Kisah yang banyak mengandung misteri dan kekerasan, berusaha mempertahankan milik dan merebut milik yang lain.
"Aku memang terlatih menjadi senjata, jadi tidak salah bukan jika aku kejam dan beringas. Dulunya aku adalah seorang Wakil Pemimpin anggota mafia, tapi sekarang ... aku adalah Ratu kejam untuk Raja Dingin." ~ Freya.
"Dia memang kejam, keras kepala namun cerdas. Semua sikapnya membuatku semakin tertarik padanya, dia Lebah Kecilku, dia Ratuku." ~ Sean.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Lepas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Peringatan
"Jadi kau ingin membuat kerajaan Felix terkenal dalam dunia perdagangan?" Sean menatap Freya dengan tatapan ragu, sangat ragu mendengar penjelasan yang baru saja Freya sampaikan.
Entah karena apa tiba-tiba Freya mendatangi ruang kerja Sean yang kebetulan Sean dan Penasihat Keith sedang mendiskusikan sesuatu. Karena Freya begitu memaksa ingin masuk, akhirnya Sean hanya bisa memperbolehkan Freya masuk dan menyampaikan apa yang ingin Freya sampaikan.
Dan setelah mendengar penjelasan Freya panjang lebar, Sean dan Penasihat Keith mengernyit hebat dengan tampang wajah ragu akan usulan yang Freya utarakan. Tidak lebih tepat usulan, melainkan hanya sebatas ucapan yang menurut Sean dan Penasihat Keith belum tentu menjadi kenyataan, bahkan menurut mereka sangat mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Freya ingin menjadi kerajaan Felix sebagai kerajaan pemegang dunia perdagangan? Itu mustahil selama Gereja Zinovia dan kerajaan lainnya masih berdiri kokoh. Semua orang tahu jelas wilayah strategis kerajaan Felix tidak terlalu bagus untuk bercocok tanam.
"Nona Freya, anda tahu wilayah strategis kerajaan Felix tidak terlalu bagus untuk bercocok tanam, bagaimana mungkin kerajaan Felix bisa mendominasi dunia perdagangan?" Penasihat Keith menyahut, meragukan ide Freya yang terdengar konyol menurut sudut pandangnya. Sedangkan jika ingin mendominasi dunia perdagangan, paling tidak kerajaan Felix harus memilik satu ladang besar yang menjadi bahan utama untuk perdagangan dan pastinya bahan itu harus dicari banyak rakyat.
Freya mendengus pelan dengan seringai sinis, "Wilayah daerah kekuasaan kerajaan Felix memang sedikit tidak menguntungkan sebab kebanyakan wilayah berada di pesisir sehingga tanah untuk bercocok tanam sangat jarang ditemukan, tapi aku bisa mengubah semua yang dimiliki kerajaan Felix menjadi barang yang nantinya diperlukan semua orang. Aku hanya butuh izin dari kalian, asalkan kalian mengizinkanku, tunggu dan nikmati saja hasilnya," balas Freya dengan nada tenang. Dia sengaja tidak menjelaskan lebih rinci sebab Freya menunggu pertanyaan berikutnya.
"Bisakah kau berikan contoh padaku apa yang akan kau buat sehingga begitu percaya diri bisa mendominasi dunia perdagangan?" tanya Sean tenang, meski dia ragu akan ucapan Freya yang terlalu berlebihan namun Sean juga tidak ingin melunturkan semangat Freya dalam memajukan kerajaan Felix, toh tidak ada salahnya Freya membantu Sean memakmurkan kerajaan karena status Freya memang sepantasnya membantu suami yang mana suaminya adalah pemimpin suatu negara.
"Contoh ya?" Freya bergumam pelan seraya berpikir contoh apa yang akan dia berikan, proyektor bahan pangan begitu banyak di otaknya dan Freya ingin memilih contoh paling sederhana saja, "Garam kerajaan Felix terlalu buruk, rasanya benar-benar merusak cita rasa makanan. Mungkin aku bisa memulainya dari garam," balas Freya menjawab contoh yang diinginkan Sean.
