NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 21

"Bi Inah ... Anya ..." ucap Adiwijaya yang sudah berdiri, memanggil kedua pembantunya sebelum berangkat kerja. Di sampingnya sudah ada Laras yang setia berdiri menemani.

Pagi ini Laras belum menyadari bahwa kalung berlian kesayangan yang ia simpan telah hilang. Karena dirinya sendiri, sibuk mencari perhatian di kala suaminya belum pergi berangkat kerja.

Tidak berselang lama, Bi Inah bergegas menghampiri suara yang memanggilnya, bersiap menerima segala perintah dari satu-satunya majikan yang baik di rumah ini. Di ikuti Anya yang berada di belakang Bi Inah.

"Iyaa Tuan ... Ada apa memanggil saya?" tanya Bi Inah sebentar menatap Adi, dengan sikap hormat dan patuhnya kepada majikannya seperti biasa. Sedangkan Anya, hanya berkesiap di sampingnya menemani Bi Inah berdiri.

"Nanti siang, akan ada beberapa orang dari vendor dekorasi yang sudah saya pesan untuk menghias rumah. Tolong kamu dan Anya siapkan makanan untuk mereka," kata Adi, dengan sifat ramahnya meminta tolong setiap berbicara dengan pegawainya.

Mendengar itu, Bi Inah dan Anya saling pandang. Seolah mengerti apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Berbeda dengan Laras, ia hanya asik menempelkan lengannya di dekat suaminya. Seolah tidak ingin mau tahu apapun.

"Baik Tuan ... Nanti saya dan Anya akan memasak makanan untuk para tamu yang akan datang," ucap Bi Inah, mengangguk mengerti perkataan dari majikannya. Di ikuti anggukan yang sama dengan Anya.

"Yaudah, kalau begitu aku berangkat dulu." Adi mencium kening Laras, di sambung Laras yang mencium punggung lengan suaminya. Layaknya keluarga yang penuh kasih sayang bagi siapa saja yang melihat mereka saat ini.

Ketika sudah mengantar Adi menuju mobil yang sudah di tunggu Tono di luar, Laras kembali masuk kedalam rumah. Mendapati Bi Inah dan Anya yang masih menatapnya, takut ada permintaan lain dari sang Nyonya besar majikan mereka.

Namun Laras enggan bicara sama sekali, ia berdecih menatap sinis para pembantunya sebelum berlenggang angkuh pergi meninggalkan mereka begitu saja. "Cih ..."

Tok ... Tok ... Tok ...

"Ya, terus! Hati-hati ..."

"Awas pecah!"

Suara-suara ramainya dari beberapa orang yang bekerja untuk menghias rumah keluarga Adiwijaya memenuhi isi ruangan ini. Beberapa ornamen patung kecil juga di tambahkan untuk menghias halaman depan hingga dalam rumah.

Pilar besar yang menopang rumah besar ini kini sudah tertutup sepenuhnya dengan kain berwarna putih. Juga beberapa meja bundar yang berserakan tertata rapih dengan hiasan berbagai macam bunga. Mirip seperti acara pernikahan mewah yang elegan.

"Wah ... Ini mah bagus pisan, apa pak Adiwijaya akan mengadakan pernikahannya lagi," ucap Tono asal, berdiri di depan halaman melihatnya dari luar karena terpana dengan keindahannya.

Di sisi lain. Anya dan Bi Inah sedang sibuk menyiapkan makanan untuk para pekerja yang datang kerumah ini. Masalah ketering makanan untuk acara pesta, pak Adiwijaya sudah memesannya secara terpisah dengan vendor yang lain.

"Bi ... Aku mau ke kamar dulu yaa, sebentar. Mau ngambil ponsel ku di tas, ingin memberi kabar buat ibu di kampung ..." ujar Anya, menoleh ke Bi Inah yang sedari tadi bersama saat sedang memasak.

Mereka sama sibuknya, sehingga Bi Inah tidak sempat merespon ucapan Anya. Sampai, ketika Anya baru melangkah berbalik badan. Suara Bi Inah menghentikan langkah Anya.

"Anya!" kata Bi Inah tiba-tiba dengan cepat. Menghentikan kegiatannya dan menatap Anya dengan ekspresi cemasnya yang terlihat bingung.

"Hum?"

