NovelToon NovelToon
Dari Terpaksa Jadi Cinta

Dari Terpaksa Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romantis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amillea24

"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."

Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Malam yang panjang dan mencekam itu akhirnya berlalu, menyisakan sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara apartemen. Bagi Gavin, beberapa jam matanya terpejam sama sekali tidak memberinya kesegaran. Pikirannya buntu, dipenuhi rasa bersalah sekaligus frustrasi karena didiamkan setengah mati oleh Aruna. Pria yang biasanya suka menebar pesona dengan banyak wanita itu kini benar-benar merasa kehilangan arah hanya karena di diemkan oleh seorang gadis bernama Aruna.

Pukul 06.00 WIB, Gavin sudah berada di dapur. Ia sengaja bangun lebih awal dari biasanya. Sambil mengenakan kaus rumahan hitam polos, Gavin mencoba memutar otak.

“Aku gak bisa didiamkan kayak begini terus. Rasanya aneh banget gak dengar suara cerewet dia,” batinnya gelisah.

Mengingat rayuan maut andalannya saat masih menjadi playboy tidak akan mempan pada gadis berjilbab sekaku Aruna, Gavin memutuskan untuk menggunakan jalur lain: pagi ini ia akan memasak sarapan untuk Aruna dan Kenzie. Mungkin saja dengan cara seperti ini hati Aruna bisa sedikit memaafkan nya.

Dengan sedikit canggung, ia mulai menyalakan kompor, mengocok telur, dan memanggang roti. Ia bahkan membuat teh Jasmine hangat kesukaan Aruna yang takaran tidak begitu manis.

---

Pukul 08.15 WIB

Pintu kamar bawah terbuka. Aruna keluar dengan penampilan yang sudah rapi dan segar. Hari libur ini, ia mengenakan jilbab instan berwarna moka yang dipadukan dengan piyama longgar yang nyaman. Di gandengannya, Kenzie tampak menggemaskan mengenakan kaus garis-garis dan celana pendek jins.

Begitu melangkah ke arah meja makan, langkah Aruna sempat tertahan. Aroma mentega panggang dan teh Jasmine menguar kuat. Di sana, Gavin sudah berdiri tegak dengan senyum yang dipaksakan semanis mungkin, menyambut kehadiran mereka.

"Pagi, Ru. Pagi, Jagoan," sapa Gavin, berusaha mencairkan suasana. Ia dengan cekatan menarik kursi untuk Aruna. "Aku... aku udah buatin roti panggang isi daging asap sama telur mata sapi buat kamu. Teh Jasmine juga udah siap. Dimakan ya, Ru?"

Aruna menatap piring di atas meja dengan pandangan datar, lalu beralih menatap wajah Gavin tanpa ekspresi. Alih-alih tersentuh, di dalam hati Aruna justru mencibir. “Oh, sekarang ceritanya lagi mau merayu ku pakai makanan setelah ketahuan bersenang-senang dengan wanita lain?” batinnya sinis.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Aruna menggeser piring roti panggang tersebut agak menjauh. Ia justru meraih kotak sereal dari dalam kabinet atas dan mengeluarkan susu UHT dari dalam kulkas, lalu menyiapkannya untuk Kenzie. Sikapnya benar-benar cuek bebek, menganggap keberadaan Gavin setara dengan seonggok pajangan baju di sudut ruangan.

Gavin menelan ludah, menahan rasa sesak di dadanya melihat usahanya diabaikan mentah-mentah. "Ru, kalau kamu gak suka rotinya, kita bisa pesan makanan di luar. Kamu mau makan apa pagi ini? Biar aku belikan. Atau kamu mau belanja apa saja hari ini? Sebutin, aku turuti semuanya."

Aruna mengunyah serealnya dengan tenang, lalu menyuapi Kenzie yang duduk di *high chair*. Ketika Gavin kembali membuka mulut untuk merayu, Aruna hanya menjawab seadanya dengan nada super ketus.

"Gak usah repot-repot. Aku bisa cari makan sendiri," sahut Aruna dingin, matanya tetap tertuju pada Kenzie.

"Tapi Ru, aku tulus—"

"Tidak usah pikirkan aku. Dan jangan sok baik pada ku. Tolong jangan ganggu," potong Aruna telak, membuat Gavin langsung bungkam seribu bahasa.

Bagi Aruna, apa pun yang dilakukan Gavin saat ini—mau merayu sampai menangis darah sekalipun—ia sudah masuk mode masa bodoh. Hatinya terlanjur beku.

---

Pukul 10.00 WIB

Setelah sarapan dan mengajak bermain Kenzie di ruang tengah, Aruna bersiap-siap untuk berangkat. Hari libur ini ia berniat memanjakan dirinya dan sang keponakan. Agenda mereka hari ini adalah Aruna akan mengajak Kenzie bermain di Playground dan dirinya ingin bersenang-senang di sebuah mall besar di kawasan Jakarta Selatan.

