Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar
"Senyum dulu napa! wajah lo keliatan banget abis nangisnya." Ziano mencubit gemas pipi Ara.
"sakit ah!" Ara langsung menepis jauh tangan Ziano.
"Kita nggak pulang kalo wajah lo masih kayak gitu." Mereka sudah di atas motor, keresek putih berisi aneka sate yang akhirnya dibungkus pun sudah dikaitkan ke cantelan dbawah stang motor.
"Wajah aku udah kayak gini A, mana bisa berubah. Buruan pulang lah ntar kemaleman, aku juga mau latihan soal dulu sebelum ujian besok."
"Maksud gue ekspresinya, Ara!" tegas Ziano.
"Gue bisa langsung diintrogasi Aki Dikun kalo pulang-pulang anaknya sedih gitu." lanjutnya.
"Ya kan emang Aa yang bikin aku jadi kayak gini."
"Iya, maaf..." ucap Ziano lirih.
"Nggak apa-apa, A. Tapi berhubung sekarang Aa udah tau, aku harap Aa bisa bantu aku sama Marcel."
"Lo suka sama dia?" sela Ziano sambil menatap wajah Ara yang terpaku mendengar pertanyaannya.
"Berhubung lo diem jadi gue anggap iya aja."
"Sok tau!"
"Abisnya langsung diem."
"Siapa juga yang nggak akan suka sama Marcerl, A? dia baik banget, keluarganya juga bak selalu bantu. Aku sama dia sama-sama terus dari kecil. Aku suka sama Marcel tapi sebagai temen, bahkan aku nganggap Marcel saudara aku." jelas Ara.
"Pokoknya gitu lah A, mohon bantuan kedepannya yah." pungkas Ara.
"Gue usahain, Ra."
"Makasih, A. Harusnya Aa tuh kayak gini dari awal, jangan ngeselin."
"Bukan gue yang ngeselin, lo aja kali yang belum kenal. Semua butuh adaptasi."
Mereka sampai rumah bertepatan dengan adzan isya. Ara langsung pergi ke rumah setelah menyalani abah dan ambu di warung. Sementara Ziano lanjut membantu Yudi beres-beres persiapan menutup warung sebentar lagi.
"Ano kamu istirahat aja, makan malam dulu. Yang lain udah makan dari tadi, bareng Ara sana." ucap Aki Dikun.
"Iya sana, ambu masak gejos jengkol. Enak banget." timpal ambu Yayat.
"Iya, Ambu. Kalo gitu aku ke rumah dulu." pamitnya.
"Iya, abis makan istirahat aja. Supaya besok nggak kesiangan. Ingat besok perdana kamu nugas anter jemput Neng Ara sekolah." ucap Aki Dikun.
"Siap, Aki." jawab Ziano. "Yud, gue duluan." pamitnya seraya menepuk pundak Yudi.
Ziano berjalan sambil mikir bentuk makanan yang dibilang ambu tadi. Gejos jengkol? terdengar aneh. Ia paling mentok dengar olahan jengkol yang di semur.
Baru masuk rumah Ziano mendapati Ara sedang sibuk dengan kalkulator barunya. Padahal belum ada tiga puluh menit setelah kepulangan mereka. Pensil, pulpen empat warna, penggaris, lengkap dengan buku ukuran besar itu memenuhi meja ruang tamu.
Ziano mengurungkan niatnya pergi makan, ia malah menghampiri Ara. Melihat lebih jelas apa yang sedang dikerjakan gadis itu.
"Lo ngerjain worksheet?" tanya Ziano kala melihat deratan angka dengan banyak kolom di buku Ara.
Ara tak mengalihkan perhatiannya dari soal di depan matanya, "A Ano jangan ganggu ah. Aku lagi fokus ini, mana ngga balance." Ara menggaruk kepalanya dengan pencil yang sedang ia pegang.
"Balance adalah istilah akuntansi yang menggambarkan posisi keuangan antara sisi debit dan kredit yang jumlah nominalnya sama)
Ziano duduk di samping Ara dan mengamati jawaban yang di tulis Ara dengan seksama, "coba aku liat bentar!"
Ziano mengambil buku dan pensil dari tangan Ara, "ini gampang."
Dilingkarinya beberapa nominal yang menurut Ziano menyebabkan jawaban Ara jadi salah,"Ini, ini juga..in-"
Belum selesai melingkari semuanya, pensil dan bukunya sudah di rebut Ara, "Aa jangan so tau deh. Ntar makin salah. Awas ah!" Usir Ara.
Heh! Ziano mengacak puncak kepala Ara. Gadis di sampingnya sama ngeyelnya dengan Jeli. So nggak mau diajarin tapi jawabannya pada salah.
"Aa!" Ara menatapnya dengan kesal.
"Tadi kan lo minta bantuan? ini gue bantuin."
"Aku minta bantuin soal Marcel. Kalo yang ini aku bisa sendiri."
"Bisa sendiri dari mana!" Ziano kembali merebut pensil Ara.
"Liat! ini salah! ini juga salah!" lanjutnya menujuk nominal yang dilingkari kemudian memukul pelan kepala Ara dengan pensil.
"Salah kan?" tegasnya.
Ara diam sebentar, "Lah iya. Pantesan hasilnya beda."
Buru-buru Ara mengambil penghapus dan menghapus angka di kolom neraca saldo setelah disesuaikan.
"Kok Aa bisa tau sih kalo ini salah?"
"Ya, karena gue pernah belajar. Yang ini juga salah,lo cek lagi dah. Siklus akuntansi perusahaan dagang ini mudah, yang penting lo teliti, Ra."
"Ini juga harusnya di debit, kenapa lo catat di krediit?"
"Sabar-sabar, A. Jangan cepet-cepet." ucap Ara.
"Ini Prive harusnya masuk ke kelompok Neraca, kenapa lo catat di laba rugi sih? yang teliti!"
"Siap, salah. Aku benerin sekarang." Ara langsung gercep memperbaiki.
Tak terasa jarum jam sudah menunjuk angka sembilan saat abah dan ambu masuk ke dalam rumah, keduanya masih sibuk belajar. Ara bahkan tak menyadari abah dan ambunya datang.
"Udah malem, tidur biar besok nggak kesiangan." ucap Abah yang menghampiri Ara, sementara ambu sudah pergi ke kamar dengan menggendong Lusi yang sudah tidur.
"Eh abah.. bentar lagi, bah. Nanggung ini." jawab Ara.
"Kayak gini udah bener belum, A?" Ara menunjukan jawaban untuk di koreksi Ziano.
Abah ikut melihat buku Ara, "Emangnya kamu bisa, No?"
"A Ano ternyata jago, Abah. Aku diajarin A Ano lebih paham dari pada diajarin guru aku." belum sempat Ziano menjawab sudah lebih dulu di sela Ara.
"Wah beneran ini? kalo gitu lanjutin belajar nya tapi jangan kemalaman, besok ujian kan?"
"Siap abah." jawab Ara.
"Jangan kemaleman, No!" pungkas abah sebelum pergi.
"Siap, Aki." jawab Ziano.
Mereka melanjutkan kegiatan belajar itu hingga jam sepuluh. Untuk pertama kalinya Ara semangat belajar, padahal biasanya ia malas. Jujur saja ia lebih senang langsung praktek jualan dapat uang dari pada harus ngitung pembukuan seperti ini.Tapi penjelasan Ziano mudah dimengerti membuatnya semangat belajar hingga benar-benar paham.
"Do'ain aku lancar uji kompetensi intenalnya besok yah, A." ucap Ara begitu mereka selesai belajar.
"Pasti, tapi traktir gue makan enak yah kalo nilai lo bagus."
"Siap, A!"
"Minimal di cafe yah, Ra." pinta Ziano ngelunjak. Pikirnya mumpung bos kecilnya sedang good mood.
"Siap."
Pagi harinya Ziano berangkat lebih awal mengantar Ara sekolah dan menjemputnya tepat waktu. Kegiatannya berulang terus seperti itu. Pagi nganter Ara, bantu-bantu di warung, ngasuh Lusi dan bantu Aki ngitung nota, sorenya jemput Ara sekolah dan malamnya masih ngajarin gadis itu belajar.
Dua hari berlalu akhirnya uji kompetensi keahlian (UKK) internal selesai. Ara dan Marcel berjalan keluar ke parkiran bersama. Di tangan Ara ada lembar jawaban UKK dengan nilai sembilan puluh yang berulang kali ia tatap dan tak sabar untuk memberitahu Ziano.
"Aku nggak nyangka nilai kamu bisa jadi sebagus itu, Ra." Puji Marcel.
"Kamu keren banget, nyaris sempurna, itu cuma kurang tanggal periode kagak kamu isi." lanjutnya.
"Iya, aku juga nggak nyangka, Cel. Ini semua berkat A Ano. Dia yang ngajarin aku selama ini." jawab Ara.
"Pokoknya enakeun (mudah) diajarin A Ano. Yang awalnya aku nggk ngerti aja bisa jadi paham banget." lanjutnya memuji Ziano.
Lama-lama Marcel jadi sedikit kesal, Ara terus-terusan memuji orang asing itu. Meskipun Ziano tak mempermasalahkan diriya dekat dengan Ara dan tak melapor ke Abah tapi tetap saja ia tak suka.Menurutnya mereka terlalu dekat. Bahkan setiap kali ia bersama Ara yang dibahas gadis itu selalu tentang Ziano.
Marcel kini hanya bisa me re mas kertas hasil UKK nya kala melihat Ara yang tersenyum sambil memerkan hasil UKK nya pada Ziano. "Ra, kamu berubah." gumamnya.
semoga Abah Dikun gak terpengaruh dengan omongan warga yang menganggap Ara dan Ziano berzina . padahal mereka cuma mau kerokan .
ya ampuuunnnn.... bingung aku mau ngetik gimana , yang di otak rasanya bundet saking banyaknya yang mau di ungkapkan😅😅😅🤭🤭
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
si kucel emang perlu di ruqyah otaknya🤣
contok~contoh
Jadi salah sangka deh semua gara2 Marcel
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