Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
percikan pertama
Bab 21
Nayla tidak tahu jam berapa ketika suara itu membangunkannya.
Bukan suara keras. Justru sebaliknya — suara yang terlalu pelan untuk malam yang seharusnya sunyi. Langkah cepat di luar tenda. Bisik-bisik terpotong. Suara radio yang menyala sebentar lalu mati.
Ia membuka mata.
Langit-langit tenda masih gelap. Di sebelahnya, ranjang Sari kosong — selimutnya terlipat rapi, seperti tidak pernah dipakai. Nayla duduk. Tangannya meraba ponsel di bawah bantal.
03.47.
Ia berdiri.
Di luar, kabut belum pergi. Menggantung rendah, menelan tiang lampu portabel.
Nayla berdiri di ambang tenda, jaket tipis menyampir di bahu, matanya menyesuaikan dengan gelap. Beberapa meter di depannya, dua prajurit bergerak cepat ke arah pos komando. Tidak berlari — tapi langkahnya terlalu tergesa untuk jam segini.
Lalu ia melihat Sari.
Perawat itu berdiri di tepi lapangan, tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Wajahnya pucat dalam cahaya lampu yang redup.
"Sar." Nayla mendekat. Suaranya serak. "Ada apa?"
Sari menoleh. Matanya sedikit terlalu besar. "Dok... tadi ada yang dibawa masuk ke pos komando. Saya tidak tahu siapa. Tapi saya dengar—" ia berhenti, menelan ludah, "—kata prajurit yang lewat, ada bentrokan kecil di batas bambu."
Nayla terdiam sedetik.
Batas bambu.
Kata-kata Raditya kemarin sore terngiang di kepalanya. _Jangan mendekati bambu itu tanpa saya._
"Korban?" tanya Nayla. Dadanya mulai sesak.
"Saya tidak tahu, Dok."
Nayla berbalik ke tenda, meraih tas medisnya tanpa berpikir panjang.
Di sisi lain Raditya Ia sudah di pos komando sejak pukul tiga kurang sepuluh.
Bukan karena dibangunkan — ia memang belum terpejam. Peta di depannya sudah dilihat terlalu lama sampai garis-garisnya terasa bergerak sendiri. Tapi matanya tetap di sana. Itu satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan sebelum laporan masuk.
Laporan itu datang pukul 03.41.
"dit." Suara Aldi dari ambang pintu. Nada yang Raditya sudah hafal — bukan panik, tapi serius. "Pos tiga. Ada pergerakan. Prajurit Hendra terluka."
Raditya mengangkat kepala. "Seberapa parah?"
"Luka sayat di lengan kiri. Tidak dalam, tapi perdarahan cukup banyak." Aldi melangkah masuk, suaranya diturunkan. "Sepertinya ada yang coba melewati batas bambu dari arah sebelah. Prajurit pos tiga mencegat. Terjadi dorong-mendorong."
"Berapa orang dari sebelah?"
"Dua. Sudah mundur."
Raditya mengangguk sekali. Otaknya menghitung — dua orang yang mundur bukan berarti selesai. Orang yang mundur bisa kembali. Bisa melapor. Bisa membawa lebih banyak.
Ia berdiri, mengambil topi lorengnya. *"Bawa Hendra ke tenda medis. Tingkatkan jaga semua pos. Tidak ada patroli tunggal sampai fajar. Gue nggak mau ada yg gugur konyol gara-gara ceroboh."*
"oke." Aldi berbalik.
"Dan Aldi—"
Aldi berhenti.
Tahan. Tidak ada yang ke warga dulu sebelum jelas ini insiden atau sinyal."
Pov Nayla.
Prajurit itu masuk ke tenda medis dengan lengan kiri dibalut kain seadanya — sudah merah tembus. Wajahnya muda, mungkin dua tahun lebih muda dari Nayla. Matanya berusaha terlihat baik-baik saja.
"Duduk." Nayla membuka tasnya. "Lengannya sini."
Prajurit itu — Hendra, kata lencana di dadanya — duduk di tepi ranjang. Ia melepas balutan kainnya sendiri dengan tangan kanan, rahangnya mengeras meski wajahnya datar.
Luka itu panjang. Tujuh sentimeter, mungkin delapan. Tidak dalam, tapi tepat di bawah lekukan siku — tempat yang bergerak setiap kali tangan ditekuk.
"Benda apa yang buat ini?" tanya Nayla sambil menuang antiseptik.
"Parang, Dok." Jawabnya singkat.