Kenzie yang berusia satu tahun lima bulan itu sudah tampak sangat rapi dan tampan. Bocah kecil itu berjalan tertatih-tatih mendekati Gavin yang sedang duduk lesu di sofa ruang tamu sambil menonton televisi yang sebenarnya tidak ia perhatikan.

Gavin menatap keponakannya, mencoba mencari hiburan. "Jagoan Daddy mau pergi ya? Ganteng banget sih. Gak mau sama Daddy aja di rumah?"

Kenzie menghentikan langkahnya tepat di depan Gavin. Bocah itu mendongak, menatap sang om dengan mata bulatnya yang jernih. Tiba-tiba, Kenzie menjulurkan lidahnya kecil lalu menepuk pantatnya sendiri dengan tangan mungilnya.

"Ndak mauuu! Deddy nggal (tinggal) Enji terooos! Deddy nakal, wuuu!" ledek Kenzie dengan suara cadelnya yang melengking jernih, menirukan kalimat yang mungkin sempat ia dengar samar-samar.

"Enji ocan di yumah teyus. Au jayan - jayan telual, biyal enda et di yumah teyus.( Kenzie bosan di rumah terus. Mau jalan - jalan, biyar ngga BT di lumaj terusm)"

Pfttt!

Aruna yang baru saja keluar dari kamar sambil menyandang tas langsung menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Perutnya mendadak kaku menahan tawa yang hampir meledak kencang tepat di depan muka Gavin. Sungguh, ledekan polos dari Kenzie berasa seperti tamparan instan yang sangat memuaskan bagi Aruna.

Gavin langsung mendengus kesal, wajahnya merona merah antara malu dan gemas. "Heh, siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu, Jagoan? Daddy gak nakal ya!" protes Gavin sambil mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"Nanti kita juga bisa jalan - jalan keluar apartemen kalo Kenzie mau." Lanjut Gavin.

"Enda au Enji au cama amih aja.( Ngga mau Kenzie maj sama Mami aja.)" Tolok Kenzie secara mentah - mentah. Ia langsung berlari menuju sang Tante yang sudah siap.

Melihat Aruna yang sudah siap melangkah menuju pintu utama tanpa pamit, Gavin buru-buru bangkit berdiri. Ia menghadang langkah Aruna, membuat gadis itu mendengus jengkel.

"Apalagi, Gavin? Taksi online -ku sudah di bawah," ucap Aruna ketus.

Tanpa banyak bicara, Gavin merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah kartu plastik berwarna hitam mengilat dengan logo platinum tertera di atasnya. Sebuah Black Card—kartu debit/ATM tanpa limit yang biasa ia gunakan untuk transaksi bisnis kelas atas. Gavin meraih tangan Aruna, lalu meletakkan kartu itu dengan paksa di atas telapak tangan istrinya.

"Ambil ini," ujar Gavin, tatapan matanya melembut namun sarat akan keseriusan. "Gunakan kartu ini buat berbelanja apa saja yang kamu inginkan hari ini di mall. Beli pakaian, tas, atau apa pun. Anggap saja kartu ini sebagai bayaran atas kesalahan dan kebohonganku kemarin. Aku gak mau dengar penolakan."

Aruna menatap kartu hitam di genggamannya. Sedetik kemudian, sebuah senyuman misterius yang sangat manis—namun mematikan—terukir di bibirnya. "Oh, jadi si playboy cap nyong - nyong ini menantangku dengan cara seperti ini?" batin Aruna bersorak gembira.

Alih-alih menolak sok suci, dengan senang hati Aruna langsung menggenggam erat kartu ATM tersebut. Bodoh sekali kalau ia menolak kesempatan emas untuk menguras harta pria yang sudah membuatnya makan hati ini.

"Oke. Terima kasih suamiku yang terhormat. Aku terima ATM ini dengan senang hati," ucap Aruna dengan nada sarkas yang kental, lalu berbalik pergi sambil menggandeng Kenzie dengan langkah riang.

---

Pukul 11.30 WIB, Aruna sudah selesai mengajak bermain Kenzie di Playground.

Balas dendam terbaik seorang wanita adalah belanja menggunakan uang pria yang menyakitinya. Kalimat itu benar-benar dipraktikkan oleh Aruna siang ini. Setelah puas menemani Kenzie bermain hingga tertawa kegirangan di area playground yang luas, misi utama Aruna dimulai: menghabiskan uang yang berada di kartu ATM Gavin dengan cara yang paling elegan.

Langkah pertama Aruna adalah mendatangi gerai kosmetik. Tanpa melihat label harga, ia menunjuk deretan kosmetik dengan berbagai merek terkanal, Aruna beli. Ia juga membeli skincare, bermerek SKII yang biasanya hanya ia lihat melalu sosial media maupun televisi.

