NovelToon NovelToon
Sunyi Yang Berisik Season 2

Sunyi Yang Berisik Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Misteri / Horor
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: kucing samge

Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.

Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.

Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 6: "KAMPUNG KEMARIN" part 2

Setelah matahari benar-benar hilang di balik bukit, suasana di kampung menjadi semakin mengerikan. Udara yang tadinya sedikit hangat kini menjadi sangat dingin, dengan kabut tebal yang perlahan menyelimuti setiap sudut rumah-rumah kosong.

KAMPUNG KEMARIN - MALAM

Kampung sunyi dengan rumah-rumah yang hampir roboh—hanya suara angin yang bertiup kencang melalui lorong-lorong sempit dan genteng yang longgar yang terdengar jelas. Bayangan-bayangan dari pepohonan layu bergoyang-goyang dengan sendirinya, seolah ada sesuatu yang sedang mengendus di baliknya. Ada suara nyanyian anak-anak yang terdengar tapi tidak ada orang yang terlihat—suaranya merdu namun penuh dengan kesedihan, menyanyi lagu rakyat yang sudah jarang terdengar lagi. Jay duduk di atas batu besar di depan rumah tua kakeknya, masih saja mengemil snack yang dibawanya, sementara Rara dan Kala berdiri siap dengan alat perlindungan mereka.

Jay melihat pagar bambu dengan pola yang sama di depan rumah tua kakeknya—pagar itu sudah rusak tapi masih berdiri kokoh—beberapa bagian bambunya sudah retak dan tertutup lumut hitam pekat, tapi pola anyamnya tetap terlihat jelas seperti yang ada di rumahnya. Cahaya bulan yang tipis menerangi pagar tersebut, membuat bentuk-bentuk makhluk gaib pada pola tersebut seolah sedang bergerak perlahan.

JAY: (membuka buku) "Wah... ternyata kakek saya juga pernah seperti saya ya—mager tapi jadi pusat cerita. Dia membantu makhluk gaib di kampung ini untuk hidup damai dengan manusia."

Saat buku terbuka, halaman-halaman lama mulai bergerak dengan sendirinya, menampilkan gambar-gambar tentang masa muda Budi Santoso yang sedang menganyam bambu sambil berbincang dengan makhluk gaib yang bentuknya seperti awan putih dan daun yang bergerak sendiri. Jay melihat gambar itu dengan rasa kagum, sambil masih mengambil beberapa biji kacang rebus dari bungkusan plastik kedap udara nya.

Maka muncul makhluk gaib yang sudah kenal dengan kakek Jay—mereka muncul perlahan dari balik pagar bambu dan balik rumah-rumah kosong, bentuknya beragam mulai dari seperti nyamuk besar yang bersuara lembut hingga seperti patung batu yang bisa bergerak. Beberapa di antaranya memiliki wajah yang masih bisa dikenali sebagai teman masa muda kakeknya dari foto-foto lama yang ada di dalam rumah. mereka adalah teman masa muda kakeknya yang sudah tidak ada di dunia manusia lagi. Tubuh mereka mengeluarkan cahaya kebiruan lembut yang membuat suasana yang tadinya mengerikan menjadi sedikit lebih hangat.

"ꂵꋬꋪ꒐ ꀘ꒐꓄ꋬ ꒯꒤꒯꒤ꀘ ꇙꋬ꒻ꋬ ꒯꒐ ꇙ꒐ꋊ꒐ ꌦꋬ," ucap salah satu makhluk gaib dengan suara yang mirip dengan gemericik air hujan. "ꀘ꒐꓄ꋬ ꇙ꒤꒯ꋬꁝ ꂵꏂꋊ꒤ꋊꍌꍌ꒤ ꀘꏂ꒯ꋬ꓄ꋬꋊꍌꋬꋊꂵ꒤ ꇙꏂ꒻ꋬꀘ ꒒ꋬꂵꋬ, ꉔ꒤ꉔ꒤ ꃳ꒤꒯꒐ ꇙꋬꋊ꓄ꄲꇙꄲ."

Mereka berkumpul di sekitar Jay, beberapa duduk di atas batu atau pagar bambu yang masih aman. Mereka bilang bahwa kakek Jay membuat perjanjian dengan mereka: jika mereka menjaga kampung ini, mereka bisa terus berinteraksi dengan manusia melalui cerita dan kenangan.

MAKHLUK GAIB TEMAN KAKEK: "ꀘꋬꀘꏂꀘꂵ꒤ ꃳ꒐꒒ꋬꋊꍌ ꃳꋬꁝꅐꋬ ꉔꏂꋪ꒐꓄ꋬ ꋬ꒯ꋬ꒒ꋬꁝ ꒻ꏂꂵꃳꋬ꓄ꋬꋊ ꌦꋬꋊꍌ ꉣꋬ꒒꒐ꋊꍌ ꀘ꒤ꋬ꓄ ꋬꋊ꓄ꋬꋪꋬ ꒯꒤ꋊ꒐ꋬ ꂵꋬꋊ꒤ꇙ꒐ꋬ ꒯ꋬꋊ ꍌꋬ꒐ꃳ. ꒯꒐ꋬ ꂵꏂꂵꃳ꒤ꋬ꓄ ꃳ꒤ꀘ꒤ ꒐꓄꒤ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꂵꏂꂵꃳꏂꋪ꒐꓄ꋬꁝ꒤ ꀘꋬꂵ꒤ ꓄ꏂꋊ꓄ꋬꋊꍌ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꒐ꋊ꒐."

Salah satu makhluk yang bentuknya seperti bunga bakung besar menjelaskan bahwa pada masa muda kakek Jay, mereka sering berkumpul di halaman rumah untuk berbagi cerita dan makanan. Kakek Jay selalu menyediakan snack khas seperti onde-onde dan klepon yang dibuat oleh ibunya sendiri, dan mereka semua akan makan bersama sambil merencanakan cara untuk membuat hubungan antara manusia dan makhluk gaib menjadi lebih baik.

JAY: "Oh begitu... jadi buku ini adalah warisan dari kakek saya ya. Makanya tulisannya selalu muncul sendiri setiap kali ada kejadian baru."

Jay menutup buku sebentar dan melihat ke arah makhluk gaib tersebut dengan senyum. Dia bahkan menawarkan beberapa biji keripik yang masih tersisa, dan mereka dengan senang hati mencicipinya dengan cara yang unik—hanya dengan menghirup aroma dan energi dari makanan tersebut.

"Ternyata kamu juga suka snack sama seperti kakekmu dulu ya," ucap makhluk gaib yang bentuknya seperti daun kelapa besar. "Kakekmu juga selalu membawa banyak makanan setiap kali bertemu dengan kita. Katanya makanan adalah cara terbaik untuk membuat semua makhluk merasa dekat satu sama lain."

Tiba-tiba saja, suara deru yang keras terdengar dari arah jalan masuk kampung—suara kaki yang berjalan beramai-ramai dan suara kayu yang bergesekan satu sama lain. Tiba-tiba anggota Pasukan Kebebasan yang masih tidak mau menyerah datang ke kampung ini—mereka muncul dari balik kabut dengan bentuk yang lebih mengerikan dari sebelumnya, tubuh mereka sebagian sudah berubah menjadi logam dan besi yang tajam. Mata mereka menyala dengan warna merah pekat, dan mereka membawa alat-alat besar yang digunakan untuk menghancurkan pagar bambu.

PASUKAN KEBEBASAN YANG TERSISA: "ₕₐₙ𝒸ᵤᵣₖₐₙ 𝓌ₐᵣᵢₛₐₙ ᵢₜᵤ! ₕₐₙ𝒸ᵤᵣₖₐₙ ₐₜᵤᵣₐₙ ᵧₐₙ𝓰 ₛᵤ𝒹ₐₕ ₖₑₜᵢₙ𝓰𝓰ₐₗₐₙ 𝓏ₐₘₐₙ!"

Mereka bergegas ke arah pagar bambu tua di depan rumah kakek Jay, mulai menghancurkan bagian-bagian bambu dengan alat-alat mereka. Suara bambu yang patah terdengar menusuk telinga, dan cahaya kebiruan dari pagar mulai memudar sedikit. Rara dan Kala langsung siap bergerak untuk melindungi pagar tersebut, tapi sebelum mereka bisa berbuat apa-apa, makhluk gaib teman kakek Jay muncul untuk melindunginya—mereka membentuk lingkaran di sekitar pagar, tubuh mereka mengeluarkan cahaya terang yang membuat anggota Pasukan Kebebasan terpaksa mundur sebentar.

Namun berbeda dengan Rara dan Kala yang siap bertempur, Jay cuma duduk di depan rumah tua kakeknya, mengambil snack, dan mulai membaca cerita tentang masa muda kakeknya yang ada di buku. Dia bahkan mengambil bantal kecil dari tasnya dan menaruhnya di bawah kepalanya agar lebih nyaman sambil membaca.

JAY: (membaca dengan keras) "Kakek saya bilang: 'Aturan bukanlah rantai yang menjebak, melainkan tali yang menghubungkan. Tanpa tali itu, kita semua akan hilang di dalam kegelapan.' Kalian mau denger cerita selanjutnya nggak?"

Suaranya terdengar jelas dan tenang, menyilang suara jeritan dan deru dari Pasukan Kebebasan. Dia mulai membaca cerita tentang bagaimana kakek Jay dulu harus menghadapi konflik yang sama—kelompok makhluk gaib yang merasa tidak adil dengan aturan yang ada dan ingin menghancurkan semua batasan antar dimensi. Cerita tersebut menceritakan bagaimana kakek Jay tidak memilih untuk bertempur, melainkan memilih untuk duduk bersama mereka dan bercerita tentang masa lalu ketika manusia dan makhluk gaib hidup berdampingan dengan bahagia.

