Kintan terpaksa menikah dengan Aksara, karena suatu alasan menyebabkan keputusan itu terjadi. Ketika Nila yang merupakan istri pertama Aksara mengalami kecelakaan dan dalam keadaan tidak baik-baik saja, meminta Kintan menyanggupi permintaan terakhirnya itu, sekaligus merawat putranya yang masih kecil.
Tepat dua hari setelah pernikahan Kintan dan Aksara terjadi, Nila mengembuskan napas terakhir. Saat itu pula, Kintan menjadi istri satu-satunya dari Aksara. Namun kenyataan justru membuat pernikahan mereka tidak bahagia. Aksara masih belum sanggup melupakan mendiang Nila dan menilai Kintan tak sebanding dengan istri pertamanya itu. Permintaan cerai sering terucap dari bibir Aksara agar Kintan pergi dari sisinya. Di sisi lain, Kintan justru bertekad untuk bertahan. Karena pernikahan itu adalah amanat dari istri pertama suaminya.
Lantas, apakah Kintan mampu membuat hati Aksara luluh? Serta mendapat haknya sebagai seorang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21-Penjelasan David
David menahan lengan Kintan, pada saat wanita itu hendak masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak memberikan izin bagi Kintan untuk pergi begitu saja. Tatapannya yang masih memancarkan rasa cinta, melekat pada wajah terkejut milik wanita itu.
Seperti yang Kintan kira sebelumnya, hal semacam ini akan terjadi. Ia bertemu David dan bahkan ditahan oleh pria itu. Membuat perasaannya yang sempat layu mau tak mau harus kembali tumbuh lantaran rasa rindu. Namun, Kintan bukan wanita bodoh yang akan memelas di hadapan sang mantan. Ia harus tangguh dan kuat, membuktikan jika dirinya sudah tidak butuh cinta lama.
“Lepasin aku, Dav. Ini terlalu sakit untuk kulitku,” ucap Kintan sembari mengibaskan tangan David, meski tetap tidak berhasil terlepas.
“Aku ingin bicara, Tan.” David menarik lengan Kintan, nyaris membuat wanita jatuh ke dalam pelukannya. Jika salah satu tangan Kintan tidak mendorong pundaknya, sudah pasti hal itu terjadi. “Sebentar saja.”
“Aku menolak, semua sudah jelas dan kamu tahu itu. Aku sudah menikah secara resmi, lalu apa lagi yang perlu dibicarakan?” tanya Kintan berapi-api.
“Aku ingin menjelaskan semuanya, Kintan. Berharap dengan begitu, kamu mengerti dan memberiku kesempatan lagi. Aku tahu kamu masih mencintaiku.”
Sekali lagi David menarik lengan Kintan, kemudian menangkap pinggang ramping wanita itu. “Aku sungguh-sungguh, Kintan. Aku akan melepaskanmu setelah kamu bersedia mendengar penjelasanku,” ucapnya.
Kintan mati kutu. Debaran di jantungnya sulit diredam dan sudah pasti terdengar oleh telinga sang mantan. Sementara mengelak tidak akan berarti lagi, hanya akan sia-sia, bahkan bisa membuat David semakin nekad padanya. Apalagi tempat keberadaan mereka di baseman yang begitu sepi, sebab jam operasional masih berjalan.
Setelah memutar otak untuk membuat keputusan, Kintan mendorong tubuh David dengan keras. Beruntungnya, kali ini ia berhasil melepaskan diri dari pria itu. Sementara tubuhnya masih saja panas dingin merasakan debaran jantung yang masih sangat cepat. Sejujurnya, hati Kintan hampir goyah. Ia nyaris membalas pelukan pria itu, serta membisikkan kata rindu. Namun ketika paras Gibran dan Aksara terlintas di benaknya, Kintan bisa menghentikan perasaan pribadinya.
“Kita bicara di sini saja,” ucap Kintan sembari memalingkan wajahnya ke tempat lain.
David memicingkan mata, menyelidiki setiap gerakan yang dilakukan oleh Kintan. Ia tahu jika wanita itu tengah salah tingkah, memberi bukti jika masih ada perasaan yang tersisa.
Tak lama setelah itu, David kembali menarik lengan Kintan secara paksa. Ia memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya. Kemudian, ia bergegas masuk ke dalam ruang kemudi. Tanpa persetujuan dari Kintan, David melaju mobil itu dan entah ke mana akan bertepi.
“Di sana terlalu panas, kita cari tempat yang lebih nyaman,” ucap David.
