NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Ramalan Bayam dan Serbuan Ahli Perbintangan

​Malam harinya, Puncak Awan Tersembunyi benar-benar terlihat seperti mercusuar raksasa. Cahaya neon ungu kebiruan dari ladang bayam Ye Xuan menembus awan dan memancar hingga ke lapisan termosfer. Di kejauhan, tepatnya di Menara Observasi Langit, puluhan Peramal Bintang jatuh pingsan karena mengira ada konjungsi planet yang akan menghancurkan benua.

​Ye Xuan berdiri di depan ladangnya dengan tangan di pinggang, wajahnya tampak sangat lelah. Di sampingnya, Ao Guang sibuk mencoba menutupi bayam-bayam itu dengan kain sarung tua, tapi cahayanya tetap tembus.

​"Pak Tua, sudah kubilang tutup yang rapat! Ini kalau dilihat orang dari jauh, mereka pasti pikir aku sedang membuka kelab malam di atas gunung!" gerutu Ye Xuan.

​"Senior, ini bukan cahaya biasa. Ini adalah Aura Prekognisi! Bayam ini menyerap terlalu banyak sisa napas naga saya," jawab Ao Guang sambil terus mengikat sarung.

​Belum sempat Ye Xuan membalas, terdengar bunyi Wuuusshhh! yang membelah udara. Belasan pria tua dengan jubah biru tua bertabur bintang-bintang kecil mendarat secara dramatis di halaman rumahnya. Mereka masing-masing memegang teleskop kuno dan bola kristal yang bergetar hebat.

​"Dimana jatuhnya?! Dimana jatuhnya Bintang Jatuh Abadi itu?!" teriak pemimpin mereka, Grand Master Astrolog, yang jenggotnya sudah menyentuh lantai. Ia melihat ke arah ladang dan langsung berlutut hingga kepalanya mencium tanah. "Oh, Langit! Ternyata Bintang itu tidak jatuh ke bumi, tapi tumbuh dari tanah! Ini adalah mukjizat!"

​Ye Xuan melangkah maju, menghalangi pandangan para peramal itu dengan spatula yang masih berminyak. "Bintang apa? Jatuh apa? Kakek-kakek sekalian, tolong tenang. Ini cuma bayam. Bayam! Sayur buat dibikin bening! Tidak ada hubungannya dengan ramalan bintang atau kiamat!"

​Grand Master Astrolog mendongak, matanya yang rabun menatap Ye Xuan dengan penuh pemujaan. "Master, jangan menyembunyikan kebenaran! Saya melihat garis takdir di dalam helai daun ini! Lihat ini..." Ia menunjuk sehelai daun bayam yang paling terang. "Urat daun ini membentuk pola rasi bintang Ursa Major yang sedang menari! Ini artinya... besok akan terjadi hujan lebat di wilayah barat!"

​Ye Xuan menatap daun itu, lalu menatap si kakek dengan tatapan konyol. "Kek, tanpa melihat bayam ini pun, aku tahu besok hujan. Lihat itu awannya sudah mendung hitam di sebelah barat. Itu namanya ilmu cuaca, bukan ramalan!"

​"Bohong! Ini adalah pencerahan!" teriak peramal lainnya. "Saya baru saja mencium aromanya dan tiba-tiba saya tahu bahwa besok pagi kaisar akan sarapan bubur ayam tanpa kacang! Ini adalah rahasia negara yang sangat rahasia!"

​Ye Xuan menepuk jidatnya sendiri. "Bubur ayam tanpa kacang itu selera pribadi, Kek! Kenapa harus pakai bayamku buat tahu itu?!"

​Karena merasa para kakek ini sudah tidak bisa diajak bicara logis, Ye Xuan mengambil sebuah ember besar berisi air bekas cucian piring. "Dengar ya! Kalau kalian tidak pergi dalam hitungan tiga, aku akan 'memadamkan' bintang-bintang kalian ini dengan air sabun! Aku mau tidur! Besok aku harus panen sebelum bayam-bayam ini benar-benar bicara bahasa manusia!"

​Para peramal itu bukannya takut, malah semakin antusias. "Lihat! Sang Master sedang mempersiapkan Cairan Pemurni Galaksi! Cepat, ambil buku catatan! Catat setiap tetesan air sabun yang jatuh, itu adalah kode biner dari semesta!"

​Ye Xuan hanya bisa terdiam, tangannya masih memegang ember. Ia menoleh ke Ao Guang dengan tatapan kosong. "Pak Tua... apa menurutmu aku harus pindah rumah ke planet lain saja? Sepertinya orang-orang di dunia ini sudah kehilangan sekrup di kepala mereka."

​Ao Guang hanya bisa menyapu lantai dengan lesu. "Senior, percayalah, di planet lain pun mereka akan menganggap kotoran telinga Anda sebagai permata suci. Lebih baik Anda terima saja takdir Anda sebagai Petani Pencerah Semesta."

​Malam itu, Ye Xuan tidur dengan telinga disumpat kapas, sementara di luar rumahnya, puluhan peramal bintang sibuk menghitung jumlah kedipan cahaya dari daun bayamnya seolah-olah itu adalah pesan rahasia dari Tuhan.

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!