Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar Nggak Bohong
Pusing. Danu berdiri, menurunkan Wahyu dari pangkuan Juli, geser Syaiful agak jauh, dan tarik tangan Juli. Juli sedikit berontak, Syaiful dan Wahyu juga pegangi tangan Juli, tarik-menarik terjadi, ayah dan ibu Danu hanya geleng kepala melihat ulah Danu yang tarik Juli didepan mereka, tapi semuanya kalah dengan tenaga Danu, Juli akhirnya ikut, Danu membawa Juli kehalaman belakang, disana memang ada bangku panjang yang sudah lama Danu buat, Danu dan Juli duduk disana.
Danu menyandarkan badannya dan rentang tangan, yang kanan memijit-mijit pelan bahu Juli yang satu lagi diatas sandaran bangku panjang. Juli pasang muka tunduk, kedua tangan Juli dia tautkan dan letakkan diatas pahanya.
Danu memandang Juli dari samping, tarik bahu Juli hingga hidung Danu mendarat telak di pipi kiri Juli, Juli berontak kecil dengan goyangkan badannya dan tetap dengan gayanya yang pertama tadi, tak berubah.
“ Ada apa sih, Adek kenapa ?”.
“ Kok nanya ?”.
“ Masa ngga’ bisa nanya pacar sendiri “.
Danu mencoba mencolek pipi Juli, tapi tangan Juli lebih cepat menangkap tangan Danu dan serasa melemparkannya jauh jauh. Danu terus mencoba mencolek, dan terus saja Juli berhasil menghindar. Danu colek pinggul Juli, Juli langsung melonjak dan memukuli Danu sebisanya, Danu merunduk dan melindungi kepala dengan kedua tangannya. Danu tidak dapat menghitung secara pasti, tapi pukulan demi pukulan itu hampir mencapai puluhan kali baru berhenti.
Danu coba mengintip, melihat Juli ngga’ mukul lagi baru Danu kembali duduk disamping Juli, menyandarkan tubuh kesandaran bangku yang terbuat dari kayu itu serta melipat tangan didada.
“ Kok ngga’ disana aja “.
“ Dimana ?”.
“ Dirumah Dewi “.
Danu ngakak jadinya, Juli hanya melirik sebentar dan moyongkan bibirnya, kemudian kembali lagi keposisi semula. Danu merasa Juli sangat lucu, Danu menjadi gemas sendiri dibuatnya. Tangan Danu kembali merangkul bahu Juli erat, Juli hingga bersandar kebahu Danu.
“ Abang kan ngga’ ngapa-ngapain “.
“ Tauk “.
“ Udah ach. Abang itu Cuma sayang sama Juli, Cinta Cuma pada Juli, memang Cuma Juli “.
“ Gombal “.
“ Ngga’ yakin ?”.
Juli tak menjawab. Yang jelas Juli ngga’ mau Danu dekat dengan Dewi. Ada rasa cemburu yang membakar Juli tadi saat melihat Danu masuk kerumah Dewi, ngapaian juga Danu kesana, Juli ngga’ setuju jika Danu sering kesana. Juli hanya mau Danu terus bersama dengan Juli, Juli amat mencintai Danu, hingga ngga’ mau Danu ngapa-ngapain, apalagi main kerumah teman wanitanya.
“ Ngapain kesana ?”.
“ Diskusi “.
“ Boong “.
“ Tanya ajabesok “.
“ Ngapain “.
Danu kembali hanya bisa ketawa dan membelai rambut Juli dengan perlahan lahan aja, kali ini Juli tidak membelakang Danu Lagi. Tangan Danu masih terus merangkul bahu Juli, kini kepala Juli ada dibahu Danu, bersandar. Namun begitu Juli masih juga dengan muka yang lumayan cemberut.
“ Besok tanya ama Dewi Abang ngapain “.
“ Ngapaiannanya ?”.
“Konfirmasilah ngapaian lagi “.
“ Ngapaiankonfirmasi ?”.
“ Biar jelas“.
“ Malas “.
Danu terus aja senyum tipis, sebenarnya Danu merasa sedikit lucu, apalagi melihat wajah Juli yang amat cemberut. Tapi Danu amat bahagia, itu tandanya Juli cemburu, itu buktinya Juli memang memiliki cinta yang besar padanya. Artinya, tidak hanya Danu yang punya cinta sebesar gunung itu, tapi juga Juli.
“ Abang memang diskusi “.
“ Diskusi apa?”.
“ Ya.. Diskusi, ya Diskusi. Diskusi aja “.
“ Boong “.
“ Tapi benar kok “.
Muka Juli yang terus cemberut sebenarnya membuat Danu malah jadi merasa lucu, tangan Danu langsung kehidung Juli yang lumayan mancung dan memenjetnya cukup kuat. Juli langsung berontak, Cuma bedanya, kalau tadi berontaknya menjauh, kini Juli berontaknya agak lain, Juli lebih merapatkan kepalanya hingga mencapai leher Danu. Dengan begitu Danu langsung membelai rambut Juli dengan penuh kasih sayang.
“ Abang hanya sayang kamu Li “.
“ Tauk “.
“ Abang hanya punya kamu sekarang “.
“ Tauk “.
“ Kok Tauk Tauk terus ?”.
“ Tauk “.
Danu hanya tersenyum tipis. Aroma cemburu milik Juli amat jelas tertangkap, sekali lagi, Danu cukup bahagia dengan itu. Danu juga sering sedikit kesal kalau Juli berlama lama cerita dengan temannya, apalagi teman yang laki-laki, Danu juga sering merasakan itu, cemburu.
“ Juli tahu Dewi kan. Dia Cuma teman, ya… kita sering diskusi, pindah pindah tempatnya, kadang dirumah Fahmi, disini, dan sekarang diskusinya dirumah Dewi. Itu aja kok“.
“ Masa ?”.
“ Memang begitu Kok “.
“ Abang ngga’ boong ?”.
Danu tidak jawab, Danu malah langsung rangkul Juli dengan kuat, Cuma ada satu sun yang tipis, Danu lepaskan rangkulannya walau Juli sama sekali tidak berontak. Setelah itu suasana cukup hening, Danu kemudian melirik Juli yang kebetulan juga sedang memandang kearahnya, cukup lama mereka saling pandang, kedua tangan Danu memegang kedua pipi Juli yang memandangnya dengan pandangan mata yang teduh. Juli memang cantik.
“ Abang takkan pernah walau hanya sekedar mencoba untuk khianati perasaan ini Li, takkan pernah, tak akan terjadi “.
Juli hanya senyum saja. “ Asal ngga’ betul ajalah “.
“ Betul sekali. Dijamin halal “.
Danu tertawa kecil aja, dan ternyata Juli ikut tertawa, saat kemudian Danu dan Juli sama tertawa. Tawa yang walau hanya selintas tapi membuat Danu merasa bagai berada dalam alam maya. Danu serasa masuk dalam aroma nirwana yang begitu sejuk mempesona. Kata orang, bagai dunia milik berdua, yang laiannya Cuma numpang lewat, sebagian lagi ngontrak.
Dalam hatinya yang paling dalam, nun jauh dilubuk hatinya, Danu kini hanya punya satu keinginan, keinginan yang harus berjalan dengan maksimal tanpa diganggu dengan banyak persoalan yang tak penting. Danu ingin membangun hubungan yang harmonis dan penuh kebahagiaan dengan Juli hingga akhir hayat nanti. Danu tak ingin ada kata yang membuat mereka jadi renggang walau hanya sesaat, akan terus bersama dan terus merajut bahagia.
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya