NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21

Tiga Tahun yang Lalu

Malam turun berat di Gang Mawar. Lampu jalan berkedip-kedip seperti mau mati, dilempari laron yang berputar-putar tak kenal lelah. Bau got bercampur asap gorengan merayap masuk lewat celah dinding rumah petak yang saling berhimpitan. Dari ujung gang, suara dangdut dari warung kopi beradu dengan teriakan anak-anak yang bermain petak umpet di atas tutup got kayu.

Di salah satu rumah petak bercat biru pudar, pintu kayu separuh lapuk terbuka sedikit.

Di dalam kamar sempit 2x3 meter, Sarah baru saja selesai salat Maghrib. Mukena putihnya yang sudah kusam di bagian ujung ia lipat rapi. Gerakannya pelan, seolah ingin menahan waktu barang sedetik. Cahaya lampu neon 5 watt di atas kepalanya berkedip sekali, lalu menyala stabil, menyorot wajahnya yang tirus. Usianya baru memasuki 20 tahun, tapi bayangan lelah sudah mengendap di bawah matanya.

Sejak ayah dan ibunya meninggal, ia tinggal di rumah ini bersama Bude Indari. Rumah warisan nenek yang seharusnya jadi tempat aman. Ia baru saja bangkit dari sajadah ketika…

“Sarah.”

Suara Indari terdengar dari luar kamar. Berbeda dari biasanya, tidak ada teriakan atau nada melengking yang memekakkan telinga. Panggilan itu terdengar tenang, datar, namun justru membawa firasat yang jauh lebih mencekam.

Sarah menegang. Jemari yang baru saja melepas ciputnya berhenti di udara. Pintu tripleks itu perlahan terdorong terbuka. Indari melangkah masuk dengan anggun yang dipaksakan, melipat kedua tangannya di dada. Tidak ada napas memburu, hanya tatapan dingin yang tajam dan mengunci pergerakan Sarah.

"Sarah, duduk dulu. Bude mau bicara," kata Indari. Suaranya rendah, tanpa emosi yang meledak-ledak. Ia menunjuk ke arah ranjang besi dengan dagunya.

Sarah duduk di tepi ranjang dengan kening berkerut dalam, rasa bingung mendadak merayapi benaknya. "Ada apa, Bude?"

"Kamu tahu kan bude punya hutang sama Leo anaknya Bu Anisa?"

Sarah mengangguk kecil. dia tahu bude nya meminjam uang untuk kebutuhan sekolah Sarah.

"Jadi peminjamnya, mau kita melunasi hutang-hutangnya."

"bukankah enam bulan lalu rumah peninggalan Nenek sudah dijual untuk melunasi utang Bude?" Suara Sarah bergetar, menuntut kejelasan yang selama ini ditutupi. "Harga jual rumah Nenek itu tinggi. Uang itu harusnya sudah lebih dari cukup untuk melunasi semuanya!"

Mendengar kalimat Sarah, raut wajah Indari tetap tenang. Tidak ada kilat panik atau upaya membuang muka. Wanita itu justru menghela napas panjang, lalu menarik sebuah kursi plastik untuk duduk berhadapan dengan keponakannya.

"Uang itu sudah habis untuk urusan lain, Sarah," jawab Indari santai, seolah kehilangan uang warisan itu adalah hal sepele. "Faktanya sekarang utang Bude ke Leo membengkak berkali-kali lipat dan kita tidak punya apa-apa lagi untuk membayar. Di depan, utusan Leo sudah datang membawa surat perjanjian."

Sarah merasa pasokan udara di sekitarnya menipis. "Surat perjanjian apa?"

Indari menatap Sarah lurus-lurus. Tatapannya sedingin es. "Anaknya Bu Anisa— Leo—mau kamu menikah dengan dia untuk melunasi seluruh utang itu."

