Kelanjutan cerita yang season 1 ya kak
Bagaimana rumah tangga Adi dan Indri selepas kehadiran dua putra kembar nya yang melengkapi Cinta dan Dhea?
Adi berjuang keras untuk mempertahankan rumah tangga nya dengan Indri disaat godaan datang silih berganti.
Bahkan seorang pacar masa lalu Adi yang berstatus janda muda juga hadir kembali ke kehidupan Adi, saat dia sudah menemukan kebahagiaan bersama Indri.
Temukan jawabannya di Mandor Proyek dan Janda Muda 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Apa Mereka
Adi segera menoleh ke arah sumber suara yang memanggil dirinya. Adi mencoba untuk mengingat si perempuan cantik itu namun dia tidak bisa menemukan wanita cantik itu di ingatan nya.
"Mohon maaf,
Sampean siapa ya??", tanya Adi sambil terus mencoba mengingat.
"Masak mas Adi lupa sama aku?", ujar si perempuan cantik itu balik bertanya.
"Maaf, aku benar-benar tidak ingat. Sampean siapa ya?", kembali Adi bertanya dengan sopan.
"Ya ampun mas Adi ini pelupa banget. Ini Lusi mas, adiknya Faizal teman SMP mas. Masih belum ingat juga?", ujar si wanita cantik itu dengan tersenyum simpul.
"Faizal? Anaknya Pak Eko guru matematika itu?", tanya Adi pada perempuan cantik yang ternyata bernama Lusi itu.
"Benar mas,
Lah aku ini adiknya Faizal, yang pernah mas jitak karena merobek tugas kelompok itu loh", jawab Lusi yang segera tersenyum manis.
"Huahahahahahaha..
Jadi kau bocah dekil yang ingusan itu ya? Wah beda banget sama waktu kecil mu", ujar Adi sambil tersenyum simpul.
"Ihhh Mas Adi kalau ngomong tetep aja songong seperti dulu.
Kalau ada waktu mainlah ke rumah mas, sekalian jenguk ayah", ujar Lusi yang segera duduk di kursi plastik di dekat penjual martabak telor itu.
"Iya kapan kapan kalau sempat. Soalnya aku lagi banyak kerjaan nih.
Ya udah aku pulang dulu, kasihan anak istri sudah nunggu di rumah", ujar Adi sambil menstart motor Vixion nya.
Lusi melambaikan tangannya dan Adi ngegas motor Vixion kesayangannya itu menuju ke arah rumah nya di desa Mande.
Tak sampai dua puluh menit, motor Vixion itu sudah sampai di rumah Adi.
Indri yang mendengar deru mesin motor Vixion langsung bergegas menuju ke arah pintu rumah.
"Alhamdulillah mas sudah pulang.
Sukses mas?", tanya Indri sambil memamerkan senyum manisnya usai membuka pintu rumah. Adi segera mendorong motor Vixion nya masuk ke dalam rumah dan memarkir nya. Tangan perempuan cantik itu segera terulur untuk menyalami Adi.
"Dengan doa mu Yank, aku dapat kerjaan tambahan di Wanaraja", jawab Adi yang segera menyambut uluran tangan dari istri nya itu. Indri segera mencium punggung tangan suaminya.
"Yank,
Tuh pesenan martabak anak anak. Gih buruan kasih ke mereka", ujar Adi sambil menunjuk ke arah plastik yang bergantung pada setang motor nya.
Indri mengangguk dan segera mengambil plastik.
Sementara Adi membuka helm dan menaruhnya di atas lemari, Indri berjalan ke arah anak anak yang masih asyik menonton sinetron di televisi.
"Anak anak,
Ini ada martabak dari ayah kalian. Hayo siapa yang mau?", tanya Indri seraya tersenyum manis.
Cinta dan Dhea langsung mendekati ibu mereka. Dua gadis kecil itu sama sama menyukai martabak. Indri segera mengambilkan untuk mereka. Tak lupa dia menyisihkan sebagian untuk Bu Siti.
Malam semakin larut.
Indri yang baru saja menyusui bayi kembar nya nampak membenarkan selimut mereka. Pandangan perempuan cantik itu segera terarah pada Adi yang tertidur di kasur lantai nya.
Perempuan cantik itu segera turun untuk membenahi selimut Adi yang berantakan karena gerakan tidur nya. Tak sengaja dia menyenggol Adi yang membuat Mandor proyek itu perlahan membuka mata nya.
"Ada apa yank?", tanya Adi dengan suara khas bangun tidur.
Indri langsung terkejut mendengar pertanyaan Adi.
"Maaf mas,
Aku tadi cuma mau benerin selimut nya mas yang melorot. Maaf ya", jawab Indri sambil tersenyum tipis.
"Oh tidak bisa..
Tanggung jawab yank", ujar Adi sambil tersenyum mesum.
"Lah kog gitu mas?", Indri memicingkan matanya kearah suaminya itu.
"Ya harus. Ingat yank, menolak suami itu dosa", ucap Adi dengan penuh kemenangan. Mendengar itu, Indri hanya bisa pasrah saja saat pria itu menarik tubuh Indri agar mendekat ke arahnya.
Dengan lembut Adi menarik tengkuk Indri agar wajah cantik perempuan itu mendekat ke wajahnya. Dan..
Cuppp!
Dengan lembut Adi mengecup bibir mungilnya Indri. Indri perlahan memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Adi di tubuh nya.
Perlahan Adi merebahkan tubuh Indri di tempat tidur nya. Satu persatu pakaian mereka berdua segera tertanggal di lantai keramik kamar tidur mereka.
Malam itu Adi memberikan nafkah batin untuk istri tercinta nya. Saat memasuki puncak ronde kedua, tiba-tiba Rendra terbangun dari tidurnya dan menangis.
Oeeekkkk...
Tangisan bayi itu segera membuat Adi dan Indri menoleh ke arah ranjang tidur. Setelah saling berpandangan sejenak, Adi dengan cepat menyelesaikan tugas nya sebagai suami Indri. Usai semua terselesaikan, Indri segera bergegas ke arah tempat tidur Rendra dan Yaka.
Sambil senyum senyum sendiri, dia segera menyusui Rendra agar bocah kecil itu kembali tertidur.
Sementara Adi membuka bungkus rokok Diplomat nya dan menyulutnya sebatang. Dia tersenyum menatap ke arah Indri yang sedang menyusui Rendra.
"Rendra benar benar gak mau kalah dengan bapaknya ya yank", gurau Adi sambil tersenyum simpul.
"Lha anakmu mas,
Ya persis seperti bapak nya", jawab Indri dengan senyum manisnya.
Malam itu mereka mengulangi nya sekali lagi hingga tertidur pulas karena kelelahan.
Saat adzan subuh berkumandang dari mushola Kyai Harun, Adi terbangun dari tidurnya. Bibir lelaki itu menyunggingkan senyum manisnya saat melihat sang istri dalam dekapan hangat nya.
Adi segera menyelimuti tubuh sang istri lalu beranjak ke kamar mandi untuk mandi besar. Air dingin dari bak mandi menyegarkan tubuh Adi yang kelelahan karena bertempat dengan Indri semalam.
Adi segera menuju ke arah kamar tidur nya. Sang istri rupanya sudah terbangun dari tidurnya dan tersenyum manis melihat Adi sudah mandi besar.
Segera Adi menunaikan ibadah sholat subuh, sementara itu Indri bergegas menuju ke arah kamar mandi.
Usai sholat subuh, Adi kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Pagi itu suasana yang begitu damai di rumah Adi, di kagetkan dengan kedatangan pak Latif, mantan mertua Adi yang juga kakeknya Cinta.
Tok tok tok..
"Assalamualaikum", salam Pak Latif sambil mengetuk pintu rumah Adi.
"Waalaikumsalaam", jawab Adi yang baru saja selesai bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Indri segera membuka pintu rumah. Melihat seorang yang asing, Indri mengerutkan keningnya.
"Maaf pak,
Nyari siapa nggeh?", tanya Indri dengan sopan.
"Saya Latif, Mbah nya Cinta. Pengen bertemu dengan Cinta.
Sampean siapa ya?", tanya Pak Latif yang memang belum pernah bertemu dengan Indri.
"Oh mbah nya Cinta,
Monggo silahkan masuk. Saya Indri istrinya Mas Adi", ujar Indri dengan ramah.
"Siapa yank?", tanya Adi sambil mendekati istri nya itu.
Saat melihat Pak Latif, wajah Adi yang sedari tadi sumringah langsung mengernyit heran.
"Oh Pak Latif,
Monggo silahkan masuk", Adi mempersilakan belas mertua nya itu.
Di belakang Pak Latif, ternyata ada Endro dan Reni bekas kakak ipar Adi.
Setelah mereka bertiga duduk, Adi dan Indri segera melangkah menuju ke dalam.
"Yank,
Kamu gak usah ikut ngobrol dengan mereka. Daripada berurusan dengan mereka, mending kamu urusi Rendra dan Yaka", ujar Adi dengan bisik bisik.
"Lha kenapa Mas?
Gak boleh loh suudzon dengan orang", Indri merasa heran dengan sikap Adi yang tak seperti biasanya.
"Udah nanti sore aku ceritain tentang mereka.
Biar ibuk aja yang ngobrol dengan mereka. Aku malas untuk menghadapi mereka", Adi segera menuju ke kamar tidur Cinta. Gadis kecil itu rupanya sedang berdandan untuk berangkat ke sekolah.
"Ta,
Di cariin tuh sama kakek mu", ucap Adi sambil menunjuk ke arah ruang tamu.
Cinta hanya mengangguk dan segera menuju ke arah ruang tamu. Sementara Adi bergegas menuju ke arah dapur.
"Buk,
Bekas besan mu datang tuh. Ibuk samperin mereka", ujar Adi pada Bu Siti yang sibuk mengupas kulit bawang merah untuk bumbu masak.
"Lah kog tumben pagi pagi begini bertamu mereka.
Memang ada apa Le?", tanya Bu Siti sambil meletakkan nampan plastik tempat bawang merah.
"Mana Adi tau? Ibuk tanya aja mereka sendiri apa maksud kedatangan nya", jawab Adi dengan acuh tak acuh.
"Kamu gak tanya mereka Le?", Bu Siti menatap ke arah Adi sambil mencuci tangan nya dengan sabun untuk menghilangkan bau bawang.
"Males buk,
Dah ibuk ke depan. Aku mau nyiapin berkas berkas pekerjaan dulu", jawab Adi sambil melenggang ke arah kamar tidur nya.
Bu Siti hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya itu dan bergegas menuju ke arah ruang tamu.
Adi segera menata berkas pekerjaan yang dia tumpuk di meja rias yang ada di kamar nya. Beberapa buku direksi dan Lay out pekerjaan dia masukkan ke dalam ransel punggung hitam nya. Tak lupa beberapa pulpen dan nota penerimaan material dia taruh di dalam tasnya itu.
Indri yang baru masuk ke dalam kamar tidur, segera mengambilkan pakaian kerja untuk Adi. Usai memakai jam tangan dan sepatu sneaker nya, Adi segera memakai jaket kulit nya.
Dengan menggendong Yaka, Indri mengekor di belakangnya suaminya yang hendak berangkat kerja. Cinta dan Dhea yang sudah memakai pakaian seragam sekolah telah menunggu kedatangan Adi.
Sesampainya di ruang tamu, Adi menoleh ke arah Pak Latif, Endro dan Reni yang sedang berbincang dengan Bu Siti.
"Maaf pak saya tinggal kerja dulu. Permisi", ujar Adi sambil mengangguk pada mereka bertiga. Walaupun Adi masih dongkol dengan mereka, namun adat ketimuran nya masih dia junjung tinggi.
Cinta segera mencium punggung tangan Indri, begitu pula Dhea. Satu persatu mereka naik ke motor Vixion Adi yang baru di keluarkan dari dalam rumah.
Usai mereka naik, Indri segera menyalami Adi sambil mencium punggung tangan suaminya itu. Semua pemandangan itu terlihat oleh Pak Latif, Endro dan Reni.
Adi segera menstart motor Vixion kesayangannya dan motor itu perlahan meninggalkan rumah itu menuju ke sekolah Dhea. Indri melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah usai motor Adi tak terlihat lagi di balik tikungan jalan.
Ada raut wajah tidak suka pada wajah Pak Latif melihat itu semua.
Usai menurunkan Dhea di sekolah nya, Adi kembali melajukan motornya menuju ke arah sekolah Cinta. Berbagai macam pertanyaan melintas di kepala Adi.
'Mau apa mereka?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon maaf jika update episode baru nya lambat sekali ya 🙏🙏🙏
Mas mandor proyek sedang banyak pekerjaan sampai lupa waktu untul menulis 😁😁😁
Author sekali lagi mengucapkan terima kasih atas dukungannya kakak semuanya yang tidak bisa author sebut satu persatu 🙏🙏
Selamat membaca 🙏🙏
semoga menjadi anak2 yg sholeh dan berbakti kepada ortu nya ..
akhirnya up juga nunguin selama 1thn lebih tp ujungnya tamat😭😭😭