NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa Sadar Menjadi Terbiasa

Keesokan harinya, kegiatan belajar mengajar kembali berjalan seperti biasa. Pagi itu aku dan Vita mengikuti apel bersama seluruh siswa sebelum akhirnya berjalan menuju ruang kelas. Suasana sekolah masih sama seperti hari-hari sebelumnya, ramai oleh suara langkah kaki dan percakapan para siswa yang baru saja meninggalkan lapangan. Kami berjalan berdampingan menuju kelas sambil membawa buku, tetapi di tengah perjalanan Vita kembali mengingat kejadian yang berlangsung di lokasi latihan sehari sebelumnya.

Sepertinya ia masih penasaran dengan perkataan Kenan yang dengan santainya menyebutku sebagai pacarnya di depan teman-temannya. Beberapa kali Vita melirik ke arahku seperti sedang mencari waktu yang tepat untuk menanyakan hal tersebut. Sampai akhirnya ketika kami hampir tiba di depan kelas, ia kembali membuka pembicaraan.

"Hitas, memang benar, ya, yang dikatakan Kenan kemarin?" tanyanya dengan nada penasaran.

Aku langsung menggeleng sambil menatapnya. "Nggak, Vita. Kamu percaya saja sama mulut Kenan? Aku sendiri sebenarnya bingung dengan semua tingkahnya. Kadang dia mengatakan sesuatu seperti serius, tetapi aku juga tidak tahu apakah dia benar-benar bersungguh-sungguh atau hanya bercanda. Lagi pula, dia kan pasangan tarianku."

Vita hanya tersenyum mendengar jawabanku. Ia sepertinya masih belum sepenuhnya percaya, tetapi sebelum pembicaraan kami berlanjut, kami sudah sampai di depan kelas.

Kelas kami sebenarnya berbeda dari kelas-kelas lainnya. Karena jumlah siswa kelas 7 pada saat itu sangat banyak, gedung sekolah yang tersedia tidak lagi cukup untuk menampung seluruh siswa. Akibatnya, beberapa kelas harus ditempatkan di bangunan lama yang sudah tidak digunakan seperti ruang kelas pada umumnya. Kelas 7D, 7E, dan 7F akhirnya menempati bangunan sederhana yang lebih sering kami sebut sebagai gubuk.

Bangunan itu sebenarnya merupakan gedung lama yang dahulu pernah digunakan oleh sekolah. Gedung tersebut belum dirobohkan sehingga akhirnya kembali dimanfaatkan karena keterbatasan ruang kelas. Keadaannya tentu jauh berbeda dari gedung-gedung baru yang digunakan oleh kelas lainnya. Dinding dan bagian-bagian bangunannya sudah terlihat tua, sehingga tidak mengherankan jika kelas kami sering menjadi bahan candaan siswa dari kelas lain.

Kami sebenarnya sudah cukup terbiasa dengan keadaan tersebut. Meskipun pada awalnya terasa sedikit malu ketika ada yang mengejek, lama-kelamaan kami menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan sekolah yang harus dijalani. Namun, setiap kali siswa kelas 7A sampai 7C melewati tempat kami ketika hendak pergi ke kamar mandi, mereka hampir selalu melontarkan candaan yang sama.

"Aduh, kelas gubuk!"

"Kasihan sekali kalian."

"Nanti kalau roboh bagaimana? Belajarnya di luar, ya!"

Candaan itu biasanya disambut tawa mereka sendiri. Kami yang berada di dalam kelas terkadang hanya saling melihat, ada yang tertawa karena sudah terbiasa, ada pula yang pura-pura tidak mendengar. Bagaimanapun juga, kami tidak bisa mengubah keadaan bangunan tersebut. Kami hanya bisa menjadikannya bagian dari cerita masa sekolah yang suatu hari nanti mungkin akan kami kenang.

Bahkan teman-teman Kenan juga sering melakukan hal yang sama. Setiap kali mereka melewati kelas kami untuk menuju kamar mandi yang letaknya berada di samping bangunan kelas, suara mereka biasanya terdengar cukup jelas. Mereka akan tertawa sambil mengejek keadaan kelas kami, seolah-olah bangunan tua itu merupakan sesuatu yang sangat lucu untuk dijadikan bahan candaan.

Kenan sendiri sebenarnya tidak selalu berbeda dari teman-temannya. Ia juga pernah ikut mengejek kelas kami. Namun, sejak ia mengetahui bahwa aku berada di kelas 7D, ada sesuatu yang berubah dari caranya bersikap. Ketika teman-temannya mulai terlalu berlebihan dalam mengejek, Kenan sering kali justru meminta mereka berhenti.

"Sudahlah, jangan begitu," katanya kepada teman-temannya.

Aku yang berada di dalam kelas terkadang dapat mendengar suara mereka dari kejauhan. Aku tidak pernah menanyakan alasan Kenan melakukan itu, tetapi diam-diam aku menyadari bahwa ia tidak lagi membiarkan teman-temannya mengejek kelasku terlalu jauh. Entah karena ia merasa kasihan kepada kami atau karena ia tahu bahwa aku berada di dalam kelas tersebut, aku sendiri tidak pernah benar-benar tahu.

