pelan Rachel menyentuh pundaknya, sebenarnya ia sedikit ragu juga takut salah orang tapi apa salahnya kalau mencoba dulu.
Pria itu mengangkat kepalanya dengan beberapa tetes air disudut matanya. "kak Rendy?" ucap Rachel memastikan lagi karena ia tidak begitu hafal dengan wajahnya.
"Hay" ucapnya tersenyum sambil menghapus sudut matanya yang berair itu.
"kak Rendy kan?" Rachel sedikit bingung dimana perginya pria yang banyak bicara itu?
Rendy mengangguk. "iya, ini aku Rendy, gimana kabarnya dek?" ucap Rendy tidak berisik seperti biasanya.
"baik kak, gimana juga kabarnya?" ucap Rachel balik dan mendudukkan bokongnya dibangku yang sama dengan Rendy.
"ya ginilah, kurang baik" jawab Rendy seadanya. Rachel merasakan perubahan sikap Rendy. Walau baru sekali bertemu, tapi sangat jelas perubahan itu.
Rendy orang yang periang tiba-tiba menjadi sesosok yang pendiam seperti ini.
Tangan Rachel terulur dengan sendirinya, ia mengusap lembut punggung Rendy membuat pria itu sedikit terkejut.
"yang sabar ya kak, Tuhan tau apa permasalahan kita.." ucap Rachel menenangkan.
"thanks yah, kakak bersyukur banget bisa ketemu sama Rachel dan semoga Tuhan masih berkenan untuk kita masih bisa bertemu yah" Ucap Rendy membuat Rachel sedikit bingung.
"pasti dong kak, kak Rendy kan temannya kak Alan jadi pasti bagaimanapun kita akan sering bertemu"
Rendy menghela nafasnya gusar. "ia dek, kakak juga maunya gitu tapi kayaknya nggak bisa deh" Rachel langsung memutar setengah tubuhnya menghadap Rendy.
"maksudnya apa kak?"
"mungkin besok atau lusa kakak nggak dijakarta lagi, kakak akan pindah ke kota xxx"
"kenapa kak?" tanya Rachel yang nampaknya sedikit tidak rela.
Ia baru saja mendapatkan orang yang tidak mengucilkannya dan menganggapnya selayaknya tanpa rasa benci tapi kenapa harus di pisahkan lagi?
"nggak apa-apa kok, lagi mau cari suasana baru aja disana"
Rachel kembali mengangguk tidak rela. "kakak boleh minta nomor ponselnya nggak?"
"boleh kak" Rendy mengambil ponselnya dan memberinya pada Rachel lalu Rachel mengetikkan nomornya disana.
"jangan lupa sama kakak yah, nanti kakak mis call ke nomor kamu" ucap Rendy dan Rachel mengangguk. Entah kenapa dirinya merasa begitu sedih.
"pasti kak, kakak juga jangan lupa sama Rachel kalau nanti dapet teman baru disana" ucap Rachel.
"nggak kok, kakak nggak mungkin ngelupain bidadari seperti Rachel" ucap Rendy sambil tersenyum membuat pipi Rachel sedikit memerah.
"pipinya kok merah gitu dek?" ucap Rendy sedikit menggoda membuat pipi Rachel kian bersemu.
"mu-mungkin lagi kepanasan aja kak, mataharinya panas banget" Rachel memberikan alasan yang tepat tapi tetap saja Rendy tau apa penyebab pipi chubby itu memerah.
Rendy tertawa lalu melihat jam tangannya. "aduh dek, kayaknya kakak harus pergi dulu deh" ucap Rendy membuat Rachel sedikit murung seketika.
"sekarang yah kak?" tanya Rachel dan Rendy menyadari ada raut kesedihan diwajah gadis itu.
"mau kakak antar pulang?" ucap Rendy membuat Rachel tersenyum senang sejenak kemudian ia kembali murung.
"nggak usah kak, kak Rendy pasti punya urusan yang lain kan?" ucap Rachel membuat Rendy mengacak pelan rambut gadis itu.
"nggak apa-apa kok, lagian kakak juga mau ke rumah kamu"
"beneran?" ucap Rachel yang kembali antusias.
"iya, ayo" Rendy menarik pelan tangan Rachel menuju sepeda motornya yang sedang terparkir di seberang jalan.
Karena helmnya hanya satu saja jadi Rendy lah yang memakainya, untung saja mereka tidak menemui polisi sepanjang jalan.
setibanya di rumah keluarga Anderson, langsung saja dua orang security membukakan gerbang untuk keduanya.
"kakak udah pernah kesini nggak?" tanya Rachel.
"pernah, beberapa hari yang lalu tapi kakak nggak liat kamu tuh"
Rachel mengangguk-anggukkan kepalanya lalu berujar. "mungkin waktu itu aku lagi dikamar deh" ucap Rachel dan kembali diangguki oleh Rendy.
"kak Rendy tau kan seluk beluk rumah ini?" tanya Rachel lagi.
"tau kok, sebelum beberapa hari yang lalu, kakak juga pernah main kesini beberapa Minggu yang lalu sama yang lain"
"kalau gitu kak Rendy bisa masuk sendiri kedalam kan? aku mau ke belakang dulu" ucap Rachel.
Rendy mengerti jika Rachel ingin bersembunyi dari ibunya pun mengiyakannya. Ia kembali tersadar kalau ternyata Rachel memiliki beban yang lebih darinya dan betapa pengecutnya dirinya, bukannya menghadapi tapi ia malah memilih pergi.
Rendy akui Rachel memang seorang strong girl berbeda dengan dirinya yang weak man yang baru diolok begitu saja sudah ingin menyerah, berbeda dengan Rachel gadis kecil yang tangguh mampu menahan begitu banyak beban hidupnya.
"kak kenapa bengong?"
"eh, iya..nggak apa-apa kok" ucap Rendy gelagapan.
"aku kebelakang dulu yah kak, daadaa" Rachel melambaikan tangannya tanda perpisahan membuat hati Rendy juga dilandai rasa yang tidak rela juga.
"Byee, kakak pasti akan merindukanmu dekk" ucap Rendy sedikit berteriak membuat Rachel yang tadi berjalan mengehentikan langkahnya.
"pasti aku juga kak" ucap Rachel dengan mata yang berkaca-kaca. Ia kembali berlari kehadapan Rendy dan memeluknya.
"pokoknya jangan lupa sama Rachel yah" ucap Rachel dalam pelukan Rendy.
"nggak akan, dan nggak akan pernah..." Rendy mengecup sekilas pucuk kepala Rachel.
"ya udah masuk sana, pasti kita masih bisa bertemu lagi kok" Rachel mengangguk dan kembali melangkah meninggalkan Rendy.
Tak mau tenggelam dalam kesedihan, Rendy melanjutkan melangkah kedalam rumah megah itu.
Di ruang tamu, ia menemukan Dena yang seperti biasa sedang membaca majalah. "permisi tante" ucap Rendy sopan.
Mendengar suara seseorang, Dena mengangkat kepalanya dan sesaat kemudian ia tersenyum.
"Hayy Ren, apa kabar?" ucap Dena ramah.
"baik tan" Rendy mencium punggung tangan Dena.
"Duduk dulu Ren,"
"kayaknya nggak usah deh Tan, Rendy sebentar saja kok mau ketemu sama Alan"
"oh gitu, Alan lagi dilamarnya tuh, samperin dia kayaknya lagi main game deh" ucap Dena.
Rendy mengangguk sopan. "ya udah Rendy ke atas dulu Tan, permisi" Rendy pamit ke mamanya Alan dan menaiki tangga menuju kamarnya Alan.
Didepan pintu kamar ia melihat Rachel juga yang muncul dari balik sebuah pintu yang kayaknya Rendy pikir itu adalah pintu kamarnya. Ternyata cepat sekali gadis itu mengganti pakaiannya, ia yang tiba terlebih dahulu dibanding dirinya, bahkan sudah berganti pakaian.
"wow cepat banget dek nyampenya" ucap Rendy yang sedikit tidak percaya.
"heheheh iya kak, tadi aku terbang ke sini" ucap Rachel sedikit bercanda.
"ada-ada aja dek, "
**aku udah up dua kali loh hari ini, awas aja yah kalo nggak like..
demi up episode ini juga aku nggak sempat ngerjain tugas yang harusnya hari ini di kirimkan..
jadi sebagai penyemangat agar aku update nya tepat waktu, mohon berikan dukungan terbaik yah, jangan lupa beri like, komen positif, favorit, hadiah dan jangan lupa yah guys follow juga akunku..
Btw, kalau baca namanya Rachel itu Rakel yah, kalau biasa aku singkat Chel itu dibaca Kel yah...
dan satu lagi kebiasaan buruk para pembaca, tolong jangan dibully dong novelnya...Harap di maklumi dong, nulis novel itu nggak gampang dan makasih buat kakak-kakak yang masih setia mendukung aku yah...
I love all of you loyal readers of my novels😘**
...TO BE CONTINUED...