Nayla tidak mengangkat wajah. Tangannya stabil. "Kamu tidak apa-apa?"
Hendra terdiam sebentar. "Siap, Dok. Tidak apa-apa."
"Bagus." Nayla mengambil benang jahit. "Ini perlu dijahit. Tiga atau empat jahitan. Saya kasih anestesi lokal dulu — tetap perih, tapi tidak separah tanpa itu."
Hendra mengangguk.
Sari menyiapkan lampu portabel tambahan, mengarahkannya ke luka. Cahayanya putih dan dingin, menelanjangi setiap detail.
Nayla bekerja.
Tangannya tidak gemetar — itu hal pertama yang ia cek sebelum menyentuh benang.
Di luar tenda, suara langkah berhenti di depan pintu.
Tidak masuk. Hanya berdiri.
Nayla tahu itu siapa tanpa menoleh.
Ia berdiri di luar tenda medis.
Kain penutup pintunya tidak rapat — ada celah dua jari di sisi kiri. Dari sana, cahaya putih merembes keluar, dan di dalamnya, bayangan yang bergerak teratur. Tangan yang bekerja. Kepala tidak terangkat.
Raditya tidak masuk.
Bukan karena tidak perlu — ia perlu tahu kondisi Hendra. Tapi ada sesuatu dalam cara dokter itu bekerja yang membuatnya berhenti di ambang.
Tidak panik. Tidak ragu. Hanya fokus.
Seperti ini yang ia lakukan setiap hari, bukan sesuatu yang tiba-tiba diminta di tengah malam.
Raditya menarik napas pelan. Mengembuskannya lebih pelan lagi.
Tiga menit berlalu.
Lalu suara dari dalam — "Selesai. Istirahat dulu. Jangan gerakkan lengan kiri sampai besok siang."
Raditya membuka kain penutup pintu.
Nayla membalikkan badan dan hampir menabrak dada Raditya.
Ia mundur satu langkah. "Pak—"
"Kondisinya?" Suaranya rendah, matanya langsung mengunci ke Hendra.
"Tiga jahitan. Tidak kena pembuluh besar." Nayla menarik napas. "Seminggu harus jaga lengan kiri. Tidak boleh angkat beban."
Raditya mengangguk. Lalu menatap Hendra. "Bagus. Istirahat."
Hendra berdiri — refleks tentara, meski Nayla baru saja menyuruhnya duduk. "Siap, Letnan—"
"Duduk." Nayla dan Raditya berkata bersamaan.
Hening satu detik.
Hendra duduk kembali, ekspresi bingung.
Sari di sudut menunduk — bahunya bergetar kecil menahan tawa.
Nayla melirik Raditya dari sudut mata. Raditya tidak melirik balik — tapi ada sesuatu di sudut bibirnya yang bergerak hampir tak terlihat. Hampir seperti lega.
"Dok." Suaranya lebih pelan dari biasanya. Bukan perintah. "Terima kasih."
Nayla tidak langsung menjawab.
Dua kata itu keluar berbeda dari mulut yang biasanya hanya mengeluarkan instruksi dan "ikut." Lebih berat. Lebih sungguh.
"Itu memang tugas saya, Pak," jawabnya akhirnya. Nadanya melembut.
Raditya mengangguk sekali. Lalu berbalik ke pintu.
"Pak." Nayla memanggil sebelum sempat berpikir.
Raditya berhenti. Punggungnya kaku.
"Hati-hati di luar."
Satu detik. Dua.
Raditya tidak menoleh. Tapi langkahnya berhenti lebih lama dari yang dibutuhkan.
"Siap." Lalu ia keluar.
Kain penutup pintu jatuh kembali.
Nayla menatapnya beberapa saat. Lalu berbalik ke meja, merapikan peralatan.
Di sudut, Sari menatapnya dengan senyum yang tidak disembunyikan.
"Jangan," kata Nayla tanpa menoleh.
"Saya tidak bilang apa-apa, Dok."
"Sari."
"Iya, Dok." Sari masih tersenyum. "Saya diam."
Di luar, langit perlahan berubah. Bukan terang — belum. Tapi bukan gelap pekat juga. Abu-abu tipis, warna sebelum matahari muncul.
Nayla menaruh peralatan terakhir ke tempatnya.
Tangannya baru berhenti gemetar sekarang — bukan karena takut tadi, tapi karena baru sadar bahwa ia menahan sesuatu selama tiga puluh menit tanpa tahu namanya.