Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Wajah Hakim Yuliana berubah sedingin es.
Sebagai hakim ketua, dia dituntut mundur? Di negara ini memang sah-sah saja... ASALKAN ADA BUKTINYA!
Kalau buktinya gak ada, berarti Arga sedang melakukan pencemaran nama baik, dan hukumannya bisa lebih dari 7 tahun penjara!
"Anda yakin mau menuntut saya?" tanya Yuliana dengan nada mengintimidasi. "Ingat, di pengadilan ini bicara fakta dan bukti. Kalau Anda nekat tapi gak bisa tunjukkan bukti, siap-siap Anda yang masuk penjara!"
"Saya yakin, Yang Mulia," jawab Arga tenang tanpa ragu sedikitpun.
Melihat situasi memanas, Jaksa langsung mengajukan permohonan istirahat sidang selama 10 menit untuk musyawarah internal.
[GILA! GILA! GILA! PAK ARGA ITU MANUSIA ATAU BUKAN?!]
[Belum pernah lihat pengacara seberani ini! Mau bawa hakimnya juga masuk bui!]
[Merinding gue nontonnya. Takutnya nanti dia sendiri yang kejebak lho.]
[Udah fitnah ceweknya, pengacaranya, sekarang hakimnya. Ini namanya perang total!]
[Julukan 'Pengacara Edan' cocok banget buat dia!]
Banyak netizen yang menganggap Arga sudah keterlaluan.
[Bodoh banget sih. Baru magang udah tantang hakim. Nanti kalau kalah, dia sendiri yang masuk.]
[Gak masuk akal! Salah juga gak mungkin dihukum 20 tahun. Ini cari sensasi doang kayaknya.]
[Semangat Pak Arga! Walaupun rasanya mustahil menang, tapi gue salut keberaniannya!]
Setelah 10 menit berlalu... keputusan diambil!
Hakim Yuliana dinyatakan mengundurkan diri dari persidangan ini karena ada dugaan konflik kepentingan, dan hanya boleh duduk sebagai pengamat. Hakim Anggota, Bapak Santoso, naik menjadi Hakim Ketua yang baru!
Tapi tantangan belum selesai. Kalau nanti buktinya gak kuat, Arga tetap bakal dipenjara karena fitnah.
Penonton live sekarang udah tembus SATU JUTA ORANG!
Di sebuah firma hukum ternama, para senior juga nonton sidang ini.
"Pasti kalah ini anak muda," kata Pengacara senior, Atta Hasibuan. "Bukti gak jelas, main tuduh sana sini. Gak heran setahun gak ada kasus. Cuma cari perhatian doang."
Namun pemilik firma itu, Pak Yusril Mahendra, justru tersenyum sambil menyeruput teh.
"Belum tentu. Dia pengacara, pasti paham hukum. Kalau dia berani ngomong seberani itu, berarti dia pegang kartu AS. Kalau gak, dia gak mungkin nekat tantang hakim langsung," ujar Yusril Mahendra tenang.
TOK! TOK! TOK!
Hakim Santoso mengetuk palu. Suaranya berat dan berwibawa.
"Sidang dilanjutkan! Pengacara Penggugat, silakan kemukakan bukti untuk ketiga tuntutan Anda satu per satu!"
Arga mengangguk. Dia berdiri, matanya menyapu seluruh ruangan.
"Baik, Yang Mulia. Sebelum tunjukkan bukti, izinkan saya menguraikan kembali kronologi kejadian agar semua orang tahu betapa kejamnya perlakuan yang diterima klien saya."
"Pada sore hari tanggal 6 September, pukul 17.39, Klien saya Bimo sedang berada di dalam MRT. Sesampainya di stasiun, dia bertemu dengan Terdakwa Laras dan Tania."
"Tepat pukul 17.40, Laras dan Tania tiba-tiba merebut HP Bimo dengan kasar! Mereka berteriak histeris menuduh Bimo memotret mereka! Bahkan Laras sampai menendang pangkal paha klien saya!"
"Mereka memaksa Bimo membuka kunci HP dan memeriksa satu per satu foto di galeri."
"Karena tidak menemukan apa-apa, mereka gak mau kalah. Mereka malah menuduh Bimo menyembunyikan kamera di dalam tas!"
"Akhirnya petugas keamanan ikut campur, tas dibuka, diperiksa... dan hasilnya nihil! Itu murni kesalahpahaman!"
"Saat polisi datang, mediasi dilakukan. Seharusnya mereka minta maaf. Tapi bagaimana sikap mereka? Muka jutek, minta maaf sambil ketawa-ketiwi, gak ada rasa bersalah sama sekali!"
"Bahkan orang-orang di sekitar malah membujuk Bimo: 'Yah udahlah, masa cowok berantem sama cewek. Kasihan mereka, kamu sabar aja dong.' "
Arga menghentakkan suaranya, penuh emosi yang terkontrol.
"DISINI SAYA INGIN BERTANYA KEPADA SEMUA ORANG!"
"Bukankah kita sudah maju? Bukankah ada yang namanya persamaan hak? Kenapa kalau cowok harus selalu mengalah? Kenapa cowok harus selalu legowo kalau disakitin?"
"Kenapa cewek bisa seenaknya nuduh, nyita barang pribadi, menghina, terus setelah salah malah dibilang 'kasihan'? Dimana keadilannya?!"
"Dan kalian pikir masalah selesai sampai situ? SALAH BESAR!"
"Sesampainya di rumah, Laras dan Tania malah bikin video di TokTok! Mereka mengaku jadi korban pelecehan, cap Bimo sebagai orang menjijikkan, sampai akhirnya ribuan netizen menyerang Bimo secara membabi buta!"
"Karena gak terima diperlakukan seperti sampah padahal gak bersalah, klien saya membawa masalah ini ke pengadilan!"
Arga baru saja selesai bicara...
"KEBERATAN YANG MULIA!"
Pengacara Rina Wijaya langsung berdiri dengan wajah memerah marah.
"Ini fitnah! Pengacara Penggugat hanya berbicara omong kosong tanpa bukti! Dia menghasut dan mengganggu ketertiban sidang! Saya meminta agar Pengacara Arga dikeluarkan dari ruangan ini SEKARANG JUGA!"
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