Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membicarakan Keputusan
"Jadi, bagaimana keputusanmu Luna?" Dita bertanya pada gadis yang duduk di hadapannya dengan rambut yang tergerai.
Dita sengaja memesan private room untuk mereka bertiga agar bisa bebas mengobrol.
"Nyonya Dita, saya terima tawaran Nyonya!" Luna berkata dengan tegas dan mantap, tak ada keraguan pada netra bening gadis lugu tersebut.
"Kamu siap dengan semua konsekuensinya?" Kali ini Edric yang bertanya untuk memastikan. Sekalipun dia sudah mendengar jawaban Luna saat mereka bicara berdua di kampus, Edric seakan memiliki rasa tak suka saat Luna dengan mudahnya menerima permintaan Dita.
"Saya sudah paham, Pak!" jawab Luna lugas.
"Kamu bersedia menyembunyikan pernikahan kita? Itu memungkinkan kamu harus cuti kuliah selama kamu hamil, sementara ini sudah semester terakhir kamu? Kamu tidak sayang dengan itu?" tanya Edric lagi.
Luna menggelengkan kepalanya tanpa ragu.
Edric pun menghela napasnya, ia masih merasa belum puas dan bertanya lagi, "Kamu harus ingat, kamu akan kehilangan hak asuh anakmu setelah melahirkan! Apa kau bisa dengan mudahnya melepaskan anakmu?" Edric sedikit ngotot saat bertanya.
"Aaah, itu ... emm ...." Luna kebingungan menjawab Edric karena gadis itu sendiri belum tahu bagaimana rasanya hamil, melahirkan, dan punya anak.
"Sudahlah Edric! Kenapa malah jadi kamu yang khawatir?" Dita memotong sebelum Edric sempat bertanya lagi.
Edric membuang mukanya, dia masih belum sanggup menghadapi Dita dan rencana gilanya. Bahkan Edric sendiri belum sempat berbaikan dengan istrinya itu sejak perdebatan mereka tempo hari.
"Aku sangat berterima kasih atas keputusanmu." Dita menggenggam tangan Luna yang ada di atas meja.
"Saya yang justru berterima kasih karena dengan tawaran Nyonya, saya bisa mengatasi permasalahan ekonomi keluarga saya," jawab Luna.
Edric menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ini gila," gumamnya perlahan.
"Luna, besok kamu lakukan medical check up, ya! Biar Edric yang menemanimu!"
"Ba-baik, Nyonya!"
"Oh, ya! Satu lagi, selama pernikahan saya menyediakan tempat tinggal untukmu, kamu harus tinggal di sana, agar tidak banyak tetanggamu yang curiga!" ujar Dita.
Sementara itu, Edric yang terlihat tak suka, dia pun berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dia ingin menolak keinginan gila istrinya, dia ingin marah, namun ancaman Dita untuk meninggalkannya membuatnya menuruti segala keinginan wanita itu.
"Saya harus pindah, Nyonya?" tanya Luna.
"Iya, Luna! Kau tidak boleh keberatan." Dita tak memberi ruang bagi Luna untuk menawar masalah tempat tinggal.
"Lalu bagaimana dengan ibu dan bapak saya? Mereka pasti merindukan saya?" Wajah Luna berubah khawatir.
"Hihi." Dita tertawa kecil, ia menutupi senyum manisnya dengan punggung tangan yang seputih susu itu. "Semua orang tua yang memiliki anak perempuan, sudah tau akan resiko ditinggalkan jika anak perempuannya menikah."
Luna menunduk sedih.
"Luna, selama kamu hamil, kamu harus menghindari bertemu siapapun. Kau tidak mau kan, orang-orang curiga jika kau sudah hamil di luar nikah?" Dita berusaha untuk membujuk Luna.
"Oh, iya! Selain harus cuti kuliah dan pindah tempat, kamu juga harus resign dari tempat kerjamu! Karena kebutuhan hidupmu sudah ditanggung oleh Edric."
Perkataan Dita kali ini benar-benar membuat Luna shock!
"Kalau resign, itu artinya saya harus benar-benar keluar dari sana? Setelah melahirkan, kan saya sudah tidak bersama kalian lagi. Bagaimana jika saya susah mendapat kerja?" tanya Luna khawatir.
"Saya sudah bilang padamu Luna, pikirkan baik-baik sebelum terima tawaran ini!" Suara Edric terdengar sangat dingin dan tegas saat mengingatkan Luna untuk kesekian kalinya.
***
Bersambung ...