Ketika matahari menginginkan bulan, tetapi matahari harus tau sebatas mana dia harus berjuang (cz).
Sadar akan dirinya yang memiliki wajah dan penampilan yang kurang menarik, membuat Mia Faradillah harus membuang jauh-jauh harapannya untuk mendapatkan cinta yang tulus dari seorang lelaki yang mau menerima dirinya apa adanya.
Tetapi semua pendirian itu seakan goyah saat seorang kakak kelasnya yang cukup populer di sekolah itu, mencoba mendekatinya.
"Mengapa orang seperti kakak, mau berteman denganku ?" (Mia Faradillah).
"Habis kamu lucu sih, Jadi aku suka !" (Tio Martadinata).
Tapi kesalahpahaman terjadi sehingga membuat hubungan mereka merenggang dan menimbulkan kebencian di hati mereka masing-masing. Setelah beberapa tahun kemudian, mereka kembali di pertemukan dalam sebuah perjodohan.
Akankah perjodohan tersebut berjalan lancar ? Dapatkah mereka memperbaiki kesalahpahaman yang selama ini terjadi ?
Mari dibaca saja ya gaess.. Dan jangan lupa beri rating bintang limanya ya ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citoz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf
Pagi hari, suasana di ruangan produksi cukup bising. Karena hari ini mereka akan menerima tamu dari Pemerintahan Daerah yang akan menyerahkan proyek pembangunan jalan layang di pusat kota pada perusahaan MD Group, apabila hasil presentasi yang ditampilkan MD Group dianggap memenuhi syarat dan kualisifikasi yang di tentukan oleh Pemerintah.
Dan untuk kali ini Pak Rey, papanya Tio. Mempercayakan pada Kezia untuk mempresentasikan rancangan desain yang akan dibuat untuk pembangunan jalan layang tersebut. Pak Rey juga menjanjikan akan menaikkan jabatan Kezia dalam waktu satu tahun apabila rancangan desainnya berhasil dan disetujui oleh dinas pemerintahan tersebut.
Bagi Kezia ini merupakan awal yang baik untuk dirinya mendapat kepercayaan dari papanya. Dengan ini dia dapat membuktikan bahwa kinerjanya dapat diperhitungkan dalam perusahaan apabila proyek ini berhasil. Maka dari itu pagi-pagi sekali Kezia kembali membuka laptopnya dan meneliti kembali rancangan desain yang telah di buatnya.
"Loh, Kezia ? Pagi sekali kamu datang ke kantor ?" tanya Zizi yang baru saja tiba.
"Iya, nih. Aku bawa mobil sendiri. Takut macet di jalan. Males injak rem lama2 kalau lagi macet. Bikin pegal kaki" ucap Kezia.
"Kok, enggak bareng sama kak Tio saja ? Atau enggak diantar sopir ?" tanya Zizi.
"Males kalau satu mobil sama sopir. Serba salah sendiri jadinya di dalam mobil. Risih juga sih" ucap Kezia.
"Terus kalau sama kak Tio, aku sudah enggak mau lagi ikut mobil kak Tio. Kapok ! Aku enggak mau mati muda" ucap Kezia.
Zizi mengernyit.
"Kok bisa ?" tanya Zizi.
Kezia menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama Mia, kemarin.
Tiba-tiba terlintas dipikirannya, saat Tio memarahinya semalam.
*************
Flashback On
Setelah mengantar Mia pulang kerumahnya, Tio melajukan mobilnya kembali dengan sangat kencang. Bahkan dia tidak memberikan kesempatan sama sekali pada Mia untuk mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah mengantarnya.
Kezia yang ketakutan dengan cara kakaknya mengendarai mobil, mencoba mengalihkan perhatian Tio agar memperlambat laju kendaraannya dengan mengajaknya berbicara.
"Hmm.. Kak Tio, aku sungguh kaget saat Kak Mia berbicara seperti tadi. Tidak seharusnya kan dia mengucapkan kata-kata yang menyinggung kak Tio seperti tadi" ucap Kezia.
Tiba-tiba Tio menginjak rem secara mendadak dan menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Apa yang sudah kamu katakan kepadanya ?" tanya Tio.
Kezia terdiam sesaat.
"Hmm.. aku tidak mengatakan apa-apa" ucap Kezia berbohong.
"Jadi maksudmu dia bicara dan berteriak begitu saja tanpa ada sebabnya ?" ucap Tio dengan nada suara yang penuh amarah.
"Tapi, kakak seharusnya berterima kasih kepadaku. Dengan begitu kakak jadi tahu kalau ternyata dia juga tidak menyukai kakak" ucap Kezia.
"Cukup ! Sekali lagi aku peringatkan kepadamu. Jangan campuri urusanku !" bentak Tio.
