ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
"wah.. ini untuk ku.. semua makanan ini?"
"iya."
"ibu lihat. ini begitu banyak. kakak tak pernah membelikan ini semua untuk ku."
"kau ini. maaf ya Reva, amel memang begitu."
"iya Bu. eoh.. apa ibu sakit lagi sekarang?"
"iya kak, dari tadi pagi ibu terus meringis menahan sakit."
"Amel...."
"tak apa Bu. jika ibu sakit, katakan saja. aku akan membawa ibu kerumah sakit."
"tidak Reva. ibu sudah lebih baik?"
Tanpa mereka sadari bahwa dari tadi Lexy menyandarkan tubuhnya di pintu. dia mengurungkan niatnya untuk masuk saat mendengar suara amel yang begitu terdengar senang. mengetahui bahwa reva begitu peduli pada keluarga nya membuat hati kecil nya merasakan desiran hangat.
Baru kali ini ada seseorang yang begitu tulus terhadap mereka. biasanya para gadis yang dekat dengannya akan memandang tak suka pada adik dan ibunya. tapi Reva, yang bahkan bukan siapa-siapanya justru malah begitu peduli.
Lexy menghapus airmata yang menetes di pipi nya. mungkin dia memang seorang pria, tapi hatinya akan begitu lemah jika sudah menyangkut ibunya.
"aku pulang..." ujarnya membuat Reva dengan cepat berdiri. Lexy yang melihat itu langsung mengeryit.
"kenapa berdiri? kau sudah mau pulang?"
"ah.. tidak. aku hanya takut.. kau tak suka atas kehadiran ku." jawab Reva jujur. Amel dan Gea hanya diam melihat Reva.
"ada-ada saja." kekeh Lexy. lalu melangkah melewati mereka.
Reva kembali mendudukkan dirinya. Gea yang melihat itu tersenyum penuh ke ibuan. mereka kembali mengobrol. sementara Lexy membersihkan dirinya yang sudah bau keringat.
Adam dan Calvin terus saja berdiam diri tak berkata apapun, tetap pada pemikiran nya masing-masing. hingga Jessy datang dengan tangan yang menenteng begitu banyak belanjaan.
"Adam, kenapa malah menunggu di sini sih?" renggutnya tak suka. karena jarak cafe yang Adam tempati lumayan jauh dari mall tempatnya belanja. Jessy melirik Calvin sekilas.
"kau juga ikut." ujarnya.
Calvin hanya bergumam pelan tak peduli.
"Jess, apa kau tak bosan setiap hari belanja seperti ini?" tanya Adam mulai protes. Jessy memanyunkan bibirnya, bertingkah seolah dirinya begitu imut. mungkin dulu Adam suka saat melihat Jessy yang bertingkah seperti itu, tapi kali ini dia begitu muak. entah kenapa rasa jijik terhadap Jessy mulai tumbuh perlahan semenjak mengetahui kehamilan nya.
Calvin pun berdecih pelan melihat Jessy.
aih.. mataku perih rasanya. lihat saja bibir mu begitu monyong.. mirip bebek. ledek calvin, tapi hanya dia ungkapkan dalam hatinya.
"Adam, aku kan sedang ngidam... jadi setiap ke inginan ku harus selalu di penuhi."
"eh.. kau hamil?" Calvin terkejut. "berapa bulan?"
"3 bulan lebih.. itu sih menurut hitunganku..eehh.." Jessy tersadar dengan omongannya. matanya melirik Adam ragu lalu berganti ke arah Calvin yang kini semakin mengerutkan keningnya.
mati aku. sial.. semua gara-gara Calvin bertanya seenaknya. rutuknya.
Adam hanya diam dengan wajah datarnya. tangannya di geser saat Jessy mencoba menyentuh nya.
"heuh.. kau urus masalah mu. aku pergi." pamit calvin. dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada pengantin muda itu. hatinya bersorak saat mendapat berita besar ini, bukan senang karena Adam terpuruk tapi dia senang karena akhirnya si gadis bodoh itu membongkar sendiri kelakuan bejatnya.
"hhaaaahh......" Calvin menghembuskan napasnya kasar. "kasian Adam. tapi ini ulah mu sendiri. aku sudah memperingatkan tapi kau selalu saja pura-pura tuli."
