Assalamualaikum...
Hanifah atau bisa dikenal dengan Budee ini memiliki watak yang tegas,pemarah serta memiliki Jiwa Keibuan. Hanifah selalu menjadi tempat mengadu oleh teman temannya karena dia juga dianggap Ibu.
Mengapa demikian?
Karena tidak ada yang berani kepada Hanifah,karena salah sedikit saja Hanifah pasti akan marah dan menceramahi.
Di suatu hari ada seorang cowok yang berusaha mengambil hatinya Hanifah, Karena Hanifah menunjukkan sikap keibuannya saat bersama anak kecil.
Disuatu saat Hanifah disukai oleh Gusnya sendiri yang bernama Gus Hafidz dan disisi lain Hanifah dipaksa CEO yang dingin untuk menjadi istrinya.
Siapakah yang akan di pilih oleh Hanifah? Akankah ia bersama ustadz nya sendiri atau CEO yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanifah Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat {Revisi}
Hanifah dibonceng oleh Ustadz Hanan. Mereka berdua tidak menuju ke TPQ terlebih dahulu, melainkan menuju ke warung gorengan Bu Mah untuk mengambil pesanannya.
Cukup 6 menit mereka berdua sampai di warung gorengan milik Bu Mah. Ustadz Hanan memarkirkan motor terlebih dahulu sedangkan Hanifah duduk di kursi yang telah disediakan untuk mengambil pesanannya. "Budayakan antri slur" kalimat itu sangat diterapkan di warung gorengan Bu Mah. Karena warungnya sangat laris manis dan banyak pembeli yang datang karena suka dengan gorengan buatan beliau.
"Dek kamu kedepan untuk ambil gorengan. Saya mau putar motor dahulu" Ucap Ustadz Hanan.
"Baik Ustadz" Jawab Hanifah.
Hanifah bergegas mengambil gorengannya yang sudah ditunjukkan oleh Ustadz Hanan.
Setelah cukup lama untuk mengantri, akhirnya bisa keluar dari kerumunan para pembeli yang sudah menghabiskan banyak oksigen.
Ia menghampiri Ustadz Hanan yang sudah menunggu diatas motornya.
"Ustdaz ayo. Keburu telat" Ucap Hanifah.
"Emang udah telat dek" Jawabnya.
Hanifah melihat jam di HP nya. Benar kata Ustadz Hanan bahwa kita sudah ketinggalan rapatnya.
"Yasudah ayo Ustdaz" Ucapnya.
"Ayo" Ucapnya.
Mereka berdua menuju ke TPQ dengan kecepatan tinggi. Awalnya Hanifah tadi mau bonceng miring, tetapi mengingat barang bawaannya menjadi banyak, alhasil ia bonceng nya seperti cowok.
Hanifah memegang erat planger (pada bagian belakang motor) dan satu tangannya membawa kresek besar yang berisikan gorengan. Mereka hanya membutuhkan waktu 2-3 menit sampai di TPQ. Mantan pembalap handal ya begini lah. Tidak tahu situasi dan kondisi.
Sesampainya di TPQ, banyak mata yang tertuju kepada mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Ustdaz Hanan dan Hanifah. Hanifah disambut dengan teriakan yang heboh dari teman-temannya, karena ia datang dibonceng oleh ustad Hanan dan mendapatkan perhatian dari para Ustadz-Ustadzah.
"Cie cie. Hanifah dibonceng sama Ustadz Hanan" Ucap Salsa.
"Setelah ini PJ (Pajak Jadian) mencair" Ucap Mita.
Hanifah tak menggubris perkataan teman-temannya itu. Setelah turun dari motor, ia bergegas menuju ke kantor untuk menghidangkan gorengan untuk semuanya.
Padahal rapat dimulai pukul 20.00 WIB. Tetapi sampai sekarang masih belum dimulai. Mungkin para Ustadz-Ustadzah sedang menunggu kehadiran Hanifah karena ia yang memegang keuangan untuk acara ini.