"Garam?" Penasihat Keith tertegun, "Tapi selain negara kita, Gereja Zinovia dan juga beberapa kerajaan memproduksi garam. Bagaimana bisa garam kita mengalahkan pemasaran garam mereka?" Penasihat Keith ragu, apa mungkin garam yang akan dikelola Freya sanggup mengalahkan penjualan garam dari para pedagang yang memang sudah lama menjual garam ke seluruh daerah. Meski pun kerajaan Felix juga bisa memproduksi garam, tapi garam kerajaan Felix tidak terlalu laku sebab persaingan ketat.
Freya tersenyum tipis, "Masalah itu aku tahu cara mengatasinya, garam yang kalian makan sama seperti garam kerajaan lain bukan?" Freya menatap Sean dan Penasihat Keith di mana ke dua pria itu terdiam beberapa waktu dan kemudian mengangguk, "Garam yang kuproduksi akan lebih berkualitas dari garam-garam mereka, tidak hanya sehat tapi rasanya juga enak, dan aku juga akan menjual garam dengan harga murah sehingga semua rakyat dari segala kalangan sanggup membelinya," jelas Freya lagi dengan wajah serius, tentu agar dia terlihat tidak bercanda dengan sesuatu yang akan dia kerjakan.
Penasihat Keith terdiam, tidak tahu ingin berkata apalagi melihat kepercayaan diri Freya sangat sulit diruntuhkan. Bukannya apa, Penasihat Keith hanya tidak ingin Freya terlalu berharap tinggi dengan rencananya namun pada akhirnya tidak berjalan sesuai keinginan. Ingin mendominasi dunia perdagangan? Tentu saja tidak semudah yang Freya bayangkan. dibutuhkan keahlian khusus serta bantuan nyata baru bisa mendominasi dunia perdagangan.
Sama dengan Sean, dia juga terdiam sambil menangkup dagunya dengan ke dua tangannya, wajahnya sedikit menunjukkan ekspresi serius sekaligus kesulitan. Freya ingin membantunya adalah hal bagus, namun ide yang Freya kali ini sampaikan cukup membuat Sean maupun Penasihat Keith ragu, jelas mendominasi dunia perdagangan bukanlah hal mudah terlebih lagi banyaknya pesaing perdagangan yang jauh lebih kuat dari kerajaan Felix. Tapi melihat betapa percaya dirinya Freya, Sean tidak tega jika tidak mengiyakan permintaan gadis itu, jika memang Freya tidak bisa mencapai harapannya sendiri anggap saja Freya sedang bermain-main untuk menghilangkan kebosanannya.
"Baiklah, aku menyetujuimu," ungkap Sean dengan nada pelan, mengejutkan Freya dan Penasihat Keith secara bersamaan. Sean mengambil secarik kertas lalu menulis beberapa untaian kata di sana, setelah selesai menulis dia memberikan kertas itu kepada Freya, "Ini adalah surat izin perdagangan, kau bisa menggunakannya ketika kau berdagang nantinya." Sean menjelaskan fungsi dari kertas yang dia tulis. Lalu setelah memberikan, Sean mengeluarkan plakat giok berwarna hijau gelap, "Dan ini plakat keluarga bangsawan kerajaan Felix, tidak perlu kujelaskan kau pasti mengerti fungsi dari plakat ini." Sean memberikan plakat itu kepada Freya, lagi-lagi membuat Freya dan Penasihat Keith terkejut hebat.
Freya hanya tidak menyangka Sean begitu cepat mempercayai ucapannya, padahal Freya orang orang asing yang tidak memiliki status apapun di kerajaan Felix, 'Mungkinkah karena identitasku?' Freya tidak yakin apa iya hanya karena identitasnya sampai segitunya Sean mempercayakannya.