Kintan menggertakkan gigi. “Aku nggak pernah menyukai pemaksaan, Dav. Aku harus pulang, sebentar lagi putraku pulang sekolah,” tandasnya.
“Dia bukan putramu, Kintan, dia anak orang lain. Anak seorang pria yang tidak pernah menyukai keberadaanmu! Dan tentunya akan ada kerabat yang lebih peduli pada bocah itu.”
“Apa? Haruskah kamu berkata sekejam itu? Dia anak kecil, dia putraku dan kamu nggak berhak mengatakan hal seperti itu! Kamu kurang ajar!”
“Oke, aku beri waktu kamu buat mengabari kerabatmu agar menjemput anak yang kamu akui itu.”
“Turunkan aku saja, Dav!”
“Enggak akan sebelum kita bicara.”
“Sejak kapan kamu bersikap sekeras ini, David?!”
“Sejak aku kehilangan kamu, Kintan!”
Kintan tergelak. “Kamu sendiri yang membuangku, Dav. Itu alasan konyol.”
Hati David terenyak mendengar perkataan Kintan. Memang benar, kehilangan Kintan merupakan kesalahannya. Hanya saja semua yang ia lakukan kala itu adalah demi Kintan, agar wanita itu tidak terjebak harapan dalam kurun waktu yang lama. Namun nyatanya, David justru terjebak oleh keputusannya sendiri. Kintan sudah menikah, sementara ia belum bisa melupakan wanita itu.
Di sebuah area parkir milik kafe ternama, David menepikan mobilnya. Ia segera turun, kemudian menuju pintu di mana Kintan duduk di dalamnya. Namun sebelum David membukakan pintu untuknya, Kintan sudah turun terlebih dahulu. Mereka berjalan memasuki kafe tersebut tanpa suara, selain derap kaki atau deru kendaraan yang melintas di jalan raya.
“Mau pesan apa, Kintan?” tanya David sesaat setelah mendudukkan diri di kursi yang tersedia, sementara tangannya sibuk memegang buku menu.
Kintan menggeleng. “Tak perlu, aku ingin pembicaraan ini selesai dengan cepat,” jawabnya.
“Baiklah.” David menghela napas. “Aku akan menjelaskan kenapa aku meninggalkanmu.”
“Silakan, aku harap secara singkat saja.”
“Ayahku sakit keras, Kintan, empat tahun yang lalu. Aku terpaksa terbang ke New Zealand demi merawatnya. Kamu tahu, 'kan, beliau berpisah dengan ibuku sejak lama? Mama menikah lagi di sini dengan pribumi.”
Kintan mengerjab cepat. Rasa terenyuh pun melanda hatinya. “Lalu?”
“Tiga tahun kita bersama, dan tentu menjadi hal sulit bagiku untuk membuat keputusan itu. Aku nggak mau kamu sedih, akan lebih baik kamu terluka dan cepat melupakanku, Kintan.”
“Setidaknya kamu bisa menceritakan fakta yang ada, Dav! Aku bisa mengerti! Kamu bilang pergi ke sana demi pendidikan, dan aku berharap kamu datang kembali selama ini, sebab aku yakin kamu masih mencintaiku.”
“Kamu benar, aku masih sangat mencintaimu. Dan soal pendidikan itu juga benar, ayahku pemilik perusahaan tambang di sana. Aku juga sekolah, demi menggantikan posisinya. Aku satu-satunya putra yang dimiliki Papa, Kintan.”
Kintan terdiam. Cerita ini baru ia dengar. Seingatnya David pergi karena pendidikan, kemudian memutuskan hubungan dengannya karena takut ia menunggu terlalu lama.
Empat tahun yang lalu, Kintan juga melihat bagaimana David kesulitan melepas tangannya. Bagaimana pria itu begitu erat memeluk tubuhnya sembari menitikkan air mata. Kenyataan yang tersebut membuat Kintan merasa yakin pada pilihannya untuk menunggu, bahkan jika harus bertahun-tahun lamanya.
“Aku takut aku nggak bisa kembali ke Indonesia, Kintan. Aku takut kamu terjebak dalam harapan tak pasti,” ungkap David.
Kintan menghela napas sebanyak mungkin. Sesak terasa, suaranya pun enggan dikeluarkan untuk membalas ucapan pria itu. Telinganya seolah tuli oleh suara lain, selain ucapan dan hela napas milik David. Keadaan seperti ini biasanya akan berakhir menjadi tangisan. Namun, Kintan tidak mau. Ia mendongakkan kepala, menahan genangan air mata agar tidak meluruh membasahi pipinya.