"Mbak Putri dari mana saja?" Tanya Ustadzah Novi.
"Awalnya saya tidak hadir rapat kali ini karena saya sudah berada di rumah sahabat saya untuk menginap. Eh sama ustadz Lutfi diwajibkan datang. Ya mau tak mau datang deh" Jawab Hanifah panjang lebar.
"Mbak Hanifah yang sabar ya" Ucap Ustadzah Novi.
"Nggih"
Ustadzah Novi membantu Hanifah membawakan gorengan untuk hidangan mereka. Rapat sambil memakan gorengan.
Semuanya sudah berkumpul di dalam kelas dan akhirnya rapat dimulai. Satu persatu materi dibahas dalam rapat dan banyak sekali sanggahan ataupun penolakan dari para guru, sedangkan Hanifah berserta teman-temannya hanya diam memperhatikan para guru yang berdebat.
Suara kegaduhan menyelimuti ruangan. Menyebabkan Hanifah dan teman-temannya mengambil gorengan. Mereka menikmati perdebatan para guru, layaknya sebuah tontonan yang sangat seru sambil memakan kudapan yang telah disediakan.
"Eh Put. Tadi kok bisa berangkat bareng sama Ustadz Hanan?" Tanya Mita yang sangat kepo.
"Ya seperti biasa slur" Jawab Hanifah.
"Jawabnya yang pas napa?" Ucapnya lagi.
"Jadi seperti ini..." Hanifah menceritakan kembali kejadian dari awal hingga akhir. Akhirnya mereka semua paham dan tidak ada yang curiga lagi kepada Hanifah.
Pukul 20.00 WIB rapat sudah selesai. Semua sudah dibahas dan tidak ada sanggahan lagi. Mulai dari membahas tentang Ghoribul Qur'an hingga acara haflah yang akan diselenggarakan nantinya demgn sangat mendetail.
Semua merapikan berkas-berkas tentang rapat hari ini karena hidangan utama kali ini sudah datang. Ya setiap kali ada rapat, tentunya akan ada hidangan utama untuk mengisi kekosongan perut ya walaupun toh ada yang sudah makan dari rumah. Tetapi mereka masih senantiasa ikut makan di TPQ.
Hanifah beserta teman-temannya hanya diam sambil memakan gorengan dan meminum teh hangat yang sudah disediakan. Merka menyempatkan waktu ini untuk berbincang-bincang dan tidak ikut untuk makan bersama-sama. Walaupun toh hidangannya sanaht enak, mereka tetap saja tidak mau bergabung.
Mulai dari perbincangan hangat hingga sangat panas Merkea lakukan disana. Mumpung sekarang adalah malam Minggu, jadi seperti inilah kebersamaan yang mereka lakukan.
"Eh Put. Tes nya jadi di Jabung?" Tanya Salsa.
"Iya mbak. Nanti kita kesana naik mobil Ustad Badrus" Jawab Hanifah.
"Duh belum siap aku tuh" Ucap Mita alay.
"Bismillah saja lah. Kita bisa" Ucap Hanifah.
Waktu menunjukkan pukul 20.45 WIB. Hanifah beserta teman-temannya meminta izin untuk meninggalkan TPQ. Mengingat waktu sudah semakin larut.
Hanifah POV
Malam semakin larut, kami memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Rumah warga sekitar TPQ sudah tertutup rapat dan lampu sudah padam. Ada sedikit ragu untuk pulang karena sudah sepi hanya ada beberapa gerombolan anak laki-laki.
"Put ayo pulang" Ajak Salsa.
"Ayo mbak. Aku juga sudah mengantuk" Ucapku.
"Yasudah ayo pamit dulu" Ajak ku.
Kami berpamitan kepada Ustadz-Ustadzah untuk pulang. Tiba-tiba aku dipanggil oleh Ustadz Kusnan untuk berbelanja keperluan TPQ.