Freya mengambil plakat giok itu lalu menggenggamnya dengan erat, 'Kepercayaanmu tidak akan kusia-siakan!' tegas Freya dalam hatinya. Plakat giok yang diberikan Sean bukanlah plakat biasa, plakat itu adalah plakat keluarga kerajaan yang mana jika si pemilik plakat menginginkan sesuatu cukup menunjukkan plakat itu saja semua orang pasti akan mematuhinya, tidak terkecuali pejabat kerajaan sekalipun. Plakat keluarga kerajaan hanya ada satu dan biasanya plakat itu dipegang istri Raja sebagai pemimpin ke dua dalam mengurus kerajaan. Sean mempercayakan plakat itu kepada Freya berarti dia telah menganggap Freya sebagai orang penting yang paling bisa dipercaya.
"Yang Mulia, aku tidak akan mengecewakanmu," ujar Freya tegas sambil memberi hormat anggun, sebagai bukti Freya tidak akan mengecewakan Sean dan pejabat lainnya.
"Ya, karena kau pernah menyetujui akan menjadi Ratu, sudah seharusnya plakat itu menjadi milikmu," balas Sean sambil tersenyum tipis. Tentu Sean tidak ingin Freya salah paham kepadanya kenapa Sean memberikan plakat itu, untuk memperjelas keadaan alasan inilah yang menurut Sean paling tepat, paling tidak Freya juga merupakan istrinya yang suatu saat nanti bisa saja menjadi Ratu kerajaan Felix.
Freya sedikit tertegun mendengar ucapan Sean, tapi dia tetap berusaha mempertahankan senyuman agar tidak dicurigai, 'Menjadi Ratu, ya? Jadi sekarang aku mengemban tugas sebagai Ratu.' Freya merasa tidak ada yang salah dengan ucapan Sean, alasan itu cukup masuk akal, jika Freya ingin melakukan sesuatu paling tidak dia harus memiliki posisi yang cukup membuat semua seorang mendengar, meski pun Freya belum secara sah menjadi Ratu paling tidak Sean sudah mengakuinya dan tentu akan didengarkan semua pejabat serta rakyat, 'Tapi, aku merasa terlalu cepat bagiku menjadi Ratu sedangkan aku tidak pernah berharap ingin menjadi Ratu. Aku hanya ingin membantu dan memastikan sesuatu, tidak disangka keadaan memaksaku harus seperti ini.'
Freya tidak ingin berlama-lama, suasana sedikit berubah ketika Sean mengungkit masalah Ratu, jadi untuk menghindari suasana canggung ini Freya segera keluar setelah dia memberi salam kepada Sean. Tepat setelah Freya keluar, Caroline dan Elis datang menghampirinya dengan raut wajah penasaran serta khawatir. Mereka telah berpikir akan terjadi sesuatu di dalam ketika Freya menyampaikan keinginannya pada Sean, tapi untungnya kekhawatiran mereka tidak terjadi.
"Nona, apakah Yang Mulia menyetujui permintaanmu?" tanya Elis dengan nada cepat serta pancaran mata berbinar.
Freya terdiam sejenak, raut wajahnya terlihat tegas seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuat Elis dan Caroline semakin penasaran dengan jawaban Freya. Freya mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan sebuah plakat giok kepada ke dua pelayannya itu, sontak saja mengejutkan Caroline dan Elis.
"No-Nona! Anda sekarang menjadi Ratu kerajaan Felix!?" ungkap Elis keras dengan pandang membulat besar, tampak tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Sebuah plakat keluarga bangsawan yang terkenal kini dimiliki majikannya, bagaimana mungkin tidak mengejutkan Elis.
"Belum tanpa penobatan resmi," balas Freya cepat membenarkan ucapan Elis. Tanpa penobatan resmi dari kerajaan, Freya belum bisa dikatakan sebagai Ratu, tapi meskipun begitu selama plakat itu ada bersamanya secara logis Freya adalah calon Ratu kerajaan Felix yang mana semua Rakyat ataupun pejabat harus menghormatinya. Freya menurunkan kembali plakat itu dan menggenggamnya dengan erat, 'Dia memberikanku plakat ini bukan sekadar menyetujui permintaanku ataupun karena aku calon Ratu kerajaan ini. Pandangannya tadi mengartikan sebuah makna lain. Sepertinya akan terjadi sesuatu dalam waktu dekat ini.'
