NovelToon NovelToon
The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Romansa / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: aresss

Jasmine Elnora Brown, seorang pelukis yang menyukai hal sederhana dan tidak rumit harus menghadapi sebuah cinta unik dari seorang pria pendiam nan misterius, Edward Maleaki Lendsman. Semua berawal baik, tapi semakin jauh Jasmine melangkah dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak hanya menghadapi satu sisi pribadi saja dalam diri Edward, tapi juga menghadapi sisi tergelap Edward yang begitu hitam. Sisi yang akan membuat dia berpikir dua kali untuk memperjuangankan Edward.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

History

Happy Reading

****

Lucas POV

Aku menatap wajah Jasmine yang memeerah. Ucapanku padanya benar-benar berefek dan aku senang akan itu. Aku senang bisa menatap dan berinteraksi dengannya lagi setelah sekian alam. Aku bosan hanya menatap dari gelap melalui Edward.

Edward... Si sialan itu.

Aku bisa merasakannya di dalam tubuh ini. Jauh dalam gelap dan hanya bisa melihat. Tidak seperti aku yang masih bisa berkomunikasi pada Edward saat dia menguasai tubuh ini, Edward akan diam di sana dan tidak melakukan apa pun. Hanya menatap dalam gelap dan terkadang jatuh tertidur.

Aku akan lebih senang jika dia tertidur karena pada saat di posisi tersebut, dia benar-benar lemah dan tidak akan mampu merebut ahli tubuh ini. Namun, jika dia terjaga akan lebih mudah baginya merebut tubuh ini. Hanya jika aku lengah... Jika aku tidak lengah dan lemah, dia tidak akan mampu.

"Itu gelas ketigamu, Jasmine..." ucapku dengan nada peringatan lembut saat dia menuangkan anggur ke gelasnya. Kebiasaan minumnya perlu diubah

"Untuk makanan penutupku..."

Aku bersandar di kursi, melipat kakiku, dan menatapnya dalam diam. Betapa indahnya melihat dia berada dalam jangkauanku. Dan segera, dia akan dalam kendaliku..

"Jika kau menatapiku begitu, aku bisa mengencingi celanaku..." ucap Jasmine seraya tertawa kecil.

Aku tersenyum miring pada leluconnya yang cukup payah. Selera humornya benar-benar payah.

"Aku tidak keberatan..."

Dia memasukkan sesendok kue ke dalam mulutnya lalu mengangkat bahunya.

"Aku tidak ingin pulang dengan keadaan bau pesing..."

Oh, my darling.. Aku akan senang jika kau telanjang saat ini juga. Ah.. Dan satu lagi, kupastikan kau tidak akan pulang hari ini, Jasmine...

"Mencarimu sebuah celana ganti bukanlah masa besar untukku...."

Aku hanya ingin kau tahu, betapa aku ingin membakar semua baju sialanmu dan memberimu pakaian yang lebih layak. My precious, Jasmine...

"Aku tidak menyangka kau sekaya ini..." ucapnya seraya bersandar di kursi. Matanya menoleh ke arah laut.

Yah, sayang... Lihatlah aku. Aku memiliki semua yang wanita inginkan.

"Apa yang kau kerjakan? Jangan katakan kau seorang petani atau peternak..."

Aku terkekeh, "Aku benar-benar seorang petani dan peternak, Jasmine..."

Aku punya ratusan hektar ladang anggur, ladang gandum, ladang jagung, ladang bunga-bungaan, memiliki ratusan ternak, pembudiayaan ikan, dan berbagai pabrik pengolahan.

"Petani berdasi?" ucapnya dan istilah yang dia berikan benar-benar membuat tersenyum.

"Kau bisa menyebutnya begitu..." aku menyesap habis minumanku, "Kau sudah selesai makan? Aku ingin menunjukkanmu sesuatu..."

"Apa?"

"House tour?" ucapku dengan nada ragu. Sejujurnya aku ingin membawamu langsung ke tempat tersembunyi. Menguncimu di sana dan menikmatimu dalam genggamanku.

"Good..." dia melap ujung mulutnya, "Aku benar-benar penasaran tentang mansion ini ini..."

