bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
*[FLASHBACK PAK AWI - 1 BULAN LALU]*
Malam itu hujan deras mengguyur perkampungan Suka Maju. Air dari genteng bocor jatuh berirama, _pluk... pluk..._ seperti tetesan air mata. Saat itu Pak Awi lagi mabuk. Dia berdiri sempoyongan di depan toko kelontong yang sudah tutup. Pintu kayunya diketok-ketok pakai botol kosong. menyanyi kan lagu dengan suara sumbang. Suara Pak Awi serak, bercampur suara hujan. tidak ada yang dengar karena malam itu hujan deras. Cuma anjing kampung yang menggonggong dari jauh yang memecah kesunyian malam.
Pak Awi duduk di anak tangga toko, punggung nya menyender ke pintu. Bajunya basah kuyup, tapi dia tidak merasakan dingin. Yang dia rasain cuma kosong. Kosong sejak istrinya meninggal 7 tahun lalu ninggalin Resty yang berumur 7 tahun. Karena ulahnya dia harus membuat istri dan anaknya menderita, karena tidak kuat tekanan mental yang dia berikan kepada istrinya, akhirnya istrinya pergi untuk selamanya.
Dia mengangkat botol, mau meneguk lagi. Tapi tangannya berhenti.Dari sudut gelap ujung jalan, di balik guyuran hujan, ada sepasang ayah dan anak. Ayahnya sekitar umurnya Pak Awi juga. Bajunya sama-sama lusuh, Celananya tambalan. Tapi bedanya, di pundak ayah itu ada anak laki-laki umur sembilan tahun, tertidur pulas. Anak itu demam. Pipinya merah, bibirnya pecah-pecah. Tapi tangannya melingkar erat di leher bapaknya, seperti tidak mau lepas walau dunia lagi hujan.Bapak itu jalan pincang. Sendalnya putus sebelah. Di tangan kanannya dia gendong, di tangan kirinya dia payungin anaknya pakai daun pisang besar biar tidak kehujanan. tidak ada ojek, tidak ada mobil, dan tidak ada payung. Yang ada cuma punggungnya yang dibasahin hujan, demi anaknya tetap kering.
Pak Awi yang melihat itu. Botol di tangannya menjadi lebih berat seribu kilo.Anak itu tiba-tiba kebangun, suaranya serak.
“Bapak... capek ya?. Turunin aku aja...”
Bapaknya senyum, napasnya ngos-ngosan tapi tetap jalan.“tidak....Nak!. Bapak tidak lelah. Bapak janji tidak akan biarin kamu sakit sendirian. seperti Bapak dulu dijaga almarhum Eyangmu.”
Kalimat itu menyambar ke kepala Pak Awi seperti petir. selama ini dia sering mabukan dan membiarkan anak dan istrinya kelaparan. Sedangkan dia malah menghamburkan uang untuk minuman tuak. Botol tuak di tangan Pak Awi bergetar. Dia lihat lagi ke arah anak dan ayah tersebut yang semakin jauh di kegelapan malam dalam keadaan hujan dan dia teringat anaknya Resty yang sering dia biarkan kelaparan dirumah tampa memberi uang ataupun jajan. Selama ini yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri, sungguh dia telah menjadi orang yang zholim karena menelantarkan anak dan istrinya sampai akhirnya meninggal 7 tahun yang lalu. Gadis kecil yang sering dia biarkan kelaparan di rumah tanpa memberi uang, apalagi jajan. Dulu setiap Resty nanya."Bapak...!nasi ada tidak?", jawabannya cuma bentakan atau pintu dibanting.
Botol tuak di genggamannya terasa panas. Bukan karena alkohol, tapi karena malu. Tangannya mengepal. Kuku-kuku kasarnya menancap ke kaca botol.“Kalau bapak itu bisa jalan pincang demi anaknya...? kenapa aku tidak bisa jalan waras demi Resty?”
Pertanyaan itu lebih nyakitin daripada pukulan siapa pun. Hujan jatuh di wajah Pak Awi. Entah itu air hujan atau air mata. Yang jelas, malam itu untuk pertama kalinya selama ini Pak Awi tidak merasakan sesuatu selain kosong dan hari ini dia merasakan dadanya sesak. Sekarang dia sadar, dia hampir kehilangan Resty, sama seperti dia kehilangan istrinya. Botol itu dia angkat tinggi-tinggi. Bukan buat diminum.
_Klang!!!_
Pecah berantakan di batu depan toko. Tuak tumpah, hanyut ke selokan, dicuci hujan. Sama kayak dosa-dosa delapan tahun yang dia minta Allah cuci malam itu juga.
Awi menutup wajahnya dengan kedua tangan kapalnya, Bahunya naik turun, Dia menangis. Bukan menangis keras tapi tangisan segukan atas semua dosa yang dia lakukan selama ini.“Maafin Bapak...Res”. bisiknya ke arah jalan yang sudah sepi. “Bapak pulang....! Kali ini beneran pulang.”
Hujan masih turun. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal. Awi berdiri dari anak tangga toko bukan buat mencari warung tuak lagi. Dia berdiri buat jalan pulang. Langkahnya sempoyongan, tapi arahnya lurus. ke rumah reotnya. Ke dipan bambu tempat Resty tidur meringkuk kedinginan. Malam itu dia tidak tidur. Dia duduk di tepi dipan, menyelimuti Resty pakai sarung satu-satunya. Seiap Resty batuk, dia usap punggungnya pelan. Tangannya yang biasanya gemetar megang botol, malam itu gemetar megang kening anaknya.