***
"Apa Tuan Brendan yakin telah menyiapkan semuanya dengan baik? Pastikan tidak ada satu pun barang yang tertinggal." Bryan menatap tajam Brendan, sang Baronet kerajaan yang ditugaskan memeriksa semua keperluan barang yang akan Sean bawa. Bahkan subuh-subuh sekali Brendan telah sibuk di depan gerbang kerajaan bersama beberapa prajurit kerajaan.
Brendan tersenyum tipis membalas pertanyaan Bryan, "Sudah Jenderal Bryan, aku sudah pastikan tidak ada satupun barang Yang Mulia tertinggal," balas Brendan dengan nada tenang.
Bryan mengangguk pelan, "Baguslah, Tuan Brendan memang selalu bisa diandalkan." Bryan membalas senyuman Brendan dengan senyuman hangat seperti senyuman biasanya.
Tepat setelah itu, Sean datang bersama beberapa pejabat di belakangnya, "Jenderal Bryan, apakah semua telah siap?" tanya Sean dengan nada datar, sebagaimana wataknya ketika di depan umum, dingin seperti es.
Mendengar suara Sean mendekat, Bryan dan Brendan langsung berbalik kemudian memberi hormat kepada Raja mereka secara bersamaan.
"Salam Yang Mulia, semua telah siap, apakah kita akan berangkat sekarang?" jawab Bryan di akhir dengan pertanyaan balik.
"Ya, kita berangkat sekarang," balas Sean tegas, lalu dia berbalik menatap para pejabat yang berdiri di belakangnya. Para pejabat ini sudah berada di istana sejak pagi, tentunya mereka ingin mengantar kepergian pemimpin mereka.
Sean mengangkat wajahnya, memperlihat raut wajah tegas bak pemimpin sebenarnya. Ini adalah raut wajahnya yang seperti biasa, tegas dan dingin, "Untuk masalah kerajaan, selama aku pergi semua akan diurus Penasihat Keith, dia akan menggantikanku untuk sementara waktu. Apa ada yang keberatan?" Suara tegas serta tatapan dingin tertuju kepada semua pejabat di depannya. Tepat setelah Sean berbicara, seorang pria berambut hitam keluar dari barisan memberikan hormat kepada Sean, pria itu adalah Archduke Carlos.
"Yang Mulia, apakah anda hanya akan pergi bersama Jenderal Bryan? Kenapa tidak membawa Grand Duke Casey ikut bersama Yang Mulia untuk memastikan keamanan Yang Mulia. Aku rasa perjalanan kali ini mungkin saja akan berbahaya." Nada tegas namun berwibawa keluar dari mulut Archduke Carlos. Dia mengangkat pandangan setelah selesai berbicara, memberikan senyuman serta tatapan tenang kepada Sean.
"Apakah ini sebuah peringatan, Archduke Carlos?" balas Sean dengan nada dingin serta tatapan semakin meruncing.
Archduke Carlos sedikit tertegun namun dia tetap berusaha mempertahankan senyumannya, "Tentu tidak Yang Mulia. Aku hanya khawatir pada anda, tidak ada yang tahu bukan jika terjadi sesuatu di perjalanan anda nantinya. Undangan kali ini pasti tidak sesederhana yang kita lihat," balas Archduke Carlos mengklarifikasi maksud ucapannya.
"Oh ... aku tersanjung akan kekhawatiranmu, Archduke Carlos. Tapi dibandingkan dengan diriku, kerajaan Felix lebih membutuhkan perlindungan di saat aku pergi. Tidak ada yang tahu bukan, jika tiba-tiba saja Kerajaan ini diserang pemberontak?" Balasan kata Sean mengejutkan semua pejabat termasuk Archduke Carlos sendiri. Sedangkan di sisi lain, Grand Duke Casey yang sebelum geram dengan sandiwara Archduke Carlos kini mengulum senyum sinis, meledek pria itu setelah Sean menyinggung soal pemberontakan.