Kali ini suara Tio terdengar cukup keras, sehingga membuat Kezia ketakutan. Bahkan bulir-bulir air mata kini mengalir dari sudut matanya. Karena selama ini tidak pernah ada yang berani membentaknya seperti itu, maka mendapat perlakuan seperti ini dari kakaknya membuatnya kaget. Kezia lalu turun dari mobil dan memberhentikan taksi yang kebetulan lewat untuk mengantarnya sampai kerumah.
********
"Dan kak Zizi tahu enggak ? Sampai dirumah kak Tio tidak merasa bersalah lagi sama aku, karena telah membuatku menangis dan pulang naik taksi" ucap Kezia geram.
Zizi tersenyum.
"Jadi, bagaimana kelanjutan hubungan kak Tio sama Mia ?" tanya Zizi penasaran.
"Ya, enggak tahu. Paling pernikahan mereka batal" ucap Kezia.
"Kamu serius Kezia ?" tanya Zizi yang sudah terlihat sangat senang.
"Ya, itu menurutku sih. Siapa coba yang mau melanjutkan pernikahan sama orang yang tidak menyukainya, serta menyinggung dirinya seperti itu ? Kata-kata yang seharusnya diucapkan kak Tio kepadanya, malah berbalik. Malah dia yang mengucapkan kata-kata tidak pantas itu pada kak Tio" ucap Kezia.
"Ya, sudahlah. Jangan dipikirkan lagi. Semoga saja kak Tio sadar dan membatalkan pernikahannya dengan Mia. Aku kasihan kalau kak Tio hanya akan diperoroti saja oleh Mia" ucap Zizi.
"Sekarang kamu lagi ngapain ?" tanya Zizi pada Kezia.
"Lagi mempelajari dan meneliti ulang rancangan desain yang bakal aku presentasikan nanti siang" ucap Kezia.
"Jam berapa memang kita bakal meeting nanti ? Aku belum melihat jadwal" tanya Zizi.
"Pukul 13:00 siang" ucap Kezia.
"Oh, berarti bisa dong kita nanti makan siang bareng di luar ?" tanya Zizi.
"Oke" ucap Kezia menyetujui.
************
Jam telah menunjukkan pukul 12:00 siang. Mia melirik jam ditangannya sambil membawa kotak makanan yang telah berisi makanan buatan ibunya dan dirinya.
Sebenarnya aku sangat malas datang ke sini, kalau bukan ibu yang memaksaku. Dan apa-apaan ini, Ibu pakai membuat makan siang segala. Apalagi meminta bantuanku juga untuk memasaknya. Ibu bersemangat sekali. Jangan-jangan saat mengisi biodata sewaktu sekolah, cita-cita Ibu ingin mempunyai menantu sultan.
Batin Mia.
Mia lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam Perusahaan MD Group. Dia lalu menaiki lift setelah bertanya pada resepsionis di lobi, tentang keberadaan ruangan Tio.
Mia lalu menghampiri meja resepsionis di lantai 9. Tempat ruangan Tio berada.
"Maaf, Mbak. Apa Pak Tio ada di ruangan ?" tanya Mia.
"Pak Tio ? Apa anda sudah bikin janji bertemu sebelumnya ?" tanya perempuan itu.
"Hmmm.. belum sih. Memang harus bikin janji dulu ya, mbak ?" Mia bertanya.
Wanita yang menjaga meja resepsionis itu mengangguk.
foto : Tio.
"Pak Tio hanya menerima tamu yang mempunyai kepentingan" ucap wanita itu.
Mia terdiam.
"Ada apa Sri ?" tanya Khusnul, sekretaris Tio yang kebetulan keluar ingin makan siang.
"Ada tamu yang ingin bertemu Pak Tio, mbak. Tetapi belum membuat janji" ucap Sri, penjaga meja resepsionis.
Khusnul lalu melirik wanita yang berdiri dihadapannya tersebut.
"Astaga, anda calon istrinya pak Tio kan ?" tanya Khusnul.
Mia mengangguk.
"Tetapi, bagaimana kamu bisa tahu ? kita bahkan belum pernah bertemu" ucap Mia.
"Ya, saya tahu karena melihat wajah anda dalam undangan pernikahan yang di bagikan kemarin. Walaupun anda mengenakan riasan di foto itu. Tetapi, saya masih bisa mengenali wajah anda sekarang" ucap Khusnul.
"Sri, dia ini calon istrinya Pak Tio. Berikan dia izin masuk. Pak Tio tidak mungkin marah pada calon istrinya sendiri" ucap Khusnul.
"Oh, maaf Bu. Saya tidak menyadarinya. Saya benar-benar minta maaf" ucap Sri.
"Tidak apa-apa" ucap Mia.
"Mari saya antar ke ruangan Pak Tio, Bu" ucap Sri.