Kalimat yang diucapkan dengan kepala dingin itu justru menghantam dada Sarah lebih keras daripada bentakan. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat. "Kenapa aku harus menerima Leo, Bude? Bukankah Bude yang berutang, kenapa tidak Cahaya saja yang Bude jodohkan?" protes Sarah, suaranya naik satu oktav, bergetar di antara rasa syok dan ketidakadilan yang nyata. Cahaya adalah anak kandung Indari, sepupunya yang seumuran dengannya.

Mendengar nama anak kandungnya disebut, ekspresi Indari tidak berubah kasar. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Sarah meremang.

"Sarah, coba kamu pikirkan baik-baik menggunakan akal sehatmu," ujar Indari, nadanya begitu lembut namun beracun. "Kamu tahu sendiri dari mana asal lubang utang yang Bude gali ini? Siapa yang membiayai sekolah mu sampai selesai? Siapa yang membelikanmu bahan untuk masuk kuliah? Semuanya memakai uang itu, Sarah. Jadi, kenapa harus anakku Cahaya yang melunasinya? Adilkah itu untuk Cahaya?"

Kata-kata itu seketika membungkam Sarah. Argumen yang sudah di ujung lidahnya mendadak luruh. Sarah perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai semen rumah yang dingin. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang menghimpit.

Dia tahu betul statusnya di rumah ini. Sejak kedua orang tuanya tiada, Indari yang menampungnya. Budenya itu sudah bersedia menerimanya tinggal di sana, membagi ruang di rumah yang sempit ini. Namun kini ia tahu seluruh kebaikan itu ditukar dengan jeratan yang mematikan.

Indari bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati Sarah. Ia mengulurkan sebuah pena hitam, meletakkannya dengan perlahan di atas telapak tangan Sarah yang dingin, lalu menuntun keponakannya itu keluar menuju ruang tamu.

Di atas meja kayu jengki yang sudah kusam, selembar dokumen tebal bersanding dengan sebuah pasfoto formal sesosok pria bernama Leo. Pria itu berwajah tegas tanpa senyum, dengan tatapan mata elang yang dingin.

"Bude tidak sedang memaksamu, Sarah," desis Indari, suaranya berbisik tepat di dekat telinga Sarah. "Tapi tolong tahu diri sedikit. Kalau bukan karena belas kasihanku menampung anak yatim piatu seperti kamu, kamu sudah jadi gelandangan di jalanan sejak kecil. Sekarang saatnya kamu membalas semua nasi yang sudah kamu makan, semua atap yang melindungimu dari hujan, dan semua gelar pendidikan yang kamu punya. Ini cara kamu membayar budi pada Bude."

Kata-kata yang diucapkan tanpa urat leher yang menegang itu justru menghujam tepat di ulu hati Sarah dengan sangat telak. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi pipinya yang dingin.

Di sudut ruangan, dekat tirai pembatas dapur yang lusuh, sebuah kepala mengintip, Cahaya, Anak kandung Indari itu berdiri di sana sambil bersedekap dada.

Bukannya merasa iba melihat sepupunya diperlakukan bak barang dagangan, seulas senyum sinis justru terukir di bibir tebalnya yang dipoles lipstik murahan. Cahaya menatap Sarah dengan pandangan merendahkan, penuh kemenangan karena bukan dirinya yang harus dikorbankan demi melunasi kerakusan ibunya.

"Apalagi yang kamu tunggu, Sarah? Cepatan tanda tangan," sahut Cahaya dari ambang pintu dapur, suaranya terdengar renyah tanpa beban. "Kasihan ibuku sudah pusing memikirkan biaya hidupmu selama ini. Lagipula, Leo itu mapan. Kamu harusnya bersyukur ada yang mau."