Yang jelas, Kenan yang biasanya begitu banyak bicara dan suka bercanda dapat berubah menjadi lebih tenang ketika candaan itu mulai berlebihan.

Setelah beberapa menit berbincang dengan Vita di depan kelas, tiba-tiba dari arah koridor gedung yang berada di sebelah kelas kami terdengar suara ribut-ribut. Suara beberapa anak laki-laki yang sedang bercanda membuat aku dan Vita spontan menoleh ke belakang. Kami bahkan hampir bersamaan membalikkan badan untuk melihat siapa yang datang.

Ternyata Kenan dan beberapa temannya sedang berjalan menuju kamar mandi yang berada tepat di samping kelas kami.

Aku memperhatikan mereka sebentar, lalu menggelengkan kepala.

"Ke WC saja heboh," ucapku.

Vita tertawa kecil. "Iya, Hitas."

Awalnya aku mengira Kenan benar-benar hanya ingin pergi ke kamar mandi bersama teman-temannya. Namun, ketika beberapa temannya sudah masuk dan sebagian menunggu di sekitar kamar mandi, Kenan justru tidak segera pergi. Ia beberapa kali menoleh ke arah kelas kami, lalu pandangannya berhenti tepat kepadaku.

Aku mulai merasa curiga.

Beberapa saat kemudian, Kenan berjalan mendekati jendela kelas. Ia berdiri di balik jendela sambil tersenyum tipis ke arahku. Aku yang melihatnya langsung merasa sedikit terganggu karena kehadirannya membuat perhatianku kembali teralihkan dari kegiatan belajar yang sebentar lagi akan dimulai.

"Sebentar, pulang bareng, ya," katanya.

Aku menatapnya dengan wajah bingung. Ternyata pergi ke kamar mandi seolah-olah hanya menjadi alasan baginya untuk datang ke sekitar kelas dan menemuiku. Aku tidak tahu apakah memang kebetulan atau sengaja, tetapi yang jelas, ia kini berdiri di balik jendela kelas sambil menggangguku.

"Kalian tidak masuk? Sana masuk," kataku sambil berusaha mengusirnya.

"Iya, tapi jawab sebentar. Pulang bareng, ya?" jawabnya lagi.

Aku menghela napas karena merasa kesal sekaligus bingung.

"Iya, Kenan. Pergi sana."

Kenan akhirnya pergi meninggalkan jendela dan kembali menuju teman-temannya. Aku kembali duduk sambil mencoba memusatkan perhatian pada pelajaran. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, aku sempat melihatnya tersenyum tipis seperti seseorang yang sudah mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

Aku tidak tahu mengapa ia begitu suka menggangguku.

Namun, semakin sering hal itu terjadi, semakin aku mulai terbiasa dengan tingkahnya.

Waktu belajar pun dimulai. Aku berusaha memperhatikan pelajaran dan mencatat apa yang disampaikan guru. Meskipun begitu, sesekali pikiranku kembali mengingat perkataan Kenan tadi. Aku berusaha tidak memikirkannya terlalu jauh karena aku ingin fokus belajar, tetapi permintaannya untuk pulang bersama terus teringat di kepalaku.

Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya kegiatan belajar mengajar selesai. Satu per satu teman-teman mulai meninggalkan kelas. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan menjadi lebih sepi. Tinggal aku dan Vita yang masih merapikan buku-buku di atas meja yang sejak tadi berantakan.

Aku memasukkan buku ke dalam tas satu per satu. Ketika sedang merapikan meja, tanpa sengaja mataku kembali mengarah ke jendela.

Dan benar saja.

Aku melihat Kenan.

Kali ini ia datang sendirian.

Langkahnya yang cepat sudah begitu kukenal hingga aku bahkan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui bahwa orang yang berjalan menuju kelas kami adalah dirinya.

"Aduh, dia lagi," gumamku sambil menepuk dahi.

Vita yang mendengar ucapanku langsung menoleh dengan wajah penasaran.

"Kenapa, Hitas?"

"Itu, ada Kenan. Dia mengarah ke sini."

Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kelas. Kenan berdiri di sana sambil tersenyum.

"Ayo pulang," katanya.

Aku hanya menatapnya sebentar. Sebenarnya ada sedikit rasa malas karena aku ingin pulang bersama Vita seperti biasanya, tetapi sejak pagi tadi aku sudah mengatakan akan pulang bersamanya. Rasanya tidak mungkin sekarang aku tiba-tiba menolak.

"Iya, Kenan. Ayo."

Aku mengambil tas, kemudian menoleh kepada Vita.

"Vita, pulang."

Vita akhirnya ikut berjalan bersama kami dengan wajah yang terlihat sedikit terpaksa. Aku tahu mungkin ia sebenarnya ingin pulang berdua denganku seperti biasanya, tetapi aku juga tidak bisa begitu saja membatalkan perkataanku kepada Kenan.

Kami pun meninggalkan sekolah bersama.

Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Kenan berjalan di sampingku, sementara Vita berada tidak jauh dari kami. Anehnya, Kenan beberapa kali memperlambat langkahnya agar bisa berjalan bersamaku. Setiap kali aku tertinggal sedikit di belakang, ia akan berjalan beberapa langkah di depan lalu menoleh ke belakang untuk memastikan aku masih mengikutinya.

Suatu ketika ia kembali menoleh dan melihat jarakku cukup jauh darinya.

"Aduh, Hitas," katanya sambil berhenti.

Ia kemudian berlari kecil menghampiriku sebelum akhirnya kembali berjalan di sampingku.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

"Kenan ada-ada saja," pikirku.

Namun, semakin sering ia melakukan hal-hal kecil seperti itu, semakin aku menyadari bahwa tingkah yang dahulu terasa aneh perlahan mulai terasa biasa. Aku mulai terbiasa dengan cara Kenan menungguku ketika aku tertinggal, terbiasa dengan suaranya yang memanggil namaku, dan terbiasa dengan kehadirannya yang hampir selalu muncul di sela-sela kegiatanku.

Kami terus berjalan hingga akhirnya tiba di sebuah lorong yang menjadi jalan menuju tempat tinggal Kenan.

"Oke, babay, Hitas. Sampai ketemu di tempat tarian nanti," ucapnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya.

"Iya, sampai ketemu."

Kenan kemudian berbelok menuju rumahnya, sedangkan aku kembali berjalan bersama Vita.

Hari-hari berikutnya berlangsung dengan pola yang hampir sama. Pagi hari aku belajar seperti biasa, kemudian ketika kegiatan latihan tiba, aku kembali bertemu dengan Kenan. Tingkahnya yang selalu ada-ada saja terkadang membuatku kesal, tetapi entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengannya.

Dulu, ketika Kenan tiba-tiba muncul di jendela kelas, aku merasa terganggu. Ketika ia menungguku pulang, aku merasa bingung. Ketika ia terus menyebutku sebagai pacarnya, aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Namun, semua itu perlahan menjadi bagian dari keseharianku.

Aku mulai terbiasa mendengar suaranya, terbiasa melihat senyumnya, dan terbiasa mengetahui bahwa di antara keramaian siswa, mungkin akan ada seseorang yang tiba-tiba datang menghampiriku.

Bahkan tanpa kusadari, aku mulai mencari sosoknya ketika datang ke sekolah. Aku tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada Vita.Aku juga tidak pernah mengatakannya kepada Kenan.Mungkin karena aku sendiri belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diriku.

Yang kutahu, jika suatu hari aku tidak melihat Kenan, sekolah terasa sedikit berbeda. Kegiatan belajar tetap berjalan, teman-temanku tetap berada di sekitarku, dan semua hal berlangsung seperti biasa, tetapi entah mengapa terasa ada sesuatu yang kurang.

Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri mengapa hal itu bisa terjadi.

"Kenapa kalau tidak melihat Kenan rasanya seperti ada yang kurang?"

Aku tidak menemukan jawabannya.Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan tingkahnya. Mungkin karena hampir setiap hari selalu ada saja kejadian kecil yang terjadi bersamanya. Atau mungkin ada perasaan lain yang perlahan tumbuh tanpa kusadari.

Aku belum tahu.Saat itu aku masih terlalu polos untuk memahami apa yang sebenarnya kurasakan. Bagiku, Kenan hanyalah pasangan tari yang tiba-tiba hadir dalam hari-hariku dan kemudian menjadi seseorang yang terlalu sering menggangguku. Namun, semakin lama, aku mulai menyadari bahwa kehadirannya tidak lagi terasa seperti gangguan.

Justru ketika ia tidak ada, aku mulai merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah kumiliki. Ada begitu banyak momen kecil bersama Kenan yang mungkin tidak akan pernah terlupakan. Momen ketika ia datang ke jendela kelas, ketika ia menungguku pulang, ketika ia berjalan lebih lambat agar aku tidak tertinggal, hingga saat ia tersenyum sambil memanggil namaku. Semuanya mungkin terlihat sederhana, tetapi perlahan menjadi bagian dari kenangan yang tersimpan dalam ingatanku.

Dan mungkin saat itu aku belum menyadarinya, tetapi ternyata seseorang bisa masuk ke dalam keseharian kita tanpa pernah kita rencanakan. Awalnya hanya sebagai pasangan tari, kemudian menjadi seseorang yang sering mengganggu, lalu perlahan berubah menjadi sosok yang keberadaannya mulai dicari tanpa sadar.

Aku belum tahu apa nama perasaan itu.Aku hanya tahu satu hal: aku sudah mulai terbiasa dengan Kenan.Dan ketika seseorang sudah menjadi bagian dari keseharian, ketidakhadirannya terkadang justru terasa lebih jelas daripada kehadirannya.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!