"Baik, saya mengerti Yang Mulia." Archduke Carlos mundur, kembali masuk ke dalam barisannya. Dia mundur bukan karena kalah, namun tidak ingin memperpanjang perdebatannya antara dia dan Sean. Yang terpenting dia telah menjalakan tugasnya dengan baik dan telah memastikan bahwa Sean telah mencurigai dirinya.
"Kalian tidak perlu khawatir, Jenderal Bryan dan Duke Dalbert akan ikut bersamaku. Aku yakin mereka berdua bisa menjagaku dengan baik hingga aku kembali nanti." Sean menegaskan kalimatnya untuk para pejabat lainnya tidak perlu mengkhawatirkan dirinya selagi dia berada di bawah perlindungan Jenderal Bryan dan Duke Dalbert semua akan aman terkendali.
Sean berbalik lalu berjalan menuju kereta kuda miliknya dan masuk ke dalam, Jenderal Bryan mengikutinya dari belakang dan tidak lama setelah itu seorang prajurit datang membawa seekor kuda berwarna hitam kepadanya. Bryan naik ke punggung kuda itu dan duduk dengan tegas di sana.
Kereta kuda telah siap, para pasukan juga telah siap, karena semua telah siap akhirnya kereta kuda melenggang meninggalkan kerajaan. Sementara itu kuda Bryan dan dua barisan pasukan juga mengikuti dari belakang.
Sean memandang kerajaannya untuk terakhir kalinya sebelum dia benar-benar akan meninggalkan bangunan besar itu. Sebelah perasaannya bercampur aduk, merasa sedikit tidak tenang untuk meninggalkan kerajaannya. Tepat ketika Sean melirik ke salah satu bangunan, seorang gadis bergaun merah dengan dua pelayan di dekatnya menatap ke arahnya.
'Selama aku pergi jaga dirimu baik-baik.'
***
Freya menatap lurus ke depan dengan posisi tubuh tegap, menatap satu kereta kuda yang melenggang pergi meninggalkan kerajaan. Kereta kuda itu adalah kereta kuda sang Raja yang akan pergi selama beberapa hari ke kerajaan tetangga menghadiri satu undangan penting. Cukup lama Freya berdiri akhirnya dia berbalik ketika kereta kuda itu sudah hilang dari pandangannya.
Freya sengaja tidak mengantar kepergian Sean sebab dia tidak ingin terlalu mencolok di depan banyak pejabat. Alasan lainnya, karena Freya sedang kesal dengan Raja ini. Sean tidak memberitahukannya bahwa Sean menerima undangan dari Kerajaan Thema beberapa hari yang lalu, membuat Freya merasa sedikit kesal. Berita penting seperti itu bagaimana bisa Sean tidak memberitahukan Freya sedangkan Freya tahu jelas undangan itu pasti tidak sesederhana yang semua orang pikirkan.
"Elis pergi beritahu Kepala Alison untuk segera menemuiku. Ada sesuatu hal yang perlu dibahas dengannya." Freya menatap Elis dengan tatapan tenang seperti biasa.
"Baik, Nona," balas Elis, setelah itu Elis langsung pergi meninggalkan Freya dan Caroline tanpa berbicara panjang lebar seperti biasanya, sebab Elis telah terbiasa bersikap sederhana dan tidak cerewet karena sikap dingin Freya.
Freya beralih menatap Caroline, "Apa kau telah menyiapkan semua yang kukatakan tadi pagi?"
Caroline mengangguk pelan membalas pertanyaan Freya, "Sudah, Nona."
"Baguslah, kalau begitu kita pergi sekarang." Freya melangkah anggun dengan raut wajah tenang diikuti dengan Caroline di belakangnya. Sekarang sudah waktunya Freya bergerak menjalakan rencananya, 'Sepertinya pertemuan semalam adalah peringatan terakhir darinya bahwa perlawanan tidak lama lagi akan terjadi. Entah hari ini, esok atau lusa, sekarang aku hanya perlu waspada.'
_____________
Author: Jangan lupa like dan beri hadiah gaes 🍃🙏 kalau suka cerita ini berikan dukungan kalian
smngat thor upnyaa
jngan lam² thor..ditnggu ya thor kelanjutannya😉