"Mbak, tolong paket skincare yang ini, ini, dan ini dibungkus ya." ucap Aruna dengan senyum menawan pada pelayan toko. Ketika menggesek kartu hitam milik Gavin, transaksi langsung berhasil tanpa hambatan. Aruna tersenyum puas.

Tidak berhenti di situ, Aruna beralih toko sepatu mewah. Ia membeli beberapa pasang sepatu hak tinggi, Flat shoes sampai sniker merek ternama pun turut Aruna beli.

Tidak hanya itu Aruna juga mampir membeli pakean untuk dirinya berupa blouse, kemeja, celana loose pants, gamis dan jilbab-jilbab mereka ternama juga Aruna beli menggunakan kartu ATM milik Gavin. Kapan lagi dirinya bisa beli pakaian bermerek mahal ini tanpa harus berfikir dua kali.

Tentu saja, Aruna tidak melupakan Kenzie. Aruna membelikan keponakannya itu beberapa set pakaian bermerek dari katun organik yang lembut, sepatu roda kets yang lucu, hingga produk perawatan kulit khusus bayi premium agar kulit Kenzie tetap halus dan terawat.

Kedua tangan Aruna kini sudah dipenuhi oleh kantong-kantong belanjaan bermerek mahal yang sangat besar. Namun, di tengah aksi balas dendamnya yang membabi buta itu, hati baik Aruna tiba-tiba terusik saat langkahnya melewati sebuah butik pakaian pria eksekutif.

Aruna berhenti, menatap manekin yang mengenakan setelan jas di balik kaca toko. Ingatannya mendadak berputar melihat penampilan Gavin.

“Pria itu... kalau gak pakai kemeja hitam, pasti dongker. Kalau enggak, ya abu-abu. Membosankan banget! Bikin mataku sepet melihatnya tiap hari,”*gerutu Aruna dalam hati sambil mencibir.

Meskipun statusnya sedang mengibarkan bendera perang, selera fashionnya Aruna sebagai seorang wanita tidak bisa berbohong. Mumpung kartu ATM Gavin ada di tangannya, ia memutuskan untuk sekalian merombak gaya berpakaian suaminya agar tidak terlihat seperti pria suram yang monoton.

Aruna melangkah masuk ke dalam butik pria tersebut dengan anggun. "Selamat siang Mbak, saya mau cari kemeja bahan premium, tapi saya gak mau warna gelap," ujar Aruna tegas.

Pelayan butik itu dengan sigap menunjukkan koleksi terbaru mereka. Mata Aruna langsung berbinar saat melihat deretan warna-warna pastel yang segar. Dengan penuh semangat, Aruna memilihkan sebuah kemeja berwarna baby pink, satu kemeja berwarna biru muda yang cerah, dan satu lagi berwarna cream lembut.

Tidak tanggung-tanggung, agar penampilannya sempurna, Aruna juga memilihkan setelan jas dan celana bahan yang warnanya cocok dengan kemeja yang ia beli. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Playboy Gavin nanti saat dipaksa mengenakan kemeja warna merah jambu pilihan tangannya ini ke kantor.

"Tolong semuanya ditotal ya, Mbak," ucap Aruna sambil menyerahkan Black Card milik Gavin dengan senyum kemenangan. “Hihihi... rasakan ini Gavin Aditama! Isi kartumu akan kukuras dengan sangat baik hari ini!”seru Aruna dalam hati dengan riang, membayangkan notif pembayaran terus masuk kedalam ponsel Gavin, karena ulah dirinya.

###

"Astaga barang apa saja yang sudah gadis itu beli ?..."

Bersambung...

#

#

###

Hai semuanya sebelumnya aku mau minta maaf sudah ingkar janji buat update Sabtu kemarin 🙏🏻

Aku lagi ada masalah sama kontrak cerita ini. Makannya kemarin aku tunda update bab berikutnya. Jadi baru hari ini bisa update lagi. Ini aja kontraknya juga masih bermasalah 😭

Karena ngga mau pembaca setia Aruna dan Kenzie kecewa aku memutuskan untuk tetap update untuk kalian semua. Semoga kalian suka sama bab ini ya 🫰🏻😁

Maaf jadi curhat deh 😁😁😊

Tetep terus dukung cerita keluarga Cemara ini dengan cara Vote, like, Komentar dan ulasan bintang lima 🫶🏻😘🥰

1
partini
lihat yg dia beli atuh ,dia beli buat kamu juga ga semua buat dirinya sendiri
partini
semangat Thor ,semoga di kontrak novel nya
partini
siapa wanita itu yg bikin salah faham
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
partini
diem itu lebih baik dari pada cuap 👍👍
partini
dalam bahaya Tah
partini
paling bagus tuh diem sih dari pada bertengkar ga bagus buat anak" dengar kata" kasar
lagi dong Thor
partini
run semoga ga cinta duluan kamu , soal nya yg kebanyakan terjadi cewe yang suka duluan makanya nyesek
Namjachinggu: tenang aja kak, Aruna ngga akan cinta duluan ko 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!