Suara bacaan Jay membuat anggota Pasukan Kebebasan yang tersisa terdiam dan mulai mendengarkan—beberapa di antaranya mulai menurunkan alat mereka, wajah mereka yang tadinya penuh dengan kemarahan mulai menunjukkan rasa penasaran dan sedikit kesedihan. Jay terus membaca dengan suara yang merdu, kadang kala berhenti sebentar untuk mengambil snack atau menjelaskan bagian cerita yang dia rasa penting.

"...Dan pada akhirnya, mereka semua menyadari bahwa aturan yang dibuat bukanlah untuk menjebak mereka," lanjut Jay sambil mengemil kue kering yang sudah sedikit hambar tapi masih bisa dimakan. "Melainkan untuk melindungi semua hubungan yang sudah dibangun dengan susah payah sejak lama. Kakek saya bahkan membuat pola baru pada pagar bambu agar mereka bisa melihat cerita-cerita masa lalu setiap kali mereka melihatnya."

Saat Jay selesai membaca bagian cerita tersebut, salah satu anggota Pasukan Kebebasan yang bentuknya seperti manusia dengan sayap hitam mendekat dengan hati-hati. Matanya yang tadinya merah pekat kini sudah mulai berubah menjadi warna ungu muda. "Kita tidak tahu bahwa aturan itu dibuat dengan pertimbangan seperti itu," ucapnya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. "Kita hanya merasa bahwa kita terjebak dan tidak bisa merasakan hidup seperti manusia."

Makhluk gaib teman kakek Jay mendekat dan menyentuh bahu anggota Pasukan Kebebasan tersebut. "Kakekmu sudah menyadari hal itu jauh sebelum kamu merasa seperti ini," ucapnya dengan suara yang lembut. "Itulah mengapa dia membuat rencana untuk 'Hari Pertemuan Antar Dimensi'—supaya kalian semua bisa berinteraksi dengan manusia dengan cara yang aman dan bahagia."

Mereka menyadari bahwa aturan dunia bukanlah sesuatu yang dibuat untuk menjebak mereka, melainkan untuk melindungi hubungan yang sudah ada sejak lama. Anggota Pasukan Kebebasan yang tersisa mulai menjatuhkan alat mereka ke tanah, beberapa di antaranya bahkan mulai menangis dengan air mata yang berwarna cairan bintang. Mereka menyadari bahwa semua yang mereka lakukan selama ini hanya membuat hubungan antara manusia dan makhluk gaib semakin renggang.

Jay berdiri perlahan dan mendekat ke arah mereka dengan membawa bungkusan snack yang masih tersisa. "Kalau kalian mau, kita bisa menyertakan kalian semua dalam 'Hari Pertemuan Antar Dimensi' bulan depan ya," katanya dengan senyum ramah. "Aku akan bawa banyak snack lagi, bahkan mungkin bisa bikin kue lapis sesuai resep nenekku yang juga disukai kakekku dulu."

Mereka semua mengangguk dengan rasa syukur, dan suasana di kampung mulai berubah menjadi lebih hangat. Cahaya bulan yang tadinya tipis kini menjadi terang, menyinari setiap sudut Kampung Kemarin dengan cahaya yang indah. Pagar bambu tua yang tadinya rusak mulai perlahan pulih, dengan pola anyamnya yang semakin jelas dan hidup. Suara nyanyian anak-anak yang terdengar sebelumnya kini menjadi lebih ceria, dan ada kilatan cahaya kecil yang muncul di setiap sudut kampung—tanda bahwa hubungan yang sudah hilang kini mulai terjalin kembali.

1
EvhaLynn
Lari Mbak🏃‍♀️
EvhaLynn
oh pantesan🤭
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
baik benar Jay
リズキ・サントソ
👍👍
リズキ・サントソ
santoso 🗿
T28J
gimana nyanyinya, hihihihihi....
Pengabdi Uji
tp klo g galak gpp jg
Pengabdi Uji
kumpulan paracenayang khh🫣
Pengabdi Uji
hmm pantess trnyta?emg ky spesial itu
Pengabdi Uji
hooh pantes ajaa ya trnyta g mngancam
Pengabdi Uji
ini knp dy?? apa di pngaruhi
Tati Hartati
keren banget kak
M. T🌻
keren thor👍
Jing_Jing22
Seperti reuni makhluk halus dan para tuannya.
Jing_Jing22
Cantik loh tulisannya.
Jing_Jing22
Kalau kamu kan udah terbiasa Jay berbeda dengan Dinda
Sishrye
takut nya kalau tetiba makhluk itu berubah jadi jahat
~SasMaya ✧
Thor, baca adegan ini .. jadi inget film Shinbi house ... pemberantas makhluk-makhluk
Sishrye: oh iya bener juga ya kak. btw aku juga sering liat film itu di net tipi😂
total 1 replies
~SasMaya ✧
aelah si Jay, cikinya pasti ga ketinggalan 😂
Mingyu gf😘
mereka ini orang jawa ya ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!