follow Ig 👉 dindin_812
- Novel ini sudah hadir dalam versi cetak, lebih rapi dan tentunya enak dibaca dan dipeluk kala rindu 🤭🤭🤭
Cerita ini mengandung unsur yang bisa bikin kamu nangis, tertawa, marah, baper juga sedih, jadi sebelum baca siapkan hati jiwa dan raga🤣
Tidak mencantumkan agama ya ....
Audrey Isvara tidak menyangka jika hidupnya jungkir balik tidak menentu. Dia baru saja kehilangan Ayah dan hampir kehilangan ibu, kemudian Audrey mendatangi seorang CEO muda bernama Ravindra Mahavir. Demi menyelamatkan ibu dari ambang kematian, Audrey menawarkan diri menjadi budak seumur hidup.
Namun, siapa sangka jika ternyata dirinya langsung memiliki suami hanya dalam hitungan hari, status pelayan yang ia sandang berganti menjadi nyonya besar istri CEO. Bagaimana itu bisa terjadi?
Pict from Pinterest, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Hana sadar
Audrey masih merasa kesal dengan sikap Ravin, ia bahkan sampai memukul-mukul tempat tidur meluapkan emosinya. pandangannya beralih ke atas nakas, ponsel yang diberikan Ravin tampak terus berderit. Audrey menyambar ponsel itu dan langsung menjawab panggilan masuk yang tertera di layar ponsel itu.
"Halo!"
Audrey terdiam sesaat, tapi sedetik kemudian matanya terlihat berbinar ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar, hingga tanpa terasa air mata luruh dari kelopak mata gadis itu. Itu bukan air mata kesedihan, itu adalah air mata kebahagiaan. Audrey terlihat menganggukkan kepala sebelum mengakhiri percakapan itu.
Audrey segera turun dari ranjang, ia menyambar jaket yang tergeletak di sofa. Gadis itu berlarian keluar dari kamar dengan senyum yang merekah penuh kebahagiaan. Namun langkahnya terhenti di bawah anak tangga ketika melihat Bu Metha sudah berdiri di sana.
"Anda mau kemana?" Tanya Bu Metha.
"Saya harus ke Rumah sakit," jawab Audrey yang tidak bisa menyembunyikan kebagiannya.
"Tapi tuan muda melarang Anda pergi," kata Bu Metha.
"Aku mohon, Bu! Aku benar-benar harus ke Rumah sakit," bujuk Audrey.
"Maaf, saya benar-benar tidak bisa mengizinkan Anda pergi." Bu Metha tetap melarang.
"Ayolah Bu! ini benar-benar penting!" bujuk Audrey lagi.
"Tapi saya benar-benar tidak bisa mengizinkan Anda pergi tanpa seizin tuan muda," kata Bu Metha masih tidak memberi izin Audrey pergi.
Audrey mencebik 'kan bibir, ia merasa kesal karena tidak bisa pergi. Gadis itu merogoh kantong jaketnya mengambil ponsel untuk menghubungi Ravin. Beberapa kali mencoba, tapi panggilannya tidak ada yang terhubung.
"Dasar iblis tampan! Kamu maunya apa, sih?!" teriak Audrey keras, membuat Bu Metha dan pelayan lain yang mendengar sampai menghela napas.
Audrey kembali menaiki anak tangga menuju kamar, ia sampai. membanting pintu karena begitu kesal. Gadis itu tampak mondar mandir di dalam kamar, sesekali ia menatap jam yang terpasang di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, tapi belum ada tanda-tanda Ravin pulang.
Audrey duduk di sofa dengan perasaan yang gelisah, hingga pandangannya langsung terarah pada pintu ketika ia mendengar suara gagang pintu berputar. Gadis itu langsung bangkit begitu pemuda yang sudah ia tunggu sejak tadi akhirnya pulang.
"Akhirnya kau pulang," ucap Audrey menghampiri Ravin dengan senyum mengembang.
Ravin yang merasa jika Audrey terlampau bahagia setelah pertengkaran mereka malah merasa tidak senang. Ia melepas jasnya dan menarik kasar dasinya kemudian melemparkannya serampangan.
"Kenapa kamu? Tampaknya bahagia sekali? Baru dapat berondong lagi?!" cibir Ravin tanpa menatap Audrey.
mendengar perkataan Ravin, membuat senyum Audrey seketika hilang. Ia bisa mencium bau alkohol dari napas pemuda itu.
"Kamu mabuk?" tanya Audrey dengan nada biasa.
"Hah ... mau mabuk atau tidak, memang apa urusannya denganmu?!" jawab Ravin dengan nada sedikit ketus.
"Memang tidak ada urusannya denganku, percuma juga aku bertanya!" Hilang sudah keinginan untuk bersikap manis kepada pemuda itu.
Audrey tampak bersungut kesal. Mereka malah bersitegang lagi. Ravin memegangi keningnya, kepalanya begitu terasa berat.
"Sial! Pak tua itu memberiku alkohol terlalu banyak!" umpat Ravin dalam hati.