Tatapan mereka saling pandang beberapa detik ketika Anya menoleh. Bi Inah bingung tidak tahu harus mengucapkan apa karena takut Anya memeriksa isi tas nya sekarang.

"Ada apa Bi?" tanya Anya sekali lagi, masih berdiam diri tidak beranjak dari tempatnya ketika melihat lamunan Bi Inah sedikit tersadar.

"Ah, nggak apa-apa kok ... Bibi nitip salam yaa buat ibu kamu," ucap Bi Inah, yang sudah terlalu bingung ingin berkata apa dan hanya bisa pasrah dengan kemungkinan buruknya yang bisa saja terjadi.

Anya tersenyum. Mengangguk kecil sebelum kembali melangkah pergi meninggalkan Bi Inah. "Iyaa Bi ... Kirain apa," sahut Anya, dengan senyum manisnya yang polos sebagai anak yang baik.

"Bi Inah kenapa, yaa?" gumam Anya dalam hati, mengisi langkahnya yang perlahan melangkah pergi. Bi Inah masih menatap Anya, melihat punggungnya dengan perasaannya yang cemas dan khawatir.

Klek!

Suara Anya saat menutup pintu kamarnya, ia berjalan ke sisi dinding untuk mengambil tasnya dan duduk di tepi ranjang. "Huh ..." suaranya saat Anya membuang nafas pelan karena pekerjaannya yang terasa melelahkan.

"Bi Inah kenapa, yaa ... Dari tadi pagi kelihatan berbeda," gumam Anya bicara sendiri, saat dirinya duduk dengan memangku tas miliknya. Ia ingin mengabari ibunya di kampung bahwa sekarang ia sudah merasa baik-baik saja, serta menyampaikan salam dari Bi Inah untuknya.

"Ngomong-ngomong ... Ponsel ku di mana ya? Aku lupa ..." Anya menatap tas nya, berpikir kalau perasaan ia, menyimpan ponsel miliknya di dalam tas. Ketika Anya hendak membuka isi tas nya. Tiba-tiba saja terdengar suara ponsel berdering.

Derrt ... Derrt ... Derrt ...

Suara itu berasal dari nakas yang berada di samping tempat tidur Anya. Ia baru saja teringat bahwa ponselnya bukan berada di dalam tas. Anya membuka laci di nakas itu dan melihat panggilan telepon dari ibu nya di kampung.

"Ibu ..." Suaranya terdengar pelan, menatap lama ponselnya dan tidak jadi membuka isi tasnya.

Tut!

"Halo ibu ...?"

Sedangkan Bi Inah yang masih berada di dalam dapur, merasa cemas dan khawatir. Takut Anya membuka dan melihat apa yang ada di dalam isi tasnya. Terlihat ia memasang ekspresi risau sekarang.

"Aduh ... Gimana ya? Kalo ampe Anya mengetahui isi tas nya ada berlian mahal Nyonya Laras. Dia pasti nanya ... Aku harus gimana—"

"Bibi?"

Suara Anya kembali menghancurkan lamunan Bi Inah yang berdiri gelisah. Pandangannya langsung menatap Anya yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.

"Bibi kenapa? ... Bibi sakit?" tanya Anya ketika melihat wajah Bi Inah sedikit pucat, seperti baru saja melihat hantu yang menghampirinya.

"Ah, nggak Anya ... Bibi nggak apa-apa, kok."

"Oh, iyaa ... Tadi Anya udah telepon ibu. Katanya, ia juga nitip salam untuk Bibi. Karena udah selalu menjaga Anya," tutur Anya, menatap senyum ke arah Bi Inah yang sekarang malah terlihat semakin tidak enak.

Bi Inah yang sedikit merasa kaget mendengar ucapan Anya, sekarang malah merasa bersalah karena sudah ikut masuk kedalam rencana jahat Bianca yang ingin menjebaknya.

Ia mencoba menyembunyikan ekspresi sedihnya ketika melihat perempuan baik seperti Anya. "Iyaa, Anya ... Bibi juga seneng ada Anya disini," ujar Bi Inah. Menahan air matanya yang memberontak sudah ingin keluar karena terlalu merasa bersalah.

Anya semakin memperhatikan Bi Inah yang berada di hadapannya. "Bibi yakin baik-baik aja?" tanya Anya sekali lagi memastikan.

"Iyaa, ... Bibi baik-baik aja."

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!