Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan yang masih dingin
Rumah besar Jenderal Ali malam itu tampak terang benderang, namun suasana di ruang makan terasa sebaliknya. Meja panjang itu dipenuhi hidangan kelas atas, tetapi bagi Adeeva, setiap suapan terasa seperti menelan kerikil kecil.
Jenderal Ali duduk di kursi utama dengan wajah datar, sementara Ibunda Shaheer lebih banyak diam, sesekali melirik Adeeva dengan tatapan yang sulit diartikan. Di seberang Adeeva, Fathiyah tampak sibuk dengan ponselnya, mencoba menghindari kecanggungan. Shaheer sendiri tetap tenang, sesekali meraih tangan Adeeva di bawah meja untuk memberikan kekuatan.
"Jadi, Adeeva," Jenderal Ali membuka suara, membuat denting sendok dan piring seketika berhenti. "Bagaimana kehidupan asrama? Sudah bisa bangun subuh tanpa harus dibangunkan suamimu?"
Adeeva menelan makanannya pelan. Ia tahu ini bukan sekadar pertanyaan, melainkan ujian. "Sudah, Pa. Meskipun terkadang pashmina saya masih miring kalau terburu-buru," jawab Adeeva sejujur mungkin.
Ibunda Shaheer menghela napas pendek. "Kami dengar dari Fathiyah, kamu sempat membuat kegaduhan di pertemuan Persit tempo hari. Memimpin doa tapi isinya menyindir orang lain. Benar begitu?"
Adeeva terdiam. Ia melirik Fathiyah yang langsung pura-pura meminum air putihnya.
"Izin, Ma," Shaheer memotong sebelum Adeeva bicara. "Adeeva bicara jujur. Saya rasa kejujuran lebih baik daripada kepura-puraan yang sering kita lihat di lingkungan dinas. Dan saya sepenuhnya mendukung cara dia beradaptasi."
"Kamu selalu membela dia, Shaheer," sahut sang Ibu dengan nada kecewa. "Kami hanya ingin menantu yang bisa menjaga wibawa keluarga. Bukan yang jadi bahan pembicaraan karena gaya berpakaiannya atau masa lalunya."
Suasana semakin membeku. Adeeva merasa dadanya sesak. Ia ingin sekali berdiri dan pergi, tapi ia ingat janji pada Adiba.
"Ma, Pa," Adeeva bersuara, kali ini dengan nada yang lebih stabil. "Saya tahu saya bukan menantu impian. Saya bukan Adiba yang menguasai kitab, bukan juga Fathiyah yang berpangkat dokter. Tapi saya sedang mencoba. Saya tidak minta langsung diterima, saya hanya minta kesempatan untuk membuktikan kalau Shaheer tidak salah memilih."
Jenderal Ali menatap Adeeva cukup lama, seolah sedang mencari celah kebohongan di mata gadis sembilan belas tahun itu. Namun, ia hanya menemukan ketegasan yang mirip dengan putranya.
Ketegangan itu sedikit mencair saat layar televisi besar di ruang keluarga menyala, menampilkan wajah Adiba lewat panggilan video. Di sisi lain, tampak juga Abi Arjunka dan Umi yang bergabung dari ruang tamu pondok pesantren.
"Assalamu'alaikum!" suara Adiba terdengar ceria. Ia tampak mengenakan pakaian hangat, latar belakangnya menunjukkan kamar asrama di Kairo yang sederhana namun rapi.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua orang hampir serempak.
"Kak Adiba! Kamu kelihatan sehat!" seru Adeeva, hampir melompat ke arah layar.
Setelah sesi tanya jawab kangen-kangenan yang cukup panjang, wajah Adiba tiba-tiba berubah serius. Ia merapikan duduknya, dan di sampingnya, muncul seorang pria muda berkacamata dengan wajah yang teduh.
"Abi, Umi... Pa Jenderal, Ma... Adiba ingin menyampaikan sesuatu," suara Adiba sedikit bergetar. "Ini Zaki. Dia senior Adiba di Al-Azhar. Kami sudah lama berdiskusi, dan... Zaki ingin melamar Adiba secara resmi untuk menjadi istrinya."
Hening.
Wajah Abi Arjunka di layar kecil pondok langsung mengeras. "Adiba! Kamu ke sana untuk belajar, bukan untuk cari jodoh! Kamu baru beberapa bulan di sana!"
"Tapi Abi, Zaki sudah selesai S2 dan akan lanjut S3. Dia yang membimbing Adiba selama ini. Kami ingin menikah agar bisa saling menjaga di negeri orang," bela Adiba.
Di ruang makan Jenderal Ali, suasana ikut memanas. Ibunda Shaheer bergumam pelan, "Loh, kalau Adiba menikah dengan orang lain, berarti rencana awal kita benar-benar batal selamanya."
"Ma," tegur Shaheer pelan.
Jenderal Ali berdehem keras. "Kyai Arjunka, sepertinya putri-putri Anda memang punya rencana sendiri yang tidak melibatkan kita para orang tua."
Adeeva melihat wajah kakaknya mulai berkaca-kaca di layar. Ia tahu betapa kerasnya Abi jika sudah merasa otoritasnya dilangkahi. Adeeva menatap Shaheer, memberikan kode bahwa mereka harus melakukan sesuatu.
"Abi," Adeeva memberanikan diri bicara ke arah kamera. "Kak Adiba itu sangat pintar jaga diri. Kalau dia sampai berani bicara begini, artinya Kak Zaki memang orang baik. Jangan karena Adeeva sudah 'mengecewakan' Abi, lalu Abi menutup kebahagiaan Kak Adiba juga."
"Kamu tidak tahu apa-apa, Adeeva! Urus saja rumah tanggamu yang berantakan itu!" sahut Abi ketus.
Shaheer menarik napas panjang. Ia berdiri dan mendekat ke arah layar. "Izin bicara, Kyai. Saya rasa Adiba berhak menentukan rekan hidupnya di sana. Jika Kyai ragu, biarkan saya dan Adeeva yang berangkat ke Mesir bulan depan untuk mengecek latar belakang Zaki secara langsung. Kebetulan saya punya jatah cuti tahunan."
Adeeva terbelalak. Ke Mesir?
Jenderal Ali menatap putranya dengan heran. "Kamu mau ke Mesir hanya untuk urusan ini, Shaheer?"
"Ini bukan cuma soal Adiba, Pa. Ini soal menyatukan kembali keluarga yang sempat retak karena keputusan-keputusan kita," jawab Shaheer tegas.
Malam itu, jamuan makan malam berakhir dengan sebuah rencana besar. Orang tua Shaheer mungkin belum sepenuhnya menerima Adeeva, namun mereka mulai melihat bahwa Adeeva dan Shaheer adalah satu tim yang tidak bisa dipisahkan—bahkan oleh jarak ribuan kilometer.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...