Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
“Lesu amat kayaknya. Baru juga pagi,” kata Tini yang baru saja tiba di ruang guru dengan langkah tergesa-gesa. Ia meletakkan tas jinjingnya di atas meja kerja, lalu menatap Sarah yang sejak tadi duduk dengan posisi punggung bersandar lemas pada kursi kayu.
Sarah hanya diam, tidak merespons sama sekali celetukan Tini. Matanya terlihat sayu, dikelilingi lingkaran hitam tipis yang menandakan bahwa ia kurang tidur semalaman. Ia langsung meraba isi tasnya, mengeluarkan ponsel dari dalam sana, dan membuka aplikasi pengirim pesan. Sarah teringat jika pagi-pagi sekali tadi salah seorang teman kosannya sempat mengirim pesan penting mengenai iuran kebersihan bulanan dan belum sempat dirinya balas.
“Ditanya bukannya dijawab,” gerutu Tini pelan sembari menarik kursi kerjanya sendiri.
Melihat tidak ada tanda-tanda Sarah akan mengeluarkan suara, Tini yang akhirnya ikut memilih diam dan mulai memainkan ponselnya. Dari raut wajah Sarah kini, Tini paham betul jika sahabatnya itu memang sedang berada dalam fase tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Tini menduga ini pasti ada hubungannya dengan peristiwa kepulangan Sarah yang dramatis kemarin sore.
Sementara itu, Sarah kembali termenung setelah mengetikkan balasan singkat untuk teman kosannya. Jempolnya terhenti di atas layar kaca, terpaku pada sebuah ruang obrolan dengan nomor asing tanpa foto profil yang mengirimkan pesan sejak pukul sebelas kemarin malam. Pesan itu sangat panjang, membentuk beberapa paragraf rapat yang belum sempat ia buka atau baca sepenuhnya karena rasa lelah dan emosi yang masih berkecamuk semalam.
Dengan helaan napas yang berat, Sarah akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk ruang obrolan tersebut. Begitu baris-baris kalimat itu terbuka sepenuhnya, nama ‘Ardhana’ langsung terbayang di dalam benaknya.
‘Selamat malam, Kak Sarah. Ini aku, Ardhana. Maaf kalau aku lancang menghubungi kamu lewat sini.’
Sarah menelan ludahnya kasar, dadanya mendadak kembali berdesir kencang saat matanya mulai menggulir layar ke paragraf berikutnya. Pesan itu adalah sebuah surat permintaan maaf yang sangat panjang, ditulis dengan susunan kalimat yang jujur tanpa ada satu pun kesan tengil seperti yang biasa pria itu tunjukkan di depan umum.
‘Pertama-tama, aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya untuk kejadian tadi siang di depan kosan kamu. Aku sadar aku sudah keterlaluan karena memaksakan kehendakku tanpa memikirkan bagaimana perasaan kamu. Melihat kamu menangis tadi siang, jujur rasanya hatiku seperti dihantam batu besar. Aku bener-bener menyesal sudah mengorek kembali luka lama yang selama bertahun-tahun ini kamu simpan sendirian.’
‘Aku tahu kata maaf dariku nggak akan pernah bisa menghapus trauma dan rasa malu yang kamu rasakan waktu itu. Kamu benar, Sar. Seratus persen ucapan kamu tadi siang itu benar. Aku akui, Ardhana kala muda saat itu memang seorang pria yang sangat pengecut. Aku berdiri di sana, melihat wanita yang aku kagumi dimaki-maki di depan umum, tapi aku cuma diam membeku seperti patung tanpa melakukan pembelaan apa pun. Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah menyangkal kalau tindakan itu sangat memuakkan.’
Sarah berhenti membaca pesan itu sejenak. Air matanya mendadak kembali menggenang di sudut mata, membuat pandangannya pada layar ponsel menjadi sedikit kabur. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan membaca bagian inti dari penjelasan Ardhana yang selama ini tersimpan rapat sebagai rahasia.
‘Malam ini, aku cuma ingin menjelaskan satu hal yang belum sempat aku sampaikan dulu, bukan untuk membela diri, tapi agar kamu tahu fakta yang sebenarnya. Waktu aku masih SMA kelas dua, aku sama sekali nggak punya kekuatan untuk membantah orang tuaku. Sejak kecil, aku selalu didoktrin dan ditekan oleh keluargaku untuk selalu bersikap baik, mengalah, dan menjaga perasaan Naya dalam kondisi apa pun.’
‘Keluargaku memiliki hutang budi dan hutang finansial yang sangat besar pada keluarga Naya. Bisnis ayahku saat itu bisa selamat dari kebangkrutan juga karena bantuan besar dari orang tua Naya. Karena hal itu, aku dipaksa untuk selalu berada di samping Naya, seolah-olah hidupku adalah jaminan atas utang-utang tersebut. Hari di mana Naya melabrak Kak Sarah di lapangan, dia mengancamku akan menghancurkan keluarga dan bisnis ayahku jika aku berani melangkah maju untuk membelamu.’
‘Saat itu aku panik, aku takut, dan aku bingung harus berbuat apa. Di satu sisi ada kamu yang nggak bersalah, di sisi lain ada keselamatan keluargaku. Akhirnya, ketakutan itu membuatku memilih untuk diam dan menjadi seorang pengecut yang paling kamu benci.’
‘Tapi aku sadar, Sar. Masalah keluarga atau hutang budi itu seharusnya tetap bukan menjadi alasan yang sah bagiku untuk membiarkan kamu terluka sendirian. Aku tetap bersalah karena sudah melibatkan kamu dalam lingkaran masalahku yang rumit, lalu meninggalkanmu begitu saja tanpa kata pamit. Untuk semua rasa sakit, air mata, dan trauma yang kamu bawa sampai ke daerah perantauan ini, aku bener-bener meminta maaf dari lubuk hatiku yang terdalam.’
‘Sekarang hutang keluarga kami sudah lunas, dan hubunganku dengan Naya sudah selesai total sejak bertahun-tahun lalu, bahkan ketika aku masih menjalani pendidikan. Aku masuk akademi kepolisian dan meminta ditempatkan di daerah terpencil ini juga dengan satu harapan, yaitu bisa menemukanmu lagi dan menebus semua kesalahanku dulu. Aku nggak meminta kamu untuk memaafkanku sekarang, aku cuma berharap kamu tahu kalau aku yang sekarang bukan lagi Ardhana yang pengecut seperti dulu. Istirahatlah yang cukup, Kak. Maaf mengganggu tidurmu.’
Pesan itu berakhir di sana. Sarah perlahan menurunkan ponselnya ke atas meja, menatap kosong ke arah layar yang perlahan meredup lalu mati sepenuhnya. Ruang guru yang ber AC mendadak terasa begitu sunyi bagi dirinya sendiri.
Rahasia besar yang selama ini menjadi teka-teki di balik sikap diam Ardhana kini telah terbuka sepenuhnya. Ada perasaan lega yang aneh karena ternyata pria itu tidak berniat mengkhianati perasaannya dulu, namun rasa sakit akibat dampak dari kejadian itu tetap tidak bisa hilang begitu saja dalam semalam.
“Sar, kamu beneran nggak apa-apa? Kok mukanya pucat banget begitu?”
Suara Tini tiba-tiba memecah keheningan, membuyarkan seluruh lamunan Sarah. Tini menatapnya dengan pandangan khawatir yang sangat tulus.
Sarah menoleh perlahan, mencoba memaksakan sebuah senyuman tipis agar sahabatnya tidak semakin panik. “Nggak apa-apa, Tin. Cuma kurang tidur aja tadi malam. Yuk, siap-siap masuk kelas, sebentar lagi bel jam pertama bunyi.”
Sarah berdiri dari kursinya, meraih buku materi pelajaran di atas meja, lalu melangkah keluar ruangan. Di dalam hatinya, sebuah pergolakan baru kini dimulai, menimbang-nimbang apakah ia harus memberikan kesempatan kedua bagi Ardhana yang kini sudah menjelma menjadi seorang pria dewasa berseragam yang siap memperjuangkannya kembali.
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor