NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Ummi Hafizah yang duduk di samping putrinya melirik sekilas ke arah Hanindya, lalu perempuan paruh baya itu tersenyum kecil melihat perubahan kecil di wajah anaknya.

“Hanin senang ya kalau Ilyas yang isi kajian?” bisik ummi Hafizah pelan dan membuat Hanindya langsung sedikit salah tingkah.

“Ummi…”

Ummi Hafizah terkekeh pelan sementara pipi Hanindya mulai memerah samar. Ia cepat-cepat menundukkan pandangannya lagi namun diam-diam matanya kembali melirik ke arah depan mushola. Ke arah lelaki yang kini sedang menyiapkan dirinya sebelum memulai kajian. Dan tanpa sadar hati Hanindya kembali bergetar lembut. Di tengah suasana subuh yang damai itu, melihat Ustadz Ilyas berdiri di depan jamaah dengan wajah tenang membuat perasaannya terasa hangat dengan cara yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar kagum, bukan sekadar suka, tapi ada rasa menenangkan setiap kali melihat lelaki itu berada dekat dengan agama. Dekat dengan Al-Qur’an, dekat dengan orang-orang yang ingin belajar. Dan semakin Hanindya melihat dan mengenai ustadz Ilyas, semakin besar pula doa dan juga cinta yang dimiliki olehnya terhadap laki laki itu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semua orang yang ada di dalam mushola dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ustadz Ilyas tersenyum kecil sebelum akhirnya berkata,

“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan untuk bangun pagi ini, masih memberi kita napas, dan memberi kita kesempatan untuk bersujud kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau dan semoga sampai juga kepada kita semua selaku umatnya.”

Beberapa santri langsung menjawab pelan,

“Aamiin…”

Ustadz Ilyas menundukkan pandangannya sebentar sebelum kembali berbicara.

“Pagi ini saya ingin mengajak kita semua membahas sesuatu yang sangat penting dalam hidup seorang manusia.” Ia berhenti sejenak. "Tentang iman dan taqwa.”

Suasana mushola langsung hening. Shaka yang duduk di depan tanpa sadar ikut menegakkan sedikit tubuhnya.

“Iman dan taqwa,” lanjut Ustadz Ilyas pelan, “Adalah dua hal yang seharusnya menjadi pegangan hidup seorang muslim.” Tatapan mata ustadz Ilyas perlahan menyapu para jamaah. “Karena tanpa iman, manusia akan mudah tersesat. Dan tanpa taqwa, manusia akan mudah mengikuti hawa nafsunya sendiri.”

Kalimat itu membuat dada Shaka terasa sedikit bergetar. Ustadz Ilyas kemudian melanjutkan,

“Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an QS. Ali ‘Imran ayat 102 yang bunyinya,” Lalu dengan suara yang begitu merdu dan tenang, Ustadz Ilyas mulai melantunkan ayat suci.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ”

Suasana mushola terasa semakin tenang saat

ayat itu dilantunkan. Lalu Ustadz Ilyas membacakan artinya.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” Beberapa santri terlihat mengangguk pelan sementara Shaka hanya diam, tatapannya perlahan turun ke lantai. “Allah memanggil orang-orang beriman dalam ayat itu,” lanjut Ustadz Ilyas. “Lalu Allah memerintahkan mereka untuk bertaqwa.”

“Kenapa?” tanya seorang santri

“Karena iman saja tidak cukup kalau tidak dijaga dengan taqwa. Dan taqwa itu bukan cuma soal ibadah di depan manusia. Tapi bagaimana seseorang menjaga dirinya saat tidak ada siapa-siapa. Bagaimana seseorang takut berbuat dosa meskipun tidak ada manusia yang melihat.”

Kalimat demi kalimat itu terasa menghantam sesuatu dalam diri Shaka. Tangannya perlahan mengepal di atas lutut. Takut berbuat dosa? Shaka hampir ingin tertawa pahit. Selama ini ia bahkan hidup bersama dosa itu. Ia menjual narkoba dan berjibaku dalam kehidupan yang penuh dengan kekerasan, ancaman dan kebencian. Ia melakukan semua itu tanpa pernah benar-benar memikirkan Allah, tanpa pernah memikirkan apa akibatnya. Dan sekarang saat mendengar kajian itu, untuk pertama kalinya Shaka benar-benar merasa kosong.

Apa selama ini dirinya pernah beriman? Apa dirinya pernah benar-benar bertaqwa? Atau selama ini ia hanya hidup seperti binatang yang mengikuti hawa nafsu dan kemarahan?Ustadz Ilyas kembali berbicara.

“Kadang manusia merasa bebas melakukan apa saja. Maksiat dilakukan terus-menerus. Dan berbuat dosa dianggap biasa. Lalu hati manusia perlahan menjadi gelap.” Suara ustadz Ilyas terdengar lembut namun justru kelembutan itu membuat setiap kata terasa semakin menusuk. “Dan yang paling berbahaya adalah ketika hati sudah tidak merasa bersalah lagi saat berbuat dosa.”

Shaka langsung terdiam kaku, dadanya terasa sesak. Karena kalimat itu seperti sedang menggambarkan dirinya. Bukankah dulu memang begitu? Ia bahkan pernah tertawa setelah melakukan hal-hal buruk. Ia tidak peduli, tidak merasa bersalah ataupun takut, sampai akhirnya hidupnya hancur perlahan.

Di sisi lain, Hanindya mendengarkan kajian itu dengan tenang. Matanya sesekali menatap ke arah Ustadz Ilyas dengan penuh perhatian dan lagi-lagi hatinya terasa damai mendengar bagaimana lelaki itu menyampaikan agama dengan begitu bagusnya. Tidak membentak ataupun menakut-nakuti mereka yang mendengarkan dengan berlebihan. Tapi membuat orang ingin mendekat kepada Allah.

Beberapa santri terlihat benar-benar fokus mendengarkan, bahkan suasana mushola begitu hening sampai suara angin dari luar terdengar samar. Lalu salah seorang santri laki-laki mengangkat tangannya perlahan.

“Ustadz…” panggil seorang santri yang membuat Ustadz Ilyas menoleh.

“Iya?”

Santri itu terlihat ragu sebentar sebelum akhirnya bertanya,

“Kalau ada orang yang hidupnya jauh dari iman dan taqwa lalu terus berbuat dosa, apa balasan buat orang seperti itu, ustadz?”

Pertanyaan itu membuat suasana mushola sedikit lebih sunyi sementara Shaka langsung menegang. Entah kenapa ia merasa pertanyaan itu seperti ditujukan untuk dirinya.

Ustadz Ilyas terdiam sejenak lalu ia menjawab dengan suara tenang.

“Allah itu Maha Adil dan Allah juga Maha Pengampun.” Para jamaah langsung mendengarkan dengan serius. “Kalau seseorang terus hidup dalam dosa, tidak mau beriman, tidak mau bertaqwa dan bahkan tidak peduli dengan perintah Allah…” Tatapan Ustadz Ilyas perlahan menunduk. “Maka tentu ada balasan untuk itu. Karena setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.” Shaka menundukkan kepalanya semakin dalam. “Namun…” lanjut Ustadz Ilyas. "Selama seseorang masih hidup, pintu taubat itu belum tertutup.” Kalimat itu membuat Shaka perlahan mengangkat wajahnya sedikit. “Seburuk apa pun masa lalu seseorang, Selama dia benar-benar ingin kembali kepada Allah, Selama dia benar-benar menyesali dosanya, Maka Allah masih bisa mengampuninya.”

Suasana mushola terasa begitu hening, bahkan beberapa santri terlihat mulai berkaca-kaca. Dan entah kenapa saat mendengar kalimat itu, dada Shaka terasa semakin penuh. Apa orang seperti dirinya masih bisa diampuni? Apa masih ada jalan kembali untuknya? Ustadz Ilyas lalu melanjutkan dengan suara lembut,

“Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Karena setan sangat senang ketika manusia merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni, Padahal rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa manusia.”

1
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Jodoh adalah bagian dari takdir Allah, namun ikhtiar menjemputnya tetap menjadi bentuk ketaatan.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
sakura
..
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh apakah Hanindiya itu anak ustadz Haidar.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Thor harusnya di tulis jga bawahnya surah mana atau hadis doa mana biar tahu para pembaca gitu.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bukan doa kak, tapi sholawat.
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tanda hati Shaka mulai terenyuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lagi dakwah kaya gini terus di bawahnya ada iklas dramashot mana tokohnya Hb lagi nggak etis banget ih 🤦
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
apakah ustadz Ilyas tau soal ini🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
"Maula ya sholli wasallim daiman abada" adalah adalah sholawat yang termasuk bagian dari Qasidah Burdah.
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!