Ravin berjalan ke arah ranjang, iaq mendudukkan dirinya di tepian ranjang seraya menundukkan kepala kemudian memegangi keningnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ravin pada akhirnya, nada suaranya sedikit ia rendahkan.
Mendengar suara Ravin yang terdengar pelan, Audrey memberanikan diri melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan pemuda itu.
"Aku ingin meminta izin," ucap Audrey dengan sedikit rasa takut jika Ravin kembali membentak.
"Izin apa?" tanya Ravin lagi yang masih memijat keningnya.
"Aku ingin ke Rumah sakit." Audrey memberanikan diri mengungkapkan keinginannya.
Mendengar perkataan Audrey membuat Ravin langsung mendongak seakan tak percaya. Sadar jika Ravin terlihat tidak senang, Audrey langsung bersimpuh di depannya.
"Aku mohon izinkan aku pergi, mamah sudah sadar dan dia ingin melihatku," ucap Audrey dengan cepat sebelum Ravin melarangnya.
Melihat Audrey yang sampai bersimpuh hanya untuk meminta izinnya, membuat hati Ravin melunak.
"Pergilah!" Ravin masih memegangi kepala.
"Benarkah? Terima kasih!"
Audrey langsung bangkit, ia berjalan ke arah sofa untuk mengambil jaket.
"Tunggu!" Ravin berdiri menatap Audrey yang terhenti ketika mendengar suaranya.
"iya," sahut Audrey yang tentu saja dengan nada lembut.
Ravin mendekat pada Audrey, ia menyentuh sisi wajah gadis itu begitu sampai di hadapannya. Pemuda itu mencium bibir Audrey dengan lembut, gadis itupun tidak menolak, ia membiarkan Ravin menyesap bibirnya.
"Maaf tidak bisa mengantarmu, tapi biarkan Malik ikut denganmu, oke!" Ravin mengusap lembut sisi wajah Audrey begitu ia melepas tautan bibirnya.
Audrey mengangguk tanda setuju, baginya asal di perbolehkan pergi meski di kawal seratus orang pun ia tidak akan menolak.
Gadis itu langsung berlalu pergi dengan gembira, serta mencari Malik untuk mengantarnya ke Rumah sakit.
Audrey tampak sedikit berlari begitu sampai, ia menyusuri koridor agar segera ke ruangan Hana di rawat. Malik dengan cepat mengikuti langkah gadis itu, selain mengantar ia disuruh memastikan jika Audrey benar-benar kesana hanya untuk melihat mamahnya.
Begitu membuka pintu kamar inap Hana, Audrey tersenyum bahagia mendapati sang mamah masih duduk setengah berbaring menunggu dirinya, alat penunjang kehidupan yang tadinya terpasang di bagian tubuh wanita yang pernah melahirkan dirinya itu sudah di lepas sebagian.
"Mah!" Audrey menghamburkan diri masuk dan langsung memeluk tubuh lemah Hana.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Hana dengan nada lemah seraya mengecup pelipis gadis itu.
"Aku baik. Aku merindukan mamah." Audrey memeluk erat tubuh Hana, air mata sudah tidak terbendung lagi, semua tercurah bercampur rasa bahagia.
Malik yang baru masuk langsung terharu melihat ibu dan anak itu saling berpelukan, ia hanya berdiri menatap mereka yang tengah mencurahkan rasa rindu.
Mata Hana tertuju pada Malik yang berdiri disana, ia mengurai pelukannya dan menatap mata Audrey yang sudah di banjiri air mata.
"Siapa dia?" tanya Hana meski dengan nada lemah.
Audrey langsung menoleh pada Malik, pemuda itu sudah ingin memperkenalkan diri hingga Audrey menyerobot ucapannya terlebih dahulu.
"Dia temanku, namanya Malik," ucap Audrey.
Gadis itu menatap Malik dengan mengedipkan matanya, memberi isyarat agar pemuda itu mengiyakan ucapannya.
"Oh ya, saya Malik Tan-te, temannya Au-drey," jawab Malik dengan sedikit tergagap dan rasa canggung karena harus memanggil kekasih tuannya itu dengan nama panggilan langsung.
"Oh, terima kasih sudah mengantarnya kemari," ucap Hana lemah lembut.
"Sama-sama." Malik mengulas senyum dengan sedikit mengangguk.
"Sekarang terbukti dari mana wajah cantik nona Audrey berasal, gen tidak menipu siapapun," gumam Malik dalam hati.
..._...
..._...
..._...
..._...
..._...
...Terima kasih atas dukungannya...
...Terlebih buat like komennya...
...😘😘😘...
...Othor Galau...
...Kalian Vote banyak...
...Eh, yang kehitung cuman 150🤧🤧...
...It's oke...
...Terima kasih dukungannya 😘...
Anak aku nomor 2 lelaki,lahiran juga Vacum, karena udah lemah, Dan sebelum lahiran gak ada selera utk makan apa pun..