Aku berdiri dan dia juga berdiri dan aku benar-benar senang dia memakai jeans serta sweater yang menampilkan lekukan tubuhnya. Dari pada gaun longgarnya yang menyebalkan itu.

"Thank you. Untuk jamuannya.." ucapnya padaku

"With my pleasure, Jasmine..."

Kami berjalan keluar menuju pintu yang dibuka oleh pelayan. Mataku bertemu dengan Johansen seraya tersenyum miring padanya dan seketika senyumnya hilang. Wajahnya berubah tegang. Dia sangat cepat dan tanggap menyadari keberadaanku di tubuh ini. Johansen tidak setia padaku. Si tua bangka itu hanya setia pada Edward.

Tidak ada yang tidak Johansen ketahui tentangku. Dia tahu semua tentangku.

"C'mon, Jasmine..." aku menggenggam tangan kanannya yang mungil dan hangat dalam genggamanku. Aku melihat ke arah Jasmine yang menunduk tersipu. Sial. Aku senang betapa mudahnya memberi efek seperti ini padanya.

Aku membawa Jasmine melihat seisi rumahku. Ini membosankan tapi melihat dia begitu antusias melihat banyaknya lukisan dan seni lainnya di rumah ini memberiku rasa kepuasan tersendiri. Kami sedang berjalan di lorong yang menampilkan lukisan-lukisan buyut Edward.

Bagian paling menyebalkan di rumah ini.

"Mereka buyutku..."

"Oh my... Nampaknya kau keturunan bangsawan..." dia melihat lukisan keluarga yang dilukis tahun 1880. Aku menatap lukisan keluarga dengan pakaian khas pada masa itu.

Aku memutar mata, tidak terlalu senang dengan topik ini.

"Merekalah yang menciptakan bisnis keluarga ini.."

Dia menoleh ke arahku, "Bertani dan beternak?"

"Yah..."

Dia berjalan perlahan dan aku mengikut di belakang. Dia melihat semua lukisan keluargaku hingga dia sampai pada lukisan terakhir keluargaku--Sejujurnya keluarga Edward. Aku tidak yakin jika aku bisa dibilang bagian keluarga dari Edward.

"It's your family?" bisik Jasmine seraya menoleh ke arahku

Napasku memburu saat menatap wajah Ayah Edward. Wajah Ayahku secara teknis. Wajahnya yang bengis.

"Yah.."

"You okay?" tanya Jasmine lembut seraya menggenggam kepalan tanganku dengan kedua tangannya yang hangat.

Aku tidak baik-baik saja.

"Yah.." jawabku cepat dan kenangan-kenanganku dan Edward bersama Ayahnya berputar hebat di dalam diriku. membuatku lengah. Lemah. Rasa sakit Edward muncul dalam diriku, rasa sakitnya yang begitu jelas kurasakan. Sial. Memang dia lebih baik tertidur sehingga aku tidak merasakan ingatan yang menyakitkan ini.

Aku menatap wajah Byron Elinson, ayah Edward. Wajah bengisnya tidak akan pernah hilang dari ingatanku selama Edward masih ada dalam tubuh ini. Aku memejamkan mata dan perlahan pertahananku runtuh,melemah, dan aku lengah. Detik itu, aku merasakan diriku tertarik ke dalam lubang yang begitu dalam, sangat dalam, hitam, dan pekat. Tempat yang sunyi... Dan begitulah kemunculan jiwa Edward muncul setelah badanku tersedot

"Edward?" suara Jasmine menyadarkan Edward dari sebuah pergantian jiwa yang begitu cepat dan menyakitkan itu.

Edward menatap Jasmine penuh syukur dan segera memeluk Jasmine dengan erat. Begitu Erat seolah ini adalah saat terakhir meraka akan bertemu.

***

Jasmine POV

Aku mengelus tangan Edward yang dingin dan dia kepal erat. Wajahnya menatap keras ke arah lukisan keluargannya. Sejujurnya, sejak kami berada di sini, aku bisa merasakan aura tegang dari Edward. Urat di dahinya muncul dan wajahnya benar-benar penuh kemarahan. Ada apa ini? Dia memejamkan mata dan aku merasakan kepanikan dalam diriku.