"Putri ayo sini" Ucap beliau.
"Nggih" Jawabku sambil mengahampiri beliau.
"Wonten nopo ustadz (Ada apa ustadz?)" Tanyaku.
"Besok kamu san Ustadz Hanan mencari kebutuhan untuk haflah nggih" Ucap Beliau.
"Loh kok saya ustadz?" Tanyaku penuh keheranan.
"Semua guru-guru besok sibuk nduk. Jadi kamu dan Ustadz Hanan yang waktunya sengangg" Ucap beliau.
"Oh nggih pun" Jawabku.
Setelah itu aku berpamitan kepada ustadz Hanan dan berterima kasih karena sudah mau menjemput ku tadi.
"Ustdaz Hanan" Panggil ku.
"Iya ada apa?" Tanyanya.
"Say mau pamit mau pulang bersama teman-teman dan terimakasih karena sudah mau menjemput saya tadi" Ucapku.
"Sama-sama dek. Tidak mau saya antar kah?" Tanyanya.
"Ndak usah Ustadz. Saya pulang bersama teman-teman" Jawabku cepat.
"Put ayo pulang. Ojo sue-sue (Jangan lama-lama)" Teriakan Mita.
Aku menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Iya Mi. Tunggu bentar" Ucapkudan mengahampiri nya.
Aku berbincang-bincang sebentar dengan Mita dan kawan-kawan, kemudian aku melanjutkan pembicaraan bersama Ustadz Hanan yang belum selesai.
"Saya pamit dulu ya Ustadz" Ucapku.
"Saya antarkan saja dek" Ucapnya.
"Maksa amat nih orang. Udah tahu gue ditunggu sama yang lain" Batinku keheranan.
"Tidak usah Ustadz. Terimakasih atas tawarannya" Ucapku sambil menangkupkan kedua tangan ku.
Setelah aku mengucapkan hal itu, raut wajah ustadz Hanan berubah menjadi murung. Berbeda dengan tadi disaat beliau menjemput ku.
"Besok kita kan masih bisa keluar ustadz. Untuk membeli perlengkapan haflah akhir Sannah" Ucapku.
"Emang saya di suruh beli?" Tanya.
"Iya Ustadz. Tadi Ustadz Kusnan yang bilang" Jawabku.
"Baiklah kalau begitu. Besok saya jemput sekitar jam 7 pagi" Ucapnya.
"Terserah ustadz. Kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum" Ucapku.
"Waalaikumsalam. Hati-hati dek" Jawabnya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan bergegas mengahampiri teman-teman yah sudah setia menunggu kehadiran ku.
"Maaf lama. Ayo pulang" Ucapku.
"Gapapa Put. Ayo" Jawab Mbak Salsa.
Kita berempat meninggalkan TPQ dan bergegas menuju ke rumah masing-masing. Mengingat hari sudah semakin sangat larut.
Di dalam perjalanan, kita berdua bersenda-gurau tidak tahu waktu. Padahal sudah larut malam dan banyak orang yang tidur, tetapi kita tertawa tidak tahu aturan sama sekali.
"Stt... Jangan keras-keras! Sudah banyak orang yang tidur" Ucapku menepuk pundak mereka.
Setelah mendengar perkataan ku tadi, mereka langsung menutup mulutnya tanpa mengeluarkan perkataan apapun. Tetapi ucapanku tidak bertahan lama. Baru saja aku memperingatkan mereka, Eh sekarang malah ramai lagi. Aku pun tak memperdulikan mereka lagi.
Aku mempercepat langkah ku agar segera sampai rumah. Mengingat malam semakin larut dan juga aku besok harus bangun sangat pagi karena akan pergi bersama dengan Ustadz Hanan.
jangan ada yang terluka ya thor
aamiin
hemm
oiya thor, mau tanya dong,, author nya dari daerah mana yah? kalau ana dari kediri thor,, mungkin dekat?
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "sahabat atau cinta" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih