Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.
Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.
Pergi.
"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."
Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.
"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.
Carla tersenyum kecut.
"Mati atau tetap bersamaku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan tak berarti
Carla mengeratkan selimutnya sambil mencari posisi ternyaman. Sesekali ia meremas baju tepat di bagian dadanya, sambil mengusap liquid bening yang mengalir begitu saja dari matanya. Kemudian gadis itu bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju balkon kamarnya. Carla menatap langit sambil tersenyum. Rembulan begitu terang hari ini, seolah meminta pengagumnya untuk menatap penerang malam pengganti matahari itu.
Gadis itu mendudukkan dirinya pada sebuah ayunan gantung yang terletak disana. Matanya kembali menatap ke rembulan, yang sekarang sudah ditemani oleh jutaan bintang. Carla tersenyum, dan meraih mug berisi coklat hangat dan menyesapnya perlahan. Ayunan yang didudukinya bergerak perlahan, juga semilir angin yang berhembus pelan membuat hatinya terasa damai.
Tiba-tiba saja ia kembali teringat akan kisah novel yang sempat di bacanya tadi, yang membuatnya kembali mengeluarkan air mata. Membaca adalah hobinya, namun hanyut dalam ceritanya adalah kelemahannya. Carla kembali meremas baju tepat di bagian dadanya, bagaimana jika ia merasakan hal yang sama?
Pertanyaan itu terus menghantui pikirannya, kisah seorang gadis yang begitu menyayat hatinya. Carla menggosokkan kedua tangannya, dan sesekali meniupnya. Udara semakin dingin, namun ia tak ingin beranjak dari tempatnya. Ia kembali menyesap coklat hangatnya, dan ternyata mug nya kosong. Carla menghela nafas pelan, kemudian beranjak berdiri untuk kembali ke kamarnya. Baru dua langkah, ia merasakan tarikan yang begitu kuat menariknya dari belakang.
Carla tercekat, hingga nafasnya terasa terhenti. "K-kau?"
"Kaget, heh?"
"A-apa yang kau lakukan disini?"
"Puas nangisnya?" tanyanya balik dengan datar, seolah pertanyaan yang terlontar dari gadisnya itu tidak penting.
Lelaki itu mengangkat tangannya, dan membawanya ke wajah gadisnya yang terlihat sembab kemudian mengusapnya kasar.
"Aww...a-apa yang kau lakukan?" pekik Carla sembari menepis tangan itu kasar.
"Aku benci melihat ini!"
Steve kembali mengusap jejak air mata di pipi gadisnya dengan kasar, hingga wajah Carla terlihat memerah. "Sakit Steve!!" teriak Carla lantang.
"Lalu untuk apa kau menangis hah?!"
Carla memalingkan wajahnya, sambil menggigit bibirnya sendiri. Apa yang harus ia katakan sekarang? Ia benar-benar tidak menduga kekasihnya itu akan datang tiba-tiba seperti ini. Terlebih, entah dari mana datangnya lelaki itu. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka tamatlah sudah kisah hidupnya.
"A-aku tidak menangis." lirih Carla pelan.
"Tidak?" Steve menarik dagu Carla agar kembali menatapnya. "Kau yakin sayang?" tanyanya dengan seringai yang tercetak jelas di ujung bibirnya. "Lihatlah disana!" Steve memutar kembali dagu Carla kasar, menghadap ke sudut di balkon itu.
"A-apa?" lirih Carla tidak mengerti.
"Perhatikan baik-baik baby..."
Carla membelalak tak percaya, di sudut balkonnya terdapat sebuah lukisan besar. Namun bukan itu poin pentingnya, tapi sebuah lampu kecil yang bersinar di ujung bingkai lukisan itu. Carla yakin itu adalah sebuah kamera tersembunyi.
Carla menghempaskan tangan Steve kasar dan menatap lelaki itu datar. "Kapan kau menaruhnya?"
"Itu tidak penting! Kenapa kau tadi menangis?" sentaknya dan menatap Carla tajam.
"Tidak penting?" Carla tersenyum miring sambil bersedekap dada. "Aku butuh privasiku sendiri Steve!"
Steve memalingkan wajahnya sebentar sebelum menatap kembali wajah marah kekasihnya dengan seringaian. "Sejak kau menjadi milikku, kau telah kehilangan privasi itu Carla...." seringainya seraya berjalan pelan menghampiri gadisnya. Oh apa ini, gadisnya marah? Steve kembali tersenyum, nampaknya akan menarik.
"Kau egois!" lirih Carla dan mendudukkan dirinya dengan lesu di ayunan gantung itu.
"Egois?" desis Steve pelan lalu menghampiri Carla dan berlutut di hadapannya. Steve meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya hangat. "Tentu saja aku egois, kau adalah milikku!" katanya sambil meremas tangan Carla kuat, yang membuat empunya meringis namun tak mengeluarkan jeritan ataupun permohonan. Jiwanya lelah memohon serta meminta pengampunan, lagipula ia tak ingin membuat orang tuanya panik jika mendengar jeritannya di malam hari.
Carla memejamkan matanya erat, sambil menggigit bibirnya sendiri. Seolah menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan. Tangannya yang diremas kuat, serasa remuk. Menangis? Tidak, air matanya seolah terkikis dan mengering.
"Aku tanya sekali lagi. Kenapa kau menangis?" tanya Steve lembut.