"Edward?" ucapku lembut dan matanya terbuka. Dia menatapku dengan tatapannya yang penuh luka. Mukanya tampak sayu. Aura dalam dirinya berubah begitu cepat dan detik itu dia segera memelukku erat.

Aku merasakan syok ringan karena pelukan sponta tersebut. Namun, perlahan aku mengangkat kedua tanganku dan membalas pelukan itu saat merasakan kehangatan tubuh Edward. Aku melingkarkan tanganku ke arah tubuh Edward dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

"Evertyting it's okay, Edward..." bisikku lembut dan Edward hanya diam seolah ingin mencari kedamaiannya sendiri.

***

"Mereka keluargaku..." ucap Edward saat kami duduk di kursi taman yang menampilkan pemandangan lautan sore. Deruan angin, suara ombak, dan cahaya matahari yang perlahan redup memberikan euforia yang begitu menenangkan.

"Ayah, Ibu, dan saudara laki-lakiku. Dia lebih tua dua tahun dariku. Namanya Elliot." aku menatapnya yang menatap kosong ke depan. Wajahnya tampak sayu dan ini pertama kalinya aku melihat dia seperti itu.

"Mereka semua sudah meninggal, Jasmine..."

Aku mengelus punggung tangannya dengan ibu jariku, berusaha menenangkannya.

"Pertama Ibu dan Elliot meninggal dalam kecelakaan tragis saat aku berusia enam tahun lalu Ayahku saat aku berusia 14 tahun.."

Dia sendirian selama ini.

"Kau tidak perlu merasa kasihan padaku, Jasmine..." ucapnya seraya menatapku, "Itu hanya luka lama dan sebenarnya aku baik-baik saja...."

"Tapi kau sendirian selama ini. Bagaimana bisa kau mengatakan kau baik-baik saja?"

"I'm fine to be alone, Jasmine..." dia tersenyum hangat, "Aku baik-baik saja dengan kesendirianku." Lalu Edward beralih menatap laut.

"Keluarga memiliki ladang yang begitu luas yang tersebar di beberapa tanah Eropa." ucap Edward, "Gandum, bunga-bunga, anggur, jagung dan juga peternakan. Secara teknis, kami adalah keluarga petani dan peternak..."

Dia pasti memiliki lahan yang luas serta ternak yang banyak hingga membuat dia sekaya ini.

"Aku juga memiliki pabrik anggur, wol, produk makanan kaleng, tekstil, dan banyak lagi. Aku masih memiliki kerabat yang membantuku dalam menjalankan bisnis kecil-kecilan ini."

Kecil-kecilan dia bilang?!

"Kau tidak punya teman?" tanyaku

"Ada.... Tentu saja ada."

Aku menarik napas dan membuangnya perlahan. Aku bersandar di bangku dan menatap matahaari yang perlahan hilang dibalik lautan. Ada beberapa hal yang dia sembunyikan di balik kata-katanya.

"Aku heran begitu cepatnya emosimu berubah-ubah, Edward..." aku akhirnya mengangkat topik itu, "Sebentar kau tampak setenang air danau sedetik kemudian tampak seperti ombak yang menggelegar...."

Dia terkekeh dan aku hanya tersenyum kecil karena merasa aneh dengan omonganku yang sedikit puitis.

"Aku hanya begitu setiap di dekatmu, Jasmine..."

"Kita baru bertemu sekitar dua bulan lalu.... Betapa cepatnya waktu berlalu." aku menoleh ke arahnya, "Sebelumnya kau berkata ingin meluruskan sesuatu antara kita. Apa itu?"

"Look at me, Jasmine.."

Aku menoleh ke arahku yang menatapku dengan tatapannya yang dalam

"Kau mungkin baru mengenalku selama dua bulan, tapi aku ingin kau percaya bahwa aku benar-benar tulus padamu..."

Dia membuatku bingung

"Tulus?"

Dia menyentuh wajahku dengan lembut dan aku memejamkan mata untuk menikmati sentuhan tangannya yang sejuk dikulitku. Lalu dia memegang tangan kananku dan mengarahkannya ke dadanya. Aku membuka mata, merasakan degup jantungnya yang bergemu.