Sarah menatap pasfoto Leo yang tergeletak di atas meja. Tatapan mata elang pria itu seolah sedang menertawakan ketidakberdayaannya. Tubuh Sarah bergetar hebat. Di satu sisi, batinnya menjerit menolak ketidakadilan ini—ia tahu sebagian besar utang itu sebenarnya digunakan untuk memanjakan Cahaya, bukan untuk kuliahnya. Namun di sisi lain, bayang-bayang utang budi dan statusnya yang sebatang kara mengunci seluruh keberaniannya.

Dengan tangan yang gemetar hebat hingga pena di jemarinya bergetar, Sarah perlahan menurunkan tubuhnya ke atas kursi kayu. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas kertas kontrak, memudarkan sedikit tinta hitam di sana. Indari berdiri tegap di sampingnya, mengawasi setiap jengkel gerakan Sarah dengan tatapan dingin yang menuntut kepatuhan mutlak.

Sambil memejamkan mata rapat-rapat menahan badai kehancuran di dadanya, Sarah menggoreskan tanda tangannya di atas garis putus-putus. Detik itu juga, masa depannya resmi terjual.

...*****...

Malam itu, Sarah duduk membentangkan sajadahnya di sudut kamar sempit. Di bawah temaram lampu neon, ia berdoa dengan air mata yang luruh tanpa suara, meminta petunjuk apakah Leo adalah pilihan yang tepat untuk masa depannya.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. Sosok Bu Mela, salah satu keluarganya melangkah masuk. Tanpa canggung, wanita paruh baya itu ikut duduk di atas lantai semen, lalu menggenggam jemari Sarah yang sedingin es.

"Sarah," panggil Bu Mela lembut. "Buklik tahu ini berat buat kamu. Tapi buklik yakin masa depanmu terjamin. Kamu perempuan yang baik, sudah pasti akan dapat pria yang baik seperti Leo."

Bu Mela mengusap punggung tangan Sarah dengan penuh kasih sayang. "Leo memang kaku, tapi dia bertanggung jawab. Kamu cocok kok sama dia."

Mendengar ketulusan itu, dada Sarah yang semula sesak mendadak lapang. Di tengah keputusasaannya sebagai anak yatim piatu yang sebatang kara, ucapan buklik Mela terasa seperti jawaban langsung atas doa yang baru saja ia rapalkan di atas sajadah.

Sarah mengangguk pelan dengan sisa air mata di pipinya. "Baik, Ibu... Sarah menerima lamaran Kak Leo."

Buklik Mela tersenyum haru, lalu memeluk Sarah dengan hangat. Malam itu, di atas sajadah, Sarah meyakinkan hati bahwa keputusan ini sudah tepat, tanpa pernah menyangka bahwa kehangatan pelukan itu kelak akan berubah menjadi tuntutan yang menghancurkan semuanya.

1
Miu.Nuha
hidupny pk dokter ternyata penuh lika-liku 🤧
Yuliana Purnomo
hayooo gercep dr Gema,, udah ada sinyal dr Sarah 💪
Myz Pena
apakah Hana lelah dengan hubungan mereka ??🤧
Myz Pena
apakah dokter gema tidak memiliki kelemahan ?? 🤭
Myz Pena
luar biasa ya dokter kandungan 😍
Dinarkasih1205
kasihan karakter gema di buat kasar
mama Al: keburu panas saat lihat kebersamaan Ibra dan Sarah
total 1 replies
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: makanya di paksa nikah sama Leo
total 3 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
Miu.Nuha
gampang bngt 😭
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...
Myz Pena
agak curiga dengan suaminya ni.. jangan sampai dia selengki /CoolGuy/
Myz Pena
boleh nggak sihh bilang ini mertua jahat.. asli kesellll /Angry/
THE GIRL COOL😑
ya allah sedihhhhhh ayahhhhhhh gue yg di tinggal ayah sejak berusia 5 tahun aja rindu *tapi bohong!🤣 jujur gue gak kangen karena gue benci sama ayah gue
THE GIRL COOL😑
semangat leo!!! kamu tau gak kamu sama kaya aku dan hidup aku😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!