Carla membuka matanya dan menatap Steve yang masih berlutut dihadapannya dengan sendu. "Apa aku tidak boleh menangis? Aku punya perasaan. Jika aku bisa merasakan senang begitupun kesedihan..."
"Lalu apa yang membuatmu sedih, hm?"
Carla bungkam, dan itu membuat Steve menyunggingkan senyumnya. Sebenarnya ia tak perlu menanyakannya, karna ia sudah tau jawabannya. Hanya saja, dirinya ingin mendengar kejujuran kekasihnya.
"Mendadak bisu, hm?" tanya Steve dan semakin meremas tangan Carla kuat.
Carla semakin menggigit bibirnya kuat, kala tangannya serasa mau patah. Hingga ia merasakan sebuah cairan mengalir di sudut bibirnya. Carla tersenyum masam, dan kembali menatap lelaki itu.
"Patahkan saja, jika itu membuatmu puas!"
Mendengar itu, Steve menghempaskan tangan Carla kasar dan menatap nyalang gadis itu. "Kenapa kau menggigit bibir mu sendiri?!" teriaknya marah sambil meraih dagu Carla.
"Kau puas?"
"Carla, kau benar-benar! Dasar gadis bodoh!"
"Ya, aku memang bodoh! Bodoh karna masih tetap bertahan dengan lelaki seperti dirimu!" sentak Carla tajam, sambil menunjuk - nunjuk wajah Steve.
Wajah lelaki itu semakin mengeras, giginya berbunyi bergemelatuk keras. Serta tangannya yang terkepal erat, jika saja dihadapannya ini bukan kekasihnya sendiri. Maka pasti akan ia hajar habis-habisan. Tidak ada yang pernah berbicara seperti itu padanya, serta menunjuk-nunjuk wajahnya.
"Dan kamera itu!" tunjuk Carla pada kamera tersembunyi tersebut, "Dimana lagi kau menaruhnya? Setiap sudut ruangan? Setiap benda yang ada disini, hah? Oh, apa kau juga menaruhnya di kamar mandi?" tanya Carla menatap wajah garang Steve yang seakan menelannya hidup-hidup.
Lelaki itu masih diam, dengan tangan yang masih terkepal erat. Ia akan lihat sampai mana gadis itu menguji kesabarannya.
"Tidak apa, aku milikmu kan? Jadi kau pasti sudah melihat tubuh te-"
PLAK!
"Jaga mulutmu itu, Carla!" desis Steve menatap nyalang kekasihnya.
Carla memegang pipinya yang terasa kebas, dan menatap Steve dengan senyuman. "Kau tidak mau menampar yang satunya lagi? Biar seimbang, aku akan merasakan sakit sepenuhnya.." lirih Carla pelan.
Steve mengacak rambutnya frustasi, kemudian menghampiri kekasihnya dan mendekapnya perlahan.
"Lepas! Lepaskan aku bastard!" teriak Carla sambil berusaha melepaskan dirinya dari dekapan lelaki itu.
Steve bergeming dan masih tetap memeluk Carla erat. Ia tidak ingin menyakiti gadisnya, namun setiap pertemuannya pasti akan berakhir seperti ini. Dirinya hanya ingin mendengar kejujuran kekasihnya, tapi sepertinya gadis itu begitu keras kepala.
"Carla, jangan seperti ini." bisik Steve sambil mengelus punggung Carla lembut.
Carla masih meronta, sambil terus melayangkan pukulan pada punggung lelaki yang mendekapnya erat. "Tidak lepas! Lepaskan aku Steve!!"
"Diam! Atau aku akan melemparmu ke bawah!!" desis Steve sambil meraih rambut gadisnya dan menariknya kuat. Jika tidak seperti ini, maka Carlanya tidak akan berhenti melawannya.
Perlahan gadis itu berhenti meronta. Bukan, bukan karna ancaman lelaki itu. Namun tenaganya telah habis, jiwa dan raganya seakan mengikis. Steve mengecup kening Carla lembut, dan menggendongnya untuk masuk ke dalam. Ia menurunkan gadisnya di sebuah sofa dan kembali berdiri untuk mencari sesuatu.
Carla membaringkan tubuhnya di sofa itu, dan menutup matanya menggunakan lengannya sendiri. Ia tidak peduli dengan keberadaan lelaki itu di kamarnya, lebih baik ia tidur.
"Hey, jangan tidur disini. Nanti badanmu pegal.." katanya lembut, sambil membuka kotak obat di tangannya.
Steve mengambil kapas dan mengisinya dengan obat merah kemudian mulai mengobati luka di sudut bibir kekasihnya. Ringisan kecil keluar namun gadis itu tak membuka matanya sedikitpun. Steve hanya tersenyum melihatnya, setelah selesai ia merapikan kotak obat itu dan memindahkan gadisnya ke ranjang.
"Kenapa kau begitu berani sekarang?" lirihnya sambil mengambil tangan gadisnya dan memijatnya lembut. Melihat Carla yang sudah terlelap membuatnya tersenyum kecil. "Apa ini sangat sakit?" tanyanya sembari mengecup tangan Carla.
"Tidurlah, good night baby!"
Steve membenarkan selimut Carla dan mengecup kening gadis itu lembut. Kemudian berlalu keluar. Ada hal yang harus ia urus. Senyumnya terbit ketika membayangkan segalanya.
"Ini sangat menarik!"
...TBC...
...Voment!...
...See you next part....