“Aku datang lagi karena nggak sanggup melupakanmu, apalagi ketika aku mendengar kabar jika kamu menungguku selama ini. Kamu memutuskan enggak menikah dengan orang lain. Kintan, aku tahu masih ada rasa cinta di antara kita,” lanjut David.
Kintan menelan saliva dengan susah payah. “Terlambat ...,” lirihnya nyaris tak terdengar.
David menggeleng cepat. “Enggak, Kintan. Kita bisa memulainya lagi, aku ... aku akan menunggumu sampai kamu pantas untuk aku miliki. Kita terbang ke New Zealand, dan melupakan pernikahan paksa itu.”
Kintan menundukkan kepala. Ia menggigit bibirnya dengan kuat. Pada akhirnya, air mata yang ia tahan dengan sekuat tenaga menggenang membasahi pipinya. Pilihan yang ada di depan matanya terlalu sulit. Ia masih mencintai David, sementara Aksara mulai membuka hati padanya. Antara mantan kekasih atau suami yang belum ia cintai? Kintan tidak bisa membandingkan mana yang lebih besar untuk diprioritaskan.
***
Sudah sepuluh menit lamanya, Aksara berada di dalam toilet kantornya. Ia berjalan mondar-mandir, karena mencemaskan sesuatu. Sejak pukul sepuluh, ia menghubungi Kintan untuk mengingatkan wanita itu agar menjemput Gibran, tetapi teleponnya tidak diangkat sama sekali. Alhasil, ia terpaksa menghubungi Ningsih agar menjemput sang putra.
Hanya saja, kecemasan perihal Gibran yang sudah usai, beralih pada Kintan yang entah di mana. Jika wanita itu benar-benar bersama sang mantan, apa yang tengah mereka lakukan? Ketika bayangan romantis muncul tiba-tiba di benak Aksara, ia menghentikan gerakan kaki, mengerjabkan mata, menggertakkan gigi, melebarkan lubang hidung, serta mengepal kuat.
“Kintan ... kamu benar-benar keterlaluan! Apa kalian sedang berpelukan dan mengabaikanku? Mm ... mengabaikan putraku maksudku?” Kali ini Aksara melotot. Sementara rasa geram semakin pekat ia rasakan. Ia harus tahu di mana dan apa yang Kintan lakukan.
Benar saja, tanpa memedulikan jam kerja yang masih berjalan, Aksara keluar dari toilet itu. Kemudian, ia menuju ruang atasannya untuk meminta izin pulang cepat karena ada kendala di dalam keluarga.
Setelah mendapat surat izin keluar, Aksara bergegas ke baseman. Ia mencari keberadaan mobilnya. Langkah kakinya begitu terburu-buru. Selain rasa cemas mengenai kemesraan Kintan dan sang mantan, sebenarnya ia tidak mau hal yang dialami Nila terjadi pada Kintan karena ia terlalu mementingkan pekerjaan.
Aksara melaju mobilnya dengan cepat, setelah menyerahkan surat izin pada petugas keamanan.
***
Like dooong!
aku salut dengan novel yang berani menghancurkan PEBINOR
karena faktanya kebanyak novel begitu memuja pebinor
*lelaki lain yang baik pada kintan di puja2 dan dibilang lelaki baik2 tapi wanita lain yang baik pada aksara dilaknat dan dibilang pelakor dan janda gatal lah (kalian waras)
*kintan intraksi dengan lelaki lain dan menyambut baik kebaikan pria lain dibilang dibenarkan tapi aksara hanya mendengarkan wanita lain bicara saja sudah dilaknat dibilang tidak tegas (kalian sehat)
wahai wanita (reader jablay) pakai otak kalian sikit saja biar tidak kelihatan munafiknya
Lama2 juga tenang...
❤❤❤❤
pelakor dipandang hina, menjijikan, apapun dia buat pasti salah, dipermalukan, diperlakukan kasar, dan akhirnya dibinasakn
pebinor dipandang lelaki cinta tulus, bebas menghajar suami orang dan itu tidak dipermasalahkan, bebas berbuat semaunya dan pada akhir diperlakukan lembut supaya iklas, sosok terlalu di spesial kan dan akhir bisa merasakan kebahagiaan
sudut padang wanita jablay dan egois, pelakor menjijikan sedangkan pebinor pria sejati dengan cinta tulus harus dihargai
sudut pandang wanita sejati dan setia, pelakor dan pebinor sama2 mahluk menjijikan dan harus diperlakukan sama