"Kau merasakannya?"

Aku melihat bola matanya yang menggelap. Mencari sesuatu di sana, tapi itu begitu dalam dan aku tidak mampu membaca apa yang dipikirkan oleh Edward.

"Perasaanku tulus padamu, Jasmine..."

Beginikah dia mengekspresikan rasanya? Tidak ada embel-embel kata cinta di sana.

"Kenapa? Kenapa aku dari sekian banyak wanita yang kau temui?"

"Aku tidak tahu... Benar-benar tidak tahu. Aku hanya merasa khawatir jika aku tidak mendengar kabarmu, selalu penasaran apa yang kau lakukan, aku senang mendengar kau berbicara, dan aku suka setiap yang ada dalam dirimu, Jasmine..."

"Apa itu ungkapan cintamu?"

"Kau bisa menyebutnya begitu..." dia tersenyum lalu memegang tanganku dari dadanya dan mengarahkannya ke mulutnya. Dia mencium punggung tanganku dengan lembut.

"Jadi kita sepasang kekasih sekarang?"

Dia tertawa dan mencium punggung tanganku lagi.

"Kau bisa menyebutnya begitu..." ucapnya lagi dengan kata yang sama.

Dia sepertinya begitu anti dengan kata yang berbau cinta.

"Dapatkah aku menciummu, Jasmine?" ucapnya seraya mengelus tanganku di pipinya.

Aku terkesiap dan segera menekan bibirku menjadi garis. Jantungku semakin berdetak kencang. mengirimkan berbagai sensasi dalam tubuhku. Perlahan tapi pasti, Edward mendekatkan bibirnya ke arahku dan perlahan aku memejamkan mata.

Aku merasakan daging kenyal itu menyentuh bibirku. Edward menarik tubuhku semakin dekat ke arahnya seraya menyentuh lekukan tubuhku. Aku menekan kepala Edward semakin dekat denganku dan aku merasakan tangan Edward dibalik sweaterku dari bawah.

"Uh..." aku melenguh dan sedikit terkejut meraskan kulit Edward yang dingin di perutku. Edward menjauhkan kepalanya saat napas kami hampir pada ambang batasnya. Dahi dan hidung kami saling bersentuhan dan napas kami saling beradu.

"Aku ingin meluruskan hal yang terjadi tadi malam, Jasmine..." bisiknya seraya mengelus kulit punggungku.

"Mari kita luruskan bersama..." bisikku sebagai izin untuk Edward.

***

MrsFox

Jangan lupa like,koment, love, vote,dan apapun untuk mendukung author. Jangan lupa follow dan masuk ke dalam grup chat author. Lop yuh all.

 

 

1
andrana maula
Lumayan
Dian Winati
Luar biasa
Krista Itha
huuhuu kebagian yg revisi semua 😭
Krista Itha
ada koyo ya miss di London?
Krista Itha
waah paling telat ternyata aku..udh gak kebagian 😁
Krista Itha
sampai kesini saya buat ngikutin miss
sukaaa bgt semua tulisan miss Foxxy ini
❤️❤️❤️
Sari
Luar biasa
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
sokorrr bingung kann sekarang 😂😂
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
love love love dr. lubovswky
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
thanks Dr. lubowsky untung dia mau mnjelaskan siapa Jasmine
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
wahh kok Johansen jd gitu sih...ngeselin bgt
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
hilang ingatan kahh
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
wwooo kerjaan kimberly dan musuhnya lukas ini
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
kasihan Jasmine
dan kasihan juga Edward..
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
mngkin kalau aku jadi Jasmine aku akan melakukan hal serupa... ngeselin bgt deh Kimberly
bunga cinta
gass
Siti Sa'diah
kkk aku baca ulang lg senyum2 bacanya
moci oci
baca novel ini aku ingat drama yg dimainkan hyun bin judulnya lupa, tpi inti ceritanya sama satu tubuh dua kepribadian
terimakasih thor cerita mu luar biasa
Anonim
aq dah deg2an ni thor...
Anonim
edward...aq padamu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!