Di sebuah cafe lain, tepat nya di sebrang cafe tempat Adam dan Jessy berada, venty tengah memperhatikan mereka. tangannya mengepal erat, dia tak suka melihat kedekatan mereka.
"kak, Reva saja begitu kuat." Arnold berkata dengan sedikit menyindir. saat ini Reva dan Arnold memang tengah bertemu untuk membicarakan sesuatu.
"hah,hati seorang ibu ku berontak. dia lebih memilih gadis itu di banding aku yang telah susah payah mengurus nya."
"iya, aku tahu. tapi kak, apa yang ingin kakak bicarakan dengan ku?"
Venty mengalihkan pandangannya, menatap Arnold dengan seksama.
"Arnold aku ingin meminta pendapat mu."
"tentang apa?"
"ini..." venty mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam tasnya. Arnold mengambil nya, keningnya mengeryit saat melihat tulisan di kertas itu.
"ini.. akta tanah dan juga rumahmu.. dan ini..." Arnold lebih terkejut saat melihat kertas terakhir.
"ini semua aset yang kakak miliki. apa yang ingin kakak lakukan dengan semua ini?"
Venty menggigit bibirnya. sebenarnya dia menyimpan rahasia besar selama ini. menyembunyikan dari semuanya. tapi mungkin ini saatnya Arnold mengetahui semua, karena dia sudah tak perduli pada Adam maka hanya Arnold lah yang bisa dia percaya saat ini.
"Arnold, sebenarnya kakak,..ah.. " venty merasa lidahnya kelu. dengan tangan bergetar venty mengambil kertas lain dari dalam tasnya. memberikannya pada Arnold.
"surat dokter." gumam Arnold begitu menerimanya lalu membukanya.
Matanya membulat sempurna melihat semua tulisan yang tertera di sana. tangannya bergetar dan hatinya berdebar tak karuan.
"kakak.. sejak kapan?"
"sudah 3 tahun yang lalu." jawab venty.
Arnold meremas kertas itu. "kau menyembunyikan selama itu?" tanya arnold tak percaya kenapa venty menyembunyikan hal penting ini darinya selama bertahun-tahun.
"jangan marah, kakak hanya tak ingin kau kepikiran."
Arnold mendesah mengerti. "lalu apa yang harus aku lakukan dengan semua surat ini?"
"rubah semua nama kepemilikan nya."
"apa?" lagi-lagi Arnold di buatnya terkejut.
"aku ingin memberikan semuanya pada Reva. karena aku yakin, hanya dia yang layak atas semuanya."
Arnold terdiam. keputusan venty memang tak salah. tapi apa nanti Adam tak akan menuntut Reva atas ini semua. Reva hanyalah mantan menantu venty, bukan saudara ataupun anak. hal ini akan sedikit lebih rumit jika nanti Adam mengetahui semuanya.
"kak, apa tak sebaiknya kita pikirkan lagi?"
"tidak. kakak sudah yakin dengan keputusan kakak. waktuku tak banyak lagi, lakukan seperti yang ku pinta." venty terlihat sangat serius.
"dan jangan memberi tahukan siapapun tentang ini, termasuk Reva. kau hanya boleh mengatakannya pada waktunya nanti."
"hah.. baiklah. tapi kakak jangan menolak ku sekarang, aku ingin kau tinggal bersama ku. aku tak mau kau terus kesepian di rumah yang begitu besar."
"hei.. di sana banyak pelayan. aku tak sendirian."
"ya, sudah aku tak akan membantu kakak."
"ah.. baiklah... baiklah. kau ini."
Arnold tersenyum senang. dia tak ingin lagi melihat venty yang terus murung, wajah ceria kakaknya seperti terbawa angin yang kencang ke tempat jauh.
**aku mau nanya.. apa mau ada visualnya... kalo mau tiap se episode nya akan di sisipkan satu foto pemerannya... di akhir.... atau di awal...***
terimakasih atas like dan komentarnya. jangan lupa juga.. kasih vote nya ya..... makasih banyak....atas dukungan kalian semua...... love u all..... saranghae..... ❤️❤️❤️❤️ 😍😍😍. salam hangat dari saya.... Rniehamizan..😘