"Hmm.. tunggu dulu. Apa tidak sebaiknya meminta izin dulu pada Pak Tio untu masuk ?" ucap Mia ragu. Mengingat adanya selisih paham antara mereka berdua sekarang.
"Tidak perlu, Bu. Mbak Khusnul juga sudah bilang tadi kalau lebih baik langsung masuk saja" ucap Sri.
"Ya, baiklah" ucap Mia.
Mia lalu diantar ke depan ruangan Tio. Mia yang awalnya ragu untuk mengetuk pintu ruangan tersebut, akhirnya memberanikan diri untuk masuk, setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Betapa terkejutnya Tio mendapati Mia yang sedang berdiri di hadapannya. Dia menatap Mia cukup lama. Dan seperti biasanya, dia hanya diam tidak berbicara.
"Hmm.. aku datang kemari, untuk meminta maaf" ucap Mia.
Suasana tiba-tiba, hening. Tidak ada respon dari Tio.
"Hmm.. aku..." ucap Mia.
Aduh, bagaimana ini menjelaskannya. Aku kalau di depan dia memang suka blank. Kenapa juga dia tidak merespon ucapanku sedari tadi.
Batin Mia.
Mia lalu menghele nafas panjang. Dia berpikir, ini semua harus diakhiri.
Jangan gugup Mia !
Batin Mia.
"Jujur, aku datang kemari karena ingin meminta maaf atas kejadian semalam. Untuk ucapanku yang mungkin menyinggungmu dan mungkin dianggap tidak pantas untuk aku ucapkan" ucap Mia.
"Tetapi, kalau untuk kata-kata kasar yang telah diucapkan oleh adikmu. Aku tidak akan memakluminya dan tidak akan meminta maaf untuk itu" ucap Mia.
"Apa yang sudah dikatakan Kezia padamu?" ucap Tio.
Mia terdiam.
Ingin rasanya dia menceritakan semua yang telah diucapkan Kezia kepada Tio, namun mengingat sikap Tio yang sangat mengerikan ketika marah. Membuat Mia menghentikan niatnya. Dia takut Tio bertindak lebih jauh dalam menangani Kezia.
Tio mengernyit. Dia masih menunggu jawaban Mia, tetapi sepertinya Mia enggan memberitahunya.
Cih, dasar gadis bodoh ! Dia tidak berubah ternyata. Selalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
Batin Tio.
Mia menelan slavinanya.
"Aku hanya ingin mendapatkan maaf darimu saja, karena aku tahu kata-kata yang aku ucapkan semalam dapat menyinggung perasaanmu dan tidak layak untuk aku ucapkan. Kalau setelah memaafkanku, kamu ingin membatalkan pernikahan kita. Aku tidak keberatan sama sekali" ucap Mia.
"Tetapi setidaknya kamu memberiku maaf agar aku tidak merasa ada beban di pikiranku" ucap Mia.
Ya, aku harap kamu membatalkan pernikahan kita. Kalau Tio yang membatalkannya sendiri pernikahan ini bukankah akan lebih baik ? Setidaknya keluargaku tidak akan dituntut kan ?
Batin Mia.
Tio tersenyum sinis mendengar ucapan Mia barusan.
Dia berjalan menghampiri Mia yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Sekarang posisi mereka sangat dekat dan saling berhadapan.
"Jadi, kamu pikir aku akan membatalkan pernikahan kita hanya karena kamu mengatakan tidak menyukaiku ?" ucap Tio semakin mendekat.
"Jangan bermimpi !" ucap Tio yang kini tepat berada di depan wajah Mia. Bahkan hembusan nafas Tio bisa dirasakan oleh Mia.
"Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa kabur dariku. Karena kamu tahu kenapa ?" tanya Tio.
Mia menggeleng, ketakutan.
"Karena aku tidak pernah berniat untuk melepasmu !" ucap Tio.
Deg !
"Dan satu lagi, bukankah kamu ingin mendapatkan maaf dariku ?" tanya Tio.
Mia mengangguk. Dia sangat gugup sekarang.
"Kalau begitu panggil aku kakak ! Sama seperti kamu memanggilku dulu" ucap Tio.
Deg !
Kini jantung Mia terus berdegup kencang. Badannya serasa lemas mendengar semua ucapan Tio barusan.
Kenapa hatiku terus berdebar ya saat Tio berkata seperti itu. Apa aku hanya kepedean, bila aku menyimpulkan sendiri apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Ya, Tuhan.. bantu aku..
Batin Mia.
Jempolnya dong gaes.. like, vote, komen dan giftnya ya.. tengkiss 😘
Terima kasih utk karya Kak 🙏🏻 Semangat utk karya2 terbarunya 💪🏻🌷
PASTI RAHMA SBNARNYA GK TAU KLAKUAN SI ZIZIK MEDUSA..