Pradina Hartono seorang gadis sederhana. Yang berjuang untuk kehidupan keluarganya agar lebih baik. Bekerja paruh waktu sambil berkuliah di perguruan tinggi swasta di Kota Y. Dina begitu dia disapa selalu berpenampilan sederhana.
Dina hanya memiliki ibu dan seorang adik. Ibunya hanya seorang pedagang kecil-kecilan di rumahnya. Sementara Ayahnya telah berpulang ke pangkuan yang maha Pencipta saat Dina duduk di bangku SD kelas 5. Setelah itu Dina terus berjuang mencari beasiswa agar dirinya bisa bersekolah.
Rionaldo Wijaya seorang pengusaha muda sukses. Namun kesuksesannya tak semulus kisah cintanya. Aldo begitu dia disapa harus kehilangan istri dan calon anaknya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu Aldo selalu menghindari wanita dan bersikap dingin kepada setiap wanita yang ingin mendekatinya.
Seperti apa ceritanya??? Kita lanjut ya... Jangan lupa Like, komen dan kasih tips nya ya bagi yang punya. 🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
Dina terus berjalan tanpa peduli orang-orang sedang memperhatikannya. Dina mencoba menghapus rasa yang sudah terlanjur ada namun semakin Dina ingin melupakan semakin sesak terasa di dada.
Dina mampir di sebuah warung kecil untuk membeli minuman. Dina menghapus sisa tetesan air mata di pipinya. Setelah mendapatkan apa yang dia mau Dina pun berjalan kembali tanpa peduli jarak yang dia tempuh.
Tin...Tin... Terdengar suara klakson mobil namun tak Dina hiraukan. Dina berjalan sambil asik melamun. Deru kendaraan lalu lalang tak di hiraukannya lagi.
Aldo menepikan mobilnya dan mengejar Dina. Aldo menarik lengan Dina dan langsung membawanya kedalam pelukannya. Dina mengenali bau parfumnya. Dina pun hanya diam merasakan pelukan Aldo.
"Jangan pernah pergi lagi dari aku." Bisik Aldo di telinga Dina. Namun Dina hanya diam tak memberi jawaban. Dina takut kalo ini adalah halusinasinya.
Dina melonggarkan pelukannya menatap manik mata Aldo. Matanya berkaca-kaca. Dina mencoba menyentuh pipi Aldo menyakinkan bahwa ini bukanlah halusinasinya.
Aldo menggenggam tangan Dina yang menyentuh pipinya. "Ini nyata sayang." Kata sayang yang keluar dari mulut Aldo mampu menghangatkan hati Dina. Dina pun kembali menghambur kedalam pelukan Aldo.
"Kita pulang yah." Kali ini Dina menjawab dengan anggukan.
Aldo membawa Dina masuk kedalam mobilnya. Aldo memutar kembali mobilnya menuju rumahnya.
"Mas, aku mau ke kosan aja." Ucap Dina.
"Baiklah." Aldo pun memutar kembali arah mobilnya menuju kosan Dina.
Sampai di depan kosan Dina membuka sitbeltnya. "Makasih ya Mas." Aldo menahan tangan Dina yang akan mencoba membuka pintu mobil. Aldo kembali memeluk Dina.
"Jangan pernah berfikir yang tidak-tidak. Cuma kamu satu-satunya penghuni hati aku."
Blush... Dina merasakan sesuatu yang tak biasa dihatinya. Dan mungkin pipinya akan terlihat memerah. Dina pun menyelusupkan wajahnya di dada Aldo.
Aldo pun semakin mengeratkan pelukannya. "Masuklah akhir pekan ini kita ke kota S menemui Ibumu."
Dina mendongakkan kepalanya menatap Aldo seakan bertanya Kamu yakin? Aldo pun menjawab dengan anggukan tatapan Dina seolah mengerti apa yang dimaksud Dina.
"Masuklah sayang. Makan malam nanti aku jemput lagi yah. Dandan yang cantik."
Aldo meninggalkan kosan Dina. Setelah masuk ke dalam kamarnya Dina hanya membaringkan tubuhnya di kasur busa sederhana yang cukup nyaman baginya. Dina mengbil ponselnya dari tas. Dan mencoba mengirim pesan pada Ibunya.
💌 Assalamu'alaikum Bu...
💌 Wa'alaikum salam. Mba, apa kabar mu Nak?
Ibu langsung membalas chat dari Dina.
💌 Alhamdulillah Mba sehat Bu. Kabar ibu gimana?
💌 Alhamdulillah baik Nak.
💌 Bu, jika ada laki-laki yang mau melamar Dina bagaimana?
💌 Kenapa kamu tanya Ibu sayang. Tanyalah pada hatimu apakah Mba yakin dengan lelaki tersebut.
💌 Ibu akan menyetujuinya?
💌 Apapun yang terbaik untuk anak-anak Ibu tentulah ibu setuju. Siapa Lelaki itu?
💌 Nanti Dina bawa menemui Ibu jika Dina sudah yakin ya Bu.
💌 Iya Nak. Datanglah kapanpun.
Setelah berbalas pesan dengan Ibunya Dina pun mandi. Saat Dina mandi ponselnya berbunyi namun Dina tak mendengarnya. Sipenelfon pun mulai resah karena panggilannya tak di hiraukan.
Setelah selesai mandi Dina mendengar ketukan pintu begitu keras. Masih dengan Lilitan handuk dikepalanya Dina membuka pintu kamarnya. Setelah pintu kamar terbuka Aldo langsung menghambur memeluk Dina.
"Mas, ada apa?" Tanya Dina polos.
"Kamu kemana sih? Kenapa telfon dari Mas ga di angkat?"
"Dina Mandi Mas." Jawabnya.
"Eh, maaf semuanya sudah mengganggu. Dina ga apa-apa ko." Ucap Dina pada semua penghuni Kos yang ikut panik mendengar ketukan pintu Aldo.
"Sepertinya Mas ga bisa nunggu lama lagi deh. Kita pulang ke kota S malam ini ya."
"Apa?!"
"Kenapa? Kamu ga suka?"
"Bukan begitu Mas. Kenapa mendadak?"
"Mas ga bisa lagi kamu acuhkan seperti tadi."
Dina menghela nafasnya. Menuntun Aldo untuk duduk di tepian ranjang tempat tidurnya.
"Mas,, bukankah setelah kita pulang pun kita ngga bisa langsung tinggal satu rumah."
"Pokonya Mas mau secepatnya. Bila perlu besok ya besok."
Dina hanya diam menatap Aldo. Aldo masih dengan segala amarahnya. "Baiklah kita kerumah Ibu akhir pekan ini ya." Bujuk Dina.
"Ngga pokonya besok kita ke rumah Ibu."
"Tapi aku harus bekerja Mas."
"Kamu resign saja. Mas ga bisa jauh-jauh dari kamu."
"Tapi Mas,"
"Kamu tidak mau berdekatan terus dengan Mas?"
"Resign kan perlu proses Mas. Ngga bisa sekarang pengajuan sekarang ngga kerja."
"Bisa. Nanti Mas bilang sama pengurusnya."
"Hmm... Baiklah."
Dina pun hanya bisa pasrah dengan ke protektifan Aldo.
Terima kasih Rider setiaku yang sudah setia membaca ceritaku. Jangan lupa like dan Koment ya. 🙏🙏🙏